Syekh Syihabuddin Al-Burullusi, Pakar Fikih dari Al-Azhar Penyandang Lakab ‘Amirah

Bagi para pengkaji fikih mazhab Syafi’i, nama sosok ulama ini tentu sudah tidak asing. Namanya seringkali disandingkan dengan Syekh Syihabuddin Al-Qalyubi, bahkan sangat lekat. Sebab, salah satu karyanya, Hasyiyah ‘ala Kanz Ar-Raghibin, atau yang sering juga disebut sebagai Syarh Al-Mahalli ‘ala Minhaj Ath-Thalibin dicetak bersamaan dengan Hasyiyah Al-Qalyubi. Sehingga kemudian keduanya seolah menjadi satu kesatuan yang kemudian dikenal dengan Hasyiyah Al-Qalyubi ‘Amirah.

Seingat penulis, pertama kali mendengar kitab hasyiah tersebut, namanya bukan Hasyiyah Al-Qalyubi ‘Amirah, melainkan Qalyubi ‘Umairah. Apakah memang bisa dibaca dua versi atau malah sebenarnya penulis salah dengar? Dalam tulisan ini, penulis akan mencoba mengupas sosok Syihabuddin Al-Burullusi alias Syekh ‘Amirah atau ‘Umairah.

Dalam kitab Ath-Thabaqat Ash-Shughra, Imam Abdulwahhab Asy-Sya’rani (w. 973 H) menyebut sosok ini sebagai Al-Imam Al-‘Allamah Al-Muhaqqiq (seorang imam yang sangat alim, teliti, dan mendetail). Di sini Syekh Asy-Sya’rani tidak menyebutkan tanggal lahir, tempat lahir, dan masa belajar. Padahal beliau, sebagaimana disebutkan dalam kitabtersebut, hidup bersama selama 20 tahun. Selain zuhud, menukil Asy-Sya’rani, beliau juga memiliki pekerti yang indah penampilan yang bagus. Beliau menjadi pemuka mazhab Syafi’i dan senantiasa mengajar dan berfatwa. Setahun sebelum wafat, beliau didera penyakit lumpuh, hingga akhirnya wafat.

Selain menyebutkan keilmuan, pekerti, dan penampilan Syekh Syihabuddin Al-Burullusi, Imam Asy-Sya’rani juga menyebutkan guru-gurunya. Di antara guru Syekh Al-Burullusi adalah Syekh ‘Abdulhaq As-Sunbathi, Syekh Burhanuddin Ibnu Abi Syarif, dan Syekh Nuruddin Al-Mahalli. Asy-Sya’rani juga menyebutkan bahwa beliau memberikan taqrizh (kata pengantar) terhadap beberapa karyanya.

Meskipun terbilang singkat, informasi dari Imam Asy-Sya’rani ini sangat menarik. Mengingat sedikitnya sumber yang mengupas tokoh bernisbah Al-Burullusi ini. Pada generasi selanjutnya, Al-Ghazzi (w. 1061 H) dalam Al-Kawakib As-Sa’irah dan Diwan Al-Islam hanya menukil apa yang disampaikan oleh Asy-Sya’rani. Hanya saja dalam Diwan Al-Islam, Al-Ghazzi menyebutkan tahun wafat Syihabuddin Al-Burullusi, yaitu pada tahun 957 H.

Sejarawan selanjutnya adalah Ibnu Al-’Imad Al-Hanbali (w. 1089 H). Ia menyebutkan nama Syihabuddin Al-Burullusi dalam kitab Syadzarat Adz-Dzahab dalam kelompok ulama yang wafat pada tahun 957 H. Tidak ada yang baru dari tulisan Ibnu Al-’Imad ini. Beliau juga hanya menyebutkan apa yang dituliskan oleh Asy-Sya’rani dalam Thabaqat-nya. Sehingga bisa disimpulkan bahwa hingga era Ibnu Al-’Imad Al-Hanbali, informasi tentang Syekh Syihabuddin Al-Burullusi tidak lebih dari apa yang ditulis oleh Asy-Sya’rani. Hanya saja kita bisa menggaris-bawahi bahwa ketiganya sama-sama menyatakan ‘Amirah atau ‘Umairah adalah nama populernya.

Dari pemaparan ketiga penulis di atas, tidak ditemukan satupun penyebutan karya Syekh Syihabuddin Al-Burullusi. Buah karyanya baru disebut oleh Haji Khalifah (w. 1067 H) dalam Kasyf Azh-Zhunun. Dalam kitab bibliografi raksasaini, Haji Khalifah hanya menyebut satu karya saja, yaitu Syarh Al-Basmalah wa Al-Hamdalah. Sementara Az-Zirikli (w. 1396 H) dalam Al-A’lam hanya menyebut satu karya yang lain, yaitu Hasyiyah ‘ala Kanz Ar-Raghibin.

Dalam daftar manuskrip koleksi Perpustakaan Umum Al-Azhar, terdapat sejumlah karya Al-Burullusi selain dua kitab di atas. Karya tersebut adalah Hasyiyah ‘ala Syarh Al-Mahalli ‘ala Jam’i Al-Jawami’ (ushul fikih), Hasyiyah ‘alaFathu Al-Wahhab (fikih), Khatm Al-Bahjah Al-Wardiyyah, sebuah syarh atas bab terakhir kitab Al-Bahjah Al-Wardiyyah(fikih), Risalah Ta’liq Ath-Thalak (fikih) dan Risalah Al-Khulu’ (fikih).

Dari penelusuran di atas, kita bisa menyusun ulang informasi tentang Syekh Syihabuddin Al-Burullusi sehingga bisa menjadi data biografis penting. Terlebih setelah mendapat informasi lebih lanjut dari kitab Zakha’ir Al-Burullus karya Shabir Asy-Syarnubi. Di mana di dalamnya terdapat silsilah keluarga dan keturunan Syekh Syihabuddin Al-Burullusi.

Nama Syekh Syihabuddin Al-Burullusi

Beliau bernama lengkap Syihabuddin Ahmad bin Zaid Al-Burullusi Al-Husaini Asy-Syafi’i. Syihabuddin merupakan nama lakab, sementara Ahmad adalah nama asli. Al-Burullusi merujuk kepada Burullus, sebuah wilayah di pesisir utara Mesir. Kawasan ini sekarang masuk Provinsi Kafr Asy-Syaikh. Sementara Asy-Syafi’i merupakan nisbah kepada mazhab yang dianut, yaitu mazhab Syafi’i. Kata Al-Husaini menandakan bahwa beliau merupakan keturunan Rasulullah SAW dari jalur Sayidina Husain. Hal ini dijelaskan dalam kitab Zakha’ir Al-Burullus karya Shabir Asy-Syarnubi.

Resensi

Kumpulan ulasan buku dan kitab menarik dapat teman-teman baca

di sini

Syekh Syihabuddin Ahmad Al-Burullusi belajar di Al-Azhar kepada sejumlah ulama. Di antaranya kepada Syekh Ibrahim Ibnu Abi Syarif (w. 923 H), Syekh Abdulhaq As-Sunbathi (w. 931 H), Syekh Zakariyya Al-Anshari (w. 926 H), Syekh Nuruddin Al-Mahalli, dan Syekh Nashiruddin Al-Laqani (w. 958 H). Guru terakhir ini beliau sendiri sebutkan dalam mukadimah Hasyiyah ‘ala Syarh Al-Mahalli ‘ala Jam’i Al-Jawami’. Setelah mendapat lisensi untuk mengajar dan berfatwa, beliau pun mengajar di Al-Azhar.

Di antara talib yang tercatat belajar kepada beliau adalah Syekh Syamsuddin Khatib Asy-Syirbini, Syekh Ahmad bin Qasim Al-‘Abbbadi, dan Syekh Nuruddin ‘Ali Az-Zayyadi.

Karya-karya Syekh Syihabuddin Al-Burullusi

Di samping mengajar dan berfatwa, Syekh Syihabuddin Ahmad Al-Burullusi juga aktif menulis karya. Di antara karya yang berhasil didata adalah Hasyiyah ‘ala Kanz Ar-Raghibin, Hasyiyah ‘ala Syarh Al-Mahalli ‘ala Jam’i Al-Jawami’ (ushul fikih), Hasyiyah ‘ala Fath Al-Wahhab (fikih), Khatm Al-Bahjah Al-Wardiyyah, sebuah syarh atas bab terakhir kitab Al-Bahjah Al-Wardiyyah (fikih), Risalah Ta’liq Ath-Thalaq (fikih), Risalah Al-Khulu’ (fikih), dan Syarh Al-Basmalah wa Al-Hamdalah.

Dari sejumlah karya di atas, karya terakhir mendapat syarah dari Syekh Abu Bakar Asy-Syanawani, murid Syekh Ahmad bin Qasim Al-‘Abbadi. Informasi ini terdapat di dalam Kasyfu Azh-Zhunun karya Haji Khalifah. Yang menarik di sini adalah judul kitab karangan Syekh Asy-Syanawani adalah Ath-Thawali’ Al-Munirah ‘Ala Basmalati ‘Amirah. Sisi menariknya di sini adalah penamaan kitab ini bisa menuntun kita untuk mengetahui cara pengucapan lakab Syekh Syihabuddin Al-Burullusi, yaitu ‘Amirah.

Jika lantas muncul pertanyaan terkait namanya: kenapa harus ‘Amirah, sementara kalau kita ucapkan ‘Umairah juga mungkin? Nah, dengan melihat judul-judul kitab Arab, biasanya kita temui adanya sajak di dalam diksinya. Dari diksi dalam judul Al-Munirah di atas, asumsi terdekat untuk memunculkan sajak adalah ‘Amirah, bukan ‘Umairah. Sebab tidak mungkin kita melafalkan judul kitabnya dengan Ath-Thawali’ Al-Munairah ‘Ala Basmalati ‘Umairah. Karena kata Al-Munairah sangat jarang digunakan untuk menyifati Ath-Thawali’, atau bahkan tidak ada. Sehingga pengucapan yang lebih tepat adalah Ath-Thawali’ Al-Munirah ‘Ala Basmalati ‘Amirah.

Pengucapan ‘Amirah terhadap lakab Syekh Syihabuddin Ahmad Al-Burullusi juga didukung dengan adanya keluarga yang membawa nama ‘Amirah di wilayah Burullus dan sekitarnya. Bahkan dalam Zakha’ir Al-Burullus, Shabir Asy-Syarnubi menyebut beberapa keluarga ‘Amirah beserta tempat mereka menetap. Dalam penelusurannya, keluarga ini bermuara pada Syekh Syihabuddin Ahmad Al-Burullusi yang populer dengan nama ‘Amirah. Dari dua data ini, kiranya tidak diragukan lagi bahwa penyebutan nama lakab Syekh Syihabuddin Ahmad Al-Burullusi adalah ‘Amirah, bukan ‘Umairah. Sehingga nama hasyiyahnya, jika digabungkan dengan hasyiyah Al-Qalyubi, adalah Hasyiyah Al-Qalyubi wa ‘Amirah.

Wafat

Setelah menjalani karir sebagai pengajar dan mufti, Syekh Syihabuddin Ahmad Al-Burullusi atau yang akrab dengan nama Syekh 'Amirah didera penyakit lumpuh. Setahun kemudian beliau menghembuskan nafas terakhirnya pada tahun 957 H. Pada tahun yang sama, Syekh Syihabuddin Ahmad Ar-Ramli juga dipanggil oleh Pemiliknya, Allah SWT. Semoga curahan rahmat dan keberkahan senantiasa menyiram tanah kuburnya. Amin..


💡
Baca riwayat hidup alim ulama di rubrik BIOGRAFI atau tulisan menarik Munawar Ahmad