Perangkat Ilmu Bahasa Arab yang Wajib Dikuasai Dai

Penulis merasa miris ketika mendengar salah satu oknum dai atau penceramah di daerah tempat penulis tinggal yang menjelasakan satu Hadis Nabi secara tektualis. Bahkan oknum pendakwah tidak melirik sedikitpun atas syarah-syarah ulama Hadis muktabar. Padahal sebelum menyampaikan atau menjelaskan suatu Hadis kita dianjurkan untuk membaca kitab syarah Hadis terlebih dahulu. Di antara cakupan dari kitab syarah Hadis adalah sebagai penjelas status rawi, keabsahan Hadis berikut asbabul wurudnya, atau bisa juga menggunakan pendekatan bahasa atau paramasastranya.

Kecemasan penulis bertambah besar ketika oknum penceramah tersebut menjelaskan teks Hadis dengan kemasan opini pribadi berikut berdasar pemahaman hawa nafsunya saja. Akibatnya, Hadis yang disampaikan jauh dari pemahaman yang dikehendaki oleh Baginda Nabi Muhammad SAW. Sehingga penulis beranggapan bahwa oknum penceramah hanya sekadar mengetahui teks Hadis dan hafal terjemahannya saja. Padahal seharusnya, seorang penceramah dituntut unuk mengerti ilmu agama yang matang. Lebih-lebih jika ia mampu memahami ilmu-ilmu bahasa Arab secara komprehensif.

Ilmu-ilmu bahasa Arab merupakan perangkat mendasar agar bisa memahami teks Al-Quran dan Hadis. Tentu, oknum penceramah tadi harus paham betul ilmu nahwu, sharaf, dan balaghah atau paramasastra (Al-Ma'ani, Al-Bayan dan Al-Badi’). Namun, jika sang penceramah tadi tidak mempelajari perangkat ilmu kebahasaan itu, sudah barang tentu, akan salah kaprah dalam memahami teks Hadis.

Abdulqahir al-Jurjani, Sang Pelopor Paramasastra Arab
Riwayat hidup pelopor ilmu Balaghah. Sahib kitab Dalail al-I’jaz asal kota Jurjan.

Seorang yang belajar fan ilmu balaghah, pasti dituntut utuk menguasai ilmu sharaf dan nahwu. Karena dua ilmu itu merupakan sumber primer ilmu paramastra. Berdasarkan demikian, tahapan dalam mempelajari ilmu bahasa Arab harus dimulai dari ilmu nahwu, sharaf, mu'jam (kamus), kemudian ilmu balaghah.  Tentu dalam fan-fan ilmu tersebut mempunyai karakteristik dan faedahnya masing-masing sebagai pembeda antara satu fan ilmu dengan yang lainnya.

Faedah mempelajari ilmu paramasastra di antaranya adalah sebagai perangkat ilmu bahasa yang membantu dalam memahami makna yang dikehendaki teks itu sendiri. Sehingga Hadis yang dibaca semisal oleh oknum pendakwah tadi akan mengkaji secara mendalam terhadap aspek kebahasaan dan maknanya. Tujuan utamanya agar menuju pemahaman yang benar terhadap teks yang dibaca ataupu dikaji. Fan ilmu ini juga mampu membantu menemukan i'jaz Al-Quran sehingga bisa membuktikan aspek tersebut secara konkret. Ilmu paramasastra juga sebagai perangkat kebahasaan yang membantu dalam memahami gaya bahasa Arab yang indah dan elok.

Begitu pun mempelajari ilmu nahwu, di antara faedahnya menjaga lisan dari pengucapan yang keliru (tata-bahasa) sekaligus membantu agar bisa cara memahami teks keagamaan yang baik dan benar.

Sedangkan faedah mempelajari ilmu sharaf agar memperbaiki susunan atau bangunan kata bahasa Arab. Sehingga nantinya akan selamat dari pemahaman yang keliru, sebab bertambahnya susunan atau bangunan kata akan mengubah juga atas pemaknaannya. Faedah yang lain dari mempelajari ilmu sharaf adalah mengetahui kata kerja yang sudah lampau, akan datang, dan kata kerja yang sedang terjadi. Lalu, ilmu sharaf membantu membedakan bentuk kata plural ataupun kata mufrad dan tasniah.

Setelah menguasai perangkat kebahasaan maka pemahaman terhadap teks akan semakin dekat terhadap kebenaran yang dikehendaki. Apalagi sang penceramah mengetahui perangkat ilmu Hadis. Sehingga, secara khusus bagi para penceramah atau siapapun yang hendak menggeluti teks-teks keagamaan akan terhindar dari kesalahan penafsiran.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik OPINI atau tulisan menarik Irfan Rifqi Fauzi