Para Pimpinan Al-Azhar Berkunjung ke Katedral, Begini Pesan Imam Akbar
TAWAZUN.ID — Selasa (4/1/2022) pagi, Imam Akbar Syekhul-Azhar Prof. Dr. Ahmad Ath-Thayyib memimpin delegasi Al-Azhar dalam kunjungannya ke markas besar Katedral Santo Markus di Al-‘Abbasiyyah, kunjungan ini adalah kunjungan reguler yang beliau lakukan dalam rangka mengucapkan selamat Natal kepada Paus Theodoros II dari Aleksandria, Paus dan Patriark Gereja Ortodoks Koptik, serta saudara-saudara Kristen lainnya.
Dalam kunjungan kali ini, beliau didampingi oleh sejumlah tokoh dan pimpinan Al-Azhar seperti Prof. Dr. Muhammad Mukhtar Gomaa (Menteri Wakaf), Prof. Dr. Muhammad Adh-Dhuwaini (Deputi Al-Azhar), Prof. Dr. Nazhir ‘Ayyad (Sekretaris Jenderal Lembaga Riset Islam), Prof. Dr. Salamah Daud (Kepala Sektor Ma’had Al-Azhar), Prof. Dr. Muhammad Abu Zaid Al-Amir (Wakil Rektor Universitas Al-Azhar), dan Dr. Nahlah Ash-Sha’idi (Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Mahasiswa Internasional di Al-Azhar). Kedatangan para pemuka Islam di Mesir tersebut disambut dengan gembira oleh Paus Theodoros II di aula pertemuan.
Pada kesempatan ini, Paus mengungkapkan rasa bahagianya dengan sambutan yang isinya menyatakan untuk terus senantiasa memperbaharui ikatan cinta dan persahabatan antar umat beragama. Lebih khusus persahabatan antara umat Islam dan Kristiani di seluruh tatanan nasional Mesir, yang mana hal tersebut mencerminkan sebuah kekuatan. Ia juga menegaskan, bahwa melestarikan entitas kekeluargaan di Mesir adalah tanggung jawab bersama antar lembaga agama, pendidikan, budaya, dan media. Hal ini tentu saja dalam rangka menghidupkan kembali nilai-nilai kemasyarakatan untuk menghadapi perilaku abnormal yang menghilangkan moral dan nilai-nilai yang baik.
Dalam video yang diposting oleh Al-Azhar dalam kanal resminya di YouTube, Imam Akbar menyampaikan ucapan selamat yang tulus kepada saudara-saudara Kristen, seraya berdoa agar tahun ini menjadi tahun yang penuh dengan kebahagiaan. “Saya berharap kepada Allah SWT agar menjadikan awal tahun ini sebagai tahun yang penuh dengan kebahagiaan. Dan semoga, kita semua senantiasa diberikan kesehatan, kebaikan, kebahagiaan, dan perdamaian.” tuturnya.
Selain itu, Imam Akbar Syekhul-Azhar Ahmad Ath-Thayyib juga menegaskan bahwasanya nilai perdamaian dan persaudaraan termasuk daripada salah satu risalah samawi yang diimani, baik oleh kaum muslimin maupun kristiani. Dalam hal ini, beliau mengingat kata as-salam (perdamaian) seraya berkata, “Saya meyakini, bahwa kata ini ada di dalam setiap ibadah harian kaum mukmin maupun kristiani. Begitupun kami, yang setiap selesai salat berkata, Allahumma Anta As-Salam wa Minka As-Salam.. ‘Wahai Tuhan kami, Engkaulah pemilik perdamaian dan dari Engkaulah semua kedamaian’. Doa ini juga kami ucapkan ketika sedang bepergian ke tanah suci seraya berkata, ‘Hidupkanlah kami, wahai Tuhan, dengan kedamaian’.”
Dalam sambutan itu, Imam Akbar juga berkata, “Di sana terdapat akar kolektif yang kita kenal dengan agama-agama. Meskipun pada dasarnya, di dalam Al-Quran tidak ada yang namanya agama-agama. Jika kita menelaah kalimat ad-din (agama) di dalam Al-Quran, tidak ditemukan kecuali agama yang satu. Dan agama itu sendiri memiliki manifestasi yang beragam dan risalah yang berbeda-beda yang dibawa oleh para nabi dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad —semoga curahan rahmat dan kedamaian senantiasa tercurahkan kepada mereka.
“Aku juga mengingat bahwasanya kita adalah saudara di bumi. Kita adalah anak keturunan dari bumi yang satu. Selain itu, aku juga mengingat akar kolektif yang lain, yaitu bahwasanya semua hamba itu adalah saudara. Rasul kami senantiasa bersaksi setiap selesai mengerjakan salat, 'Wahai Tuhan kami, aku bersaksi begini, dan begini,' hingga yang terakhir beliau berkata, 'Aku bersaksi bahwasanya semua hamba adalah bersaudara.'”, lanjutnya.
Syekh Ahmad Ath-Thayyib juga kembali menegaskan bahwa ucapan selamat (tahniah) bukan hanya sekedar formalitas saja. Beliau berkata, “Manakala kami datang, menjalin kasih sayang, dan menunjukkannya, kami tidak melakukan hal yang demikian hanya sebatas formalitas belaka, atau cuma sebatas yang dikenal pada saat ini dengan persatuan dalam bernegara (nasionalisme). Namun, itu semua datang dari agama kami yang memang memerintahkan dan membebankan hal tersebut supaya kami berlaku demikian.
Selain hal di atas, beliau juga menyampaikan tentang hal penting, bahwasanya masuknya orang yang beriman ke dalam agama sangatlah penting untuk melawan tirani atas prinsip nilai-nilai kemanusiaan. Begitupun, beliau juga menegaskan bahwa agama adalah pondasi terakhir untuk menyelamatkan manusia dari tragedi yang menanti dunia, seperti perubahan iklim, perpecahan keluarga, dan perlawanan ateisme terhadap agama. Karena itu, beliau sangat menegaskan untuk menyuarakan agama. Terlebih, agamalah pondasi satu-satunya yang tersisa dan yang bisa jadi akan ditanya pertanggung-jawabannya di hadapan Tuhan pada hari Kiamat kelak untuk menyelamatkan manusia di era modern.
Dalam penyampaian terakhir, Imam Akbar berkata kepada Paus dan hadirin yang turut hadir pada saat itu, “Cita-cita kita sangat susah dan berat. Namun, insyaallah, dengan adanya sosok seperti anda, para patriark, dan para ulama, kita akan melaksanakan apa yang menjadi tanggungan kita. Adapun sisanya, kita serahkan kepada Tuhan. Semoga anda sekalian senantiasa dalam keadaan baik. Insyaallah, pertemuan kita selanjutnya dengan tanpa menggunakan masker lagi.” Sembari diiringi dengan senyuman Imam Akbar dan Paus. (rul)
Baca juga warta lain di rubrik AKHBAR atau pilih ragam tulisan di Tawazun