Menghijaunya Arab Saudi dan Kiamat Kontemporer

Salah seorang kawan meminta saya berkomentar saat jagat maya dihebohkan oleh menghijaunya gurun pasir dan pegunungan Arab Saudi belakangan. Di dalam fitur pesan Instagram, kami berdiskusi dan membicarakan kegandrungan masyarakat kita untuk sedikit-dikit mengaitkan fenomena alam dengan kiamat. Terlebih saat terdapat suatu hadits yang secara spesifik berbunyi, "Lan taquma as-sa’atu hatta ta’uda ardhu al-arabi murujan wa anhara” yang artinya, “Kiamat tidak akan datang hingga tanah Arab berubah menjadi padang rerumputan dan sungai-sungai.” Orang-orang kemudian secara beramai-ramai mengaitkan fenomena menghijaunya Arab Saudi dengan kiamat.

Setelah saya check and recheck, hadits tersebut memang sahih berbicara demikian. Berdasarkan komentar dari ulama Dar Al-Ifta’ Mesir, Syekh Abdulghani Hindi, kemudian Syekh Kahlan Al-Kharushi, salah satu mufti Oman, hadits tersebut menurut jamaknya para ahli hadits adalah sahih secara sanadnya. Tetapi beliau segera menambahkan bahwa menghijaunya Arab hari ini tidak kemudian manifestasi dari hadits tersebut. Sebab makna dari berubahnya gurun Arab dalam hadits tersebut bukan dimaknai perubahan alam sebagaimana merujuk pendapat Ibnu Abbas. Melainkan perubahan gaya hidup orang Arab itu sendiri: misalnya perubahan dari sistem nomad menjadi metropolitan-modern yang kemudian terlahirlah sungai-sungai dan rerumputan ‘rekayasa’ peradaban manusia. Yakni hadits tersebut dimaknai pada perubahan yang artifisial: bio-teknologi, tata kelola hidup yang sedemikian rupa dibuat orang Arab itu sendiri.

Perangkat Ilmu Bahasa Arab yang Wajib Dikuasai Dai
Apa jadinya jika seorang dai tidak menguasai bahasa Arab dan perangkatnya?

Klarifikasi di atas bukanlah perhatian utama. Yang lebih memprihatikan adalah mengapa kita cenderung kaget-histeris pada tanda-tanda akhir zaman atau kiamat yang berasal alam ini, sementara tanda-tanda berupa nilai: degradasi moral, diangkatnya ilmu dan ulama dsb tak terlihat? Tanda-tanda yang berasal dari tindakan manusia itu sendiri, kitalah pelakunya namun seolah itu adalah kemajuan? Mengapa kita tidak ‘curiga’ pada perubahan Arab Saudi hari ini ketika melegalkan bar dan diskotik —belakangan ramai ingin membuka Kasino—, sebagai tanda-tanda kiamat kontemporer? Karena bisa jadi kiamat tak selalu muncul dari alam, bisa jadi bentuk-bentuk ‘penghancuran’ alam dan manusia seperti bom, genosida, pandemi hingga nuklir adalah bentuk kiamat kontemporer tersebut.

Inilah sejatinya letak permasalahannya: iman yang tidak disertai rasionalitas akan melahirkan sikap fatalistik akut. Sejak 2012 berita kiamat Mama Lauren, 2019 ramalan Imam Mahdi Ustadz-Ustadz kiamat, hingga 2022 menghijaunya Saudi Arabia, masyarakat kita masih sama: candu untuk memperbesar, mengheboh-hebohkan, mencocoklogi, menyebar histeria ketakutan massal pada hal-hal yang berbau eskatologis: kiamat, dajjal, Imam Mahdi dsb. Sementara itu tidak bersegera untuk taubat intelektual ketika terlihat nyata, terutama saat pandemi kemarin, ratusan ulama kita sudah diangkat oleh Allah SWT.

Permasalahan yang lebih esensial kiranya mengapa eskatologi (as-sam’iyyat) selalu didekati secara tidak kritis, cocoklogi, dan dibenturkan dengan sains? Mengapa ketakutan  secara histeris akan wacana akhir zaman justru membuat sebagian orang fatalistik? Sehingga malah mengaburkan pandangan ilmiah akan solusi-solusi konservasi alam. Dari sini menurut saya penting untuk menghadirkan kesadaran baru dalam mengimani eskatologi. Iman yang mampu menumbuhkan kesadaran eskatologis yang pro-kehidupan, ilmiah, dan kritis terhadap kondisi alam dan situasi dunia hari ini.

Eskatologi (As-Sam’iyat) Sebagai Optimisme Hidup

Mula-mula kita perlu mengetahui terlebih dahulu apa itu diskursus eskatologi dalam Islam. Istilah eskatologi atau As-Sam’iyyat dalam Islam adalah bagian dari dislipin ilmu teologi. Secara istilah disebut As-Sam’iyyat karena pembahasan-pembahasan di dalamnya dibangun berdasarkan dali-dalil Sam’i atau Naqli (dalil terktual al-Quran dan hadits nabi). Di mana pembahasan di dalamnya hanya bersifat tauqifi: hanya dipahami melalui Naql tidak Aql. Dalam kitab Syarah Kharidah Al-Bahiyyah disebut sebagai, “Ma dalla alaihi an-naql wa la madkhala lil aqli fiha, kalhasyri, wannasyri, wal jannati, ila akhirihi”. “(As-Sam’iyyat) itu adalah pembahasan-pembahasan yang hanya bersumber dari naql, sehingga tidak ada peran untuk akal di sana seperti tentang padang mahsyar, kebangkitan, surga, dan sebagainya.”

Lingkungan

Kumpulan tulisan yang mengangkat isu lingkungan dapat teman-teman baca

di sini

Dari sini bisa dipahami, bias utama dalam tema-tema As-Sam’iyyat adalah tidak bisa diuji secara rasional dan objektif, melainkan hanya pada level mengimani. Namun, hal itu hanya berlaku ketika mendiskusikan tema-tema yang bersifat final: seperti mendiskusikan bagaimana luasnya surga dan neraka, bagaimana proses peniupan Sangkakala, berapa lama durasi kiamat berlangsung. Termasuk adalah kemudian mengklaim pada situasi tertentu hari ini, sebagai bentuk dari kiamat adalah kesia-sian. Hal yang ditekankan oleh para ulama kita, adalah cukup mengimani saja. Tetapi apakah kemudian iman terhadap eskatologi akan menafikan akal kritis? Serta menafikan ajakan untuk menghargai kehidupan dan alam?

Nah, di sinilah kita dituntut untuk ‘dewasa’ beragama: bahwa mengimani saja tidak cukup. Kita butuh kesadaran eskatologis yang hadir sebagai spirit pro-kehidupan dan konservasi alam hari ini. Dasar dari kesadaran tersebut, menurut saya, dapat kita baca dari sabda Nabi Muhammad ketika suatu saat ditanya oleh sahabat Anas bin Malik tentang kapan hari kiamat, beliau justru menjawab, “Ma A’datta Laha?” “Apa yang telah engkau persiapkan untuknya (kiamat)?”. Jawaban Nabi ini jelas menyiratkan bahwa kesadaran eskatologis itu justru mengajak kita untuk menghargai kehidupan dengan benar-benar memanfaatkannya untuk kebaikan dan akhirat. Bahwa mengimani tanda kiamat di alam ini bermakna kita tetap melakukan usaha-usaha mencegahnya. Yaitu dengan sikap kritis terhadap hal-hal yang merusak lingkungan dan melakukan tindakan-tindakan konservasi alam.

Menyoal Antroposentrisme dan Islam
Antroposentrisme dipandang sebagai biang keladi rusaknya lingkungan hidup. Cara pandang ekosentris pun ditawarkan. Lantas di manakah posisi Islam?

Ide besar dari kesadaran eskatologis yang pro-kehidupan bisa direfleksikan lebih lanjut dalam tulisan Muhammad Al-Fayyadl, Kehidupan dari “Akhir Dunia”: Eskatologi Sebagai Kritik Kebudayaan di IslamBergerak.com. “Kesadaran eskatologis yang diperlukan adalah kesadaran yang melihat kehidupan dan kematian sebagai dua tanggung jawab, dua imperatif, yang sama-sama niscaya: kehidupan untuk mewujudkan potensi terbaik kemanusiaan, kematian untuk menjadi pengingat batas kemampuan terjauh manusia dan takdir perjalanan kemanusiaan.” Sepakat dengan ide tersebut, menurut saya ini adalah tafsir baru akan eskatologis yang wajib kita renungi bersama.

Di samping itu, tafsir-progresif terhadap eskatologis bisa kita renungi dari ceramah-ceramah Imran Hosein di kanal YouTube. Beliau adalah cendekiawan muslim asal Trinidad, Amerika Selatan yang konsen di bidang eskatologi. Ceramah yang beliau hadirkan —memakai bahasa Inggris— sangat berdasar pada tradisi Islam, pun dihadirkan dengan refleksi geo-politik hari ini yang membuat kita merefleksikan ulang kondisi dunia. Seperti tafsir beliau bahwa matahari yang muncul dari Barat itu sejatinya adalah simbol dari terbitnya peradaban Barat hari ini bukan kemudian matahari secara empirik. Menurut saya, ceramah model seperti ini begitu mencerahkan dari pada ceramah-ceramah ustadz kiamat yang menjebak kita pada takhayul dan histeria-histeria semata. Pun saya mengapresiasi betul pada channel Khidr Tv yang telah banyak menayangkan ceramah beliau beserta terjemahannya. Sekian, tabik.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik OPINI atau tulisan menarik Lukman Hakim Rohim