Syekh Abdulbasith Abdusshamad, Sang Qari' Dengan Suara Emas

Suara emasnya mengantarkannya menjadi seorang qari' ternama. Suara merdunya mampu menyihir jutaan orang untuk menyimak bacaannya dari awal hingga akhir. Bahkan, lantunan tilawahnya telah menginspirasi banyak orang hingga memeluk Islam. Suaranya yang khas dan mendayu membuatnya dijuluki Al-Hanjarah Adz-Dzahabiyyah, yang berarti "suara emas". Dialah Syekh Abdulbasith Abdusshamad.

Coba dengarkan lantunan azannya di bawah ini!

Masa Kecil dan Latar Belakang Keluarga

Nama lengkapnya adalah Abdulbasith bin Muhammad bin Abdusshamad. Ia lahir pada Januari 1927 di Desa Armant, Markaz Armant, Provinsi Al-Uqshur (yang kala itu masih bagian dari Provinsi Qina), Mesir.

Abdulbasith tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sangat mencintai Al-Quran. Ayahnya adalah alumni Al-Azhar dan dikenal sebagai ahli Al-Quran di desanya. Sejak usia 6 tahun, ia mulai belajar Al-Quran di kuttab milik Syekh Al-Amir, seorang guru ngaji ternama. Kemampuannya dalam menghafal Al-Quran sangat menonjol, sehingga ia mendapat perhatian khusus dari gurunya. Ia dikenal sebagai murid yang sangat hormat dan selalu sigap menerima pesan serta nasihat gurunya.

Selain belajar di kuttab, Abdulbasith gemar datang ke warung kopi untuk muraja’ah dengan mendengarkan tilawah melalui radio, terutama lantunan murattal dari Syekh Muhammad Rif’at. Suara qari' legendaris tersebut begitu melekat dalam ingatannya, menjadi inspirasi bagi gaya tilawahnya di kemudian hari.

Pada usia 10 tahun, Abdulbasith telah menyelesaikan hafalan Al-Qurannya. Sesuai pesan sang guru, ia kemudian meminta kepada orang tuanya agar dikirim ke Thantha untuk memperdalam ilmu Al-Quran dan qira'at. Di Thantha terdapat guru ilmu Qira'at terkenal bernama Syekh Muhammad Salim Hamadah. Namun, karena jarak Armant ke Thantha yang cukup jauh, orang tuanya sempat mempertimbangkan ulang rencana tersebut.

Sehari sebelum keberangkatannya, tersiar kabar bahwa Syekh Muhammad Salim Hamadah dipindahtugaskan ke daerah yang lebih dekat, yakni di Ashfun Al-Matha’inah, sebuah desa di Markaz Isna berjarak sekitar 37 km dari Armant. Ini menjadi kabar gembira bagi Abdulbasith. Ia pun berangkat ke Ashfun Al-Matha’inah dan ber-mulazamah dengan Syekh Muhammad Salim hingga berhasil mengkhatamkan Qira'at Sab’ah pada usia 12 tahun. Dua tahun kemudian, ia menyelesaikan Qira'at ‘Asyrah.

Sejak saat itu, Abdulbasith mulai dikenal dan sering diundang untuk membaca Al-Quran di berbagai desa serta kota. Meski telah menerima banyak undangan, ia tetap berada di bawah bimbingan gurunya.

Awal Ketenaran Sang Qari'

Pada tahun 1950, Abdulbasith datang ke Kairo untuk menghadiri Maulid Sayidah Zainab. Acara tersebut diisi dengan tilawah Al-Quran oleh para qari' ternama seperti Syekh Abdulfattah Asy-Sya’sya’i, Syekh Mushthafa Ismail, dan Syekh Abdul’azhim Zahir. Masjid Sayidah Zainab dipenuhi peziarah, dan di tengah acara, salah seorang kerabatnya meminta izin agar Abdulbasith muda diberi kesempatan untuk ikut membaca Al-Quran bersama jajaran qari' lain.

Panitia awalnya memberikan waktu sekitar 10 menit, namun suara emas Abdulbasith membuat para hadirin terhanyut. Tanpa terasa, ia membaca hingga lebih dari dua jam. Sejak saat itu, namanya mulai diperbincangkan, dan ia semakin sering diundang ke berbagai acara besar.

Menjadi Qari' Radio Nasional

Pada akhir tahun 1951, atas saran Syekh Ali Adh-Dhabba’, Abdulbasith didaftarkan untuk mengikuti seleksi qari' di Radio Nasional Mesir. Awalnya, ia ragu karena seleksi tersebut memiliki prosedur yang ketat dan memerlukan waktu lama, namun Syekh Adh-Dhabba’ meyakinkannya dan mengurus seluruh pendaftarannya. Syekh Adh-Dhabba' menjamin kepada panitia ujian bahwa orang yang ia bawa ini memang layak.

Saat sesi uji coba, para juri dibuat terpukau oleh suara Abdulbasith. Keistimewaannya begitu mencolok sehingga ia menjadi satu-satunya qari' yang diterima masuk siaran tanpa harus melewati ujian lanjutan. Suaranya kemudian disiarkan di seluruh Mesir dan mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat.

Popularitasnya semakin meningkat hingga pada awal 1950-an, permintaan akan radio meningkat drastis di Mesir. Banyak orang membeli perangkat radio hanya untuk mendengarkan tilawahnya.

Menetap di Kairo

Karena Syekh Abdulbasith telah resmi masuk siaran, maka konsekuensinya ia harus menetap di Kairo. Keluarganya pun merestui keputusan tersebut.

Pada mulanya, Syekh Abdulbasith tinggal di Hotel Asy-Syarq, Distrik Sayidah Zainab, Kairo. Namun kemudian pindah ke Distrik Al-Muhandisin, Al-Jizah dekat Masjid Mushthafa Mahmud. Kebetulan Syekh Muhammad Mahmud Ath-Thablawi tinggal di dekat apartemen Syekh Abdulbasith. Sehingga terjalinlah persahabatan di antara keduanya dan tak jarang mereka pergi berdua untuk sekedar minum sari tebu bersama.

Dikenal sebagai "Shaut Makkah"

Pada tahun 1952, Abdulbasith berangkat ke Arab Saudi untuk menunaikan haji bersama orang tuanya. Dalam kesempatan tersebut, pemerintah Saudi meminta agar ia melakukan rekaman tilawah di Masjidilharam dan Masjid Nabawi. Rekamannya kemudian disiarkan secara luas di seluruh negeri, dan dari sanalah ia mendapat julukan "Shaut Makkah" (Suara Makkah).

Setahun setelah kepulangannya dari Haramain, pada tahun 1953, Abdulbasith diangkat menjadi qari' di Masjid Imam Asy-Syafi’i di Kairo. Ia bertugas di sana selama sekitar 15 tahun, sebelum kemudian dipindahkan ke Masjid Imam Al-Husain pada tahun 1985, menggantikan Syekh Mahmud Ali Al-Banna.

Perjalanan Dakwah Internasional

Tilawahnya yang merdu membawanya ke berbagai negara. Pada awal 1970-an, ia melakukan perjalanan ke Amerika Serikat dan Eropa, di mana ratusan orang dikabarkan memeluk Islam setelah mendengar tilawahnya.

Di Prancis, ia mendapat undangan untuk membaca Al-Quran di Teater Nanterre-Amandiers, salah satu teater ternama di negara tersebut. Selama dua malam berturut-turut, suara Al-Quran menggema di dalam gedung pertunjukan tersebut, dan setiap tilawahnya diakhiri dengan sorak-sorai serta tepuk tangan meriah.

Pada tahun 1960-an, Raja Muhammad V dari Maroko mengundangnya untuk merekam tilawah Riwayat Imam Warsy dari Imam Nafi’. Proses rekaman ini berlangsung selama 11 hari di bawah bimbingan Syekh Riziq Khalil Habbah Al-Azhari, yang kelak menjadi Syekhu ‘Umum Al-Maqari' Mesir.

Tahun 1983, Syekh Abdulbasith diangkat sebagai pemimpin pertama Niqabah Al-Qurra', organisasi yang menaungi para qari' di Mesir, dengan gelar resmi Naqib Muhaffizhi wa Qurra' Al-Quran.

Akhir Hayat dan Wafatnya

Di usia senjanya, Syekh Abdulbasith menderita penyakit diabetes. Kondisinya memburuk hingga harus menjalani perawatan di London. Seolah merasa waktunya telah dekat, ia meminta untuk kembali ke Mesir. Pada hari Rabu, 30 November 1988 M (20 Rabiulakhir 1409 H), ia berpulang ke rahmatullah. Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Al-Basatin, Kairo.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik BIOGRAFI atau tulisan menarik Ahmad Wildan