Sejarah Pendidikan Perempuan di Al-Azhar

Syekhul-Azhar, beberapa tahun terakhir memiliki perhatian khusus pada isu perempuan. Pada serial halakah Ramadan Al-Imam Ath-Thayyib di YouTube tahun lalu, beliau secara khusus membahas isu-isu perempuan: kedudukan perempuan dalam Islam, hakikat persamaan laki-laki dan perempuan, makna ‘kepemimpinan’ (Qawamah) laki-laki, dan sebagainya. Hal ini mencerminkan perhatian besar Al-Azhar secara kelembagaan pada isu perempuan.

Berkaitan dengan hal tersebut, Al-Azhar sebagai lembaga pendidikan memiliki sejarah tersendiri dengan pendidikan perempuan. Sejak krisis kemunduran yang melanda dunia Islam pada abad 18-19, berpengaruh pada fenomena ketidakadilan pada perempuan. Demikian pula hal itu terjadi di Al-Azhar yang saat itu belum berkembang pesat seperti saat ini. Di berbagai negara-negara muslim saat itu, karena satu dan banyak faktor, perempuan tidak mendapatkan haknya di bidang pendidikan.

Dr. Abdulhamid Abduljalil, salah satu dosen Sejarah Modern di Fakultas Bahasa Arab Universitas Al-Azhar, menulis potret sejarah masuknya pendidikan perempuan di Al-Azhar. Dalam tulisannya, “Al-Azhar wa Ta’lim Al-Mar'ah” yang dimuat di Majalah Azhar edisi Mei 2024, ia menjelaskan data historis awal mula, faktor-faktor dan siapa saja yang berperan dalam membuka ruang pendidikan perempuan di Al-Azhar.

Mula-mula pendidikan perempuan mulai dibuka di pemerintahan Muhammad Ali (1804-1849). Ia yang dikenal Bapak Modern Mesir, membuka sekolah perempuan pertama bernama Madrasah Al-Muwallidat pada tahun 1832 M. Kemudian dilanjutkan oleh Khedive Ismail (1867-1879) dengan didirikannya sekolah negeri pertama untuk perempuan tahun 1873 M. Jasymah Hanim, istri Khedive, turut berperan dengan membiayai perkembangan sekolah tersebut.

Di akhir dari abad ke-19, suara-suara pemberdayaan perempuan di bidang pendidikan muncul dari para pembaharu Islam. Mereka menyeru untuk mengangkat martabat perempuan di bidang pendidikan setelah sebelumnya mengalami belenggu dan kejumudan. Syekh Muhammad Abduh –salah satu pembaharu Islam saat itu—mendorong peran perempuan dalam kebangkitan dunia Islam. Secara tegas beliau mengatakan bahwa setiap pelanggaran terhadap hak perempuan, merupakan tindakan kebodohan yang keluar dari tuntunan syariat Islam.

James Heyworth-Dunne, orientalis Inggris dalam bukunya, “An Introduction to the history of education in modern Egypt”, menyebut kemunculan perempuan-perempuan yang belajar Al-Quran di Al-Azhar pada abad 19. Bahkan hingga mereka turut menjadi ahli fikih. Ia juga menyebut keberadaan perempuan buta yang belajar pada Syekhul-Azhar Asy-Syarqawi saat itu hingga murid tersebut menjadi salah satu pengajar dari kalangan perempuan di Al-Azhar.

Perempuan

Kumpulan postingan tulisan yang mengangkat isu perempuan dalam pandangan Islam

di sini

Pada abad 20 tuntutan untuk membuka secara resmi pendidikan untuk perempuan di Al-Azhar mulai bermunculan. Gerakan tersebut diprakarsai oleh Aminah As-Said (1914-1995). Sosok perempuan pertama yang mengajukan gagasan tersebut kepada Syekh Muhammad Mushthafa Al-Maraghi. Di tahun yang sama, desakan tersebut sampai ke pemerintahan Mesir dengan perantara menteri dan politikus Abdulhamid pada Oktober tahun 1943. Desakan tersebut berupa usulan untuk memasukkan undang-undang pendidikan perempuan di dalam internal Al-Azhar.

Pada tanggal 18 Oktober, ia menulis artikel di Majalah Al-Istnain wa Dunya yang berisi tuntutan agar Al-Azhar membuka pendidikan untuk perempuan sebagaimana yang dilakukan Universitas Fuad I (sekarang menjadi Cairo University). Ia menekankan bahwa peran penting perempuan tidak terbatas pada profesi guru, melainkan juga pada urgensitas ibu rumah tangga yang paham agama dan sanggup melahirkan generasi yang berkualitas di bidang agama. Usulan dan saran tersebut akhirnya disambut hangat oleh Syekh Muhammad Mushthafa Al-Maraghi saat itu.

Perkuliahan khusus perempuan (Kulliyyat Al-Banat Al-Islamiyyah) akhirnya secara resmi dibuka Al-Azhar pada tahun 1962. Tahun tersebut selang kejadian Revolusi Juli 1952, dan munculnya undang-undang pengembangan Al-Azhar nomer 103 tahun 1961. Dekan pertama Kulliyyat Al-Banat Al-Islamiyyah adalah Dr. Zainab Ashmat Rasyid, Dosen Sejarah Modern dan Kontemporer. Di saat yang sama, Al-Azhar juga membuka ma’had khusus perempuan di tiga jenjang pendidikan (SD-SMP-SMA). Semua berlangsung sukses di masa kepemimpinan Imam Akbar Syekh Mahmud Syaltut (1958-1963).

Semenjak tahun tersebut pendidikan di Al-Azhar berkembang pesat dengan munculnya undang-undang untuk memperbaharui metode pendidikan di Al-Azhar berikut kegiatan-kegiatan ilmiah modern dan metode pendidikan modern. Undang-undang tersebut membuka luas pemahaman para ulama dan akademisi Al-Azhar saat itu bahwa mendidik perempuan dengan pendidikan Islam yang benar (melalui para guru besar Al-Azhar) merupakan benteng bagi generasi umat Islam ke depannya. Implementasi dari perbincangan tersebut kemudian berbuah dengan dibukanya banyak fakultas sains untuk para mahasiswi seperti kedokteran, arsitek, sains, keperawatan, pendidikan, humaniora, bahasa.

Walhasil, Al-Azhar hingga saat ini telah berhasil memberikan hak penuh perempuan di bidang pendidikan. Bahkan tidak sekadar pendidikan agama saja, melainkan membuka seluas-luasnya segenap potensi pada fakultas-fakultas ilmu modern saat ini. Al-Azhar akhirnya—sebagaimana kita saksikan— dapat menjadi pusat pendidikan Islam yang didatangi banyak para penuntut ilmu dari seluruh dunia, baik dari kalangan laki-laki maupun perempuan.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik SEJARAH atau tulisan menarik Lukman Hakim Rohim