Memorabilia 20 Tahun Naguib Mahfouz dalam Koran Al-Azhar

Dalam rangka memperingati kepergian sastrawan besar Mesir, koran Al-Azhar yang terbit mingguan Sout Al-Azhar edisi 1131, 24 Muharam 1443 H / 1 September 2021 menayangkan kembali cuplikan wawancara bersamanya 20 tahun lalu. Najib Mahfudz atau yang lebih dikenal dengan penulisan latin Naguib Mahfouz (wafat 30 Agustus 2006) diwawancara oleh Sout Al-Azhar di rumahnya yang menghadap Sungai Nil di kawasan Al-‘Agouza, Giza, Mesir. Selain tentang sastra, di wawancara yang disebut berlangsung lebih dari 1 jam itu Sang Adib berbicara sejumlah hal tentang masa kecilnya, pendidikannya, pandangannya tentang pemerintahan dan politik, serta perihal perdamaian dan kemelut perang.

Pada lebih dari 2 dekade yang lalu itu Naguib Mahfouz memaparkan kepada Sout Al-Azhar bahwa dunia sastra Arab yang beragam saat itu menurutnya baik-baik saja. Dalam medan syair saat itu terdapat nama-nama besar seperti Nizar Qabbani, Abdulwahhab Al-Bayati, Al-Jawahiri, Nazik Al-Malaikah, dan Amal Dunqul.

Abdulqahir al-Jurjani, Sang Pelopor Paramasastra Arab
Riwayat hidup pelopor ilmu Balaghah. Sahib kitab Dalail al-I’jaz asal kota Jurjan.

Dalam wawancara itu Naguib Mahfouz juga mengakui bahwa karakter Kamal Abduljawwad dalam novel Qashr Asy-Syauq mempunyai banyak kemiripan dengan dirinya. “Bahkan kisah asmara pertama saya,”. Meski menurutnya ia tidak seberuntung Kamal Abduljawwad dalam kisah cintanya itu. Ia berterus terang bahwa ia pernah juga di masa mudanya ingin menjadi seorang pengemudi trem sebagaimana karakter fiksinya itu.

“Seorang adib adalah anak zamannya.”, ia menambahkan. Menurutnya, seorang sastrawan kerap kali mengekspresikan fenomena yang ia lihat di masanya dan mengisahkan kejadian sehari-hari yang dijalani. Selain tentunya, seorang adib juga memasukkan pandangan-pandangan visioner yang diyakininya dalam karya sastranya. Entah itu dalam rupa cerita pendek, syair, atau karya-karya sastra yang bisa saja nanti muncul sementara ia saat itu masih belum tahu kelak berbentuk apa karya itu.

Sementara terkait sastrawan perempuan dalam dunia Arab, Naguib Mahfouz berkata, “Dalam sejarah, perempuan Arab telah mengenal dunia kreatif nan imajinatif sejak awal sekali. Siapa yang tak kenal Al-Khansa’, Sang Penyair Perempuan Hebat (di zaman Jahili). Dan masih banyak nama-nama perempuan yang turut menyumbangkan peran dalam dunia budaya & sastra. Sebut saja ‘Aisyah At-Taimuriyyah, Malak Hifni Nashif, ‘Aisyah Abdurrahman alias Bintu Asy-Syathi’, Suhair Al-Qalamawi, dan Lathifah Az-Zayyat. Yang termasuk penyair ada Nazik Al-Malaikah, Fadwa Tuqan, dan Su’ad Ash-Shabah.”

Menurut Sang Adib, perempuan Arab adalah rekanan (syarikah) kaum lelaki dalam medan sastra & budaya sebagaimana mereka adalah rekan dan pendamping dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, kaum perempuan tak perlu malu untuk menyuarakan pandangannya terutama yang terkait dengan kehidupan mereka bersama di tengah masyarakat.

Ia juga menegaskan bahwa di masa sekarang (saat wawancara berlangsung), bangsa Arab lebih membutuhkan para ahli dan alim ulama dibanding para sastrawan. Menurutnya, ilmu adalah bahasa zaman. Ilmu merupakan perantara sekaligus tujuannya. Namun, hal itu bukan berarti sastra berada di belakang ilmu. “Maksudnya, (bangsa Arab) harus memperbanyak ulama dan ahli.” Karena tanpa mereka, menurutnya, suatu kaum tinggal menunggu (dihukumi) lenyap, fana.

Ketika Hasrat Berbicara Melampaui Kepakaran
Betapa Islam begitu menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan segala konsekuensi yang mengikutinya: kepakaran.

Di akhir wawancara, Naguib Mahfouz menegaskan pesannya untuk para pemuda, “Persenjatai diri kalian (tasallahu) dengan ilmu dan iman hingga kalian menjadi akal dan nurani umat. Songsonglah kehidupan dengan cinta dan semangat meneguhkan eksistensi (wujud) dan identitas. Jangan pernah menyerah pada benih-benih yang menyisihkan atau membawa pada kekalahan. Berjuanglah untuk mengubahnya menjadi kemenangan.”

Kadar kekuatan pemuda, menurutnya, dapat diketahui saat ia menghadapi kesusahan. “Selalu bermimpilah untuk esok hari yang lebih baik. Berjuang dengan amal dan harapan hingga mencapai segenap tujuan. Pegang erat prinsip dan janganlah tergelincir sebab segelintir kelompok materialis.”


Baca juga karya dan tulisan lain di rubrik SASTRA atau tulisan menarik Mu'hid Rahman