Syekh Al-Juhani, Alim Besar yang Mengepalai Banyak Ma’had Al-Azhar
Ia adalah seorang alamah bernama Muhammad bin Abdullah bin Yusuf Al-Juhani Al-Azhari. Ia diahirkan pada tahun 1305 H (1888 M) di Markaz Juhainah, Provinsi Jirja (sekarang masuk ke Provinsi Suhag), Mesir. Lebih tepatnya, ia berasal dari Rubu’ Abi Khabar, Juhainah, sebagaimana yang dituturkan oleh Syekh Usamah Al-Azhari dalam kitab ensiklopedianya, Jamharah A’lam Al-Azhar Asy-Syarif. Syekh Usamah Al-Azhari menambahkan, “Antara saya dan dia (Al-Juhani) terdapat tali kekerabatan. Kami berasal dari leluhur yang sama.”
Nisbah Al-Juhani dibelakang namanya merujuk kepada daerah Juhainah, yang mestinya bernisbah Al-Juhaini. Namun, semua sumber yang bercerita tentangnya menuliskan nisbah tersebut tanpa menggunakan huruf ya' di antara huruf ha' dan nun. Jika melihat sejumlah arsip lama yang dinukil di dalam kitab Haiah Kibar Al-‘Ulama fi Siyar A’lamiha Al-Qudama, besar kemungkinan bahwa ia juga menuliskan namanya dengan Al-Juhani, bukan Al-Juhaini. Adapun nisbah Al-Azhari, merujuk kepada Al-Azhar tempat ia menuntut ilmu dan mengabdi hingga akhir hayatnya.
Masa Belajar
Masa kecil Muhammad Al-Juhani dilalui dengan umumnya tradisi masyarakat pedesaan Mesir yang memasukkan anaknya ke Kuttab desa. Di sini, Muhammad Al-Juhani kecil telah menghafalkan Al-Quran di usianya yang belia. Setelah merampungkan belajarnya di kampung, ia diantarkan oleh ayahnya untuk belajar di Masjid Al-Azhar sekitar tahun tahun 1319 H (1901 M), kira-kira usia 13-14 tahun. Jika melihat qanun Al-Azhar pada saat itu, artinya ia masih meneruskan pendidikan Kuttab di Masjid Al-Azhar, karena yang diperbolehkan memasuki jenjang Awwaliyyah di Al-Azhar pada saat itu ialah pelajar yang telah berumur 15 tahun.
Setelah menetap beberapa waktu di Al-Azhar, Muhammad Al-Juhani muda melanjutkan pendidikannya di Ma’had Al-Azhar Al-Iskandariyyah, dimulai dari jenjang Awwaliyyah. Tidak diketahui di tahun berapa ia memulai jenjang tersebut. Namun, sangat besar kemungkinan bahwa ia adalah salah satu murid pertama di ma’had tersebut sejak peresmiannya pada tahun 1322 H (1904 M). setelahnya, ia melanjutkan pendidikan jenjang Tsanawiyyah hingga Al-Qism Al-‘Ali di ma’had yang sama. Hanya saja, untuk Al-Qism Al-‘Ali ia hanya belajar di sana hingga tiga tahun. Adapun tahun keempat, yakni tahun terakhirnya, ia sangat ingin melanjutkan pendidikannya di Ma’had Al-Azhar Thantha. Dan di sini, ia mendapatkan Syahadah Al-‘Alimiyyah pada tahun 1332 H (1914 M), di usia 26 tahun.
Di masa-masa belajar selama di ma’had di atas, beliau berguru kepada sejumlah pembesar ulama Al-Azhar pada saat itu, seperti Syekh Abdulmajid Al-Labban dan Syekh Muhammad Hasanain Makhluf.
Masa Pengabdian
Setelah tamat, Syekh Muhammad Al-Juhani langsung mengajar di Ma’had Al-Azhar Thantha tempat beliau mendapatkan syahadah terakhirnya selama kurang lebih satu tahun. Kemudian, beliau dipindah-tugaskan ke Ma’had Al-Azhar Usyuth pada tahun 1333 H (1915 M), yakni pada tahun berdirinya ma’hadtersebut. Beliau menghabiskan waktu pengabdiannya di sana hingga tahun 1346 H (1928 M). Setelah mengabdi di Ma’had Al-Azhar Usyuth selama kurang lebih 13 tahun, beliau kemudian dipindah-tugaskan kembali ke Kota Kairo untuk mengajar mata kuliah tafsir dan hadis di jenjang Al-Qism Al-‘Ali di Masjid Al-Azhar.
Selain itu, Syekh Muhammad Al-Juhani juga menjadi anggota Lajnah Penyelia Umum Imtihan Syahadah Al-‘Alimiyyah di Al-Azhar. Salah satu tugas lajnah yang beliau emban ini ialah agar memilah dan memilih para talib Al-Azhar yang akan mengikuti imtihan, baik dari menilik pemahaman belajarnya, kehadirannya, pemikirannya, hingga kemudian menyerahkan nama-nama talib yang bisa mengikuti imtihan ke ruangan Masyakhah Al-Azhar.
Beberapa tahun setelahnya, beliau dilantik menjadi Kepala Al-Qism Al-‘Am yang berada di Masjid Al-Azhar pada 23 Muharam 1360 H (20 Februari 1941 M) bersamaan dengan penganugerahan negara Kiswah At-Tasyrif dengan predikat darajah tsalitsah. Setelah beberapa bulan semenjak pelantikan tersebut, beliau dilantik menjadi Kepala Ma’had Al-Azhar Usyuth pada 4 Syakban 1360 H (6 September 1941 M), lalu menjadi Kepala Ma’had Al-Azhar Thantha pada tanggal 15 Muharam 1362 H (21 Januari 1943 M), dan Kepala Ma’had Al-Azhar Kairo pada tanggal 7 Zulkaidah 1365 H (24 Oktober 1944 M). Dalam Jamharah A’lam Al-Azhar Asy-Syarif ditambahkan, bahwasanya beliau juga pernah menjadi Kepala Ma’had Al-Azhar Az-Zaqaziq, meski tidak ada keterangan tarikh pelantikannya.
Beliau juga tercatat mengajar di Fakultas Syariah, Universitas Al-Azhar. Hingga pada tahun 1365 H (1946 M), dengan kedudukan beliau sebagai pengajar, beliau kembali mendapatkan anugerah negara Kiswah Tasyrif, dari yang sebelumnya dengan predikat darajah tsalitsah naik menjadi darajah tsaniyyah.
Dalam kitab Hai'ah Kibar Al-‘Ulama fi Siyar A’lamiha Al-Qudama disebutkan dengan merujuk langsung kepada arsip lama Riyasah Majlis Al-Wuzara' Mesir, bahwa pada tanggal 20 Syakban 1371 H (14 Mei 1952 M), tepatnya di usia 66 tahun, beliau dilantik menjadi anggota Jama’ah Kibar Al-‘Ulama bersama 7 tokoh besar Al-Azhar lainnya, yaitu Syekh Abdullah Ghassan, Syekh Rizq Muhammad Az-Zalabani, Syekh Muhammad Abdullathif As-Subki, Syekh Abdulqadir Khulaif, Syekh Shalih Musa Syaraf, Syekh Muhammad Ali As-Sais, dan Syekh Ath-Thayyib Hasan An-Najjar.
Adapun dalam kitab Jamharah A’lam Al-Azhar Asy-Syarif yang menukil dari kitab Haiah Kibar Al-‘Ulama karya Zawat 'Irfan Al-Maghribi disebutkan bahwa Syekh Muhammad Al-Juhani menjadi anggota Jama’ah Kibar Al-‘Ulama pada tanggal 10 Safar 1371 H (10 November 1951 M). Hanya saja tarikh pelantikan ini kurang tepat karena hanya berbentuk kolom jadwal dan tidak merujuk kepada arsip apapun. Adapun yang benar ialah sebagaimana yang telah disebutkan pertama.
Dalam hal karya ilmiah, beliau meninggalkan karya berjudul Tas-hil Al-Wushul ila ‘Ilm Al-Ushul yang mempunyai kesamaan nama dan tema dengan kitab Tas-hil Al-Wushul karangan Syekh Muhammad Abdurrahman ‘Id Al-Mahallawi yang disunting (tahqiq) oleh Syekh Sya’ban Muhammad Ismail. Adapun Tashil Al-Wushul karangan Syekh Muhammad Al-Juhani telah diterbitkan oleh Maktabah Al-Wabil Ash-Shayyib (Kairo) dalam silsilah buku usul fikih dengan Syekh Ali Jumu’ah sebagai musyrif-nya.
Akhir Hayat
Setelah melalui kehidupan selama 77 tahun dan banyak berkhidmah kepada Al-Azhar, Syekh Muhammad Al-Juhani akhirnya menutup mata pada pagi hari Senin, 13 Rabiulawal 1385 H (12 Juli 1965 M). Jasad beliau dibawa menuju tempat terakhirnya di Qarafah Mujawirin, Kairo tepatnya di Bustan Ulama Al-Azhar. Tarikh wafat beliau penulis dapatkan langsung dari tulisan yang ada pada batu nisan Syekh Muhammad Al-Juhani ketika berziarah ke Bustan Ulama Al-Azhar. Adapun dalam Jamharah A’lam Al-Azhar Asy-Syarif karangan Syekh Usamah Al-Azhari yang kemudian dinukil kembali oleh Hai'ah Kibar al-‘Ulama karangan Lajnah Ilmiah Al-Azhar tak lain hanyalah prasangka, yaitu pada tahun 1383 H (1964 M). Semoga Allah senantiasa mencurahkan rahmatnya kepada beliau. Amin.