Syekh Utsman bin Hasan Ad-Dumyathi, Sang Azhari yang Berkiprah di Tanah Hijaz
Ketika kita mencermati sanad fikih Syafi’i yang tersebar di Indonesia, terutama di kalangan pesantren, nama Syekh Utsman bin Hasan Ad-Dumyathi nyaris tak pernah absen. Meski muridnya sangat banyak, termasuk dari kalangan santri Nusantara, tetap saja Syekh Ahmad Zaini Dahlan adalah bintangnya.
Syekh Ahmad Zaini Dahlan sendiri merupakan mahaguru ulama Nusantara di Hijaz. Banyak sekali ulama Nusantara yang berguru kepadanya. Namun yang sinarnya paling terang adalah trio ulama dari keluarga Syatha, yakni Umar, Utsman, dan Abu Bakar. Ketiganya juga merupakan mahaguru ulama Nusantara yang murid-muridnya tersebar di Nusantara dan berhasil membangkitkan gairah keilmuan melalui pondok pesantren yang diasuh mereka.
Hal ini merupakan tafsiran isyarat mimpi yang didapatkan oleh Syekh Utsman bin Hasan Ad-Dumyathi ketika berada di makam Sayidina Husain, bahwa beliau memancarkan sinar Al-Azhar di Makkah. Kemudian sinar ini memancar terang di Nusantara. Berikut adalah sekelumit biografi Syekh Utsman bin Hasan Ad-Dumyathi.
Nama Lengkap Syekh Utsman Ad-Dumyathi
Beliau bernama lengkap Utsman bin Hasan Ad-Dumyathi Al-Azhari Asy-Syafi’i Al-Khalwati Al-Makki. Dumyath atau yang biasa dieja dengan Dimyath (Damietta) merupakan sebuah provinsi di Mesir. Tempat ini menjadi tempat kelahiran Syekh Utsman bin Hasan. Beliau lahir pada 1196 H, sebagaimana disebutkan dalam kitab An-Nafh Al-Miski. Hal ini berbeda dengan penjelasan Syekh Ahmad bin Zaini Dahlan selaku murid utamanya. Dalam kitab biografi khusus tentang gurunya, beliau menuliskan bahwa sang guru lahir pada 1197 H di pesisir Dumyath.
Semenjak kecil, Syekh Utsman bin Hasan Ad-Dumyathi sudah tekun belajar. Beliau belajar kepada sejumlah ulama yang ada di Dumyath. Di masa itu, para pelajar di Mesir pada umumnya belajar kaidah dasar dalam baca tulis dan menghafal Al-Quran di kampung halaman mereka. Di samping itu, tidak jarang pula yang juga mempelajari dasar-dasar pengetahuan Islam, seperti nahwu, sharaf, fikih, dll. selain belajar baca tulis dan menghafal Al-Quran.
※ Selintas Mengenal Ragam Bacaan Al-Quran
Pada 1212 H, Syekh Utsman bin Hasan Ad-Dumyathi merantau ke Kairo untuk belajar di Al-Azhar yang merupakan kiblat keilmuan. Di tahun yang sama, Syekh Ibrahim Al-Bajuri juga datang ke Kairo untuk tujuan yang sama. Beliau menetap di Al-Azhar cukup lama. Sebab setelah dinyatakan layak mengajar oleh para gurunya, beliau menjalani profesi sebagai pengajar di Al-Azhar. Oleh karena itu, beliau bernisbah Al-Azhari, baik sebagai pelajar maupun pengajar.
Di Al-Azhar, Syekh Utsman bin Hasan Ad-Dumyathi belajar kepada sejumlah ulama, di antaranya adalah Syekhul-Azhar Abdullah Asy-Syarqawi, Syekhul-Azhar Muhammad bin Ali Asy-Syanawani, Syekhul-Azhar Ahmad bin Ali Ad-Damhuji, Syekhul-Azhar Hasan Al-Quwaisini, Syekh Muhammad bin Arafah Ad-Dusuqi, Syekh Muhammad bin Ali Ash-Shabban, Syekh Muhammad Al-Amir Al-Kabir, Syekh Ahmad bin Muhammad Ath-Thahthawi, Syekh Mushthafa Al-Qal’awi, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Pada tahun 1248 H, Syekh Utsman bin Hasan Ad-Dumyathi keluar dari Mesir menuju Hijaz. Menurut penuturan muridnya, Syekh Ahmad bin Zaini Dahlan, beliau di Makkah pada bulan Rajab. Kedatangannya disambut oleh para pembesar dan tokoh terkemuka. Setibanya di Makkah, beliau mengisi waktu-waktunya dengan mengajar di Masjid Al-Haram. Cahaya Al-Azhar menyala terang di sana dan menyebar ke seantero jagat. Kegiatan mengajar ini beliau tekuni hingga akhir hayat sehingga nisbah Al-Makki melekat disandangnya.
Isyarat Mimpi
Ada kisah menarik terkait hijrahnya Syekh Utsman bin Hasan Ad-Dumyathi menuju Makkah. Suatu ketika, saat beliau sedang berada di Makam Sayidina Husain yang terletak tak jauh dari Masjid Al-Azhar, pada kondisi antara sadar dan terlelap, beliau bermimpi mendatangi Makkah. Kemudian beliau memasuki Masjid Al-Haram dan menanam pohon di dalamnya. Dengan cepat, pohon itu tumbuh subur sampai memenuhi Masjid Al-Haram. Pohon besar ini kemudian berbuah melimpah ruah dan buahnya matang. Kisah ini didengar langsung oleh Syekh Ahmad bin Zaini Dahlan dan ditulis dalam manakib sang guru. Kemudian, ketika Syekh Abu Bakar Syatha menuliskan biografi Syekh Ahmad Zaini Dahlan dalam kitab Nafhah Ar-Rahman, kisah ini pun dinukil di dalamnya.
Mungkin mimpi ini adalah sebuah isyarat bahwa kemanfaatan ilmu yang akan didapatkan sangatlah besar, jika Syekh Utsman bin Hasan Ad-Dumyathi hijrah ke Makkah dan mengajar di Masjid Al-Haram. Dengan keyakinan yang kuat dan penuh kepasrahan, beliau meninggalkan Al-Azhar, tempat semula beliau belajar dan mengajar, menuju Makkah dan tiba pada bulan Rajab, sebagaimana penuturan Syekh Ahmad bin Zaini Dahlan. Sesampainya di Makkah, isyarat mimpi itu pun mulai terbukti. Para pemuka ulama dan pelajar memadati halakah yang diampunya, setelah beliau duduk mengajar di Masjid Al-Haram.
Dalam Nafhah Ar-Rahman, Syekh Utsman bin Hasan Ad-Dumyathi menafsirkan pohon besar yang memenuhi Masjid Al-Haram sebagai Syekh Ahmad bin Zaini Dahlan. Sebab, dari beliau para pelajar dari penjuru dunia mengambil ilmu. Apalagi para pelajar yang datang dari Nusantara. Sehingga para murid inilah yang kemudian menjadi buah yang melimpah ruah dan matang. Meski demikian, pohon lebat besar itu juga bisa ditafsirkan sebagai murid-murid beliau secara umum. Meskipun yang paling berkilau tetaplah Syekh Ahmad bin Zaini Dahlan.
Di antara murid-murid beliau yang lain adalah Syekh Ahmad Ad-Dumyathi yang merupakan keponakannya sendiri, Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasabillah Al-Makki, Syekh Ahmad An-Nahrawi dan masih banyak lainnya. Sementara murid beliau yang dari Nusantara sangatlah banyak, di antaranya adalah Syekh Muhammad Nawawi bin Umar Al-Jawi, Syekh Isma’il Al-Minangkabawi, Syekh Ahmad Khathib Al-Minangkabawi, Syekh Khalil Al-Bangkalani, Syekh Abdusysyakur Surabaya, Syekh Abdulghani Al-Bimawi, Habib Utsman bin Abdillah Al-Batawi, Syekh Shalih Rawah Al-Jawi, dan masih banyak lagi lainnya.
Hal yang menarik lagi untuk disebut di sini adalah di samping mengajar dan menyebarkan cahaya keilmuan, beliau juga masih tetap semangat mengambil faedah dari ulama lain. Dalam masalah riwayat, beliau masih berkenan mengambil riwayat dari ulama lain selain guru-guru yang telah disebutkan di atas. Bahkan, dalam kitab Al-‘Iqd Al-Farid, beliau tercatat meriwayatkan beberapa kitab dari ulama Nusantara, yakni Syekh Abdushshamad Al-Falimbani. Hal ini merupakan sebuah kebanggaan bagi Nusantara sekaligus sebagai keberkahan.
Tarekat Khalwatiyyah
Dalam kitab Nafhah Ar-Rahman, Syekh Abu Bakar Syatha menyebutkan bahwa gurunya, Syekh Ahmad bin Zaini Dahlan menerima Tarekat Al-Khalwatiyyah dari Syekh Utsman bin Hasan Ad-Dumyathi. Di situ juga disebutkan bahwa sebenarnya Syekh Utsman juga memiliki tarekat lain selain tarekat tersebut, seperti Al-‘Aidarusiyyah, An-Naqsyabandiyyah, dan yang lainnya. Namun demikian, menurut penuturan Syekh Ahmad Zaini Dahlan, tarekat yang dijadikan amalan keseharian adalah Al-Khalwatiyyah. Oleh karena itu, beliau bernisbah Al-Khalwati.
Syekh Utsman bin Hasan Ad-Dumyathi mendapatkan baiat tarekat ini dari Syekhul-Azhar Abdullah Asy-Syarqawi. Sementara Syekh Abdullah Asy-Syarqawi mendapatkannya dari Syekhul-Azhar Muhammad bin Salim Al-Hifni. Memang banyak Syekhul-Azhar yang menganut tarekat ini. Selain kedua Syekhul-Azhar di atas ada nama Syekhul-Azhar Ahmad bin Ali Ad-Damhuji dan Syekhul-Azhar Muhammad bin Ali Asy-Syanawani.
Karya
Dalam hal karya, mungkin Syekh Utsman bin Hasan Ad-Dumyathi terbilang kurang aktif. Mungkin kesibukannya mengajar mengalahkan aktivitas lainnya. Meski demikian, terdapat dua kitab yang menjadi buah karyanya, yaitu Tsabat yang berisi daftar guru dan riwayat kitab dan fatwa sebagai jawaban dari pertanyaan yang disampaikan oleh Syekh Yusuf Al-Yakhsawi.
Akhir Hayat
Semenjak datang ke Makkah Syekh Utsman bin Hasan Ad-Dumyathi sentiasa istiqamah dalam mengajar. Pelajaran yang disampaikan mudah dicerna meskipun materinya sebenarnya pelik. Oleh karena itu, Syekh Abu Bakar Syatha memberinya julukan sang pemecah masalah.
Sebelum wafat, Syekh Utsman bin Hasan Ad-Dumyathi sempat menderita penyakit beser. Hingga kemudian pada hari Senin akhir bulan Muharam 1265 H, beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Setelah dimandikan dan dikafani, jenazah beliau disalati oleh Syekh Ahmad Ad-Dumyathi sebagai imamnya. Kemudian jenazah beliau dikebumikan di Pekuburan Al-Ma’la di dekat makam Sayidah Khadijah. Semoga rahmat dan keberkahan senantiasa tercurah kepada sang guru. Amin...