Polemik Nasab Ba’alawi dan Kebencian yang Berlarut-larut

Polemik pro-kontra nasab Ba’alawi hingga hari ini tak menemui ujung. Pada mulanya polemik tersebut berlangsung ilmiah, namun semakin ke sini berubah menjadi hasutan kebencian yang memecah-belah. Masyarakat alih-alih memperoleh kebenaran, justru mereka termakan hasutan kebencian rasis (anti-Habaib) yang memecah-belah.

Jika kita perhatikan, gerakan anti-Ba’alawi yang dipelopori oleh KH. Imaduddin Utsman dan para pendukungnya semakin terlihat ekstrem dan tidak ilmiah. Seperti terlihat dalam konten-konten media sosial seperti YouTube yang mereka sebarkan. Ditambah dengan bergabungnya Abuya Mama Ghufron—dengan segenap pengakuan kealiman dan kewaliannya, narasi anti Ba’alawi semakin jauh dari kata ilmiah dan kebenaran. Video-video yang tersebar memperlihatkan bagaimana ia—dengan dialek bahasa Arab yang aneh—menyampaikan kebencian terhadap Habib Luthfi bin Yahya.

Saya tak habis pikir. Narasi-narasi ‘menyerang’ Mama Ghufron yang –alih-alih berdasarkan riset—menggunakan pengakuan-pengakuan mistis (seperti bertemu malaikat), bisa diyakini dan diikuti oleh banyak jamaah. Mengapa mereka—termasuk mungkin sebagian dari masyarakat kita— bisa lebih ‘menyukai’ pemahaman dangkal bermodal pengakuan mistis tersebut daripada penjelasan ilmiah berbasis riset?

Melihat hal ini, saya prihatin polemik yang tak sehat ini semakin menjadi-jadi. Benar, penyakit era media sosial hari ini memperparah keprihatinan tersebut. Kondisi di mana orang lebih menyukai ujaran kebencian ketimbang penjelasan ilmiah. Retorika-retorika berisi hasutan membenci lebih ‘menarik’ daripada presentasi berbasis literatur dan riset. Terlebih, saat kondisi ini menyentuh isu sensitif ‘nasab habaib’ yang berefek luas dalam kehidupan beragama masyarakat Indonesia.

Sudah banyak pakar yang membahas polemik nasab ini secara ilmiah baik melalui video maupun melalui tulisan. Salah satunya, seperti tulisan-tulisan Rumail Abbas (juga terdapat diskusi dia dengan KH. Imad) dan Ben Sohib dalam situs Islamic.co. Dalam tulisannya, “Anhar Gonggong, Peter Carey, dan Jaringan Anti-Habib” Ben Sohib—yang juga merupakan habib plus keraton—menulis bedasarkan kegelisahan yang sama: kebencian rasistik anti Ba’alawi sudah terlewat ekstrem.

Dalam tulisan panjang tersebut, Ben Sohib yang berlatar akademisi, berhasil memotret garis besar bermulanya polemik ini dengan berbasis riset dan data yang tidak memihak pada pro maupun kontra. Baginya, polemik ini begitu kompleks, “Ada persoalan sosiologis, historis, politik, rasisme dll..”

Namun, dari berbagai respon ilmiah baik dalam bentuk tulisan maupun video, seolah tak memberikan dampak signifikan kepada publik. Derasnya media sosial dengan kekuatan video-video pendek di Reels Instagram, You Tube, Tik Tok, jauh lebih memengaruhi akal sehat publik untuk menilai dan memahami polemik ini dengan jernih.

Singkatnya, polemik Ba’alawi dalam pandangan saya selain berimbas pada kebencian dan perpecahan yang berlarut-larut, juga pada hilangnya ‘akal sehat’ dan budaya diskusi ilmiah di dalam masyarakat muslim kita. Kebenaran dan ilmu sudah tidak lagi ‘menarik’ di banding dengan retorika kebencian yang dibungkus dengan narasi keagamaan.

Tasawuf

Kumpulan tulisan bertema tasawuf dapat teman-teman baca

di sini

Mari Menyudahi Kebencian dan Perdebatan Tidak Sehat

Berdasarkan keprihatinan tersebut, saya ingin mengatakan—sebagai bentuk ikhtiar ilmiah— bahwa dasar polemik nasab Ba’alawi hari ini sudah tidak lagi ilmiah, melainkan kebencian rasis. Oleh sebab itu, kita perlu menyudahinya demi mengembalikan akal sehat dan menjaga masyarakat dari perpecahan.

Saya sepakat dan mendukung respons bijak Habib Luthfi menanggapi polemik nasab tersebut pada momen kegiatan Muktamar Internasional Sufi, di Pekalongan, pada 30 Agustus 2023 lalu. Beliau mengajak khalayak untuk menyudahi perselisihan nasab ini dan jangan sampai membuat hubungan antara ulama dan habaib menjadi terpecah-belah. Meskipun beliau tidak merespons isu tersebut secara langsung, namun kita sudah bisa menangkap pesannya secara tersirat: bahwa persoalan ini kontraproduktif dan hanya akan berpotensi memecah belah.

Dalam arti, nasab seseorang, baik ia habaib atau bukan, biarlah menjadi tanggung jawab personal dirinya di hadapan Tuhan. Senada dengan kesimpulan Ben Sohib, “Memang ada sejumlah orang yang merasa dan bersikap seolah-olah dirinya merupakan satu-satunya keturunan Nabi Muhammad dan berkoar-koar dengan congkak... padahal ada jutaan keturunan Nabi di sini, baik yang berwajah Arab maupun berwajah Melayu, yang bermarga maupun yang tidak, yang memiliki catatan nasab maupun tidak, yang memajang gelar habib, maupun tidak.. memang ekstremisme selalu melahirkan kesombongan di kedua kutubnya.”

Statement yang menyejukkan dan penuh dengan kerendahan hati dari sosok Ben Sohib—yang merupakan keturunan habib sekaligus keraton— ini sudah lebih dari cukup untuk menjadi bahan refleksi kita semua. ‘Kebencian’ yang ekstrem adalah akar persoalannya, termasuk dalam hal ini polemik nasab Ba’alawi. “Wala Yajrimannakum Syana’ânu Qaumin A’lâ Al-Lâ Ta’dilû”, “Dan Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil”. (Surah Al-Maidah, ayat 08) Tabik!


💡
Baca juga artikel lain di rubrik OPINI atau tulisan menarik Lukman Hakim Rohim