Peran Al-Azhar dan Perdamaian Dunia Jadi Topik Forum Spesial Ramadan di Masjid Al-Azhar

TAWAZUN.ID — Dr. Nazhir 'Ayyad: Apa yang kita saksikan dan lihat di Gaza adalah pemandangan menyakitkan yang menunjukkan bahwa dunia telah kehilangan akal, kebenaran, dan rasionalitasnya.

Dr. Abdulfattah Khadhir: Al-Azhar lebih menyibukkan diri mencetak manusia (ulama) dibandingkan mengarang buku. Al-Azhar menyiapkan kader untuk menyebarkan risalah Al-Azhar ke seluruh dunia.

Setelah salat Tarawih, Masjid Al-Azhar rutin menggelar acara yang diberi nama Multaqa Al-Azhar (Forum Al-Azhar). Forum yang berkonsep seminar ini menjelaskan beragam tema keislaman dan diisi langsung oleh para ulama kenamaan.

Forum Al-Azhar pada Ahad kemarin (17/03/2024) membahas peran lembaga-lembaga Al-Azhar dalam mengabdi pada persaudaraan umat manusia dan perdamaian dunia.

Ikut berpatisipasi dalam acara tersebut Dr. Nazhir 'Ayyad, Sekretaris Jenderal Akademi Riset Islam, dan Dr. Abdulfattah Khadhir, Dekan Fakultas Ilmu Qiraat Al-Quran dan Ilmunya Universitas Al-Azhar, Thantha.

Forum ini dimoderatori oleh Dr. Abdulmun'im Fuad, Pembina Umum Kegiatan Ilmiah Masjid Al-Azhar, dan dihadiri oleh para ulama dan tokoh Al-Azhar serta jamaah yang datang dari warga Mesir dan dari berbagai negara Arab juga Islam yang berada di Mesir.

"Al-Azhar dan Perdamaian Dunia" menjadi topik yang diangkat pada forum ini. Sekretaris Jenderal Akademi Riset Islam menekankan bahwa dunia saat ini sangat membutuhkan perdamaian global dan keamanan pemikiran, terutama karena dunia pada umumnya, dan kawasan Arab dan Islam pada khususnya, sedang mengalami peristiwa-peristiwa besar yang kita saksikan. Yaitu pemandangan menyakitkan yang menunjukkan betapa dunia ini telah kehilangan akal sehatnya, dan kemanusiaan telah kehilangan hati dan akal sehatnya.

Palestina

Kumpulan tulisan yang mengangkat isu dan perjuangan Palestina dapat kalian temukan

di sini

"Tentu sesungguhnya dunia ini sangat membutuhkan seseorang yang membawanya dengan penuh kekuatan supaya kemanusiaan itu kembali kepada kebenaran. Di sinilah peran lembaga Al-Azhar yang telah menjadikan perdamaian dan keamanan sebagai seruan dan ketetapan bagi manhajnya. Tidak mengherankan dalam misi perdamaian tersebut. Sebab lembaga Al-Azhar melaksanakan dakwahnya sebagai sebuah tuntutan dari dakwah universal Islam untuk kemanusiaan.", tutur Syekh Nazhir.

Syekh Nazhir 'Ayyad menambahkan bahwa Al-Azhar mengusung nilai-nilai perdamaian global di antara manusia. Dan masih terus dipertahankan di bawah kepemimpinan Syekhul-Azhar. Para ulama Al-Azhar selama berabad-abad selalu fokus pada isu penting ini. Melalui hal ini kebenaran terungkap dan kebatilan lenyap.

Di sini kita diingatkan akan pesan yang ditulis oleh Imam Akbar Syekh Muhammad Musthafa Al-Maraghi yang dikenal dengan judul Zamalah Insaniyyah (Persaudaraan Kemanusiaan). Di dalam risalah yang ditulis untuk sebuah muktamar di London tahun 1936 M, beliau menegaskan apa yang dinyatakan dalam Islam bahwa manusia adalah saudara bagi sesamanya. Setara dalam hak dan kewajiban. Zaman pun berlalu, dan dokumen ini pun hadir yang dihasilkan melalui tinjauan cermat terhadap apa yang dinyatakan dalam Al-Quran dan hadis dan apa yang diriwayatkan dari realita praktis dan penerapan nyata yang sebenarnya terhadap pemahaman Islam dan konsepnya. Dokumen tersebut merupakan “Dokumen Persaudaraan Kemanusiaan” yang menekankan dukungan terhadap kaum teraniaya, kebebasan berkeyakinan, perdamaian dunia, dan keanekaragaman budaya dan intelektual. Tidak diragukan dalam hal itu karena semuanya diambil dari Allah dan dari Rasulullah SAW.

Sementara itu, Dekan Fakultas Qiraat Al-Quran dan Ilmunya, Dr. Abdulfattah Khadhir mengatakan bahwa pengabdian Al-Azhar terhadap perdamaian dunia berjalan dalam dua arah.

"Pertama adalah jalur protokol yang berbentuk Dokumen Persaudaraan Kemanusiaan dan dokumen sejenisnya, Bait Al-'Ailah Al-Mishriyyah, dan institusi-institusi yang didirikan untuk tujuan ini. Piagam-piagam ini lebih unggul dari yang lain dan telah mendapat penghormatan serta perhatian global.

Adapun jalur yang kedua adalah sebagaimana dikatakan sebagian ulama ketika ditanya: Mengapa kamu tidak meninggalkan banyak karya tulisan?", kata Syekh Abdulfattah.

Syekh Abdulfattah menjelaskan bahwa sebagian ulama menjawab karena aku sibuk mencetak ulama daripada menulis kitab. "Beliau menjelaskan bahwa Al-Azhar, melalui anak didik asal lebih dari seratus negara, mendalami mata airnya, meminum, dan meneguk airnya yang lezat. Mereka berangkat sebagai duta besar bagi negaranya, pulang sebagai duta bagi Al-Azhar. Mereka telah mengambil kebenaran, ilmu, dan rahmat dari kedalaman Al-Azhar."

"Walaupun mereka menghadapkan wajah ke arah kiblat kita di Makkah, namun di Mesir inilah, di Al-Azhar Asy-Syarif, Ka'bah ilmu yang luas, tempat kita bersambung dengan para ulama kita.", kata Syekh Abdulfattah Khadhir.


💡
Baca juga BERITA terbaru atau pilih ragam tulisan lain di Situs Tawazun ID