Mengapa Nabi Ibrahim Ingin Tahu Cara Menghidupkan Orang Mati
Dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 260, Allah mengisahkan Nabi Ibrahim yang ingin tahu cara menghidupkan orang-orang mati. Allah menjawab permintaan tersebut dengan pertanyaan: "Belum yakinkah kamu?". Mengapa Nabi Ibrahim masih ingin tahu hal tersebut? Apakah benar beliau saat itu belum yakin?
Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya'rawi menjelaskan hal ini dalam terjemahan video berikut.
Teks Terjemahan Subtitle Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya'rawi
Kesalahan banyak orang berasal dari satu sisi, bahwa mereka ingin mengkritisi bagian-bagian kecil akidah. Sementara mengkritisi bagian-bagian kecil akidah tidak akan bisa dilakukan oleh orang berakal, kecuali mengkritisi bagian utama akidah terlebih dahulu. Kita tidak mengimani adanya hari kiamat, yang kemudian membuat kita beriman pada Allah. Akan tetapi, kita beriman pada Allah terlebih dahulu. Dan ketika kita sudah beriman dengan Allah dan Allah berfirman bahwa akan ada hari kiamat, maka kita percaya pada firman-Nya.
Maka seharusnya perdebatan tidak pada adanya hari kiamat, dengan meragukannya, menganggapnya jauh dari kenyataan dan aneh, dan mengagetkan. Seharusnya perdebatan terletak pada bagian utama akidah yang diimani. "Apakah engkau beriman kepada Allah atau tidak?" Jika kalian iman pada Allah maka berpeganglah. Dan jika tidak beriman pada Allah, maka apa bahayanya bagi Allah, jika kalian tidak beriman dengan apa yang Dia firmankan.
Maka bagian utama yang harus diimani pertama kali adalah iman pada Allah. Saya tidak beriman dengan malaikat, dan tidak pada kitab, malaikat, qada dan qadar, baik dan buruknya, dan tidak pada hari kiamat, kecuali karena Allah berfirman akan hal tersebut. Karena itu semua adalah hal-hal gaib. Dan hal-hal gaib yang tidak dapat dirasakan dengan indra, tidak mungkin kita mempercayainya, kecuali jika dikatakan oleh orang yang kita percaya.
Lalu, jika akal saya tidak mengerti bagaimana caranya terjadi? Saya katakan, "Tidak”. Mengetahui bagaimana itu terjadi, tidak berkaitan dengan apakah itu benar-benar terjadi atau tidak. Terjadinya sesuatu adalah satu hal tersendiri, dan bagaimana caranya adalah satu hal yang lain. Telah saya jelaskan perbedaan antara terjadinya sesuatu dan terjadinya sesuatu dengan cara tertentu dalam ucapan Nabi Ibrahim AS pada Tuhannya:
"Perlihatkan padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati"
"Allah berfirman: "Belum percayakah engkau?"
"Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang" (Surah Al-Baqarah: 260)
Nabi Ibrahim ketika mengatakan pada Allah: "Perlihatkan padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati". Ulama mengatakan, bagaimana bisa terdapat pertentangan secara lahir, dalam Al-Quran?
Apa pertentangan itu? Pertentangan ketika Allah berfirman pada Nabi Ibrahim setelah ia berkata: "Perlihatkan padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati". Allah berfirman padanya: "Belum percayakah engkau?". Nabi Ibrahim menjawab: "Bala". Arti dari "Bala" adalah "Aku percaya". Dan maksud dari "Aku percaya" adalah hatinya telah tenang terhadap suatu kepercayaan, sehingga hal tersebut tidak kembali dipertanyakan oleh hati.
Andaikan suatu hal kembali terbesit di dalam hati, untuk dipertanyakan kembali. Maka itu tidak disebut iman dan tidak menjadi kepercayaan, akan tetapi itu adalah pemikiran yang masih menjadi pembahasan. Maka firman Allah yang menceritakan perkataan Nabi Ibrahim: "Saya percaya", dan ketika ia telah percaya dan hatinya telah tenang, lantas kenapa ia berkata setelahnya: "...tetapi agar hatiku tenang". Seakan-akan Nabi Ibrahim belum tenang hatinya, lalu ia meminta hal tersebut. Dan andaikan ia belum tenang hatinya, maka bagaimana ia berkata: "Aku percaya", ketika ia ditanya: "Belum percayakah engkau?".
Ketika ia berharap agar hatinya tenang melalui pertanyaan tersebut, maka seakan-akan ia memang belum tenang hatinya. Dan ketika ia belum tenang hatinya, bagaimana bisa ia mengatakan, sebagai jawaban dari pertanyaan Allah: "Belum percayakah engkau?" dengan berkata: "Aku percaya". Dengan bertanya demikian, artinya ia belum merasa tenang. Saya katakan, "Tidak...”
Pertentangan secara lahir ini berasal dari mengabaikan satu lafaz dalam ayat. Dan mengabaikan lafaz atau huruf dapat mengubah pemahaman dalam hal ini. Nabi Ibrahim tidak bertanya pada Tuhannya: "Apakah Engkau dapat menghidupkan orang-orang mati?" Akan tetapi ia berkata: "Bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati?" Maka seakan-akan yang menjadi pertanyaan adalah "caranya", bukan "keberadaannya" Dan seakan-akan ia telah percaya bahwa Tuhannya dapat menghidupkan orang-orang mati. Persoalan ini sudah jelas. Akan tetapi yang ditanyakan adalah, ia ingin tahu caranya. Maka maksud dari kata "Aku percaya" adalah, "Aku percaya bahwa Engkau dapat menghidupkan orang-orang mati".
Ini adalah suatu kewajiban bagi akal orang mukalaf. Yaitu beriman bahwa Allah dapat menghidupkan orang-orang mati. Sedangkan mengetahui caranya, adalah sesuatu yang tidak membahayakan akidah. Tidak masalah engkau tahu atau tidak. Karena engkau dapat memanfaatkan sesuatu, tidak berarti engkau harus mengerti bagaimana cara kerjanya. Misalnya, orang tuna aksara, orang pedalaman, dan petani dapat menggunakan listrik di rumahnya, tetapi apakah mereka tahu dari mana asalnya listrik? Mereka tidak mengetahuinya sama sekali.
Maka ia dapat memanfaatkan sesuatu. Akan tetapi mengetahui cara kerjanya, tidak mempengaruhi apakah ia dapat memanfaatkannya atau tidak. Ia dapat memanfaatkannya tanpa mengetahui sama sekali cara menghasilkan listrik. Dengan demikian Allah mampu menghidupkan orang-orang mati. Andaikan engkau tahu caranya lalu apa yang akan engkau lakukan? Akan tetapi, Allah SWT mengisyaratkan Nabi Ibrahim pada hal akidah. Isyarat akidah tersebut adalah “Bukan termasuk keagungan dan kekuasaan-Ku, jika Aku dapat memindah kepada selain-Ku, pengaruh dari kuasa-Ku. Akan tetapi keagungan yang sesungguhnya adalah Aku mampu memindahkan kuasa-Ku pada selain-Ku, agar ia melakukannya sendiri”.
Manusia yang kuat, jika menemukan orang lemah yang tidak mampu mengangkat sesuatu yang berat, apa yang dia lakukan padanya? Ia membawakannya. Maka ia memberikan pada benda lain, pengaruh dari kekuatannya. Akan tetapi orang lemah tersebut masihlah lemah.
Sementara Allah, jika berkehendak, Dia dapat memindahkan kekuatan kepada orang lemah agar ia melakukannya sendiri. Kamu tidak dapat mengangkatnya? Aku tidak akan membawakannya, tetapi menjadikanmu mampu untuk membawanya.
Ini adalah keagungan yang sebenarnya. Karena Dia dapat memindahkan kekuatannya kepada orang yang tidak memiliki kekuatan. Sedangkan manusia tidak bisa memindahkan kekuatannya kepada orang yang tidak memiliki kekuatan. Ia hanya bisa memberikan pengaruhnya pada orang yang tidak memiliki kekuatan. Dan orang yang tidak memiliki kekuatan masihlah demikian.
Maka jawaban Allah SWT pada pertanyaan Nabi Ibrahim. Apa jawab-Nya? "Ambillah empat ekor burung". Engkau. "...lalu dekatkanlah kepadamu". Perlakukan dengan baik. Lalu, potong-potonglah. "Kemudian, letakkanlah di atas setiap bukit satu bagian dari tiap-tiap burung"
Setelah itu tampaklah kuasa yang agung. Allah tidak berfirman: "Aku akan memanggil burung itu, lalu ia akan hidup". Tidak. Panggillah sendiri mereka. Inilah keagungan yang sesungguhnya
Dengan menjadikan orang yang tidak mampu, dengan kehendak-Nya mampu untuk melakukan. "Selanjutnya, panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera". Dia tidak berkata: "Aku akan memanggilnya". Karena memanggilnya itu mudah bagi-Ku. Akan tetapi yang lebih hebat adalah menjadikanmu mampu memanggilnya sendiri. Maka, Allah telah menjawab pertanyaannya dengan jawaban yang luar biasa dan cemerlang. yaitu Allah memberikan kepada makhluk-Nya, dengan menyalurkan kekuatan-Nya pada selain-Nya, agar dapat melakukannya sendiri. Akan tetapi makhluk tidak akan dapat memberikan, kecuali hanya pengaruh kekuatannya kepada yang lain.
Penerjemah: Ahmad Nasrullah
Penyelaras: M. Ali Arinal Haq