Mengenang Prof. Dr. Muhammad Abdulfadhil Al-Qushi (3)

Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) memperingati haul kedua Alm. Syekh Muhammad Abdulfadhil Al-Qushi, Wakil Ketua Dewan Direksi OIAA Pusat. Dalam acara ini, Prof. Dr. Abduddayim Nushair, Sekjen OIAA Pusat, turut memberikan kalimatnya untuk mengenang beliau.

Transkripsi Terjemahan Sambutan Prof. Dr. Abduddayim Nushair

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Penyayang

Selawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasul paling mulia, Sayidina Muhammad, keluarga, sahabatnya, dan orang-orang yang berdakwah dengan ajarannya sampai kiamat.

Para tokoh yang terhormat

Keluarga Al-Maghfurlah Prof. Dr. Muhammad Abdulfadhil, sosok teman, kakak, dan penasihat kepercayaan.

Saya telah mengenal beliau sejak lama. Kami berasal dari daerah yang sama. Saya juga banyak mendengar pelajaran dari beliau. Dan ketika saya dekat dengannya, saya mengetahui sisi-sisi dari sosok yang istimewa ini. Sosok yang mengumpulkan antara modernitas dan pendalaman turats, juga antara riwayat dan akal.

Beliau, dengan sebenarnya, merepresentasikan manhaj Al-Azhar yang telah dikenal lebih dari seribu tahun. Saya mengetahui bahwa beliau ikhlas dalam keazharannya dan bangga dengannya. Saya juga mengetahui bahwa beliau memegang erat Asy'ariyahnya. Dan merasa bangga dengan Sha’idnya.

Seorang guru, pengajar, syekh dan saudara yang mulia. Beliau menyesap ilmu dari sumbernya dan menghabiskan seluruh hidupnya untuk ilmu. Hampir tidak ada satu hari yang kosong dari membaca. Bukan membaca dengan cepat. Tetapi membaca secara mendalam, secara serius dan terlibat bersama nas, dan menulis di pinggir kitab dengan tulisan kecil sebagai catatan atau ringkasan. Dan tidak cukup di sini. Beliau berusaha mengambil kesempatan untuk menemukan kritikan terhadap bacaannya.

Dan dengan perbedaan spesialisasi antara kami, beliau rahimahullah, berusaha mencari sisi-sisi, yang saya dapat ikut terlibat di dalamnya. Terlibat dengan arti berinteraksi. Maka, beliau selalu datang kepada saya dengan persoalan ilmu fisika, karena spesialisasi saya adalah ilmu fisika.

Beliau juga mengerti tentang teori-teori terbaru. Beliau mengejutkan saya dengan berbicara tentang teori relativitas, juga berbicara tentang teori ketidakpastian, berbicara tentang mekanika kuantum, matematika, dan lainnya. Artinya, beliau mengerti tentang teori-teori ilmiah terbaru saat ini.

Beliau termasuk salah satu filsuf dari Al-Azhar. Beliau juga selalu banyak membaca tulisan di koran-koran harian, ketika temanya khusus membahas Islam, akidah, Al-Azhar, atau bahkan kehidupan umum.

Beliau juga seorang nasionalis murni. Beliau juga terkadang menampilkan, dalam beberapa kesempatan, sifat revosulioner dan visioner. Beliau tidak mudah menerima pemikiran. Beliau meneliti apa yang didengar dan dibaca. Saya banyak belajar dari beliau.

Beliau senang mengajak orang sekitarnya untuk ikut dalam pikirkan beliau. Tidak ada satu kali pun saya duduk dengan beliau kecuali beliau melempar sebuah permasalahan. Baik itu permasalahan umum maupunkhusus, atau lainnya. Beliau selalu berpikir.

Beliau selalu, seperti perkataan kita di Shaid (selatan Mesir), orang yang membawa tekad. Beliau membawa tekad Al-Azhar dengan sebenarnya. Keinginan beliau adalah mengembalikan Al-Azhar pada pesonanya dahulu. Beliau merasa Al-Azhar di masa 70-an, 80-an, mendapatkan pukulan yang menyakitkan, baik itu dalam dasar politiknya atau dasar pemikirannya atau lainnya.

Hal itu menunjukkan bahwa kebanyakan dari kita hanya melihat pada Timur. Dan hal tersebut terus menetap. Beliau berpandangan bahwa hal tersebut terus menetap pada Al-Azhar. Dan pada kenyataannya memang demikian. Tentu telah maklum apa yang dimaksud dengan kecenderungan Timur. Beliau berharap agar standar alumni dapat naik level. Seperti masa-masa sebelumnya, di permulaan sejarahnya.

Saya menemaninya dalam dewan pengurus Universitas Al-Azhar. Beliau dahulu adalah Wakil Rektor. Kami juga bersama dengan Saudara Mulia Dr. Ahmad Ath-Thayyib, juga bersama Prof. Dr. Izzuddin Ash-Shawi. Dan kami membuat sebuah kelompok yang erat dan saling kerja sama. Kami bertemu setiap hari selama satu jam di waktu pagi, untuk membuat daftar agenda harian dan menentukan permasalahan yang kita sepakati. Beliau melakukan tugas dengan lembut dan sangat tenang di waktu itu.

Begitu juga, saya merasa terhormat dapat berteman dengan beliau, bukan hanya dalam dewan direksi ikatan alumni, bahkan sejak sebelum ikatan ini didirikan. Kami membuat kelompok untuk membahas permasalahan dan membuat regulasi dan menerima pejabat, sampai selesai pendirian ikatan alumni. Dan Alhamdulillah telah selesai, dan beliau menjabat sebagai wakil ketua dewan direksi.

Beliau juga pilar keilmuan kita. Kami merujuk kepada beliau ketika kami berbicara atau ketika kami ingin mengetahui hakikat dalam pembahasan ilmiah apa pun, baik dalam tema pendidikan atau lainnya.

Dan beliau termasuk orang yang banyak berhadapan dengan pemikiran-pemikiran yang keras yang dapat mendorong ekstremisme dan terorisme. Beliau juga melawan aliran-aliran pemikiran, baik pemikiran Islam atau selainnya, yang bertentangan dengan manhaj yang kita yakini yaitu manhaj Al-Azhar dan Asy'ari dalam akidah.

Dan bersama dengan hal tersebut beliau sangatlah terbuka, pada segala macam pemikiran positif, secara hakikat, sebagai sebuah model.

Tentunya saya harap kita diberi ganti kebaikan setelah kepergian Al-Maghfurlah Prof. Dr. Muhammad Abdulfadhil. Saya tidak dapat menghitung karya-karya beliau. Beliau telah mengarang banyak buku dan menulis banyak artikel dan mengisi banyak seminar. Dan selamanya beliau memiliki sikap yang ditandai dengan keseriusan dan semangat untuk meluruskan agama.

Semoga Allah merahmati beliau dan menempatkan beliau di surga-Nya yang luas dan memberikan keluarganya, pecintanya dan murid-muridnya kesabaran dan pelipur lara.

Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh

💡
Simak terjemahan lain di kanal YouTube Tawazun ID dan Subscribe untuk mengikuti update terkini.

Penerjemah: Ahmad Nasrullah
Penyelaras bahasa: M Ali Arinal Haq