Nabi Muhammad dalam Pandangan Orientalis Annemarie Schimmel
"Aku mencintai Islam, jika aku tidak mencintainya, maka aku tidak akan menuliskan lebih dari tiga puluh buku tentang Islam". Perkataan ini adalah jawaban Annemarie Schimmel usai ditanya apakah dirinya sudah memeluk agama Islam.
Dari buku sarjana Eropa itu, kita bisa melihat bagaimana Schimmel menyoal Nabi Islam Muhammad SAW begitu juga seputar sirahnya. Menurutnya Nabi Muhammad SAW lahir sekitar tahun 570 M di Makkah. Ia keturunan bani Hasyim yaitu salah satu kaum Quraisy. Ayah dan ibunya meninggal ketika Nabi masih kecil dan tumbuh pada penjagaan dan rawatan pamannya Abu Thalib.
Muhammad SAW waktu mudanya berdagang seperti pemuda yang lain di masanya. Lalu, ia menikah dengan Siti Khadijah yang telah memberi kepercayaan usaha dagangannya. Siti Khadijah melahirkan empat anak perempuan dan dua anak lelaki dari Rasulullah.
Kemudian, Schimmel juga mengomentari sesungguhnya orang yang menentang dan menyudutkan dari sisi poligaminya Nabi terbantahkan dengan kenyataan bahwa Nabi tak menikah dengan perempuan lain selama Siti Khadijah masih hidup. Ketika beranjak usia 40 tahun, Nabi membiasakan berulang kali datang ke gua di Gunung Hira. Maka, wahyu turun kepadanya dan Nabi Muhammad SAW mengetahui bahwa Allah sedang mengarahkannya kepada tujuan yang luhur. Sungguh benar-benar datang tujuan Tuhan itu dalam Surat Al-'Alaq:
إقراء باسم ربك الذي خلق، خلق الانسان من علق
Siti Khadijah berdiam dekat suaminya di tengah-tengah turunnya (talaqqi) wahyu dan menyelimutinya. Rasul, menurutnya, bertugas bukan hanya sebatas yang memberikan peringatan tetapi juga sebagai seorang yang mengajak kepada takwa yang telah Allah SWT perintahkan kepada hambaNya. Maka, mengajak kepada takwa lebih ia sukai daripada memberikan peringatan dan ancaman kepada manusia, dalam kata lain menakut-nakuti dengan siksa Allah SWT.
Rasul benar-benar telah memberikan kabar bahagia kepada orang-orang yang beriman dengan adanya surga Allah SWT yang akan dinikmati oleh ahlinya. Dan di surga tidak ada yang tua, semua menjadi muda, dan surga juga bagi perempuan dan anak-anak. Rasul merasakan harus memberikan peringatan kepada bangsa Arab khususnya dan kepada seluruh alam bahwa ia adalah utusan Allah, seperti para nabi sebelumnya memperingatkan umat-umat mereka.
Di awal dakwahnya secara sembunyi-sembunyi, kebanyakan dari mereka yang menerima dakwah Kanjeng Nabi adalah dari kelompok orang-orang lemah. Sebagian dari mereka berhijrah dan berpindah ke Etiopia karena menyelamatkan diri dari kesulitan. Schimmel mengatakan bahwa keadaan semakin memburuk di Makkah setelah Rasul SAW kehilangan istrinya, Sayidah Khadijah dan pamannya, Abu Thalib di tahun 619 M.
Di tahun 621 M ada peluang baru ketika utusan dari keluarga Yatsrib menghadap Rasulullah. Mereka adalah orang-orang yang menerima dakwah Rasulullah SAW dan orang-orang yang menolongnya. Di tahun selanjutnya Rasul berhijrah ke negeri mereka di Yatsrib. Setelah Rasul hijrah ke negeri itu, Yatsrib berganti nama menjadi Madinah Rasulillah.
Schimmmel mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW panutan sejati bagi umat manusia yang menginginkan jalan menuju kebahagiaan. Dan Nabi Muhammad akan terus selamanya menjadi panutan. Karena Nabi adalah manusia yang berbeda dari yang lain. Maka, seharusnya para ulama tidak boleh membandingkannya dengan seseorang yang lain dari para pemimpin, para politikus atau pun manusia yang mempunyai pangkat kedudukan.
Schimmel juga meyakini dalam buku yang berjudul Wa Anna Muhammadan Rasulullah dan menyifati Rasul sebagai rahmat bagi alam semesta. Sesungguhnya Nabi Muhammad benar-benar "telah mengenakan pakaian kemuliaan" berupa sifat rahmat. Sisi yang terpenting dari ilmu kenabian yaitu peran Rasul sebagai orang yang memberi syafaat umatnya. Peran yang berkaitan dengan kasih sayangnya. Ia mengutip sebuah hadis,
إن الله يحشر الناس جميعا في يوم القيامة ويطلب الخلق من بعض الأنبياء ان يشفعوا لهم عند الله فلا يجدون هذه الشفاعة فيذهبوا في النهاية الى محمد صلى الله عليه وسلم الذي يمنح الشفاعة فيشفعوا له
Artinya:
Sesungguhnya Allah SWT akan mengumpulkan seluruh manusia di hari kiamat, dan para manusia meminta kepada sebagian nabi-nabi agar mensyafaati mereka dihadapan Allah SWT. . Dan mereka (para manusia) tak mendapatkan syafaat ini, maka selanjutnya mereka berakhir pada Nabi Muhammad SAW yang telah diberikan syafaat maka selanjutnya mereka disyafaati olehnya (Nabi Muhammad).
Schimmel menguatkan bahwa syafaat adalah sebagian juz dari rahmat. Menurut Shimmel Nabi Muhammad adalah contoh ideal bagi kemuliaan akhlak. Dan setiap sesuatu yang dilakukan Rasulullah SAW menjadi contoh bagi umat di hadapan Allah SAW. (BERSAMBUNG)
Baca juga artikel lain di rubrik TAKARIR atau tulisan menarik Irfan Rifqi Fauzi