Spirit Perayaan Maulid Nabi

Gempita perayaan maulid Nabi masih kita lihat dan rasakan di sekitaran kita. Di banyak tempat, perayaan maulid memang selalu dirayakan oleh umat muslim di manapun berada. Hanya khusus di era pandemi ini, euforia dan gegap gempitanya terlihat jauh berkurang dari tahun-tahun sebelumnya. Yang tetap sama adalah substansi dan spirit dari perayaan maulid Nabi.

Sudah masyhur kiranya, jika maulid merupakan momen dirayakannya hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Namun, sebagai perayaan hari kelahiran, maulid bukan sekadar perayaan hari ulang tahun biasa. Ada spirit luar biasa yang tentunya harus dihayati dan senantiasa digelorakan oleh seluruh umat muslim yang merayakan maulid.

Status Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat untuk manusia dan alam seisinya kiranya adalah realita valid yang harus diyakini oleh umat Islam di manapun. Dan dengan adanya status rahmat itu, sudah sepantasnya kita umat muslim berbahagia dan merayakan rahmat terbesar tersebut. Hal ini selaras dengan firman Allah dalam Al-Quran Surat Yunus, ayat 58: Qul bifadhlillahi wa birahmatihi fabidzalika falyafrahuu; Katakanlah (Muhammad) “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu semua mereka bergembira.”

Dari ayat tersebut, kita dianjurkan untuk bergembira dengan adanya karunia dan rahmat Allah yang turun kepada kita. Sebab memang termasuk karunia dan rahmat Allah yang paling agung adalah lahir dan diutusnya Nabi Muhammad kepada kita umat muslim. Ini sebagaimana keterangan dalam kitab tafsir Ruuh Al-Ma’aani juz VIII halaman 41, karya Syekh Al-Alusi: “Wa akhraja Abu Asy-Syaikh ‘an ibn ‘Abbas radliyallahu ‘anhuma, anna al-fadlla al-‘ilmu wa ar-rahmatu Muhammadun SAW; Imam Abusysyekh mengeluarkan (meriwayatkan) dari Sahabat Ibnu Abbas Radliyallaahu Ta’aalaa ‘Anhuma, “Sesungguhnya Al-Fadhl (karunia Allah) adalah ilmu dan sesungguhnya Ar-Rahmah (rahmat Allah) adalah Nabi Muhammad SAW.”

Menelaah Selawat dan Puji-pujian untuk Nabi
Kitab berukuran mungil yang sarat wawasan seputar selawat dan madah. Karya seorang saleh nan alim didikan Al-Azhar, Syekh Muhammad Zaki Ibrahim.

Hal ini dikuatkan lagi dengan keterangan dalam Al-Quran Surat Al-Anbiya ayat 7: “Wama arsalnaaka illa rahmatan lil’alamiin; Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” Pun dalam sebuah hadis, sebagaimana yang diriwayatkan Imam Hakim dalam kitab Mustadrak Ash-Shahihain, Juz 1 halaman 91, Nabi Muhammad bersabda: “Ya ayyuha annasu innama ana rahmatun muhdatun; Wahai manusia, tiada lain bahwa aku ini adalah rahmat yang dihadiahkan (oleh Allah untuk kalian).”

Dari penjabaran beberapa dalil di atas, status Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi manusia dan alam seisinya kiranya adalah suatu realita yang valid. Jadi, sudah sepantasnya kita umat muslim berbahagia dan merayakan rahmat terbesar tersebut, sekaligus sebagai manifestasi atau implementasi dalil-dalil dalam Al-Quran.

Pada tataran praksis, perayaan maulid Nabi secara masif memang tidak terdapat pada zaman Nabi Muhammad SAW, zaman Sahabat, maupun masa Tabi’in. Namun, sebenarnya Nabi Muhammad sendiri merayakan hari maulid (baca-kelahiran)nya dengan cara berpuasa setiap hari Senin. Perayaan Nabi atas hari lahirnya itu juga yang termasuk disebut sebagai “hari Allah” sehingga merayakannya merupakan implementasi perintah Allah SWT. Lebih spesifiknya, perayaan maulid oleh mayoritas ulama diyakini sebagai bagian dari pokok syariat Islam dan juga implementasi firman Allah dalam Surat Ibrahim, ayat 5: “Wa dzakkirhum bi ayyamillah, inna fi dzalika la aayatin likulli shabbaarin syakuurin; Dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah, sungguh pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang penyabar dan banyak bersyukur.”

Dalam kitab Tafsir Ibn Katsir, yang dimaksud hari-hari Allah yang harus senantiasa diingat bahkan dirayakan adalah hari dimana manusia mendapat nikmat besar. Jadi, kapan pun manusia mendapat nikmat sangat besar dari Tuhan, maka ia diharuskan untuk mengingat, bergembira dan merayakannya. Berpijak dari ayat ini, umat Islam kemudian dianjurkan merayakan momen maulid, nuzul Al-Quran, Rajab, dan momen-momen besar lainnya.

Rekaman Perjalanan Lahirnya Piagam Persaudaraan Kemanusiaan
Ulasan singkat atas buku yang merekam perjalanan lahirnya Piagam Persaudaraan Kemanusiaan (Watsiqah Al-Ukhuwwah Al-Insaniyyah).

Dari sisi histori, satu riwayat menyebutkan bila maulid pertama kali dilakukan oleh Shalahuddin Al-Ayyubi, seorang sultan dari dinasti Ayyubiyyah Mesir, yang menjadi panglima pasukan Islam dalam Perang Salib. Maulid bukan berasal dari tradisi Syiah, sebagaimana dituduhkan para ustaz yang anti dan benci pada perayaan maulid Nabi. Syahdan, perang antara umat Islam dengan umat Kristen Eropa waktu itu berlarut-larut dan tidak jua muncul pemenangnya. Singkat cerita, kemudian turun fatwa jihad dari Paus Roma untuk seluruh pengikut Kristen Eropa. Imbasnya, orang-orang Kristen Eropa pun langsung berbondong-bondong menyerbu daerah Islam kawasan Suriah dan semangat perangnya kembali bergelora. Melihat realitas itu, Sang Sultan dinasti Ayyubiyyah berkebangsaan Kurdi itu lantas menitahkan untuk membuat peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad guna membakar semangat patriotisme umat Islam agar terlecut memenangi perang itu.

Berawal dari kecerdikan serta kepintarannya itulah Islam akhirnya memperoleh kemenangan. Dari sini, momen peperangan dan perayaan maulid bisa ditarik benang merah yang patut untuk ditampakkan serta digelorakan. Yakni adanya spirit implementasi ruh agama dan spirit cinta yang ketika bergelora, akan berimbas positif ke segala lini.

Merayakan maulid Nabi sendiri memang sebentuk ekspresi suka cita atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. Oleh karenanya, perayaan maulid dikategorikan amaliah positif, karena merupakan salah satu bukti cinta kepada Rasulullah. Menurut keterangan dalam HR. Al-Bukhari dan pernyataan Ibnu Rajab, rasa cinta termasuk dari pondasi keimanan. Kecintaan atas Nabi Muhammad itu melengkapi rasa cinta kepada Allah, sebagaimana anjuran dalam Surat At-Taubah ayat 24. Apalagi, Rasulullah sendiri adalah utusan Allah, sekaligus rahmat bagi semesta alam yang mana umat manusia dianjurkan untuk menyambutnya gembira, sebagaimana sudah kita bahas di awal.

Terkait adanya penentangan dari pihak-pihak yang mengatakan bahwa maulid adalah bid’ah yang sesat dan haram, ada baiknya kita kembali fokus pada spirit positif maulid. Fakta historis telah membuktikan bahwa spirit maulid mempunyai dampak positif nan signifikan bagi perjuangan Islam. Dalil Al-Quran maupun hadis pun secara tersirat telah mendukung legalitas perayaan maulid. Begitu juga dari beberapa literatur fikih karangan ulama-ulama alim, abid nan kompeten. Sekarang ini, ada banyak ulama dari kelompok Salafi Wahabi atau sejenisnya yang secara frontal melarang kita merayakan maulid. Larangan itu dengan dalih kita sebagai orang Islam tidak boleh membebek perkataan ulama, tapi ironisnya kita justru disuruh mengikuti perkatan mereka, dengan dalih semua harus kembali ke Al-Quran dan hadis. Dus, kenapa pula kita harus mengikuti arahan mereka, sementara secara tersirat, Al-Quran dan hadis telah gamblang mengarahkan kita untuk bergembira dan merayakan haulid Nabi. Dibanding para ulama dahulu yang alim dan kompeten, sangat naif kiranya jika kita lebih memilih mendengarkan perkataan ulama “baru” yang secara serampangan melarang perayaan maulid.

Perangkat Ilmu Bahasa Arab yang Wajib Dikuasai Dai
Apa jadinya jika seorang dai tidak menguasai bahasa Arab dan perangkatnya?

Wabakdu, kalaupun maulid tetap mau diklasifikasikan sebagai perbuatan bid’ah, maka ia akan masuk pada bid’ah yang hasanah, alias hal baru yang positif sebagaimana salat Tarawih. Tentang adanya pihak yang setuju atau tidak atas sebuah hal baru, itu adalah sebuah keniscayaan manusia untuk berbeda. Bukankah justru kita tidak boleh memaksakan hal-ihwal baru yang masih diperdebatkan untuk “wajib” diterima atau “harus” ditolak semua pihak. Bahkan di Saudi, yang sejak dahulu paling getol menyuarakan maulid adalah bid’ah sesat, pun ada banyak Ribath dan ada tokoh-tokoh semisal Syekh Ahmad bin Muhammad Al-Maliki dan Syekh Qais Al-Mubarak yang membolehkan perayaan maulid.

Fakta sejarah boleh mencatat bahwa spirit perayaan maulid (awalnya) menjadi pelecut semangat umat Islam untuk mengenyahkan tentara Salib dari dunia Islam. Namun, adanya pergeseran dari spirit awal dirayakannya tidaklah mengurangi substansi spirit positif perayaan maulid. Sebab, semangat juang dalam agama dan spirit cintanya harus terus digelorakan dalam perayaan-perayaan maulid di masa sekarang.


Baca juga artikel lain di rubrik ISLAMUNA atau tulisan menarik Ahmad Muhakam Zein