Pemuda dalam Perhatian Nabi
Pemuda adalah harapan agama dan bangsa. Suatu negara akan rusak jika tidak memperhatikan nasib para pemuda di masa yang akan datang. Alangkah baiknya, para ulama, para pendidik, para tokoh bangsa para pemimpin mencontoh apa yang telah diajarkan baginda Nabi terhadap perhatiannya kepada para pemuda. Ya, Nabi seringkali mengedepankan pemuda dalam banyak kesempatan, kepercayaannya kepada pemuda adalah jalan berhasilnya agama Islam tersebar ke berbagai suku dan bangsa yang beragam sehingga Islam diterima dengan mudah.
Banyak sekali yang tertera dalam hadis-hadis betapa Rasul memosisikan pemuda, mengarahkan, dan menghormatinya. Salah satunya, Nabi memercayakan sahabat yang berusia 17 tahun sebagai pemimpin perang. Dia bernama Usamah bin Zaid. Para sahabat yang lebih tua darinya, termasuk Umar bin Al-Khattab, Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan sahabat-sahabat yang lain ada dibawah barisan komando Usamah bin Zaid, sang pemimpin perang. Di usianya yang muda, Usamah begitu disegani dan penuh dengan kewibawaan. Perkataannya didengar. Dia pun ikut dalam perkumpulan para pembesar sahabat.
Seperti halnya Usamah, ialah Abdullah bin Abbas. Pemuda yang berusia 13 tahun ketika Rasulullah wafat. Abdullah bin Abbas di mata Rasulullah dan para sahabat mempunyai kedudukan yang mulia. Umar bin Al-Khattab begitu mencintainya, selalu mendekatinya, dan mengajak ia bermusyawarah beserta para pembesar sahabat. Umar mengatakan mengenai Abdullah bin Abbas sebagai pemuda yang dewasa, bicaranya yang berbobot, dan akal yang pandai nan tajam. Abdullah bin Abbas, sahabat Rasul yang didoakan oleh Rasul dengan doanya yang terkenal:
"Ya Allah pahamkan dia dalam urusan agama dan ajarkan dia tafsirannya".
Dan benar, Abdulllah bin Abbas tumbuh dengan daya ingatannya yang kuat dan juga paham tafsiran ayat-ayat Al-Quran, sehingga Abdullah bin Abbas dijuluki Turjuman Al-Quran (Seorang Penafsir Al-Quran). Suatu ketika, Umar tidak mengerti arti kata Fathir (فاطر). Ia bertanya kepada para hadirin yang ada di sana, apakah ada kata Fathir dalam bahasa syair-syair dahulu? Dan yang menjawab pertanyaan Umar saat itu adalah Abdullah bin Abbas. Ia mengatakan bahwa Fathir sama dengan makna Khaliq (خالق) lalu ia mengungkapkan syair yang terdapat kata tersebut dan juga yang bermakna demikian.
Ketika Rasul diutus menjadi Nabi dan Rasul, usia Nabi Muhammad adalah 40 tahun. Para sahabatnya banyak yang dibawah usia Nabi. Ketika masuk Islam, Abu Bakar berusia 38 tahun. Umar bin Khattab berusia 37 tahun, ia masuk Islam di tahun ke-6 kenabian. Sementara sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira surga, ada 5 sahabat yang berusia di sekitaran 25 tahunan di antaranya Ali bin Abi Thalib, Az-Zubair bin Al-Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, Said bin Zaid, dan Sa'ad bin Abi Waqqas. Ada juga sahabat yang ikut bagian membawa beban penyebaran Islam dan pendasaran pokok masyarakat Islam di Madinah, yaitu As'ad bin Zararah yang wafat saat usianya 29 tahun. Saad bin Muadz dan Mush'ab bin Umair usianya 30 tahunan. Kedua sahabat ini yang mempersiapkan masyarakat Islam Madinah dan pemuda yang ikut andil dalam menyukseskan Baiat Aqabah Kubra. Artinya mereka semua mempunyai peran besar dalam menyukseskan dakwah Rasulullah dan dalam usia yang masih muda.
※ Pesan Sosial Surah At-Takatsur
Lalu, cara bagaimanakah yang dilakukan Rasulullah dalam bersosial dengan pemuda? Bahkan mereka mau mengorbankan seluruhnya untuk membela agama Islam dan mendukung perjuangan Nabi?
Pendekatan Nabi kepada para pemuda adalah melalui pendekatan cinta; tidak merendahkan, dan justru menghormati dan memanusiakannya. Imam Ahmad meriwayatkan dari Muadz bin Jabal (sahabat Nabi yang masuk Islam di usia 18 tahun) bahwa Nabi memegang tangan Muadz di suatu hari, lalu Nabi berkata, "Wahai Muadz, aku benar-benar mencintaimu." Lalu Muadz berkata kepada Nabi, "Demi bapak dan ibuku, wahai Rasulullah, aku juga mencintaimu".
Bayangkan perkataan itu terucap dari lisan Rasulullah dan pemimpin umat muslim. "Lalu Rasul mengatakan, "Aku mewasiatimu, wahai Muadz, janganlah engkau luput di setiap setelah salat untuk mengatakan:
"Ya Allah tolonglah aku untuk mengingatmu, mensyukurimu dan bagusnya menghamba kepadamu"
Rasulullah
Kumpulan tulisan dengan spirit kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat teman-teman temukan
di siniLihatlah dalam hadis tersebut terlihat jelas betapa Rasul mengarahkan Muadz bin Jabal dengan pendekatan cinta. Sehingga Muadz tumbuh menjadi pribadi yang mau menanamkan kebajikan dan semangat dalam ketaatannya kepada Allah dan Rasulullah.
Bukan hanya itu, Rasulullah mempercayai Muadz dan mengutusnya ke Yaman di usianya yang masih muda. Muadz diberi tugas oleh Rasulullah SAW untuk menjadi hakim di Yaman.
Nabi Muhammad ingin memastikan sebelum ia berangkat ke Yaman. "Wahai Muadz, bagaimana engkau menghukumi di antara mereka?" Muadz menjawab, "Aku akan menghukumi di antara mereka dengan apa yang ada di dalam kitabullah (Al-Quran),"
Nabi kembali menimpali, "Jika tidak ada dalam kitabullah?" Muadz menjawab, "Maka dengan sunah Rasulullah (Hadis Nabi)."
Rasul bertanya kembali, "Jika tidak ada dalam sunah Rasulullah?" Muadz menjawab, "Aku berijtihad dan tidak bertindak sewenang-wenang."
Muadz bercerita, "Kemudian Rasul menepuk dadaku lalu Rasul berkata, 'Segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk kepada utusan Allah dengan sesuatu keputusan yang diridai Rasulullah SAW'".
Rasul mengakui metode Muadz bin Jabal dalam menghukumi perkara, dan mengakui ijtihadnya serta menggunakan pendapatnya jika tidak ada hukum yang implisit. Artinya Rasul percaya kepadanya, walau Muadz masih muda, ia tidak akan keluar dari ijtihadnya yang bersumber dari hawa nafsunya.
※ Etika Lingkungan dalam Islam
Di kalangan sahabat, Muadz dikenal dengan kealimannya dalam bidang fikih. Umar mengakui kealimannya, bahkan ketika sedang khutbah di Jabiyah sang khalifah mengatakan:
"Barangsiapa yang menghendaki hukum fikih maka datanglah ke Muadz bin Jabal"
Inilah beberapa contoh sikap Nabi dalam membimbing pemuda, menyayangi, dan menghormati para pemuda sehingga mereka menjadi pendorong kebangkitan dan kejayaan Islam. Hari ini permasalahan pemuda-pemudi termasuk permasalahan yang harus lebih serius diperhatikan oleh keluarga, masyarakat, institusi-institusi pendidikan, media informasi, dan seluruh institusi negara. Jangan sampai generasi muda tidak terarah, penuh kekhawatiran masa depan, dan nasibnya terpuruk. Jika sampai demikian, tentu akan menjadi momok yang membahayakan bagi kehidupan masyarakat bahkan negara.
Mereka, para pemuda, adalah harapan dan aset bangsa. Namun sekali lagi, selagi para pemuda itu diperhatikan secara serius. Tabik.