Rektor Universitas Al-Azhar Buka Muktamar Internasional Fakultas Ilmu Komunikasi

TAWAZUN.ID — Pada Selasa (03/05/2023) pagi, sejumlah pimpinan Al-Azhar menghadiri pembukaan Muktamar Internasional Ke-5 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Al-Azhar Mesir. Pertemuan ilmiah ini mengusung tajuk Media Digital dan Manajemen Krisis. Kegiatan ini bertempat di gedung Konferensi Internasional (ACC) Al-Azhar di Madinah Nashr, Kairo.

Muktamar ini berlangsung pada tanggal 2-3 Mei dan terselenggara di bawah naungan Prof. Dr. Imam Akbar Ahmad Ath-Thayib (Syekhul-Azhar) dan Prof. Dr. Syekh Salamah Dawud (Rektor Universitas Al-Azhar), serta Dr. Mahmud Shiddiq (Wakil Rektor Universitas Al-Azhar bidang Pascasarjana dan Penelitian).

Dalam pidato pembukaan, Prof. Dr. Salamah Dawud, Rektor Universitas Al-Azhar menyanjung terselenggaranya muktamar internasional yang dimotori Fakultas Ilmu Komunikasi (jurnalistik) Universitas Al-Azhar. Bagi rektor, terselenggaranya muktamar tersebut telah menepati janji dan memberikan bukti yang terang benderang layaknya sinar matahari, bahwa Al-Azhar tidak pernah menutup sebelah mata pada realitas dunia hari ini: pada problematika, kontestasi, harapan, penderitaan, baik sisi positif maupun negatifnya. Seorang alim itu bukanlah orang yang hidup di menara gading yang tinggi dalam keadaan tertutup kedua matanya pada segenap penderitaan umat dan dunia. Menurut beliau pula, seorang ulama justru orang yang memiliki cara pandang serta terobosan yang ia ajukan pada umat manusia demi menyelesaikan krisis dan problem yang terjadi setiap hari. "Khususnya ketika kita melihat hari ini, telah banyak cara pandang banyak orang yang rancu sehingga tak bisa menyelesaikan inti dari sebuah permasalahan. Hanya para ahli ilmu mendalam yang secara khusus terbebas dari kerancuan itu. Dari situ, tidak lantas semua orang alim punya kapabilitas untuk membicarakan suatu permasalahan tertentu." tegasnya.

Dalam acara muktamar yang bertajuk Media Digital dan Manajemen Krisis Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Al-Azhar tersebut, Prof. Dr. Salamah Dawud berkomentar, “Saya mencermati tema-tema dan judul-judul penelitian yang dipresentasikan dalam muktamar ini, dan saya pikir perlu untuk mengapresiasi dan menyanjung kegiatan yang luar biasa ini dalam upaya meneliti secara objektif posisi media audio-visual, serta apa yang disebut hari ini sebagai sosialmedia: yakni perannya dalam mengelola krisis lokal dan global yang kini dialami dunia. Setiap jengkal dari krisis ekonomi berupa naiknya harga serta dampaknya pada masyarakat, masalah ketahanan pangan di Mesir, perang pangan dan narkoba, perang antara Rusia dan Ukraina, perang tragis Suriah, Irak, Yaman, dan Libya, dan yang tak kalah penting adalah perang saudara-saudara kita di Sudan di gerbang perbatasan kita.”

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Al-Azhar Prof. Dr. Salamah Dawud berdoa kepada Allah Yang Maha Esa agar suara akal dan suara kemenangan lebih keras daripada suara meriam dan senjata. "Semua peperangan ini, yang setiap saat terdengar di telinga, seolah mengatakan bahwa hati nurani manusia yang bebas dan peradaban modern yang menjunjung tinggi keadilan dan perdamaian dunia, serta banyak organisasi Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional sebenarnya masih buntu menjalankan misi dan visinya. Negara-negara kuat dan kaya, pemilik kebijakan serta senjata masih saja mengintimidasi negara-negara lemah dan miskin, yang hanya mengikuti kebijakan dan mengkonsumsi senjata.", tutur Rektor Universitas Al-Azhar Mesir.

Sementara itu, riset-riset yang diajukan dalam muktamar ini membahas krisis perubahan iklim dan mempelajari solusi yang ditawarkan sebagai jalan keluar dalam beberapa bentuk upaya: paling penting adalah menjauhkan alam dari polusi dan kembali ke alam hijau (Go Green). Mengajak manusia untuk menahan tangannya dari merusak alam.  Sebab perusakan manusia ini adalah salah satu fitnah yang bersifat menghancurkan sebagaimana Allah yang Maha Esa berfirman: “Peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah Maha Keras hukuman-Nya.” (Surah Al-Anfal: 25).

Syekh Salamah Dawud dalam pidato sambutan juga menyinggung bahwa salah satu krisis terpenting yang dibahas muktamar ini adalah krisis kecanduan elektronik serta bagaimana membangun kesadaran akan bahayanya. Karena kecanduan elektronik, menurutnya, itu tidak kalah berbahayanya dengan kecanduan narkoba dalam hal menghancurkan generasi mendatang. "Betapa banyak waktu dan nyawa yang terbuang sia-sia di dalam kecanduan elektronik atau gajet. Andai hal itu Anda alihkan pada kerja keras dan kegiatan positif, niscaya hal itu akan lebih bermanfaat bagi rakyat dan negara. Betapa banyak di dalam kecanduan itu, Anda menghilangkan kenyamanan mata, ketenangan pikiran dan hati. Bahkan beberapa situs mencurigakan bisa menyebarkan kebencian dan kekejian di masyarakat, hal-hal yang kriminal dan destruktif." kata Rektor Universitas Al-Azhar.

Selain itu, penelitian konferensi ini juga membahas penanganan krisis kesehatan seperti tumor mulut, cacar monyet,dan pandemi Corona yang melanda dunia. Wabah zaman modern ini yang menyebabkan jutaan orang meninggal.

Lingkungan

Kumpulan tulisan yang mengangkat isu lingkungan dapat teman-teman baca

di sini

Rektor Universitas Al-Azhar juga menekankan bahwa media harus jujur ​serta menghindari sikap berlebihan atau pun menggampangkan, juga bentuk intimidasi maupun meremehkan. Setiap penulis dan pembicara harus tahu bahwa dia memiliki tanggung jawab. "Dia adalah tawanan dari kata yang ia tuliskan, perkataan pasti berasal dari ucapan yang terkadang bisa saja melukai."

Rektor Universitas Al-Azhar Prof. Dr. Salamah Dawud juga menyampaikan bahwa penelitian yang diikutkan dalam muktamar tersebut adalah gambaran nyata dari keragaman ide dan konsep. Dan itu adalah gambaran dari realitas ilmiah dan budaya kita yang luas, di mana pendekatan dan ide bisa bervariasi serta cara pandang pun bisa berbeda. Ia menuturkan bahwa semua itu ibarat tanaman yang diairi dengan satu air, namun menghasilkan buah dan cangkokan yang berbeda. Allah berfirman, “Di bumi terdapat bagian-bagian yang berdampingan, kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang. (Semua) disirami dengan air yang sama, tetapi Kami melebihkan tanaman yang satu atas yang lainnya dalam hal rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar (terdapat) tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang mengerti.”

Prof. Dr. Salamah Dawud menuturkan bahwa perbedaan dan keragaman gagasan, pendekatan, dan budaya akan memperkaya kehidupan ilmiah serta intelektual bangsa. Dan hal itu akan menjadikannya pemilik "tangan atas" dalam hal gerakan intelektual di dunia. Nabi kita yang mulia SAW bersabda, "Tangan atas (pemberi) lebih baik daripada tangan bawah (peminta)."

Beliau menjelaskan bahwa banyak muslim telah membatasi pemahaman ungkapan “tangan atas” pada makna tangan yang memberi uang atau sedekah. Sementara “tangan bawah” adalah tangan yang menerima uang dan sedekah. Hal itu karena hadits tersebut hadir dalam rangka mengajak dan memotivasi sedekah dan infak harta.

"Namun terkait hal ini, alangkah baiknya kita juga perlu menafsirkannya secara lebih luas pada setiap tangan yang lebih tinggi dan setiap tangan yang lebih rendah. Tangan dalam artian di semua bidang kehidupan. Maka tangan di atas dalam hal ilmu lebih baik daripada tangan di bawah. Tangan atas dalam ilmu yang dimaksud adalah tangan yang berinovasi, menambah, memperbarui, dan setiap harinya, mencapai hal baru yang tidak dicapai pada hari sebelumnya. Tangan ini lebih baik dari pada tangan yang mengemis ilmu, yakni hidup bergantung pada pemikiran bangsa lain yang menghasilkan ilmu. Tangan atas adalah tangan para bangsa yang menghasilkan ilmu, sementara tangan bawah adalah tangan bangsa yang tertindas yang mengimpor ilmu sambil hanya berpangku tangan di sofa mereka. Sebagaimana mereka terus mengimpor sepotong roti makanan, minuman, pakaian, obat-obatan, dan senjata. Demikianlah kita bisa memahami tangan atas di dalam kedokteran, pertanian, industri, perdagangan, dan segala aspek kehidupan manusia. Maka negara maju ialah negara yang menang dalam berbagai aspek kehidupan manusia." pesan Rektor Universitas Al-Azhar yang juga merupakan guru besar Balaghah itu.


Reporter: Lukman Hakim Rohim
Editor: Mu'hid Rahman