Menyoal Motif Hanan Attaki Bergabung dengan Nahdlatul Ulama

Berita baiatnya Ust. Hanan Attaki pada Nahdlatul Ulama (NU) melalui KH. Marzuqi Mustamar tempo hari (12/05/2023) mengejutkan publik dakwah Islam di Indonesia. Khususnya di tengah irisan dakwah pemuda hijrah dengan dakwah kultural NU yang kontras. Sayangnya, perhatian publik (warga net) hanya melihat dan mempermasalahkan prosesi baiat yang dinilai berlebihan. Padahal ada hal yang lebih besar dari sekedar baiat. Yaitu soal pengaruh dan efek besar pasca baiat: baik pada pribadi Ust. Hanan Attaki maupun pada dakwah NU. Tulisan ini mencoba membaca sisi tersebut. Kira-kira apa dampak di balik fenomena bergabungnya Founder Hijrah tersebut pada NU?

Mula-mula, menurut saya keputusan Ust. Hanan Attaki untuk baiat pada Nahdlatul Ulama itu dilakukan secara tiba-tiba. Tak ada ‘muqaddimah’ yang menunjukkan perubahan pribadi Ust. Hanan sebelum baiat di acara Halal Bi Halal tersebut. Hanya disebutkan bahwa setelah melakukan perjalanan umrah, ia merasa perlu mencari sang Murabbi. Lalu ia memutuskan untuk sowan bersama istrinya menuju kediaman KH. Marzuqi Mustamar. Termasuk pada klarifikasinya ketika ditanya KH. Anwar Zahid, ia mengelak untuk menyebut prosesi tersebut sebagai pertaubatan. Ia lebih membahasakan pada posisi baru menemukan guru (Murabbi) yang cocok dalam kerangka dakwah Islam selanjutnya. Pernyataan ini ia pertegas kembali melalui postingan terbaru di akun Instagram-nya dengan takrir: “Nahdlatul Ulama adalah madrasah saya, Ngaos Abah (akun KH. Marzuqi Mustamar) murabbi saya. Indonesia ladang dakwah saya sekarang bahkan sejak dahulu”.

Ia juga menyebutkan motif mengikuti acara Halal Bi Halal PP. Sabilurrosyad Gasek, Malang adalah memang untuk bertemu KH. Marzuqi Mustamar yang kebetulan adalah guru dari istrinya dulu. Di acara yang dihadiri oleh Prof. Nadirsyah Hosein, KH. Anwar Zahid, termasuk sang pengasuh KH. Marzuqi Mustamar, sulit bagi saya untuk menerima alasan dan motif tersebut hanya sekedar mencari murabbi. Permasalahan utamanya mengapa keputusan berat untuk bergabung pada NU itu terjadi tiba-tiba? Terlebih dilakukan di acara yang dihadiri oleh para tokoh-tokoh besar NU di atas?

Dari sini, menurut saya, Ust. Hanan Attaki tetap perlu kita letakkan sebagai ‘dai selebritis’ yang memiliki ribuan jamaah offline maupun online. Bergabungnya ia dengan NU tak ubahnya sama seperti Deddy Corbuzer merapat ke Gus Miftah, Erick Tohir merapat ke Banser, yang tentu memiliki kepentingan ‘lain’ dari sekedar ‘pencarian guru’. Dengan kata lain, bagi saya kepentingan Ust. Hanan tetap harus dibaca sebagai bentuk melebarkan sayap dakwah “hijrah” miliknya. Pola-pola ini sudah umum terbaca dari sekian banyak orang yang menghendaki sesuatu pada NU.

Pemikiran

Kumpulan tulisan bertopik pemikiran dan keislaman bisa teman-teman temukan

di sini

Hal itu ditambah lagi, saat saya usai melihat ceramah ceramahnya dalam Live Streaming acara Halal Bi Halal tersebut, ekpresi ‘kikuk’ Ust. Hanan Attaki dari ‘mimik wajah’ begitu mencolok. Seolah-olah saya ingin mengatakan prosesi baiat kemarin lebih tepat dibahasakan ‘terkondisikan’ daripada bentuk penyerahan secara total. Sebab bagi saya keputusan untuk berpindah ormas tak semudah seperti yang dibayangkan pada motif ‘mencari guru’. Keputusan itu adalah urusan hidup dan mati, keputusan yang bakal mengubah identitas, pola pikir, kesadaran, keyakinan berikut relasi-relasi sosialnya dari identitas sebelumnya yang begitu kontras. Dimana hal itu tidak terjadi beberapa hari atau minggu saja. Kalaupun benar-benar ‘mencari guru’,  tentu ada proses (pra-baiat) untuk mempelajari, mengamatinya, hingga keyakinan itu benar-benar mantab. Hal ini yang menurut saya absen dari pola Ust Hanan Attaki saat pra- baiat hingga keputusan baiatnya sehingga alasan tersebut tak bisa diterima, bahkan kontradiktif.

Meng-NU-kan Pemuda Hijrah atau Menghijrahkan Nahdliyyin?

Implikasi masuknya Ust. Hanan Attaki ke NU setidaknya menurut saya bisa dibaca pada dua kepentingan. Masing-masing baik dari personal Ust. Hanan sebagai ‘dai selebritis’ maupun NU sebagai ormas. Pertama, Ust. Hanan pernah mengalami berbagai penolakan ‘ceramah’ di berbagai daerah di Jawa Timur—seperti Jember, Gresik hingga Pamekasan—dengan alasan berseberangan dengan NU. Latar ini jelas menjadi penghalang masa depan perjalanan dakwah Ust. Hanan. Alasan ini barangkali logis untuk mendorong keputusan baiat dirinya kemarin. Meski alasan ‘proses pencarian guru’ benar ia niatkan secara tulus, namun fakta latar belakang ini tak mungkin bisa ditutup-tutupi.

Senada dengan pertanyaan di subjudul: apakah akhirnya Ust. Hanan akan meng-NU-kan para pemuda hijrah sebagaimana ini pesan dari KH. Anwar Zahid? Atau sebaliknya, akan melebarkan gerakan hijrah untuk masuk pada lapisan masyarakat dan pemuda NU? Kemungkinan-kemungkinan ini sekarang masih abu-abu. Hal itu akan terlihat secara perlahan dari langkah-langkah dan perubahan apa yang terjadi pada dakwah Ust. Hanan ke depan. Namun, kedua-duanya menurut saya tidak bermasalah selama Ust. Hanan tetap konsisten ‘berguru’ dan ‘meminta bimbingan’ pada kiai-kiai NU. Jika tidak, hal itu yang saya takutkan.

Kedua, melihat posisi NU yang terus resistan terhadap ormas transnasional seperti HTI, bergabungnya Ust. Hanan ini akan memberikan keuntungan besar. Ibarat sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Kabar ini akan menyeret ribuan fans Ust. Hanan Attaki untuk lebih mengenal NU. Baik para artis, pemuda hijrah, hingga sesama dai dari pemeluk HTI. Sebab posisi Ust. Hanan Attaki yang punya pengaruh dan lama berkiprah di dalam dunia dakwah Islam. Akhirnya dakwah Islam sayap kanan yang sering memiliki agenda politik “Khilafah Islam” akan semakin tergerus dan menyusut. Langkah meng-NU-kan pemuda Hijrah secara otomatis berjalan tanpa paksaan.

Terlepas dari semua kemungkinan ini saya tetap percaya bahwa kekuatan spiritual para kiai-kiai kita—baik Pendiri maupun para sesepuh Nahdlatul  Ulama hari ini— adalah pondasi utama gerak-gerik langkah Nahdlatul Ulama baik secara struktural maupun kultural. Termasuk dalam hal ini penerimaan KH. Marzuqi Mustamar untuk merangkul dan membaiat Ust. Hanan Attaki. Ada masa depan yang terbaca melalui mata hati bersih beliau yang tak terlihat oleh kita. Senada dengan Gus Nadirsyah Hosein, Hadratussyaikh Muhammad Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Wahab Hasbullah dan KH. Bisri Sansuri sejatinya akan selalu mengawasi gerak-gerik kita—tak terkecuali Ust. Hanan Attaki. Beliau-beliau akan selalu mendorong perjuangan membumikan dakwah aswaja An-Nahdliyah, selama kita tidak mencuri-curi keuntungan pribadi alih-alih memperalat NU. Sekian. Tabik!


💡
Baca juga artikel lain di rubrik OPINI atau tulisan menarik Lukman Hakim Rohim