Mereka yang Bernama Muhammad di Masa Pra Islam
Ketika kembali membuka koleksi kitab hadiah Majalah Al-Azhar, saya teringat akan satu kitab menarik yang pernah ditulis oleh Syekh Khalil Al-Laqani seputar orang-orang yang bernama Muhammad sebelum lahirnya baginda Nabi Muhammad SAW. Kitab itu berjudul Tanbih Al-Fahim bi Dzikr Man Tasamma bi Ism Muhammad Al-Karim.
Kitab kecil ini menjadi hadiah Majalah Al-Azhar pada edisi Rabiulakhir 1441 H (Desember 2019) dua tahunan yang lalu. Dengan halaman yang hanya beberapa lembar, pengarangnya berhasil menahkik, mengomentari, dan menyempurnakan seputar orang-orang yang bernama Muhammad dari para pendahulunya seperti Al-Qadhi 'Iyadh dan Ibnu Hajar Al-'Asqalani.
Pengarang kitab ini adalah seorang alim bernisbah Al-Azhari yang bernama Khalil Al-Laqani dan bergelar Gharsuddin. Ia adalah salah satu anak dari alim besar Al-Azhar pada masanya yang sudah tak asing lagi terdengar di telinga pelajar ilmu agama, yaitu Syekh Burhanuddin Al-Laqani, pengarang Jauharah At-Tauhid, sebuah nazam masyhur seputar ilmu kalam dalam mazhab Asy'ari.
Dari semua anaknya, Khalil Al-Laqani bisa jadi adalah anak yang terkecil. Hal ini bisa dilihat di dalam tsabat miliknya yang berjudul Ithaf Dzawi Al-Irsyad bi Tahrir Wujuh Al-Isnad (masih berbentuk manuskrip). Di sini ia mengatakan bahwa ia belajar banyak ilmu dari sang ayah, Burhanuddin Al-Laqani; dan dua saudaranya: Abdussalam Al-Laqani dan Muhammad Al-Laqani.
Masa kecilnya ia lalui bersama para keluarga yang alim-alim. Alhasil, setelah mulai baligh, ia masuk ke Al-Azhar dan belajar di sana kepada para pembesarnya, seperti Syekh Syamsuddin Muhammad Al-Babili, Syekh Jamaluddin Yusuf Al-Fisyi, Syekh 'Amir bin Syarafuddin Asy-Syubrawi, Syekh Nuruddin Ali Al-Ujhuri, Syekh Jamaluddin Abdullah Al-Kharasyi, Syekh Syihabuddin Ahmad Al-Qalyubi, dan Syekh Sulthan Al-Mazzahi.
Selain di Al-Azhar, ia juga menjadi murid yang menemani gurunya, Syamsuddin Al-Babili pergi ke Negeri Hijaz dan menetap di sana selama 5 tahun, tepatnya dari tahun 1052 H hingga 1057 H.
Ia memiliki banyak murid yang menjadi tokoh di kemudian hari, seperti dua Syekhul-Azhar: Syekh Ibrahim Al-Fayyumi dan Syekh Abdullah Asy-Syubrawi. Murid yang disebutkan terakhir ini menyifati gurunya dengan khatimah al-muhadditsin (penutup para muhaddits).
Setelah mengarungi hidup dengan penuh dedikasi kepada generasi selanjutnya, Syekh Khalil Al-Laqani menghembuskan nafas terakhirnya pada 16 Rabiulawal 1105 H dan dimakamkan di pemakaman As-Sadah Al-Laqaniyyah, Qarafah Mujawirin, berdekatan dengan makam Syekh Abdullah Al-Munufi dan Syekh Khalil Al-Jundi.
Ia meninggalkan sejumlah karangan, seperti Ithaf Dzawi Al-Irsyad, Irsyad Ath-Thalib, dan Tanbih Al-Fahim bi Dzikr Man Tasamma bi Ism Muhammad Al-Karim. Yang terakhir ini sebuah kitab yang saya coba bahas pada tulisan kali ini.
Dalam mukadimah kitabnya, Syekh Khalil Al-Laqani menyebutkan bahwa ia menuliskan risalah ini dikarenakan adanya sejumlah sahabat yang memintanya untuk menulis orang-orang yang bernama Muhammad di masa Jahiliah (baca: pra Islam). Selain itu, beliau juga membahas tatacara penulisan nama, harakat, nasab, dan ikhtilaf yang ada seputar nama yang ditulis.
Pertama-tama, beliau merincikan terlebih dahulu sejumlah ulama sebelumnya yang pernah menyinggung dan membahas seputar orang yang bernama Muhammad di dalam kitab mereka, seperti Al-Qadhi 'Iyadh dalam Asy-Syifa bi Ta'rif Huquq Al-Mushthafa, As-Suhaili dalam Ar-Raudh Al-Unf, Muhammad Ash-Shalihi dalam Subul Ar-Rasyad fi Sirah Khair Al-'Ibad, Burhanuddin Al-Laqani (ayah) dalam 'Umdah Al-Murid Syarh Jauharah At-Tauhid, dan Ibnu Hajar Al-'Asqalani dalam dua kitabnya, Fath Al-Bari dan Al-Ishabah fi Tamyiz Ash-Shahabah.
Syekh Khalil Al-Laqani mengatakan bahwa orang-orang yang bernama Muhammad sebelum lahirnya baginda Nabi Muhammad SAW tak lebih dari 20 orang. Sebelum menyebutkan nama-nama mereka yang dimaksud, beliau terlebih dahulu merincikan kalam ulama sebelumnya seperti As-Suhaili yang berkata, "Di Arab, orang yang diberi nama dengan nama ini (Muhammad) hanya tiga orang. Ayah mereka tamak (dengan harapan anaknya lah nabi tersebut) dan menamai sang anak dengan nama tersebut dikarenakan mendengar kabar dekatnya zaman Nabi Muhammad dan bahwasanya ia akan diutus di Negeri Hijaz..."
Beliau juga mendatangkan komentar Ibnu Hajar Al-'Asqalani terhadap As-Suhaili yang mengatakan bahwa orang yang bernama Muhammad di masa Jahiliah hanya tiga. Padahal, lebih dari itu. Ibnu Hajar juga mengatakan bahwa As-Suhaili adalah tokoh yang baru ada setelah Al-Qadhi 'Iyadh, dan bisa jadi ia belum merujuk kepada Al-Qadhi 'Iyadh dalam kitab Asy-Syifa.
Syekh Khalil Al-Laqani juga mengomentari perkataan sang ayah, yakni Burhanuddin Al-Laqani yang mengambil kesimpulan (istiqra) dari kitab Asy-Syifa karangan Al-Qadhi 'Iyadh bahwa orang yang bernama Muhammad hanya ada enam, dan tak sampai tujuh orang. Padahal, Ibnu Hajar sendiri menemukan setidaknya 15 orang lebih yang bernama Muhammad dari kitab tersebut. Kemudian, dengan rincian kalam ulama sebelumnya, Syekh Khalil Al-Laqani menjadikan Ibnu Hajar sebagai patokan dalam permasalahan ini.
Pada halaman berikutnya, Syekh Khalil Al-Laqani menyebutkan orang-orang yang bernama Muhammad, nasabnya, tatacara pengucapan nasab, disebutkan dalam kitab apa, dan menyebutkan 3 orang dari mereka yang memeluk Islam. Mereka yang masuk Islam yaitu Muhammad bin Rabi'ah, Muhammad bin Maslamah, dan Muhammad bin Al-Harits bin Hudaij.
Selain nama Muhammad, Syekh Khalil Al-Laqani juga merincikan seputar orang-orang yang bernama Ahmad. Karena, nama yang termaktub dalam kitab-kitab suci sebelumnya sebagai kabar gembira akan kedatangan Nabi Muhammad adalah dengan diksi 'Ahmad'. Ditambah, hal itu kembali disebut di dalam Al-Quran itu sendiri, tepatnya dalam Surah Ash-Shaf ayat 6.
Al-Qadhi 'Iyadh dalam kitab Asy-Syifa berkata, "Pada nama Baginda SAW: Muhammad dan Ahmad, terdapat sebuah tanda-tanda kebesaran dan keajaiban yang khusus, yaitu bahwasanya Allah taala menjaga agar tidak ada yang dinamai dengan dua nama ini sebelum (baca: qabla) tiba zamannya.
Berkenaan dengan pernyataan Al-Qadhi 'Iyadh di atas, Syekh Khalil Al-Laqani mengomentari bahwa hal ini tidak bisa diterima begitu saja. Sebab, di sana terdapat orang-orang yang bernama Muhammad, bahkan Ahmad, sebagaimana yang beliau nukil dari ayahnya, Burhanuddin Al-Laqani dalam kitab 'Umdah Al-Murid. Sang ayah juga mengomentari hal tersebut seraya membedakan antara kalimat qabla yang berarti 'sebelum bermakna jauh' dan qubaila yang berarti 'sebelum bermakna dekat' pada kalam Al-Qadhi 'Iyadh selanjutnya. Artinya, sebelum bangsa Arab mendengar kabar akan datangnya Baginda Nabi, tidak ada yang menamai anaknya dengan Muhammad atau Ahmad. Dan ketika telah mendengar dan masanya telah dekat, mulailah orang-orang Arab menamai anaknya dengan Muhammad atau Ahmad.
Terakhir, beliau menutup risalah kecilnya dengan 2 bagian penyempurna (tatimmatani) yang membahas seputar orang pertama yang diberi nama Ahmad dalam Islam dan transmisi seputar kabar gembira para Nabi terdahulu dengan nama Ahmad hingga berakhir dengan nama Muhammad.