Semarak Menyambut Bulan Maulid

Sebentar lagi umat Islam akan memasuki bulan Rabiulawal, bulan kelahiran Nabi paling mulia, Muhammad SAW. Tentu, kita sebagai umatnya, sudah selayaknya merasa bahagia menyambut datangnya bulan tersebut. Sudah sepatutnya pula kita memperingati hari kelahiran beliau dengan rasa penuh syukur kepada Allah SWT. karena telah menganugerahkan kepada kita nabi yang terbaik.

Ketika kita memperhatikan laku para ulama saat mendengar akan datangnya bulan Rabiul Awal, mereka benar-benar mempersiapkan dengan seluruh jiwa dan raga untuk mengisi setiap detik bulan tersebut dengan berbagai bentuk takarub, mendekatkan diri kepada Allah. Sebagian dari mereka, ada yang membaca dan mempelajari dengan serius sirah Nabi, baik dengan membaca kitab Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah, kitab Asy-Syifa anggitan Syekh Al-Qadhi 'Iyyadh, dan kitab-kitab yang lain. Ada juga dari mereka yang mengisi bulan Rabiulawal dengan membuat majelis selawat bersama masyarakat di setiap malamnya.

Ath-Thayyib An-Najjar, Suri Teladan Guru Besar Tafsir Al-Azhar
Mengenal sosok alim ulama Al-Azhar bernama Syekh Ath-Thayyib An-Najjar. Guru besar tafsir dan anggota Dewan Ulama Senior Al-Azhar di era 50-an.

Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan wujud kecintaan kepada Rasulullah SAW. dengan harapan bahwa menghidupkan bulan Rabiulawal ini mampu mengantarkan umat menuju kecintaan yang lebih mendalam kepada Rasulullah SAW. Seperti halnya kisah seorang Badui yang bertanya kepada Rasulullah kapan kiamat. Rasulullah SAW pun balik bertanya, “Apa yang telah engkau siapkan untuk menghadapinya?”.  Badui tadi menjawab, “Aku  tidak mempersiapkannya dengan banyaknya puasa, salat, ataupun sedekah. Akan tetapi aku mempersiapkannya dengan cintaku pada Allah SWT, dan RasulNya. Rasulullah SAW pun menjawab, “Engkau akan (dikumpulkan) bersama orang yang engkau cintai..”

Semarak menyambut bulan maulid tidak sebatas dirayakan oleh para ulama. Umat Islam pada umumnya juga ikut berlomba-lomba mengisi bulan maulid dengan rutin berselawat, mengisi acara mingguan di bulan ini dengan merayakan maulidan. Mereka ikut berlomba-lomba pada kebaikan dengan caranya masing-masing. Misalnya, masyarakat bergotong-royong untuk mengadakan acara perayaan maulid. Ada yang menginfakkan harta maupun tenaga;  baik dengan menyiapkan dan membeli manisan sebagai jamuan untuk tetamu, hingga ada yang turut serta membersihkan lokasi acara,  menyiapkan tenda, masakan, ataupun ketertibannya. Mereka semua ikut terlibat dan berpartisipasi mengikuti dan meramaikan kegiatan acara maulidan. Kegiatan seperti ini mungkin diadakan di setiap negara yang mayoritas Sunni. Meski terdapat sebagain kecil kelompok yang berdalih hal itu terlalu berlebihan dalam memuji-memuji Rasulullah SAW, namun yang demikian tidak meredam sedikitpun gejolak kerinduan terhadap sosok Nabi SAW. Orang-orang yang merayakan maulid Nabi SAW adalah orang-orang yang selalu mawas diri, merasakan betapa sangat butuhnya kita pada syafaat Nabi SAW kelak di Hari Pengadilan.

Acara maulid yang di adakan di masjid-masjid atau surau-surau baik di perkampungan ataupun perkotaan, merupakan bentuk kesadaran umat akan pentingnya syiar cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Adapun terkait puji-pujian yang mereka lantunkan saat merayakan maulid tersebut beragam,  setiap daerah ataupun setiap negara memiliki cirinya masing-masing. Misalnya di Indonesia, masyarakat muslim di sebagian daerah membaca Al-Barzanji, Ad-Dhiyaul-Lami, juga Ad-Diba’i. Sementara di sebagian daerah lain ada juga yang membaca Al-Burdah atau pujian yang dilantunkan kepada Rasulullah SAW hasil karangannya sendiri. Baik menggunakan bahasanya daerahnya atau menggunakan bahasa Arab yang kental dengan nilai-nilai sastra yang dikarang oleh para ulama nan sastrawan, ulama yang  penuh ungkapan cinta atas Rasulullah SAW. Oleh karenanya, syair gubahan atau pujiannya itu sarat dan berisi serta menggunakan bahasa-bahasa sastra bernilai tinggi, penuh dengan kandungan makna.

Terkait lantunan pujian pada Rasulullah SAW, para ulama di setiap masa berlomba-lomba menulis dan menyusun dengan ibarat-ibarat yang indah dan menyejukkan hati, selawatnya pun bermacam-macam bentuk, ada yang menyusun selawat dari sisi rohaniah pada diri Rasulullah SAW, ada juga dari sisi akhlaknya, dan dari sisi kehidupannya. Tak terhitung begitu banyaknya gubahan pujian dan lantunan bentuk selawat kepada Rasulullah SAW yang disusun para ulama, penyair-penyair dari masa Baginda Rasulullah SAW seperti Sahabat Hassan bin Tsabit, sampai yang dibuat hingga masa kini. Ini menunjukan keluhuran derajat Nabi Muhammad SAW di hadapan Tuhannya.

Kita mengenal dan meyakini adanya para nabi dan rasul yang membawa risalah Allah SWT sebelum baginda Rasulullah, tetapi pujian kepada nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad tidak terdengar bahkan jika pun ada. Sangat sedikit jika dibandingan nabi kita Muhammad SAW.

Terkait ini Allah SWT berfirman:
ورَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ
[ الشرح: 4]

Dalam Tafsir Washith, Syekhul-Azhar Ath-Thanthawi menafsiri ayat ini; “Benar-benar Kami (Yang Maha Agung) mengangkat setiap penyebutanmu, yakni dengan kami menjadikanmu tinggi dalam derajat dan keagungan. Sebagai bukti, sesungguhnya Kami menjadikan namamu bersanding dengan nama Kami dalam mengucapkan dua kalimat syahadat. Juga dalam azan dan ikamah, tasyahud dan lainnya. Kami benar-benar mengagungkanmu di atas semua rasul Kami, bahkan atas semua makhluk sekalipun. Kami juga memberimu syafaat yang agung, dan kami menjadikan ketaatan kepadamu termasuk dari ketaatan kepada Kami.”

Menyikapi Provokasi Muhammad Kace dan Yahya Waloni
Kasus-kasus penistaan atas agama sering menghebohkan netizen Indonesia. Bagaimana teladan Rasulullah SAW dalam bersikap atas penghinaan?

Dari riwayat Abi Said Al-Khudri, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Jibril datang kepadaku lalu ia berkata, ‘Apakah kamu tahu, bagaimana Allah SWT mengangkat namamu?’ Aku berkata, ‘Allah yang lebih tahu.’  Jibril mengatakan, 'Ketika namaku disebut maka namamu juga disebut bersamaan denganku.'”

Dari sini, kita meyakini dan bersaksi dengan meminjam istilah Syekh Yusri Sayyid Jabr Al-Hasani, seorang alim di Al-Azhar, syekh muqaddam Tarekat Ash-Shiddiqiyyah Asy-Syadzuliyyah, yang mengatakan, “Jika kepada Allah kita meyakini tidak ada apapun yang menyerupaiNya, maka kepada Baginda Nabi SAW kita meyakini tidak ada satupun makhluk yang serupa dengannya.”


Baca juga artikel lain di rubrik ISLAMUNA atau tulisan menarik lain Irfan Rifqi Fauzi