Syekh Muhammad Al-Husaini Azh-Zhawahiri, Mufasir Pakar Logika dari Keluarga Azh-Zhawahiri

Dalam Keluarga Azh-Zhawahiri, terdapat satu mufasir yang jarang di-mention oleh generasi hari ini, khususnya oleh para civitas akademika Al-Azhar. Padahal, sosok ini adalah salah satu pengajar di awal-awal berdirinya kampus Universitas Al-Azhar modern. Namun, kisahnya sangat minim diceritakan. Berbeda dengan saudaranya, Muhammad Al-Ahmadi Azh-Zhawahiri yang menjabat Syekhul-Azhar, Muhammad Asy-Syafi’i Azh-Zhawahiri dan anaknya, Muhammad bin Muhammad Asy-Syafi’i Azh-Zhawahiri yang menjadi anggota Haiah Kibar Al-‘Ulama yang kisahnya masyhur dan banyak diceritakan.

Ia bernama lengkap Muhammad Al-Husaini bin Ibrahim bin Ibrahim Azh-Zhawahiri Asy-Syafi’i Al-Azhari. Ia dilahirkan di Desa Kafr Azh-Zhawahiri, Markaz Hihya, Provinsi Asy-Syarqiyyah, Mesir. Hanya saja, dalam semua sumber mengenai dirinya, tidak tercantum kapan tanggal, bulan, dan tahun ia dilahirkan, kecuali apa yang ditulis oleh Muhammad Al-Jawwadi dalam blog internetnya yang menyebut tahun 1873 M tanpa menyertakan sumber di tulisan tersebut. Tapi hal ini bisa jadi benar, karena untuk masuk Al-Azhar kala itu minimal telah berumur 15 tahun. Dan kita tahu, ia masuk ke Al-Azhar pada tahun 1306 H (1889 M), yang berarti usianya saat itu adalah 16 tahun. Jika menurut kalender Hijriah, umurnya masih 15 tahun lebih sedikit.

Adapun yang diketahui secara pasti adalah tempat ia dilahirkan, yang dari situ, ia dinisbahkan dengan nisbah Azh-Zhawahiri sebagaimana tertulis di belakang namanya. Mengenai nisbah Asy-Syafi’i, itu merujuk kepada mazhab fikih yang ia ikuti. Sementara Al-Azhari adalah nisbah kepada institusi Al-Azhar tempat ia mengkhidmahkan hidupnya.

Sebelum menjadi orang besar, ia telah dididik dalam lingkungan keluarga yang rata-rata adalah para ulama ternama. Saudara-saudaranya, Syekh Muhammad Al-Ahmadi Azh-Zhawahiri menjabat Imam Akbar Al-Azhar, Syekh Muhammad Asy-Syafi’i menjabat Dekan Fakultas Usuludin dan Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar, lalu Ayahnya, Ibrahim Azh-Zhawahiri adalah seorang ulama besar dan Kepala Masjid Al-Ahmadi Thantha, yang kala itu merupakan pusat pendidikan sekaligus ma’had di bawah naungan Al-Azhar.

Di dalam keluarga Azh-Zhawahiri, ia dikenal sebagai ulama bertalenta. Ia seorang mufasir, sastrawan, sejarawan, sekaligus pakar ilmu logika. Di antara keluarga besar Azh-Zhawahiri, ia adalah salah satu yang mempunyai banyak karya, selain Syekh Muhammad Al-Ahmadi Azh-Zhawahiri.

Masa Belajar dan Mengajar

Muhammad Al-Husaini memulai masa mudanya dengan menuntut ilmu di Masjid Al-Azhar pada tahun 1306 H (1889 M). Namun karena sang ayah, Syekh Ibrahim Azh-Zhawahiri --yang sebelumnya menjadi Syekh Riwaq Asy-Syaraqiwah-- diberi mandat oleh Al-Azhar menjadi Kepala Ma’had Al-Azhar Thantha, ia pun ikut pindah membersamai ayahnya di sana pada tahun 1312 H (1894 M). Lalu ia kembali beberapa tahun setelahnya ke Masjid Al-Azhar hingga meraih Syahādah Al-‘Ālimiyyah pada tahun 1321 H (1903 M).

Saat itu, pendidikan Al-Azhar terbagi menjadi 2: Syahādah Al-Ahliyyah dan Syahādah Al-‘Ālimiyyah. Syahadah pertama dapat diperoleh setelah melalui pendidikan di Al-Azhar selama 8 tahun. Adapun syahadah kedua dapat diperoleh setelah melalui pendidikan di Al-Azhar selama 12 tahun paling cepat dan 15 tahun paling lama. Jika kita hitung sejak tahun masuk hingga lulus, ia menyelesaikan pendidikan di Al-Azhar selama 15 tahun.

Setelah lulus, Syekh Muhammad Al-Husaini mulai mengabdikan dirinya sebagai pengajar di Al-Azhar. Mula-mula, ia menjadi pengajar di jenjang Ats-Tsanawi Ma’had Al-Azhar Thantha pada tahun 1322 H (1904 M). Dari sana, ia dipindah-ajarkan ke jenjang Al-Qism Al-‘Ali (kelak menjadi perkuliahan Al-Azhar) pada tahun 1340 H (1922 M). Artinya, ia telah mengajar di ma’had Thantha selama 18 tahun hingga pantas untuk mengajar di Al-Qism Al-‘Ali. Selama itu, ia lebih memilih jalur pendidikan ketimbang mengejar posisi administratif, sosial, ataupun politik. Selama jangka waktu itu pula, ia pernah menjadi pengawas ma’had-ma’had Al-Azhar.

Setahun setelahnya, tepatnya pada tahun 1341 H (1923 M), ia dipindah-ajarkan ke Ma’had Al-Azhar Al-Iskandariyyah hingga memperoleh anugerah Kiswah Tasyrif kategori darajah tsalitsah pada tahun 1343 H (1925 M). Lalu pada tahun tahun berikutnya, ia jenjang profesinya naik menjadi pengajar di Qism At-Takhashshush, jenjang setelah menamatkan Al-Qism Al-‘Ali.

Lima tahun berlalu, pada tahun 1350 H (1931 M) ia kembali diamanahkan sebagai pengawas ma’had-ma’had Al-Azhar. Hal ini ia lakukan secara kontinu selama 4 tahun lebih, hingga ia berkeinginan untuk kembali mengajar para talib di Al-Azhar alih-alih hanya menjadi pengawas. Maka pada tahun 1354 H (1934 M), keinginannya dikabulkan. Ia dilantik sebagai pengajar tafsir di Fakultas Usuludin Universitas Al-Azhar.

Resensi

Kumpulan ulasan buku dan kitab menarik dapat teman-teman baca

di sini

Karya Tulis

Selain mengajar dan kepiawaiannya dalam administrasi Al-Azhar (menjadi pengawas), Syekh Muhammad Al-Husaini Azh-Zhawahiri juga menulis sejumlah karangan. Buah karyanya mencakup tafsir, teologi Islam, ilmu logika, dan sastra Arab klasik, yaitu:

-       Al-Qaul As-Sadīd fī Tafsīr Āyāt An-Naskh wa Ath-Thalāq wa Ar-Ribā min Al-Qur'ān Al-Majīd. Diterbitkan oleh pada tahun 1359 H (1940 M) tanpa keterangan nama penerbit;

-       At-Taẖqīqāt Al-Wādhiẖah fī Tafsīr Sūrah Al-Fātiẖah wa Awā'il Sūrah Al-Baqarah wa Āyat Al-Kursī. Diterbitkan oleh Maktabah Mushthafa Al-Babi Al-Halabi pada tahun 1356 H (1938 M);

-       At-Taẖqīqāt Al-Hāmmah fī Mabāẖits Al-Umūr Al-‘Āmmah. Belum diketahui dicetak di mana dan bagaimana fisiknya, namun disebutkan dalam berbagai sumber;

-       At-Taẖqīq At-Tām fī ‘Ilm Al-Kalām. Diterbitkan oleh Maktabah An-Nahdhah Al-Mishriyyah pada tahun 1357 H (1939 M). Kembali ditahkik ulang oleh dua guru kami: Syekh Dr. Al-Yamani Al-Fakhrani dan Syekh Dr. Khalid Duwaidar pada tahun 2023 M lalu;

-       Tārīkh Adab Al-Lughah Al-‘Arabiyyah min Shadr Al-Islām ilā ‘Ashrinā Hādzā. Sebuah kitab mukhtasar mengenai sejarah sastra Arab untuk pelajar tahun kedua hingga keempat di jenjang Ats-Tsanawi Al-Azhar. Diterbitkan oleh Mathba’ah Al-Ahliyyah Thantha pada tahun 1318 H (1900 M); dan

-       Risālah fī ‘Ilm Al-Wadh’i. Diterbitkan oleh Mathba’ah Muhammad Muhammad Mathar Al-Warraq Kairo, tanpa keterangan tahun terbit.

Akhir Hayat

Setelah melalui hidup dengan berkhidmah di Al-Azhar, baik di ma’had, Al-Qism Al-Ali (sekarang kuliah), dan Qism At-Takhashshush (sekarang pascasarjana), Syekh Muhammad Al-Husaini menutup matanya di dunia untuk terakhir kalinya di Kairo, tepatnya pada Sabtu, 8 Safar 1365 H (12 Januari 1946 M). Jenazahnya dikebumikan di pemakaman keluarga Azh-Zhawahiri.

Inilah tarikh paling tepat mengenai kewafatannya, karena tertulis dalam pemakaman khusus keluarga ulama ini. Berbeda dengan banyak sumber yang hanya mencantumkan tahun saja. Bahkan ada yang kurang tepat, seperti dalam Hayāh Mujāwir fī Al-Jāmi’ Al-Aẖmadī. Semoga ia ditempatkan di tempat paling indah di sisi Allah bersama para nabi dan ahli ilmu.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik BIOGRAFI atau tulisan menarik Amirul Mukminin