Potret Syekh Abdulhadi Naja Al-Abyari melalui Karyanya

Bagi para pengkaji sastra dan bahasa Arab, nama ini sangat populer. Figur yang namanya kerap disandingkan dengan Hasan Quwaidir (w. 1262 H/1845 M), Husain Al-Marshafi (w. 1307 H/ 1889 M), Hamzah Fathullah (w. 1336 H/1918 M), Sayyid Al-Marshafi (w. 1349 H/1931 M), dan Husain Wali (w. 1354 H/1935 M). Tokoh-tokoh ini hidup di masa peralihan sastra Arab dari corak sastra lama menuju sastra modern. Mereka juga sama-sama memiliki penguasaan yang baik terhadap ilmu keislaman, sastra, dan bahasa Arab.

Sosok yang hendak kita kenal lebih dekat ini memiliki nama lengkap Abdulhadi Naja bin Sayyid Ridhwan Naja bin Muhammad bin ‘Amir Al-Abyari Al-Husaini Al-Asy’ari Asy-Syafi’i An-Naqsyabandi Al-Azhari. Al-Abyari nisbah kepada kampung kelahirannya, Abyar. Kampung ini berada di Distrik Kafr Az-Zayyat, Provinsi Al-Gharbiyyah, Mesir. Letaknya berada di sebelah barat laut Kota Kairo dengan jarak tempuh kurang lebih 120 km.

Kata Al-Asy’ari pada namanya merujuk kepada paham akidah Asy’ariyyah yang dianutnya. Sementara kata Asy-Syafi’i merujuk kepada mazhab fikih Asy-Syafi’i yang diikutinya. Sedangkan kata An-Naqsyabandi merujuk kepada nama tarekat An-Naqsyabandiyyah dan kata Al-Husaini menandakan bahwa ia merupakan keturunan Rasulullah SAW melalui jalur Sayidina Husain RA. Kata Al-Azhari merujuk pada tempat ia belajar, yaitu Al-Azhar.

Abdulhadi Naja Al-Abyari lahir di kampung Abyar pada tahun 1236 H (1821 M). Di kampung ini pula ia belajar dasar-dasar ilmu keislaman kepada sang ayah, Syekh Sayyid Ridhwan (w. 1251 H). Pasca wafatnya sang ayah, ia merantau ke Kairo untuk belajar di Al-Azhar. Di kiblat ilmu ini ia belajar kepada sejumlah ulama, di antaranya Syekh Hasan Al-Quwaisini (w. 1254 H), Syekh Ibrahim Al-Bajuri (w. 1277 H), Syekh Ibrahim As-Saqqa (w. 1298 H), Syekh Muhammad ‘Ilisy (w. 1299 H), dan Syekh Hasan Al-‘Idwi (w. 1303 H). Setelah belajar kurang lebih selama empat tahun, ia telah berhasil menguasai seluruh disiplin ilmu yang biasa dipelajari di Al-Azhar.

Syekh Abdulhadi Al-Abyari menjalani karir sebagai pengajar di Al-Azhar dan di istana. Ia tercatat sebagai salah satu anggota tim khusus yang merumuskan aturan rinci syarat menjadi seorang alim di Al-Azhar (Syahadah Al-‘Alimiyyah). Di samping itu, ia juga tercatat sebagai mufti istana di masa pemerintahan Khedive Muhammad Taufik. Pada puncaknya, ia dicalonkan oleh para pembesar Al-Azhar untuk memegang jabatan tertinggi keulamaan di Al-Azhar, yaitu jabatan Syekhul-Azhar. Demikian adalah karir dan jabatan sosok syekh yang sedang kita coba kenali.

Di samping karir dan jabatan yang telah disebut di atas, Syekh Abdulhadi Al-Abyari aktif menulis karya. Jumlahnya lebih dari 40 karya dengan tema bahasan yang beragam. Dari sejumlah karya itu, kita bisa melihat lebih dekat sosok alim ini.

Melalui tulisan ini, penulis mencoba memotret beberapa karakter figur besar ini melalui sejumlah karyanya. Di antara karakter yang berhasil dipotret adalah sebagai berikut:

I. Pakar Bahasa dan Sastra

Jika kita membaca karya tulis Syekh Abdulhadi Al-Abyari, hal pertama yang tampak darinya adalah kemahirannya dalam mengolah kosakata. Sehingga Ali Basya Mubarak dalam Al-Khithath At-Taufiqiyyah menjulukinya sebagai kamus berjalan. Memang benar, gaya bahasanya dalam berbagai karya itu mampu menggugah pembaca akan keluasan bahasa Arab. Betapa banyak kosa kata yang jarang dipakai oleh para penulis pada umumnya, namun ia tuangkan dan ia olah dalam karya-karyanya.

Di samping itu, sentuhan sastrawinya begitu terasa. Penempatan posisi kosa kata yang dipilihnya membuat pembaca ikut merasakan keindahan makna yang dibawa. Gagasan yang disampaikan nyaris tampak di depan mata, meski sebenarnya maknanya belum bisa dipahami seutuhnya. Hal ini tak lain adalah buah dari kematangannya dalam disiplin bahasa Arab dan sastra. Baik dalam bidang lughah, wadh’i, isytiqaq, sharf, nahwu, balaghah, maupun adab.

Bukan hanya berhenti di situ, Syekh Abdulhadi Al-Abyari juga mempunyai karya khusus dalam tiap bidang yang telah disebut di atas. Sebagai contoh, dalam bidang lughah, ia mempunyai kitab berjudul Tarwih An-Nufus, yakni sebuah hasyiah (komentar) kitab Al-Qamus Al-Muhith karangan Al-Fairuzabadi. Dalam bidang wadh’i, ia menuliskan Zahr Ar-Rawabi, sebuah hasyiah atas Risalah Al-Wadh’i karya Syekh Muhammad Al-Anbabi. Dalam bidang balaghah, ia menulis sejumlah karya di antaranya Tharfah Ar-Rabi’ fi Anwa’i Al-Badi’, Hadiqah Al-Bayan, dan dua syarah atas kitab yang terakhir ini.

Resensi

Kumpulan ulasan buku dan kitab menarik dapat teman-teman baca

di sini

Selain itu, ia juga menulis Zahrah Al-Hamdalah, sebuah analisis melalui kaca mata balaghah dan nahwu atas basmalah dan hamdalah. Ia juga menulis nazam Nafhah Al-Akmam yang membahas tentang kosakata dalam bahasa Arab yang bisa dibaca dengan tiga harakat dan maknanya berbeda. Dalam sastra, ia menulis kitab Sihr Al-‘Uyun. Ia juga gemar surat-menyurat dengan sastrawan sezamannya. Kemudian kumpulan surat-suratnya pun dikumpulkan dalam satu kitab berjudul Al-Wasa'il Al-Ahdabiyyah.

Yang tidak kalah menarik lagi adalah perannya dalam menjadi penengah antara Ahmad Faris Asy-Syidyaq, ahli bahasa kawakan dan pemimpin redaksi surat kabar Al-Jawaib, Turki, dengan Al-Harairi, pemimpin redaksi surat kabar Birjis, Prancis. Kedua raksasa bahasa itu meminta Al-Abyari untuk menjadi penengah atas perbedaan pendapat di antara keduanya terkait permasalahan bahasa. Pada akhirnya ia menulis kitab An-Najmu Ats-Tsaqib fi Al-Muhakamah baina Birjis wa Al-Jawaib. Kemudian tulisan kitab ini pun mendapat apresiasi dari kedua tokoh di atas. Sebab putusannya sebagai penengah dapat memuaskan kedua belah pihak.

II. Sosok Penjunjung Karya Guru dan Rekanannya

Bentuk junjungan Syekh Adulhadi Al-Abyari atas karya gurunya terekam melalui sejumlah karya. Ketika Syekh Ibrahim Al-Bajuri menuliskan kitab Hasyiyah ‘ala Syarh Ibnu Qasim dalam bidang fikih, ia meringkasnya menjadi kitab Ats-Tsaghr Al-Basim. Begitu juga ketika Syekh Muhammad ‘Ilisy menulis kitab Taqrib Al-‘Aqaid dalam bidang tauhid, ia memberikan syarah atas kitab tersebut dengan judul Taqrir Al-Fawaid. Demikian juga ketika Syekh Hasan Al-‘Idwi menulis risalah tauhid beserta syarahnya, ia pun kemudian menuliskan hasyiah atas kitab syarah tersebut dengan judul Zahrat Ath-Thal’i An-Nadhidh.

Di samping itu, ketika Syekh Al-Hulwani menulis syarah atas shalawat Syekh Mushtahfa Al-Bakri yang kemudian diberi judul Adh-Dhau’ Asy-Syariq, Al-Hulwani lantas menerima beberapa kritikan terkait sejumlah permasalahan bahasa. Sehingga Al-Abyari tergerak untuk ikut menjawab kritikan tersebut dengan menulis kitab Rahat Al-Hulwani. Sejumlah karya di atas menjadi bukti bakti seorang murid kepada guru-gurunya.

Selain berkhidmah kepada karya gurunya, Syekh Abdulhadi Al-Abyari juga memberikan perhatian khusus kepada rekan-rekannya. Ketika Syekh Syamsuddin Al-Anbabi mengarang risalah ilmu wadh’i, ia pun menuliskan hasyiah atas kitab ini dengan judul Zahr Ar-Rawabi sebagaimana telah disebut di atas. Begitu juga ketika Syekh Muhammad Al-Hawari didera sakit parah, kemudian menulis sebuah kasidah berisi sanjungan kepada baginda Rasulullah SAW sebagai wasilah kesembuhannya. Kasidah itu diberi nama Rahat Al-Arwah. Al-Abyari lantas menyusul dengan mengarang syarah atas kasidah tersebut dengan judul Nasywat Al-Afrah.

Selain itu, ketika Syekh Muhammad Al-Basyuni menulis nazam Muqaddimah Al-Qasthallani dalam mushthalah hadits. Muqaddimah ini adalah muqaddimah dari syarah Shahih Al-Bukhari yang berjudul Irsyad As-Sari. Kemudian, Al-Abyari memberikan syarah atas nazam karya rekannya ini dengan judul Shahih Al-Ma’ani. Dalam syarah ini, Al-Abyari sering mengarahkan pembaca untuk menelaah juga hasyiah buah karyanya atas muqaddimah di atas yang diberi judul Nail Al-Amani. Sebab, di dalam hasyiah ini pembahasannya lebih mendalam dan lebih komprehensif. Perlu diketahui juga bahwa Al-Abyari menulis hasyiah ini atas permintaan rekannya, yakni Syekh Syamsuddin Al-Anbabi, sewaktu Al-Abyari mengajarkan Shahih Al-Bukhari di Al-Azhar.

III. Sosok Ensiklopedis

Sebagaimana yang telah disampaikan di atas, Syekh Abdulhadi Al-Abyari telah berhasil menguasai seluruh disiplin keilmuan Islam yang lazim dipelajari di Al-Azhar. Hal ini mengantarkannya menjadi sosok ensiklopedis. Kepakaran dalam beragam ilmu bisa kita saksikan dalam kitab Su’ud Al-Mathali’ fi Su’ud Al-Muthali’. Di dalam kitab itu ia membahas tidak kurang dari 40 disiplin ilmu, baik ilmu agama maupun umum.

Selain itu, ia juga memiliki nazam yang berjudul Al-Kawakib Ad-Durriyyah. Di sini ia membahas kaidah yang terdapat dalam ilmu fikih, tafsir, hadits, nahwu, sharaf, falak dan yang lainnya. Kemudian nazam ini ia beri syarah sendiri dengan judul Al-Mawakib Al-‘Aliyyah.

Demikian sekilas potret Syekh Abdulhadi Al-Abyari melalui sejumlah karyanya. Semoga kita bisa meniru jejak dan kiprahnya. Amin


💡
Baca juga artikel lain di rubrik BUDAYA atau tulisan menarik Munawar Ahmad Sodikin