Syekh Mahmud Khalil Al-Hushari, Gema Al-Quran yang Mendunia
Siapa yang tidak pernah mendengar bacaan murattal Al-Qurannya? Bacaan yang selalu diputar di masjid-masjid, rumah-rumah, warung-warung, bahkan di perempatan jalan. Hampir seluruh dunia pernah mendengar lantunan qari' legendaris asal Mesir ini. Beliau adalah Syekh Mahmud Khalil Al-Hushari Al-Azhari. Coba dengarkan petikan suara murattalnya yang satu ini!
Masa Kecil dan Latar Belakang
Namanya adalah Mahmud bin Khalil Al-Hushari. Ayahnya adalah seorang pengrajin tikar atau karpet yang dikenal saleh dan gemar bersedekah tikar untuk masjid dan zawiyah di desanya, Syubra An-Namlah. Karena itu, beliau mendapatkan lakab "Al-Hushari" yang berarti tukang tambal tikar.
Syekh Mahmud Al-Hushari lahir pada 1 Zulhijah 1335 H (17 September 1917 M) di Desa Syubra An-Namlah, Markaz Thantha, Provinsi Al-Gharbiyyah, Mesir. Keluarganya berasal dari Provinsi Al-Fayyum sebelum akhirnya bermigrasi ke Syubra An-Namlah.
Pada usia 4 tahun, Mahmud kecil dimasukkan oleh orang tuanya ke kuttab untuk menghafal Al-Quran, sebagaimana tradisi keluarga muslim di Mesir. Pada usia 10 tahun, ia telah menyelesaikan hafalan Al-Qurannya. Namun, pada usia yang sama, ia kehilangan ayahnya dan hidup yatim dalam asuhan ibunya, yang menanggung seluruh kebutuhannya hingga ia dapat melanjutkan belajar di Masjid Al-Ahmadi Thantha.
Perjalanan Ilmu
Setelah memperoleh pendidikan dasar agama dari orang tua dan ulama di daerahnya, Mahmud melanjutkan pendidikannya ke Masjid Al-Ahmadi Thantha. Masjid yang dinisbahkan kepada seorang wali besar Sayid Ahmad Al-Badawi ini merupakan pusat pendidikan Islam sejak lama dan memiliki hubungan erat dengan Masjid Al-Azhar Kairo. Di sana, ia mengkaji Al-Quran baik dari segi lafaz maupun maknanya serta semakin memperkuat hafalannya.
Pada usia 12 tahun, ia masuk ke Al-Ma’had Ad-Dini Al-Ahmadi Thantha (semacam pondok pesantren). Di sana, ia mulai mempelajari ilmu-ilmu syariat yang nantinya digunakan untuk berkhidmah kepada Al-Quran. Ia juga belajar ilmu qira'ah kepada Syekh Ibrahim bin Ahmad Sallam Al-Maliki, seorang ulama qira'at ternama di Thantha, Mesir.
Setelah menyelesaikan pendidikannya di Thantha, Mahmud muda melanjutkan studinya ke Masjid Al-Azhar, Kairo, untuk mempelajari Qira'at ‘Asyrah (jenjang tertinggi dalam riwayat bacaan Al-Quran). Di antara guru-gurunya adalah:
- Syekh Mushthafa Ismail
- Syekh Mahmud Ali Al-Banna
- Syekh Hafizh Ali Abduh
- Syekh Mushthafa Ahmad
- Syekh Muhammad Yusuf Hamudah
- Syekh Abi Al-’Azm Muhammad Mushthafa
- Syekh ‘Amir As-Sayyid ‘Utsman
- Syekh Abdulfattah Al-Qadhi
- Syekh Ali Muhammad Adh-Dhabba’
Pada tahun 1958 M, Syekh Al-Hushari memperoleh Syahadah Ilmu Qira'at ‘Asyrah dari Al-Azhar, menandakan bahwa beliau telah menghafal semua riwayat bacaan Al-Quran dari berbagai jalur dan sanad.
※ Mudahnya Mempelajari Ilmu Qiraat
Kiprah sebagai Qari'
Sejak tahun 1930-an, Syekh Al-Hushari sudah dikenal luas sebagai qari'. Berikut adalah kiprah beliau dalam urutan kronologis:
- 1930-an: Mulai mengisi acara bacaan Al-Quran di desa dan sekitarnya.
- 1938: Menikah dan dikaruniai anak-anak.
- 1944: Lulus ujian seleksi qari' untuk siaran Al-Quran.
- 1948: Guru semaan Al-Quran di Maqra'ah Syekh Abdul’al Thantha.
- 1949: Musyrif (pembina) semua cabang maqra'ah di Provinsi Al-Gharbiyyah.
- 1950: Qari' di Masjid Al-Ahmadi Thantha.
- 1955: Qari' di Masjid Al-Husaini Kairo.
- 1960: Diangkat menjadi Syekhu-‘Umum Al-Maqari' Mesir.
- 1963: Penasihat Khusus dalam bidang Al-Quran di Wizarah Al-Awqaf.
- 1964: Ketua Lembaga Tashih Mushaf Al-Quran di Al-Azhar.
- 1967: Staf khusus bidang Al-Quran dan Hadits di Majma’ Al-Buhuts Al-Islamiyyah.
- 1968: Ketua Persatuan Qurra' Dunia Islam.
Qari' Pertama yang Suaranya Direkam
Pada tahun 1960, muncul fenomena mushaf palsu yang isinya telah diubah dan diedarkan ke masyarakat. Pemerintah Mesir mengambil langkah strategis dengan merekam murattal Al-Quran secara resmi agar bacaan sahih tetap terjaga. Syekh Al-Hushari terpilih sebagai qari' pertama yang suaranya direkam untuk murattal Al-Quran. Rekaman murattalnya riwayat Imam Hafsh dari Imam ‘Ashim disiarkan dan diedarkan mulai tahun 1961, dan hingga kini menjadi standar bacaan Al-Quran di banyak negara.
Selain riwayat Imam Hafsh, Syekh Al-Hushari juga merekam murattal dengan riwayat Imam Warsy, Imam Qalun, keduanya dari Imam Nafi, serta riwayat Imam Ad-Duri. Murattal ini menjadi dokumentasi pertama kali Al-Quran dalam bentuk suara dalam sejarah Islam. Bahkan Imam Para Dai, Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi, menyebutkan bahwa Al-Quran diabadikan dalam bentuk tulisan pada masa Shahabah Utsman, dan diabadikan dalam bentuk rekaman suara pada masa Syekh Al-Hushari.
Hal yang paling mengharukan dari semua ini adalah Syekh Al-Hushari tidak berkenan mengambil sepeser pun royalti dari murattalnya.
Al-Quran
Kumpulan tulisan dengan kata kunci Al-Quran dan cabang ilmunya bisa teman-teman temukan
di siniKunjungan Bersejarah ke Amerika Serikat
Syekh Mahmud Khalil Al-Hushari tercatat pernah beberapa kali mengunjungi Amerika Serikat. Pertama, pada tahun 1970, Syekh Al-Hushari menemani Imam Akbar Syekh Abdulhalim Mahmud dalam kunjungannya ke Amerika Serikat untuk menemui Presiden Jimmy Carter. Presiden Carter secara khusus meminta Mushaf Al-Quran dari Otoritas Resmi Keagamaan Mesir lewat Syekh Al-Hushari. Menurut Usamah Al-Azhari, Syekh Al-Hushari sempat membacakan Al-Quran di Gedung Putih dan menjadi satu-satunya qari' yang mendapat izin resmi di sana.
Kemudian tahun 1973, dalam kunjungan keduanya ke Negeri Paman Sam, Syekh Al-Hushari diminta menuntun syahadat belasan orang yang ingin masuk Islam. Bahkan pada tahun 1977, beliau tercatat sebagai qari' pertama yang diizinkan membacakan Al-Quran di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Bacaan Al-Qurannya diyakini berkontribusi dalam menarik perhatian sebagian masyarakat Eropa dan Amerika terhadap Islam.
Selain Amerika Serikat, Syekh Al-Hushari juga dikenal sebagai qari' pertama yang diutus ke India dan Pakistan pada tahun 1960 M. Di India, beliau membacakan Al-Quran di Al-Mu'tamar Al-Islami pertama yang dihadiri oleh Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru dan Presiden Mesir Jamal Abdunnashir.
Sebagaimana yang beliau tuturkan sendiri, Syekh Al-Hushari telah melakukan safari dakwah ke lima benua. Sebagian besar perjalanannya ia abadikan dalam bukunya, Rihlati fi Al-Islam.
Al-Hushari dan Sebuah Pohon
Sayidah Yasmin Al-Hushari, putri Syekh Al-Hushari, pernah menceritakan sebuah kisah menarik tentang sang ayah. Ketika berkunjung ke kampung halamannya, beliau selalu berhenti di sebuah pohon. Beliau turun dari kendaraan dan diam sejenak, lalu berjalan kaki melewati pohon tersebut. Setelah agak jauh, barulah beliau menaiki kendaraannya lagi.
Orang-orang yang menemani beliau keheranan dan bertanya, "Syekh, mengapa engkau melakukan hal demikian? Ada apa dengan pohon ini?"
Syekh Al-Hushari menjawab, "Bukan apa-apa, hanya saja pohon ini, subhanallah, adalah tempat di mana saya mengkhatamkan hafalan Al-Quran. Saya malu saat melewatinya dengan menaiki kendaraan."
Perjalanan Terakhir Sang Qari'
Syekh Mahmud Khalil Al-Hushari bukan hanya qari' legendaris, tetapi juga seorang penjaga otoritas bacaan Al-Quran yang jasanya masih terasa hingga kini. Murattalnya yang tetap menjadi standar, peran dakwahnya di berbagai negara, serta dedikasinya yang luar biasa terhadap ilmu dan Al-Quran menjadikannya sosok panutan bagi umat Islam.
Pada Senin, 16 Muharam 1401 H (24 November 1980 M), setelah salat Isya, beliau berpulang ke rahmatullah pada usia 63 tahun. Kemudian jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Al-Basatin, Kairo.
Sebelum wafat, beliau berusaha keras membangun masjid, ma’had, dan madrasah tahfiz di kampung halamannya, serta berwasiat agar sepertiga hartanya digunakan untuk khidmah kepada Al-Quran.
Warisan Syekh Al-Hushari terus hidup dalam setiap lantunan Al-Quran yang menggema di berbagai belahan dunia.