Semarak Perayaan 1084 Tahun Al-Azhar di Kairo
TAWAZUN.ID — Pada Ahad (17/03/2024) yang bertepatan dengan 7 Ramadan 1445 Hijriah, Al-Azhar menggelar ihtifal hari jadi Masjid Al-Azhar yang ke-1084. Untuk diketahui, perayaan tahunan ini dilaksanakan sejak 2018 silam. Hal ini berdasarkan keputusan majelis tertinggi di Al-Azhar, yakni Al-Majlis Al-A’la li Al-Azhar yang diketuai langsung oleh Syekhul-Azhar Ahmad Ath-Thayyib. Salah satu poin keputusan tersebut ialah: tanggal 7 Ramadan pada tiap tahunnya resmi menjadi hari peringatan berdirinya salah satu masjid dan institusi keilmuan Islam tertua di dunia ini.
Sehari sebelumnya, Al-Azhar melalui fanpage Facebook resmi Masjid Al-Azhar telah mengundang siapapun untuk menghadiri perayaan ulang tahun tersebut secara langsung di Masjid Al-Azhar.
Pada tahun ini, ihtifal hari jadi Al-Azhar terbilang menarik. Karena tahun ini, para tokoh elite yang mengetuai lembaga di bawah Al-Azhar banyak yang hadir. Ada Prof. Dr. Muhammad Abdurrahman Adh-Dhuwaini (Wakilul-Azhar), Prof. Dr. Nazhir ‘Ayyad (Sekjen Akademi Riset Islam), Prof. Dr. Abbas Syuman (Sekjen Dewan Ulama Senior Al-Azhar), Prof. Dr. Ismail Al-Haddad (Sekjen Majelis Tinggi Al-Azhar), Prof. Dr. Salamah Daud (Rektor Universitas Al-Azhar), Prof. Dr. Abduddaim Nushair (Sekjen OIAA Pusat), Prof. Dr. Ayman Abdulghani (Kepala Direktorat Ma’had Al-Azhar), Prof. Dr. Nahlah Ash-Sha’idi (Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Mahasiswa Internasional di Al-Azhar), dan Prof. Dr. Riham Salamah Nashr (Direktur Pusat Observasi Al-Azhar).
Selain para pucuk pimpinan organisasi Al-Azhar, acara ini juga dihadiri oleh semua dekan di kampus Al-Azhar, sejumlah anggota Haiah Kibar Al-‘Ulama, anggota Majma’ Al-Buhuts Al-Islamiyyah, dan masih banyak lagi. Hal yang tak kalah menarik bahwa ihtifal kali ini tak hanya dirayakan di Masjid Al-Azhar, namun disetiap riwaq, ma’had, dan lembaga di bawah Al-Azhar di seluruh penjuru Mesir. Jika pada sebelumnya, ihtifal resmi dilaksanakan di Kairo saja, pada kesempatan ini, cabang-cabang Al-Azhar di luar Kairo secara serentak juga resmi merayakannya dengan meriah.
※ Hunian Orang-orang Jawi di Masjid Al-Azhar
Acara ini dimulai setelah melaksanakan ibadah salat Zuhur secara berjamaah di Masjid Al-Azhar. Panggung acara juga ditempatkan sesuai dengan tempat di mana bangunan asli Masjid Al-Azhar dibangun pada masa Dinasti Al-Fathimiyyah, yaitu mihrab Masjid Al-Azhar bagian Zhullah Al-Fathimiyyah.
Kemudian, acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh qari cilik Al-Azhar, Umar Ali, salah satu siswa SD di Ma’had Al-Azhar. Setelahnya, acara dilanjutkan dengan uraian kata dari 6 pembicara utama yang mewakili lembaga tinggi di Al-Azhar.
Pembicara pertama dibawakan oleh Prof. Dr. Abdulmun’im Fuad sebagai Pengawas Umum Riwaq Al-Azhar dan ketua panitia dalam ihtifal ini. Dalam uraiannya, ia menerangkan sejumlah poin. Salah satunya bahwa Al-Azhar sedari dulu sangat hati-hati dalam memilih metodologi dan pengajarannya. Dengan seleksi kader yang begitu ketatlah Al-Azhar mampu bertahan hingga 1 milenium. Maka sangat aneh ketika ada orang yang berkata bahwa Al-Azhar adalah tempat tercetaknya terorisme dan radikalisme sedangkan alam nyata memperlihatkan sebaliknya. Apalagi riwaq Al-Azhar di seluruh penjuru Mesir telah mencapai angka 1.070 cabang.
Selanjutnya, pembicara kedua adalah Prof. Dr. Abbas Syuman selaku Sekjen Dewan Ulama Senior Al-Azhar. Dalam uraiannya, ia menyampaikan poin mengenai tersebarnya alumnus Al-Azhar di seluruh belahan dunia. Ia juga menyampaikan, bahwa selain berjihad dengan pena dan pemikiran, Al-Azhar juga pernah berjihad dengan senjata, sebagaimana dapat dibaca dalam buku-buku sejarah, spesifik tentang Penjajahan Prancis dan Inggris atas Mesir. Al-Azhar juga menjadi tempat bersatunya suara antar agama dalam melawan zionisme yang berada di Palestina.
Pada giliran pembicara ketiga, Prof. Dr. Nazhir ‘Ayyad, Sekjen Akademi Riset Islam Al-Azhar, menyampaikan di awal-awal uraiannya bahwa tiap negara memiliki hal yang dibanggakan, begitupun tiap lembaga, afiliasi, dan sebagainya. Namun kebanggaan itu terkadang hanya dari mereka dan untuk mereka sendiri. Berbeda halnya dengan Al-Azhar. Semua negara, lembaga, afiliasi, dan semua muslim di dunia turut berbangga dengan adanya Al-Azhar.
Pada saat pembicara keempat, Prof. Dr. Salamah Daud selaku Rektor Universitas Al-Azhar juga menyampaikan beberapa poin yang sama, bagaimana Al-Azhar tetap eksis hingga sekarang.
Selanjutnya, pembicara kelima dibawakan oleh Prof. Dr. Ahmad Umar Hasyim, ulama sepuh anggota Dewan Ulama Senior Al-Azhar. Dalam uraiannya, ia melantunkan syair masyhur anggitannya untuk Al-Azhar, “Ya Mishru Nada Al-Mukhlishun”. Lalu menceritakan keagungan Al-Azhar dari masa ke masa. Berkaitan dengan Al-Azhar, ia menyatakan bahwa apa yang ia ceritakan tadi bukan untuk berbangga-bangga dengan suatu kaum, golongan, dan bangsa, namun sebagai pemantik kepada para pemuda hari ini untuk menjaga dan membantu Al-Azhar, karena merekalah yang kelak menjadi generasi pemimpin di masa depan.
Memasuki sesi inti dan penutup, majulah Prof. Dr. Muhammad Abdurrahman Adh-Dhuwaini, selaku Wakilul-Azhar dan perwakilan resmi dari Imam Akbar Prof. Dr. Ahmad Ath-Thayyib.
Mengawali sambutannya, beliau menyampaikan ucapan selamat kepada Presiden Republik Arab Mesir Abdulfattah As-Sisi, Syekhul-Azhar Ahmad Ath-Thayyib, para civitas akademika Al-Azhar, juga pecinta Al-Azhar baik di Mesir maupun di luar Mesir atas semarak perayaan ulang tahun Al-Azhar yang ke-1084 ini.
Beliau berkata, “Aku mengingatkan kalian akan keagungan Al-Azhar, agar kalian menaruhnya di depan mata kepala kalian. Ketika kalian mencaci-maki Al-Azhar, sejatinya kalian sedang mencaci-maki Islam dan tonggak keilmuannya. Al-Azhar adalah madrasah diniah dan ilmiah raksasa. Tidak ada institusi yang bisa menyamainya. Ia telah berkhidmah kepada kitabullah dan sunah Nabi SAW. Ia telah menjaga syariat Islam dan eksistensi bahasa Arab.”
Dalam pidatonya yang berlangsung selama 15 menit, Syekh Muhammad Adh-Dhuwaini memaparkan banyak hal terkait sejarah, perkembangan, dan kemajuan Al-Azhar dalam berbagai aspek, baik dalam mencetak para tokoh besar di seluruh dunia, serta hal-hal lainnya yang berkaitan dengan Al-Azhar. Beliau juga memaparkan peran alumninya di berbagai penjuru.
Kemudian, ihtifal hari jadi Al-Azhar ditutup dengan senandung syair seputar Al-Azhar yang didendangkan oleh 3 pelantun nasyid: Az-Zahra Laiq, Huriyah Bura’i, dan Muhammad Al-A’sar. Rangkaian acara kembali dilanjutkan dengan acara buka bersama di selasar Al-Azhar pada waktu Magrib beberapa jam setelah ihtifal. Tak lupa, Al-Azhar juga memberikan hadiah ihtifal bagi setiap orang yang mengikuti perayaan tersebut yang berisi beberapa buku, yaitu mushaf Al-Quran terbitan resmi Al-Azhar, Majalah Al-Azhar edisi Ramadan, dan 1 buku sejarah Al-Azhar versi anak-anak.