Sulaiman Al-'Abd, Pemuka Ulama Al-Azhar Keturunan Turki
Ia adalah Sulaiman bin Mushthafa bin Ahmad bin Qurrah Ali Asy-Syubrawi Asy-Syafi’i Al-Azhari, yang dikenal dengan panggilan Sulaiman Al-‘Abd. Nama Al-‘Abd sendiri ialah sebutan bagi buyutnya, yakni Qurrah Ali yang masyhur dengan panggilan tersebut.
Asal Keluarga dan Kelahiran
Buyut Syekh Sulaiman Al-'Abd berasal dari daerah Diyar Bakr, Turki, yang hijrah ke Mesir pada akhir tahun 1200 H. Di Mesir sang buyut menetap di sebuah daerah bernama Al-Qarin, salah satu daerah di Provinsi Asy-Syarqiyyah. Di sana, ia berkebun hingga memiliki banyak lahan dan perkebunan. Setelah beberapa tahun menetap di sana, ia kemudian pergi ke Kota Kairo untuk berkunjung kepada salah satu ulama yang berasal dari Turki, yaitu Syekh Ibrahim Al-Gulsyani di Takiyyah Al-Gulsyaniyyah miliknya yang berada di dekat Bab Zuwailah. Di tempat itu ia menetap hingga menjadi wakil Syekh Ibrahim Al-Gulsyani dalam mengurus pengelolaan takiyyah (hunian para salik) tersebut.
Setelah beberapa lama menetap di sana, sang buyut banyak bermuamalah dengan penduduk setempat, bahkan banyak berkomunikasi dengan wali negeri Mesir saat itu, hingga sang wali menyukainya dan memberinya jabatan sebagai pemuka untuk mengurusi beberapa desa, seperti Syubra An-Namlah, Abyar, Mahallah Al-Marhum, dan Birma. Ia lalu pindah ke Desa Syubra An-Namlah dan menikah dengan salah satu gadis pilihannya yang berasal dari keluarga terhormat di desa itu. Dari pernikahannya, ia dikaruniai anak bernama Ahmad yang di kemudian hari menjadi Kepala Desa Syubra An-Namlah. Ahmad memiliki beberapa anak, di antaranya Sulaiman dan Mushthafa. Dan Mushthafa mempunyai seorang anak bernama Sulaiman Al-‘Abd yang menjadi aditokoh dalam tulisan ini.
Sulaiman Al-‘Abd yang memiliki darah Turki dan Mesir ini dilahirkan pada pertengahan bulan Ramadan 1257 H (31 Oktober 1841 M) di Desa Syubra An-Namlah, Markaz Thantha, Provinsi Al-Gharbiyyah. Ia tumbuh di desa tersebut sembari mengawali pembelajaran masa kecilnya di salah satu kuttab (taman baca tulis Al-Quran) di desa. Di sini, ia menghafalkan Al-Quran dan mempelajari ilmu-ilmu dasar agama.
Setelah umurnya mencapai sepuluh tahun, tepatnya pada tahun 1267 H (1851 M), ia dikirim ayahnya ke Kota Thantha untuk melanjutkan belajar di Masjid Al-Ahmadi. Di masjid tersebut, ia mempelajari ilmu nahwu, sharaf, balaghah, fikih, tafsir, hadis, akidah, dan sebagainya selama empat tahun sesuai ketentuan masa belajar kala itu.
Belajar di Al-Azhar
Setelah menyelesaikan masa pembelajarannya di Masjid Al-Ahmadi, ayah Sulaiman Al-‘Abd muda melihat potensi baik yang ada pada diri anaknya. Ia melihat kecerdasan dan kecintaan sang anak yang besar terhadap ilmu. Asbab hal tersebut, pada tahun 1271 H (1855 H) ia mengantarkan anaknya ke Masjid Al-Azhar untuk meneruskan pembelajarannya.
Di Al-Azhar, Sulaiman Al-‘Abd muda belajar kepada sejumlah pembesar ulama, seperti Syekhul-Azhar Syamsuddin Al-Anbabi, Syekh Ibrahim As-Saqqa, Syekh Muhammad Al-Khudhari Ad-Dumyathi, Syekh Muhammad Al-Usymuni, dan Syekh ‘Abduh Al-Baltani. Ia dikenal oleh para gurunya sebagai murid yang getol dalam ilmu alat, baik manqul maupun ma’qul. Hingga para guru memberinya ijazah untuk diperbolehkan mengajar di Al-Azhar.
Masa Khidmah
Setelah mendapatkan izin, Syekh Sulaiman Al-‘Abd mulai mengajar untuk pertama kalinya di Al-Azhar pada tahun 1284 H (1867 M) di usia 27 tahun. Jika dihitung semenjak beliau masuk pertama kali di Al-Azhar hingga menjadi seorang pengajar, artinya beliau telah menempuh pendidikan Al-Azhar selama 12 tahun. Di hari pertama mengajar, majelis keilmuan Syekh Sulaiman Al-‘Abd dihadiri langsung oleh para guru yang pernah memberikan izin bagi dirinya untuk mengajar. Setelah beberapa waktu mengajar, beliau dinobatkan menjadi Syekhur-Riwaq (pimpinan) di Riwaq Ibnu Ma’mar, Masjid Al-Azhar.
Selain mengajar di Al-Azhar, Syekh Sulaiman juga menjadi pengajar di Madrasah Dar Al-‘Ulum. Selama mengajar di sana, beliau mengampu ilmu tauhid. Karena kurikulum yang diajarkan adalah Thawali’ Al-Anwar karangan Imam Al-Baidhawi dan membutuhkan banyak waktu untuk menuntaskannya, beliau berinisiatif membuatkan ringkasan dari kitab tersebut. Ia kemudian memberi judul kitabnya dengan nama Yani’ Al-Azhar Mukhtashar Thawali’ Al-Anwar. Dalam berbagai sumber, para sejarawan hanya mendapati satu karangan beliau. Tidak diketahui apakah beliau masih memiliki karangan lainnya. Pun demikian, beliau digelari dengan Sya’ir Al-‘Ulama (Penyair Para Ulama). Bahkan, dalam Mir'ah Al-‘Ashr yang dinukil kembali dalam kitab Al-A’lam Asy-Syarqiyyah dikatakan bahwa beliau mempunyai banyak syair indah dan kasidah merdu. Jikalau semuanya dikumpulkan menjadi satu, maka akan menjadi satu jilid besar.
Selain mengajar dan berkarya, beliau juga mencetak banyak murid cemerlang, di antaranya seperti Syekh Husain Wali, Syekh Dusuqi Al-‘Arabi, Syekh Muhammad Abu ‘Ilyan, Abdullah ‘Afifi Bik, Muhammad Bik Sulthan, Jada Al-Maula Bik, dan Muhammad Al-Khudhari Bik pengarang kitab Nur Al-Yaqin fi Sirah Sayyid Al-Mursalin.
Jabatan di Berbagai Lembaga
Di sela-sela kehidupan Syekh Sulaiman Al-‘Abd sebagai pengajar, beliau juga menjalankan profesi di banyak lini, seperti:
1. Majlis Idarah Al-Azhar (1318 H)
Beliau dipilih menjadi anggota ini pada tanggal 24 Jumadilawal 1318 H (19 September 1900 M) sebagai pengganti Syekh Muhammad Al-Buhairi Asy-Syafi'i yang wafat pada tanggal Sembilan bulan tersebut. Setelah berjalan kurang lebih lima tahun, beliau mengundurkan diri dari keanggotaan pada Zulkaidah 1322 H (Januari 1905 M) karena adanya campur-tangan Khedive Abbas Hilmi II dalam urusan Majlis Idarah Al-Azhar. Turut mengundurkan diri bersama beliau yaitu Syekh Muhammad Abu Al-Fadhl Al-Jizawi yang kelak menjabat sebagai Syekhul-Azhar. Beliau berdua kemudian digantikan oleh Syekh Muhammad Hasanain Al-Bulaqi dan Syekh Muhammad Hasanain Al-‘Adawi.
2. Syekh As-Sadah Asy-Syafi’iyyah (1329 H)
Beliau dilantik sebagai pemimpin para ulama bermazhab Syafi'i atau dalam redaksi resminya: Syekh As-Sadah Asy-Syafi’iyyah pada tanggal 28 Rabiulawal 1329 H (29 Maret 1911 M) menggantikan kedudukan Syekh Muhammad Musa Al-Bujairami yang wafat pada tanggal 16 di bulan yang sama. Beliau menjabat sebagai Syekh As-Sadah Asy-Syafi’iyyah hingga wafat dan digantikan setelahnya oleh Syekh Muhammad bin Salim An-Najdi.
3. Anggota Haiah Kibar Al-‘Ulama (1329 H)
Setelah berdirinya Haiah Kibar Al-‘Ulama pada tanggal 6 Zulkaidah 1329 H (28 Oktober 1911 M), Syekh Sulaiman Al-‘Abd menjadi salah satu anggota Haiah Kibar generasi pertama semenjak berdiri. Beliau adalah satu dari 30 anggota lainnya yang turut dilantik pada hari itu dan satu dari sembilan anggota yang mewakili kalangan mazhab Syafii.
Bersama Syekh Muhammad Abduh
Syekh Sulaiman Al-‘Abd memiliki beberapa perbedaan pendapat fikih dengan Syekh Muhammad Abduh. Dalam dunia alim ulama, ini adalah hal yang lumrah dan tanpa harus merusak hubungan dalam kehidupan sehari-hari.
Adanya perbedaan pendapat di antara keduanya membuat salah satu surat kabar bernama An-Nahj Al-Qawim memanfaatkan hal tersebut untuk meretakkan hubungan di antara keduanya. Surat kabar tersebut sering menyebarkan hujatan dan makian kepada Syekh Muhammad Abduh dalam berbagai tulisannya dan menjelek-jelekkan Al-Azhar. Pemilik surat kabar tersebut kemudian dipanggil oleh otoritas hukum An-Niyabah Al-‘Umumiyyah untuk pengusutan kasus ini. Ketika diinterogasi, pemilik surat kabar tersebut barkata bahwa Syekh Sulaiman Al-‘Abd yang menyuruhnya untuk menuliskan berbagai tulisan tersebut.
Setelahnya, Syekh Sulaiman pun disuruh menghadap ke mahkamah untuk ditanyai perihal hubungannya dengan Syekh Muhammad Abduh dan kebenaran pernyataan pemilik surat kabar. Syekh Sulaiman kemudian bersumpah seraya berkata bahwa hubungannya dengan Syekh Muhammad Abduh sangat baik, akrab, dan harmonis. Beliau juga menyatakan bahwa pemilik surat kabar An-Nahj Al-Qawim telah berdusta atas namanya. Syekh Hamzah Fathullah Al-Azhari dan beberapa ulama lain yang hadir pada saat itu turut bersaksi atas kebenaran Syekh Sulaiman Al-‘Abd dan kebohongan pemilik surat kabar tersebut. Tak hanya berhenti di pengadilan, Syekh Sulaiman Al-‘Abd menulis persaksiannya ke berbagai surat kabar ternama Mesir saat itu. Salah satu naskah pernyataan tersebut diabadikan di dalam Majalah Al-Manar milik Muhammad Rasyid Ridha, murid terdekat Syekh Muhammad Abduh, pada edisi 18, jilid 1, halaman 339.
Akhir Hayat
Setelah menjalani hidup selama 80 tahun, Syekh Sulaiman Al-‘Abd menutup usia pada hari Rabu, 23 Zulkaidah 1337 H (20 Agustus 1919 M). Jasadnya dimakamkan di pemakaman keluarga Al-‘Abd di Qarafah Mamalik, berdekatan dengan makam keluarga Syekh Abdullah Darraz dan Syekh Muhammad Mahmud Al-‘Adawi.