Rektor Al-Azhar: Majelis Hadits Menghubungkan Umat dengan Nasab Termulia kepada Nabi Muhammad
TAWAZUN.ID — Rektor Universitas Al-Azhar Prof. Dr. Salamah Dawud menegaskan bahwa hidupnya kembali tradisi majelis-majelis hadits di Al-Azhar merupakan karunia besar yang menghubungkan umat Islam dengan nasab paling mulia, yakni kepada Rasulullah ﷺ melalui periwayatan ilmu dan pengkajian sunnah.
Pernyataan itu disampaikan Prof. Salamah Dawud saat menghadiri penutupan pembacaan dua karya monumental Imam At-Tirmidzi, Al-Jami’ Al-Kabir dan Asy-Syama'il Al-Muhammadiyyah, di Masjid Al-Azhar, Kairo, Selasa (28/7). Kegiatan tersebut digelar di bawah naungan Imam Akbar Al-Azhar Syekh Ahmad Ath-Thayyib sebagai bagian dari tradisi majelis ilmiah yang kembali dihidupkan di lingkungan Al-Azhar.
Dalam sambutannya, Prof. Salamah menyampaikan apresiasi kepada Imam Akbar Al-Azhar yang telah menghidupkan kembali majelis-majelis keilmuan yang dahulu menjadi ciri khas Al-Azhar.
Menurutnya, kemuliaan sejati bukan hanya terletak pada penyelenggaraan sebuah kegiatan, tetapi pada upaya menghidupkan kembali tradisi ilmu yang telah melahirkan generasi ulama sepanjang sejarah.
"Hakikat kemuliaan adalah menghidupkan kembali kemuliaan-kemuliaan semacam ini. Orang yang turut menghidupkannya layak disebut benar-benar hidup," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa menghadiri majelis ilmu bersama para pakar hadits dan ulama merupakan kehormatan sekaligus keberkahan. Kehadiran dalam majelis seperti itu diharapkan menjadi sebab seseorang digolongkan bersama orang-orang yang mempelajari dan meneladani sunnah Rasulullah ﷺ.
Membaca Syama'il untuk Mengenal Rasulullah
Dalam kesempatan tersebut, Rektor Al-Azhar menjelaskan bahwa kitab Asy-Syama'il Al-Muhammadiyyah karya Imam At-Tirmidzi merupakan salah satu karya paling awal dan paling penting yang membahas karakter, akhlak, serta sifat-sifat Rasulullah ﷺ. Ia juga menempatkan kitab tersebut sejajar dengan karya-karya klasik lain seperti Asy-Syifa' karya Al-Qadhi ‘Iyadh.
Menurutnya, orang yang membaca kitab-kitab syama'il seakan dapat mengenal Rasulullah ﷺ secara lebih dekat. Kitab-kitab tersebut mendokumentasikan secara rinci sifat fisik, akhlak, pakaian, makanan, minuman, hingga cara berjalan Nabi Muhammad ﷺ.
Karena itu, para ulama sepanjang zaman senantiasa memuliakan dan mengambil keberkahan dari pembacaan kitab-kitab tersebut. Melalui mata rantai keilmuan itulah, kata Prof. Salamah, seorang penuntut ilmu memperoleh keterhubungan kepada "nasab paling mulia", yaitu nasab kepada Rasulullah ﷺ melalui sanad ilmu.
Ilmu Tidak Mengenal Usia
Prof. Salamah juga mengingatkan bahwa semangat menuntut ilmu tidak pernah dibatasi usia.
"Ilmu tidak mengenal rambut yang memutih dan tidak melemah karena usia tua. Ilmu justru berkembang seiring kuatnya tekad dan semangat seseorang," ungkapnya.
Ia menilai pembacaan kitab-kitab hadits secara mendalam di Masjid Al-Azhar—masjid tertua sekaligus pusat keilmuan Islam—merupakan amal yang sangat agung.
Dalam kesempatan itu, ia turut mengutip pandangan ulama hadits Ahmad Syakir yang menyatakan bahwa siapa saja yang telah mempelajari enam kitab hadits utama, ditambah Musnad Ahmad dan Al-Muwaththa' karya Imam Malik, berarti telah menguasai sebagian besar khazanah sunnah Nabi.
Prof. Salamah pun mendorong para mahasiswa dan penuntut ilmu agar tidak berhenti pada pembacaan teks hadits semata, tetapi juga mendalami kitab-kitab syarah, memahami kekhasan riwayat masing-masing imam hadits, serta menelaah kandungan makna dan metodologinya.
"Cukuplah Saya Menjadi Lembah di Antara Dua Gunung"
Dalam pidatonya, Prof. Salamah juga menunjukkan sikap tawaduk di hadapan para ulama hadits.
Ia mengaku bukan ahli utama dalam bidang hadits. Saat diminta duduk di antara dua guru besar hadits Al-Azhar, Prof. Dr. Mushthafa Abu Umarah dan Prof. Dr. Shubhi Abdulfattah Rabi’, ia sempat menolak.
"Saya tidak pantas memisahkan dua gunung," tuturnya.
Ia kemudian mengutip ungkapan indah dalam bahasa Arab bahwa ruang di antara dua gunung disebut sebagai lembah.
"Cukuplah saya menjadi lembah di antara dua gunung," katanya, yang disambut hangat para hadirin.
Menjaga Tradisi Ilmu dan Pemahaman Sunnah
Menutup sambutannya, Rektor Universitas Al-Azhar mengajak para peneliti dan mahasiswa untuk memberikan perhatian serius terhadap aspek metodologi dan makna dalam syarah hadits. Menurutnya, kitab-kitab hadits bukan hanya menyimpan hukum-hukum syariat, tetapi juga mengandung adab, kedalaman bahasa, dan nilai-nilai pendidikan yang sangat luhur.
Ia berharap majelis-majelis hadits yang kembali dihidupkan di Masjid Al-Azhar dapat terus mempererat hubungan umat Islam dengan akhlak, sunnah, dan keteladanan Rasulullah ﷺ.
Acara penutupan pembacaan Al-Jami’ Al-Kabir dan Asy-Syama'il Al-Muhammadiyyah tersebut turut dihadiri Prof. Dr. Mustafa Abu Umarah, Prof. Dr. Shubhi Abdulfattah Rabi’, Dr. Hani Audah dari Masjid Al-Azhar, serta dilengkapi penerjemahan ke bahasa isyarat oleh Dr. Mona Asyur, daiyah dari Akademi Riset Islam Al-Azhar.