Stan Al-Azhar Mengadakan Seminar Mengenang Mendiang Pembaharu Islam: Syekh Mahmud Hamdi Zaqzuq

TAWAZUN.ID — Dr. Hasan Asy-Syafi’i: “Proyek pembaharuan Dr. Zaqzuq berangkat dari latar belakang Islami yang menggabungkan akal, naqli, keaslian, dan modernitas.”

Guru Besar Akidah dan Filsafat di Al-Azhar: “Dr. Zaqzuq membangkitkan minat umat Islam terhadap peradaban Islam dan keharusan mendalami segala jenis ilmu pengetahuan.”

Dr. Ridha Ad-Daqiqi: “Dr. Zaqzuq telah mampu menaikkan level dakwah dari kalangan individual-lokal menuju kalangan akademisi dan institusi.”

Pada momen Pameran Buku Internasional Kairo yang ke-55, tepat pada Kamis, 25 Januari, stan pameran Al-Azhar Asy-Syarif mengadakan seminar akademik pertamanya yang bertajuk “Ide-ide Pembaharuan Pemikiran Islam Kontemporer (Dr. Mahmud Hamdi Zaqzuq sebagai Model)”, di mana dihadiri sebagai pembicara pertama oleh Profesor Dr. Hasan Asy-Syafi’i, anggota Dewan Ulama Senior di Al-Azhar Asy-Syarif, kemudian Profesor Dr. Muhammad Yusri, Guru Besar Akidah dan Filsafat Usuluddin Universitas Al-Azhar sebagai pembicara kedua, di samping juga Profesor Dr. Ridha Ad-Daqiqi, Guru Besar Akidah dan Filsafat di Universitas Al-Azhar. Pada acara yang terkemuka ini dimoderatori oleh Saad Al-Math’ani, mantan direktur Radio Al-Quran Mesir. Dalam momen tersebut, mereka membahas tawaran dan ide-ide pembaruan pemikiran Islam kontemporer, khususnya bagian-bagian inti dari proyek pembaharuan Islam Dr. Zaqzuq.

Dalam ulasannnya, Profesor Dr. Hasan Asy-Syafi’i, anggota Dewan Ulama Senior di Al-Azhar Asy-Syarif mengatakan bahwa proyek pembaharuan Dr. Mahmud Hamdi Zaqzuq adalah proyek dari seorang pemikir dan cendekiawan yang spesial dan langka. "Proyek itu dikerjakan selama kurun waktu enam puluh tahun dalam bidang pembaharuan pemikiran dan peradaban. Latar belakang identitas Al-Azharnya (Dr. Zaqzuq) kemudian menguatkan moderasi pemikirannya. Dan tentu saja, ini adalah ciri paling menonjol dari kepribadian Dr. Zaqzuq. Ia adalah sosok yang pakar yang dapat memahami dan mendalami turats Islam dalam bidang pemikiran dan akidah. Di samping, wawasannya yang mendalam terhadap karakter dari syariat Islam yang tidak menganggap sejarah umat manusia sebagai sejarah yang tunggal, melainkan sejarah yang dinamis selama abad-abad. Sehingga sejarah itu berubah seiring dengan perubahan fatwa, keadaan, zaman, dan teritorial yang senantiasa berubah."

Dr. Asy-Syafi’i juga menjelaskan bahwa pemikiran Dr. Zaqzuq berangkat dari latar belakang Islam yang dapat menggabungkan akal, naql, keaslian, dan kontemporer (liyan). Dia adalah manifestasi dari ide pembaharuan yang sebenarnya. Seraya menunjukkan bahwa ciri-ciri paling menonjol dari proyek pembaharuan Dr. Zaqzuq dalam pemikiran dan peradaban adalah pembaharuan tujuan (At-Tajdid Al-Maqashidi) yang fokus pada masa kini dan masa depan serta menjaga harkat dan martabat bangsa dan kehormatan syariah Islam.

Kunjungi channel YouTube: TAWAZUN ID

Sementara itu, Profesor Dr. Muhammad Yusri, Guru Besar Akidah dan Filsafat, Fakultas Usuluddin Universitas Al-Azhar, menyatakan bahwa Dr. Mahmud Hamdi Zaqzuq sepanjang sejarahnya tidak pernah absen dalam mengajar filsafat dan teologi di Fakultas Usuluddin. Hal ini menegaskan otentisitas dan afiliasinya terhadap Al-Azhar Asy-Syarif dan ilmu-ilmunya yang moderat. Di samping bahwa ia peduli dengan persoalan umat Islam. Dr. Zaqzuq menilai bahwa membangun masyarakat muslim dengan dasar ilmu dan persoalan tujuan (Qadhiyyat Al-Maqashid) merupakan titik tolak pembaharuan. Beliau juga menyinggung tentang kewajiban-kewajiban yang sering kali absen: yang paling urgen di antaranya adalah ijtihad dalam persoalan syariat dan budaya berpikir yang konsisten dan berkesinambungan. Dengan demikian, Dr. Zaqzuq telah menyadarkan kesadaran umat Islam terhadap kemajuan peradaban Islam dan pentingnya ilmu pengetahuan di dalamnya dari berbagai jenisnya: ilmu-ilmu eksperimental, teknologi, dan filsafat. "Dr. Zaqzuq juga menolak pemikiran revivalis yang hanya terjebak di masa lalu tanpa melakukan usaha atau inovasi. Sebaliknya, beliau menganjurkan perlunya mengambil apa-apa yang baik dari masa lalu yang dapat memotivasi kita untuk berusaha dan memperbaharui. Hal itu karena Islam adalah agama humanis yang universal: berlaku di masa lalu, masa kini, dan masa depan."

Dr. Ridha Ad-Daqiqi, Profesor Akidah dan Filsafat di Universitas Al-Azhar, menjelaskan bahwa Dr. Zaqzuq mengambil proyek inspiratif untuk pembaharuan pemikiran. Selama bertahun-tahun ia mampu menggabungkan antara turats dan peradaban. "Ciri-ciri paling penting dari proyek intelektualnya: menolak pemikiran yang jumud terhadap turats dengan menekankan interaksi yang kritis dan sadar, dan menerima persamaan universal umat manusia, mencari titik-titik yang dapat mempertemukan dengan peradaban lain, dan melihat sejarah Islam dari perspektif kritis dan sadar dengan menempatkan Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai landasan sedang pemikiran Islam bukanlah pemikiran yang sakral." Menurutnya pintu ijtihad belum tertutup serta tidak adanya pertentangan antara agama, akal, ilmu pengetahuan, dan peradaban. Ad-Daqiqi juga mencatat bahwa Dr. Zaqzuq tidak mengabaikan adanya aliran pemikiran yang ingin mencabut kita dari akar warisan (turats) kita dengan fokus menerima peradaban kontemporer. Dalam proyeknya, Dr. Zaqzuq menyerukan perlunya dialog antara pemikiran peradaban, pemikiran kemanusiaan, dan pencerahan. Ia mempresentasikan sebuah proyek pembaharuan berdasarkan prinsip-prinsip dan akar yang kokoh. Ia juga turut berkontribusi terhadap dunia Islam dengan memaparkan isu-isu pemikiran, kebangkitan, dan pencerahan dalam karya-karya ilmiahnya. Akhirnya, Ia berhasil menyelesaikan karya ilmiah dan ensiklopedia khusus, berikut mampu menaikkan level dakwah Islam dari sekedar lokal-individual, ke ranah akademisi dan lembaga-lembaga.

Pemikiran

Kumpulan tulisan bertopik pemikiran dan keislaman bisa teman-teman temukan

di sini

Di Pameran Buku Internasional Kairo, Al-Azhar merayakan mendiang filsuf dan pemikir Islam Mahmud Hamdi Zaqzuq, mantan anggota Dewan Ulama Senior dan Menteri Agama Mesir, salah satu ulama terkemuka Al-Azhar yang memadukan ilmu-ilmu Timur dan Barat. Hal itu dilakukan, agar di momen tersebut dapat menjadi “Role Model Stan” milik Al-Azhar tahun ini serta sebagai apresiasi atas usaha-usaha dan kontribusi akademisnya di bidang filsafat dan pembaharuan dalam pemikiran Islam.

Al-Azhar Asy-Syarif berpartisipasi - selama delapan tahun berturut-turut - dengan stan khusus di Pameran Buku Internasional Kairo pada sesi ke-55. Hal ini didasarkan pada tanggung jawab Al-Azhar sebagai lembaga pendidikan dan dakwah dalam menyebarkan pemikiran Islam yang moderat dan mencerahkan selama lebih dari seribu tahun. Stan Al-Azhar terletak di Pusat Pameran dan Konferensi Internasional Mesir di Tajammu’ Khamis, Mesir, di Aula No. (4). Stan tersebut terbentang di area seluas sekitar 1000 meter, dan di dalamnya mencakup banyak pojok khas, seperti pojok fatwa, Majalah Nour, kaligrafi Arab, kegiatan anak-anak, dan seni.


💡
Baca juga BERITA terbaru atau pilih ragam tulisan lain di Situs Tawazun ID