Sebuah Refleksi Akhir Ramadan
Tanpa terasa, bulan suci Ramadan akan segera berlalu. Bulan suci yang menyediakan begitu banyak hadiah, diskon khusus, dan bonus dari Allah Sang Pemurah ini dalam hitungan jam akan segera meninggalkan kita semua. Kita tak pernah tahu adakah kita masih bisa menjumpainya di tahun mendatang. Padahal menurut sebuah Hadits Nabi, seandainya kita semua bisa tahu betapa agung, indah, dan istimewanya bulan Ramadan, niscaya kita semua akan berharap setiap bulan yang kita jalani adalah bulan Ramadan. “Lau ya’lamu al-’ibadu ma fi Ramadhana, latamannat ummati an takuna assanatu kullah Ramadhana; Seandainya hamba-hamba (Allah) tahu perihal apa yang ada di dalam bulan Ramadan, maka niscaya umatku sudah pasti akan berharap satu tahun penuhnya adalah bulan Ramadan semua.” (Hadits Riwayat Abdullah bin Mas’ud).
Dalam Hadits di atas, Rasulullah secara lugas menyampaikan kepada semua umat Islam, bahwa bulan Ramadan itu bulan yang agung, mulia nan istimewa. Seandainya mereka (umat Islam) mengetahui keistimewaan apa saja yang terdapat di bulan Ramadan, niscaya semuanya akan berharap satu tahun seluruhnya bulan Ramadan. Jadi ketika Ramadan sudah bertandang, akan sangat merugi dan menyesal umat muslim yang menyia-nyiakan keberadaan Sang Ramadan.
Saking istimewanya, umat Islam pun jauh-jauh hari sudah dianjurkan untuk memperbanyak doa agar bisa dipertemukan dengan bulan suci Ramadan (Allahuma bariklana fi rajaba wa sya’bana wa balighna ramadhana). Tersebab faktor istimewanya pula umat Islam dianjurkan untuk bergembira atas datangnya bulan suci Ramadan (Man fariha bidukhuli Ramadhana harramallahu jasadahu ‘alanniran). Rasulullah sendiri pun menampakkan kegembiraan dan kebahagiannya setiap Ramadan menjelang. Selain berbahagia, Rasulullah juga selalu menampakkan kesedihannya setiap Ramadan hendak berlalu. Hal ini karena bulan suci Ramadan yang begitu istimewa hendak berlalu, maka bagi orang-orang yang menyadari keutamaan, kemuliaan dan keistimewaan Ramadan memang akan menjadi momen yang teramat memilukan.
Sebagai bulan suci yang bertabur rahmat, maghfirah serta ma’unah, momen perpisahan dengan Ramadan memang menjadi peristiwa yang memilukan tidak saja bagi manusia. Bahkan dalam sebuah Hadits diriwayatkan: “Idza kana akhiru lailatin min Ramadhana bakat assamawatu wal ardhu wal malaikatu mushibatan li ummati sayyidina Muhammadin, qila ayyu mushibatin, qala Rasulullahi SAW hiya dzahabu Ramadhana, lianna da’wata fihi mustajabatun wasshadaqata maqbulatun walhasanati mudha’afatun wal’adzaba madfu’un; Tatkala tiba akhir malam Ramadan, langit, bumi dan Malaikat menangis karena adanya musibah yang menimpa umat Nabi Muhammad SAW. Sahabat bertanya: ‘Musibah apa wahai Rasulullah? Rasul menjawab: ‘Berpisah dengan bulan Ramadan. Sebab pada bulan ini doa dikabulkan, sedekah diterima, amal kebaikan dilipatgandakan dan siksaan dihentikan.’”
Rasulullah
Kumpulan tulisan dengan spirit kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat teman-teman temukan
di siniKemudian terkait fenomena seseorang yang tekun beribadah selama Ramadan, tapi berubah dan mengalami degradasi ketekunan ibadah, sebagian ulama mengatakan mereka ini termasuk orang yang amat jelek. Bahkan diriwayatkan, “Suila ba’dhussalaf ‘an qaumin yata’abbaduna wa yajtahiduna fi Ramadhana, fa idza kharaja Ramadhanu taraku, faqala: Bi-sa Al-qaumu la ya’rafunallaha illa fi Ramadhana; Sebagian ulama Salaf ditanya perihal kaum/kelompok yang mana mereka beribadah dan bersungguh-sungguh di bulan Ramadan. Jika Ramadan telal berlalu, mereka meninggalkan ibadahnya itu, lantas ada ucapan: ‘Sejelek-jelek kaum adalah mereka yang tidak mengenal Allah kecuali hanya di bulan Ramadan.’
Syahdan dalam sebuah Haditsnya, Nabi Muhammad mengisahkan bahwa beliau didatangi Jibril yang mengomentari fenomena orang yang tidak maksimal dalam beribadah selama Ramadan dan tidak diampuni dosanya. Lantas dikatakan: Syaqiya ‘abdun adraka Ramadhana, fansalakha minhu wa lam yughfar lahu; Celaka orang yang menjumpai Ramadan dan melewatinya, tapi dosa-dosanya tidak diampuni. Kenapa Jibril bisa sampai mengatakan celaka, tidak lain karena banyaknya pengampunan dan bonus rahmat yang diturunkan selama Ramadan. Jadi jika ada seseorang kok sampai bulan suci Ramadan berlalu belum juga mendapatkan pengampunan, maka ia tergolong orang yang merugi dan celaka.
Terkait adanya diskon dan bonus pengampunan selama bulan suci Ramadan ini, Rasululllah sejatinya sudah menjelaskan secara gamblang dalam sebuah Hadits Nabi Muhammad SAW berikut: “Man shama Ramadhana imanan wa ihtisaban ghufira lahu ma taqaddama min dzanbihi; Siapa yang berpuasa di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya di masa lampau pasti akan diampuni.”
Bahkan diriwayatkan pula, bahwa orang-orang yang beriman, yang menjalani puasa dengan baik, maka kelak wajahnya akan tampak riang gembira, bersuka cita, menikmati anugerah yang begitu agung yaitu bisa memandang Allah SWT: “Wujuhun yaumaidzin-naadhirah—Ila Rabbiha naadhirah; Wajah-wajah pada hari itu (hari kiamat) ada yang berseri-seri—Kepada Tuhannyalah mereka melihat.” (Surah Al-Qiyamah 22-23)
Pada hari raya itu pula, para malaikat gembira melihat orang-orang mukmin, mereka akan masuk ke surga dari semua pintu-pintu yang disediakan atas kesabaran mereka dalam menahan hawa nafsu, makan, minum dan maksiat lainnya di bulan Ramadan. Pun atas kesabaran mereka dalam menjalankan ibadah malam dan ibadah-ibadah lainnya, sehingga atas kesabaran mereka itu, dikatakan: “Salaamun ‘alaikum bima shabartum fani’ma ‘uqbaddaar; Malaikat-malaikat itu mengucapkan (Kesejahteraan buat kalian) yakni pahala ini (berkat kesabaran kalian) sewaktu kalian di dunia (maka alangkah baiknya tempat kesudahan ini) akibat dari perbuatan kalian itu.” (Surah Ar-Ra’d: 24)
Wabakdu, sebagai penutup dan pepeling, ada baiknya kita merenungi dan meresapi sebuah dawuh populer berikut: La takunu Ramadhaniyyin walakin kunu Rabbaniyyin; Janganlah kalian menjadi hamba Ramadan, akan tetapi jadilah hamba yang sebenar Rabbani. Jikalah kita merasa masih belum begitu maksimal dalam beribadah dan bertaqarub selama bulan suci Ramadan, ada baiknya kita sempurnakan proses “pendekatan” transendental kita dengan melaksanakan puasa Syawal selama enam hari. Semoga dengan melaksanakan puasa Syawal, kita akan termasuk orang dalam Hadits: Man shama Ramadhana tsumma atba’ahu bi sittin min Syawwal kana ka shiyamiddahri. Semoga!