Syekh Majdi Abdulghaffar: Islam Menjadikan Solidaritas sebagai Pilar Masyarakat

TAWAZUN.ID — Syekh Prof. Dr. Majdi Abdulghaffar, Guru Besar Dakwah dan Kebudayaan Islam Universitas Al-Azhar, menegaskan bahwa takaful (solidaritas sosial) dalam Islam bukan sekadar bentuk kemurahan hati atau kebaikan pribadi, melainkan sebuah prinsip utama yang menjadi tanggung jawab sosial dan syariat bagi umat muslim. Pernyataan ini disampaikan dalam dars tarawih di Masjid Al-Azhar pada Sabtu (08/03/2025) malam.

Dalam ceramahnya, Syekh Majdi Abdulghaffar mengutip firman Allah dalam Surah Al-Ma'idah ayat 2:

﴿ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ﴾ [سورة المائدة: ٢]

"Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan." (Surah Al-Ma'idah: 2)

Beliau menjelaskan bahwa umat Islam adalah umat yang dibangun atas dasar solidaritas dan kasih sayang, sebagaimana terlihat dalam kehidupan Nabi Muhammad ﷺ sebelum dan setelah diangkat menjadi rasul. Hal ini ditegaskan oleh Sayidah Khadijah –radhiyallahu 'anha– yang menggambarkan karakter Nabi ﷺ dengan kalimat:

إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَحْمِلُ الْكَلَّ، وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ

"Engkau selalu menyambung silaturahmi, menolong orang yang kesusahan, memberi kepada mereka yang kekurangan, serta membantu dalam kebaikan."

Takaful Melampaui Bantuan Materi: Dimensi Psikologis dan Sosial

Syekh Majdi Abdulghaffar menekankan bahwa konsep takaful dalam Islam tidak terbatas pada aspek materi, tetapi mencakup dukungan psikologis dan sosial yang memperkuat hubungan antarindividu dalam masyarakat. Beliau menyebutkan bahwa dalam masyarakat yang penuh kasih sayang, tidak akan ada orang kaya yang membiarkan fakir miskin terlantar, atau dokter yang mengabaikan pasien yang membutuhkan pengobatan.

Budaya

Kumpulan tulisan dengan topik kebudayaan Islam dapat kalian temukan

di sini

Sebagai contoh nyata dari semangat takaful dalam Islam, beliau mengisahkan tentang Sahabat Salman Al-Farisi –radhiyallahu 'anhu– yang ketika itu masih dalam status mukatab (budak yang sedang menebus dirinya sendiri). Ketika seseorang datang kepada Nabi ﷺ membawa sebutir emas, Rasulullah ﷺ bertanya tentang kondisi Salman. Setelah mengetahui bahwa ia masih berada dalam kesulitan, Nabi ﷺ segera mengirimkan bantuan hingga Salman akhirnya terbebas dari perbudakan dan dapat ikut serta dalam setiap peperangan bersama Rasulullah ﷺ.

Takaful dalam Dukungan Emosional dan Spiritualitas

Selain aspek materi, Syekh Majdi Abdulghaffar juga menyoroti pentingnya dukungan emosional dalam konsep takaful. Ia mencontohkan kisah Sahabat Qais bin Tsabit –radhiyallahu 'anhu– yang merasa sangat takut setelah turun firman Allah:

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ ﴾ [سورة الحجرات: ٢]

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah meninggikan suaramu melebihi suara Nabi..." (Surah Al-Hujurat: 2)

Meyakini bahwa ayat ini menunjukkan amalannya telah sia-sia, ia pun mengisolasi diri dan menangis di rumahnya. Ketika Nabi Muhammad ﷺ mendengar hal ini, beliau segera mengutus seseorang untuk menenangkannya dan memberi kabar gembira bahwa ia termasuk ahli surga. Ini menunjukkan bahwa dalam Islam, dukungan psikologis dan semangat persaudaraan sangat dijunjung tinggi, bukan hanya sebatas pemenuhan kebutuhan materi.

Islam Menghapus Kemaksiatan, Bukan Mencela Pelakunya

Lebih lanjut, Syekh Majdi Abdulghaffar menegaskan bahwa Islam bukan agama yang menghukum individu semata, tetapi berusaha menghilangkan kemaksiatan dari masyarakat dengan cara yang penuh kasih sayang dan bimbingan. Dalam ajaran Islam, tugas umat bukanlah menghakimi atau mengucilkan mereka yang melakukan kesalahan, tetapi merangkul, menasihati, dan membantu mereka kembali ke jalan kebaikan.

Dalam hal ini, takaful menjadi fondasi utama dalam membangun masyarakat yang harmonis dan berkeadilan. Solidaritas sosial dalam Islam bukan sekadar aksi kebaikan, melainkan fondasi utama peradaban Islam yang membuat umatnya kuat menghadapi berbagai tantangan zaman.

Sebagai penutup, Syekh Majdi Abdulghaffar menekankan bahwa takaful adalah salah satu pilar utama dalam ajaran Islam, yang menjadikan umatnya lebih kuat, lebih adil, dan lebih stabil. Oleh karena itu, setiap muslim ditekankan untuk menjadikan nilai-nilai takaful sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, baik dalam aspek materi, psikologis, maupun sosial, demi mewujudkan masyarakat yang penuh kasih sayang dan persaudaraan sejati.


💡
Baca juga warta lain di rubrik BERITA atau pilih ragam tulisan lain di Situs Tawazun ID