Memoar Al-Batasyti di Negeri Jambi

Pengutusan Al-Ba’tsah Al-Azhariyyah (para duta Al-Azhar) ke berbagai negara sudah ada semenjak kepemimpinan Syekhul-Azhar Hasan Al-‘Aththar. Hal ini terus berlanjut hingga hari ini, baik diutus dalam rangka meriset suatu hal, berdakwah, hingga mengenal kebudayaan tempat tersebut. Tak hanya sekedar utusan, tiap duta yang dikirim juga mesti merekam dan menulis memoar atas apa yang ia temui, meskipun hanya sekedar yang remeh-temeh.

Sebutlah seperti Muhammad ‘Ayyad Ath-Thanthawi (w: 1861) yang diutus sebagai duta Al-Azhar ke Rusia. Ia mengumpulkan semua memoarnya dalam bukunya yang berjudul “Tuhfah Al-Azkiya bi Akhbar Mamlakah Ar-Rusia”. Begitupun semisal Rifa’ah Rafi’ Ath-Thahthawi (w: 1873) dalam “Takhlish Al-Ibriz fi Talkhish Bariz” ketika diutus ke Prancis, Ali Ahmad Al-Jirjawi (w:1961) dalam “Ar-Rihlah Al-Yabaniyyah”ketika diutus ke Jepang, dan masih banyak lagi. Dan di antara sekian banyak utusan Al-Azhar tersebut, ada satu utusan Al-Azhar yang dikirim ke Indonesia pada tahun 1969, bernama Muhammad Abdul’aziz Al-Batasyti (w: 2005). Selama menjadi duta Al-Azhar, ia mencatat semua yang ia lihat, pelajari, dan lalui dalam sebuah buku memoar berjudul “Du’at Al-Azhar fi Indunisia”.

Al-Azhar Siapkan 710 Utusan untuk 60 Negara
Al-Azhar pertama kali mengirimkan utusannya ke Cina dan Ethiopia. Pada periode ini, Al-Azhar telah menyiapkan 710 syekh untuk 60 negara di dunia.

Dalam mukadimah bukunya, sosok kelahiran tahun 1910 di Abu Tasyt, Provinsi Qina, Mesir ini mengatakan bahwa ia diutus dalam rangka menyebarkan risalah Al-Azhar, mengajarkan masyarakat seputar Islam, keadilan, dan kebaikan. Selain itu, Al-Azhar juga memberi wasiat kepada semua dutanya agar menjadi figur yang jujur, dapat dipercaya, mampu bermuamalah dengan baik terhadap orang sekitar, dan wasiat lainnya yang tertulis dalam mukadimah.

Buku setebal 199 halaman ini dirasa panjang jika harus menguliknya satu-persatu. Mengingat terlalu banyak daerah dan kejadian yang ditulis oleh Syekh Al-Batasyti dalam memoarnya. Pun demikian, dari semuanya, ada beberapa memoar yang membuat saya takjub, senang, haru, dan ingin mengurainya. Yaitu bahwasanya tempat yang dituju Syekh Al-Batasyti pertama kali ialah Jambi, negeri bersemboyan Sepucuk Jambi Sembilan Lurah tempat saya lahir. Alhasil, ini adalah sebuah kehormatan bagi orang Jambi sendiri bahwa negerinya pernah dipijaki oleh utusan resmi Al-Azhar. Dan yang pasti, dengan adanya memoar beliau di Jambi, sumber sejarah, kehidupan, dan adat-istiadat masyarakat Jambi tempo dulu setidaknya bisa terekam dan terlihat. Apalagi di masa-masa tersebut masih banyak yang buta aksara dan sulit menemukan sejarah yang tertulis dalam sebuah buku.

Di awal memoarnya, Al-Batasyti berkata bahwa Kementerian Agama RI telah memilihnya untuk mengajar di Universitas Sultan Thaha Saifuddin, Jambi. “Aku berangkat ke Jambi menggunakan pesawat kecil, yang kursinya kira-kira seukuran kursi kereta api level tiga jurusan Shai'd (di selatan) Mesir. Dalam perjalanan, aku ditemani oleh Tuan Baharun, perwakilan dari Kementerian Agama yang mengantarku ke universitas. Setelah sampai, kami disambut langsung oleh rektor, para dekan, dosen, dan mahasiswa/i yang menyambut kedatangan seorang alim Mesir utusan dari Al-Azhar dan utusan dari saudaranya sesama (masyarakat) muslim di Mesir.”

Ihtifal di Jambi

Syekh Al-Batasyti tiba di negeri Jambi bertepatan dengan bulan Rabiulawal, bulan di saat masyarakat muslim menggelar banyak ihtifal Maulid Nabi SAW. Beliau berkata, “Di tiap jalan terdapat banyak masjid besar yang menjadi tempat masyarakat beribadah dan mengadakan ihtifal diniah. Semua masyarakat yang bermukim di sekitar masjid turut merayakan maulid, dengan dimulai ceramah agama hingga saling memberikan makanan bagi seluruh hadirin.”

Kalimat yang kemudian beliau tulis di dalam memoarnya ini adalah sebuah bukti nyata, bahwasanya sejak dahulu masyarakat Jambi sudah senantiasa merayakan Maulid Nabi SAW. Adat istiadat ini sesuai dengan slogan “Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah”. Tak hanya maulid, tradisi takziah tiga hari pun sudah dilakukan masyarakat Jambi sejak dahulu. Bahkan, dalam memoar itu Syekh Al-Batasyti menyebutkan apa saja yang dibaca para saat takziah. Beliau berkata, “Takziah dilakukan selama tiga hari. Para petakziah berkumpul di rumah almarhum serta dipimpin oleh para ulama pemuka masyarakat untuk membuka majelis. Di sana, mereka semua membaca Surah Yasin.”

Selain itu, Syekh Al-Batasyti juga menyebutkan tradisi tahlian, bahkan menguraikan apa saja yang dibaca dari awal hingga akhir. “Mereka membaca Qul huwallahu ahad (Surah Al-Ikhlas), Al-Mu’awadzatain, Al-Fatihah, Amanarrasulu bima unzila ilaihi min rabbihi…, la yukallifullahu nafsa illa wus’aha…, innallaha wa malaikatahu…, istighfar tiga kali, dua kalimat syahadat tiga kali, selawat tiga kali, kemudian membaca Al-Fatihah, ayat Kursi, Surah Al-Ikhlas, Al-Mu’awadzatain, hingga kemudian ditutup dengan doa untuk sang mayit.”

Melawan Hantu Besar

Salah satu kisah menarik yang direkam oleh Syekh Al-Batasyti di Negeri Jambi adalah seputar Hantu Besar. Dalam tulisan Arabnya, hantu besar ditulis dengan (الهنتو بيصار) yang beliau artikan dalam bahasanya dengan شيطان كبير.

Dalam memoarnya, Syekh Al-Batasyti menetap di sebuah penginapan bagus yang dikhususkan untuk para pemuka kaum dan terletak bersampingan dengan rumah dinas pemerintah setempat. Beliau berkata, “Penginapan dan rumah tersebut dikelilingi oleh taman yang luas. Di dalam penginapan banyak terdapat ruangan besar. Setiap ruangan terdapat dua kasur, meja, almari, dan dua kipas angin yang salah satunya tergantung di langit-langit. Sedangkan di depan tiap kamar terdapat lobi untuk menyambut tamu yang datang.”

Singkat cerita, setelah selepas Asar, ada tamu dari Kota Palembang turut menginap di tempat yang sama. Setelah rehat sebentar, mereka pergi keluar untuk menonton film di salah satu layar tancap kota dan kembali pada pukul sebelas malam. Belum sampai hitungan menit semenjak sampainya mereka ke kamar yang bersampingan dengan kamar Syekh Al-Batasyti, salah satu dari mereka muntah terus-terusan. Asbab hal tersebut, Syekh Al-Batasyti tidak bisa tidur. Pun tidur, terbangun kembali karena suara muntahan yang menyayat hati tersebut. Apalagi dinding penginapan saat itu memakai kayu, bukan batu bata seperti saat ini.

Pada pukul setengah empat pagi, Syekh Al-Batasyti terbangun. Namun, suara orang muntah tersebut masih terdengar hingga baru usai pada pukul delapan pagi. “Aku terbiasa melantunkan Al-Quran usai melaksanakan salat Subuh di kamar hingga mobil yang menjemputku tiba untuk mengantarku ke universitas. Namun, pada hari ini jemputan tersebut terlambat dari janji awal. Pada pukul sepuluh pagi, ada orang yang memanggilku. Kubuka pintu kamar. Ia mengabarkan kepadaku bahwa tamu di kamar sebelahku telah meninggal. Orang di sekeliling berkata bahwa almarhum meninggal karena keracunan. Sebelum ke sini dan masih di Palembang, ia memakan makanan yang basi.”

Keesokan harinya, jenazah dibawa ke Jakarta untuk dikuburkan di tempat keluarganya. Semua isi kamar tersebut, baik barang, kasur, meja, lemari, dan barang lainnya dikasih minyak tanah lalu dibakar. Jendela kamar dan pintu dibuka lalu dicuci dengan air. Ruangan tersebut disinari dengan banyak lampu selama tiga hari tiga malam seraya dibacakan Al-Quran, zikir, dan wirid. Setelahnya, kamar tersebut dikunci.

Semenjak kejadian tersebut, semua orang tidak ada lagi yang berani bertamu ke penginapan. Para pelayan pun hanya berani mengantar makanan pada pukul empat sore, lalu meminta izin pulang ke rumahnya masing-masing. Suasana menjadi sepi. Bahkan, orang yang biasa lewat di depan kamar agak menjaga jarak dan memilih jalan yang jauh. Ketika Syekh Al-Batasyti pergi ke luar penginapan semua orang menatapnya dengan tatapan aneh, khawatir, dan takut.

“Ada seorang nenek yang lewat di hadapanku dengan ketakutan. Kala itu, aku sedang duduk di toko Haji Abdullah Haddad, seorang pedagang dari Hadramaut. Tatapan nenek tersebut membuatku penasaran ingin bertanya ada apa gerangan. Pak Haji Abdullah menjawab, ‘Bagaimana bisa engkau tidak tahu sebabnya! Semua penduduk kota mengatakan bahwa ada penunggu di dalam kamar orang yang mati keracunan kemarin, ada Hantu Besar!’.”

Memaknai Kembali Takdir dan Kematian
Pembahasan seputar takdir seringkali dibatasi pada garis kesuksesan dan kegagalan, surga dan neraka. Sementara Nabi menekankan agar kita beramal.

Syekh Al-Batasyti bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, “Apa itu Hantu Besar, yang membuat semua orang ketakutan, bahkan para pemuka agama juga tidak berani mendekati tempat ini? Kalau memang hantu itu mengerikan, kenapa dia tidak menghancurkanku. Aku kan sendirian?”

Cerita tersebut semakin merebak. Ketika ditanya, para masyarakat menganggap bahwa Syekh Al-Batasyti sedang bertarung melawan Hantu Besar. Mereka juga menganggap bahwa beliau telah membuat takut si hantu untuk muncul, karena beliau adalah seorang alim Mesir, bahkan seorang ulama Al-Azhar.

Mendengar cerita dari masyarakat yang lucu itu, timbullah sebuah ide untuk melawan hantu tersebut. Pada malam hari selepas salat Magrib, Syekh Al-Batasyti datang ke ruang tamu utama dan mematikan semua lampu penginapan, sebagai tanda bahwa beliau siap bertemu dan tanpa harus diganggu orang lain. Beliau senantiasa menunggu dengan metode tersebut selama lebih dari sepuluh hari tanpa ada kejelasan dari si hantu. Beliau kemudian pergi ke Bandung untuk mengantar kafilah MTQ utusan dari Jambi.

Akhirnya beliau berkata dalam memoarnya, “Apakah Hantu Besar memang takut denganku sebagaimana yang dikatakan oleh masyarakat? Atau ia telah pergi sebagaimana yang digambarkan oleh penduduk Jambi? Atau apakah sebenarnya Hantu Besar itu sejatinya memang tidak ada?”

Masih banyak memoar Syekh Al-Batasyti selama tiga bulan lebih berada di Negeri Jambi. Dari semuanya, ada satu pernyataan indah yang beliau katakan berkenaan dengan penduduk Jambi, yaitu “Watak penduduk Jambi secara mayoritas menyerupai watak penduduk Sha'id (selatan) Mesir...” Pernyataan ini adalah seindah-indah pernyataan dari seorang alim utusan resmi Al-Azhar di Indonesia. Semoga masyarakat Jambi senantiasa seperti yang Syekh Al-Batasyti sangkakan hingga sampai kapanpun.


Baca juga artikel lain di rubrik TAKARIR atau tulisan menarik Amirul Mukminin