Syihabuddin Al-Qalyubi, Ulama Al-Azhar Sahib Hasyiah Fikih Kenamaan
Dalam fikih Syafi’i, terdapat salah satu kitab hasyiah babon yang semenjak ditulis hingga hari ini senantiasa dipakai, dipelajari, dan dijadikan rujukan oleh para alim ulama di tiap masanya. Yaitu Hāsyiyah Al-Qalyūbī ‘alā Kanz Ar-Rāghibīn ‘alā Minhāj Ath-Thālibīn. Saking masyhurnya, kitab ini dicetak di berbagai maktabah Islam di seluruh penjuru dunia. Dan biasanya, hasyiah ini disandingkan dengan Hasyiah Syekh ‘Amirah (‘Umairah) dalam satu buku.
Sosok yang hasyiahnya populer ini dijuluki Syihabuddin, bernama Ahmad bin Ahmad bin Salamah Al-Qalyubi Asy-Syafi’i Al-Azhari. Sebagaimana nisbah yang melekat pada namanya, ia berasal dari Qalyub, sebuah desa yang dulunya secara administratif berada di Provinsi Asy-Syarqiyyah dan sekarang beralih menjadi desa, sekaligus menjadi markaz, kota, dan provinsi yang bernama Provinsi Al-Qalyubiyyah, Mesir.
Menuntut Ilmu
Dari tempatnya berasal, Al-Qalyubi muda pergi menuntut ilmu ke Al-Azhar, Kairo, pusat keilmuan Islam yang terbukti banyak menempah ulama-ulama besar di masa tersebut. Di sini, ia belajar kepada banyak para alim ulamanya, seperti Syekh Syamsuddin Muhammad Ar-Ramli yang dikenal sebagai Asy-Syafi’i Ash-Shaghir. Ia belajar fikih dan hadits kepada sang guru tersebut hingga akhir hayatnya. Saking istikamahnya Al-Qalyubi muda bermulazamah kepada sang guru, sampai-sampai dalam Fawā'id Al-Irtihāl disebutkan bahwa Al-Qalyubi pernah bermulazamah sekaligus tinggal di kediaman sang guru selama tiga tahun.
Setelah Syekh Syamsuddin Ar-Ramli wafat pada tahun 1004 H, Al-Qalyubi bermulazamah kepada Syekh Nuruddin Ali Al-Halabi (wafat 1044 H). Hubungan antar mereka berdua begitu kuat, bahkan layaknya bapak dan anak. Ia bermulazamah di semua fan ilmu yang gurunya ajarkan, baik dari fikih, hadits, tafsir, tauhid, dan sebagainya. Saking dekatnya, Syekh Zainuddin Fayid Al-Ibyari dalam Al-Qaul Al-Mukhtār sampai berkata, bahwa ketika gurunya itu sedang mengajar dan ia berada jauh dari sang guru, ia akan merapat perlahan-lahan hingga tiba-tiba sudah berada di dekat sang guru. Dengan banyaknya taqrir fikih Syafi’i yang diucapkan oleh Syekh Nuruddin Al-Halabi ketika mengajar, dari situ pulalah Syihabuddin Al-Qalyubi akhirnya membuat sebuah hasyiah atas Kanz Ar-Rāghibīn Syarh Minhāj Ath-Thālibīn.
Ada satu kisah menarik yang disebutkan oleh Syekh Zainuddin Fayid Al-Ibyari dalam Al-Qaul Al-Mukhtār. Syahdan, pada suatu hari Syekh Nuruddin Al-Halabi tengah mengendarai bagalnya di jalan. Kebetulan, Al-Qalyubi berpapasan dengan sang guru. Ia kemudian mendekati sang guru dan mencium sepatunya seraya berkata, “Semoga Allah menghiasi alam semesta ini dengan adanya dirimu, wahai Tuanku.”
Selain kepada dua ulama Al-Azhar di atas, Syihabuddin Al-Qalyubi juga belajar kepada Syekh Nuruddin Ali Az-Zayyadi, Syekh Salim Asy-Syabsyiri, Syekh Ahmad bin Khalil As-Subki, Syekh Muhammad Ath-Thahhan, dan pembesar ulama Al-Azhar lainnya. Dari mereka semua, ia lalu diperbolehkan berfatwa dan mengajar, terutama dalam fikih Syafi’i.
Masa mengajar
Pada masa pengabdian ini, Syekh Syihabuddin Al-Qalyubi mengajar di Riwaq Ibnu Ma’mar, salah satu riwaq Masjid Al-Azhar yang paling masyhur di antara para mujawir (sebutan untuk santri yang tinggal di Masjid Al-Azhar). Bangunan riwaq ini sudah tidak ada, namun posisinya bisa dikira-kira berada di sebelah kanan jika keluar dari Masjid Al-Azhar dan menuju tempat wudu.
Di riwaq ini, beliau mengajarkan Syarh Abī Syujā’ karya Ibnu Qasim Al-Ghazzi dan menganggit hasyiah atas bahan ajar tersebut. Pengajiannya dihadiri banyak alim ulama mazhab Syafi’i, bahkan dihadiri oleh gurunya sendiri, Syekh Nuruddin Al-Halabi. Dalam Al-Qaul Al-Mukhtār, direkam bahwa guru Syekh Syihabuddin Al-Qalyubi menghadiri muridnya tersebut dalam kajian kitab Al-Minhāj karya Imam An-Nawawi dari terbitnya matahari hingga masuk waktu Zuhur. Kita itu juga merekam bahwa Syekh Syihabuddin Al-Qalyubi mengajarkan nahwu dari bakda Magrib hingga Isya.
Selain itu, beliau juga mengajarkan Syarh At-Tahrīr karya Syekh Zakariyya Al-Anshari dalam fikih Syafi’i dan menganggit hasyiah atas syarah tersebut. Selain mengajar di Riwaq Ibnu Ma’mar, beliau juga mengajar di Madrasah Ath-Thaybarsiyyah.
Adapun sejumlah ulama yang belajar kepada beliau yaitu Syekhul-Azhar Ibrahim Al-Birmawi, Syekh Manshur Ath-Thukhi, Syekh Sya’ban Al-Fayyumi, dan anaknya sendiri Syekh Yunus Al-Qalyubi.
Kehidupannya
Dalam At-Tuẖfah Al-Bahiyyah fī Thabaqāt Asy-Syāfi’iyyah, Syekh Abdullah Asy-Syarqawi menuliskan manakib Syekh Syihabuddin Al-Qalyubi. Ia berkata, “Beliau itu pakar dalam semua bidang keilmuan, baik fikih, hadits, tafsir, nahwu, balaghah, fikih dan usulnya, imlak, kedokteran, miqat (waktu), matematika, dan sains. Setiap tahun, beliau selalu kembali ke kampung halamannya, Qalyub untuk menempa emas dan menjadikannya berbentuk kepingan logam, lalu dijual ke pasar. Hasil jualan tersebut akan mencukupi kehidupan beliau selama satu tahun ke depan. Beliau juga tidak pernah menerima pemberian dari siapapun, baik itu sedikit maupun banyak. Beliau melakukan semua pekerjaan rumahnya sendirian.
Jika beliau lewat di pelataran Masjid Al-Azhar, semua pengajar dan pelajar di sana terdiam takut dan segan, karena tingginya wibawa dan haibah yang beliau miliki. Bahkan, ulama sezamannya menamai beliau dengan Jundi Al-‘Ulamā (Tentaranya Para Ulama). Karena itu, beliau memperbanyak tawaduk, dermawan, beradab, sederhana, dan berlemah lembut. Akan tetapi, beliau adalah sosok yang sangat dikhawatirkan kemarahannya jika sudah mengeksekusi perkara yang hak dan menghapus kebatilan.” Karena itu, beliau tidak diperbolehkan masuk ke rumah-rumah pemerintah. Pun demikian, jika beliau mengirimkan surat kepada mereka, mereka akan segera mengabulkan permintaan beliau.
Salah satu amir negara pernah bertamu kepada Syekh Syihabuddin Al-Qalyubi, mencium tangan beliau seraya berkata, “Doakan kami, wahai Tuanku.” Ketika itu, beliau balik bertanya, “Siapa engkau?”
Setelah sang amir mengatakan namanya, beliau kemudian berkata, “Aku berlepas diri darimu dunia-akhirat. Apa yang akan engkau jawab di hadapan Allah atas kepercayaan masyarakat, sedangkan engkau menzalimi para petani!” Mendengar jawaban beliau, sang amir lalu berkata, “Wahai Tuanku, aku bertaubat kepada Allah atas perbuatan ini dan aku tidak akan mengulanginya seumur hidupku.” Beliau kemudian tersenyum dan meridai sang amir.
Dalam Fawā'id Al-Irtihāl, Syekh Mushthafa Al-Hamawi juga merekam bahwa beliau adalah seorang alim dari Al-Azhar, orang yang zuhud, sederhana, memperbanyak diri dalam ketaatan kepada Allah, dan tidak ingin memiliki banyak profesi. Meskipun begitu, beliau senantiasa dalam kehidupan yang lapang dan berkecukupan. Dalam mengajar, beliau sangat jarang alpa, pakar dalam semua fan keilmuan, termasuk ilmu kedokteran. Bahkan Al-Hamawi memiliki kisah tersendiri mengenai hal ini, karena Syekh Al-Qalyubi yang menjadi tabib di akhir hayat ayahnya. Beliau juga mahir dalam ilmu hitung, miqat, astronomi, ilmu hikmah, dan masih banyak lagi.
Dalam Al-Qaul Al-Mukhtār, juga tertulis mengenai kebiasaan Syekh Syihabuddin Al-Qalyubi jika telah memasuki bulan Ramadan. Beliau akan menuju Masjid Al-Azhar, beribadah di sana, dan tidak keluar dari masjid hingga selesai salat Idulfitri. Malam-malam di bulan Ramadan beliau isi dengan membuat halakah tadarus Al-Quran bersama para muridnya hingga khatam 30 juz dalam satu malam. Di malam hari itu pula, beliau membagikan dua wadah besar yang berisi bubur kepada fakir miskin yang berada di Al-Azhar. Jika masuk waktu berbuka puasa, beliau bersedekah kurma kepada semua mujawir Al-Azhar.
Melihat kehidupan ulama besar ini membuat orang-orang di sekitarnya ingin menjadikan beliau sebagai sosok teladan. Saking masyhurnya, sosok beliau terukir abadi dalam tinta sejarah. Beliau digambarkan sebagai sosok yang berbadan tegap, berserban besar, berkulit putih, berjenggot tebal, penglihatannya kabur, paling sering memakai jubah putih, terkadang baju tebal (shūf) kecokelatan, pakaian berbahan sutra kecokelatan, atau pakaian wol hitam hasil tenunan, dan di bahunya terdapat syal merah buatan negeri Hijaz.
Karangan
Selain mengabdikan dirinya untuk mengajar, Syekh Syihabuddin Al-Qalyubi juga menulis sejumlah karangan dalam berbagai fan keilmuan. Beberapa tahun belakangan ini, karangan beliau sudah mulai banyak dicetak. Namun, masih banyak juga yang masih berbentuk manuskrip dan tersimpan di perpustakaan, salah satunya Perpustakaan Umum Al-Azhar. Karangan-karangan yang dimaksud antara lain:
- Hāsyiyah ‘alā Kanz Ar-Rāghibīn ‘alā minhāj Ath-Thālibīn;
- Hāsyiyah ‘alā Tuhfah Ath-Thullāb li Syarh Tahrīr Tanqih Al-Lubāb;
- Hāsyiyah ‘alā Syarh Ibn Qāsim Al-Ghazzī;
- Hāsyiyah ‘alā Al-Iqnā’ fī Hall Alfāzh Abī Syujā’;
- Hāsyiyah ‘alā Syarh Asy-Syaikh Khālid ‘ala Al-Ājurrūmiyyah;
- Hasyiyah ‘ala Al-Muqaddimah Al-Azhariyyah;
- Hāsyiyah ‘alā Syarh Isāghūjī karya Syekh Zakariyya Al-Anshari;
- Hāsyiyah ‘alā Syarh Al-Mahallī ‘alā Al-Waraqāt dalam usul fikih;
- Hāsyiyah ‘alā Al-Basmalah karya Syekh Zakariyya Al-Anshari;
- Al-Farīdah fī Khawāsh Al-Qur'ān Al-‘Azhīm dalam ilmu Al-Quran;
- Nubdzah Lathīfah ‘alā Al-Jāmi’ Ash-Shaghīr dalam hadits;
- Al-Budūr Al-Munawwarah fī Rutab Al-Ahādīts Al-Musytaharah dalam ilmu hadits;
- Qashash ‘an Ba’dh Ash-Shālihīn seputar hikayat;
- As-Sirāj Al-Wahhāj fī Syarh Qishshatayi Al-Isrā' wa Al-Mi’rāj;
- Muqaddimah fī Lailah An-Nishf min Sya’bān;
- Al-Hidāyah min Adh-Dhalālah fī Ma’rifah Al-Waqt wa Al-Qiblah wa Mā Yata’allaq bihimā Min Ghair Ālah dalam ilmu miqat;
- Syawāriq Al-Anwār fī Ash-Shalāt ‘alā An-Nabī Al-Mukhtār;
- Tadzkirah Al-Qalyūbī;
- Al-Mashābīh As-Saniyyah fī Thibb Khair Al-Bariyyah dalam ilmu kedokteran;
- Risālah fī ‘Alāmāt As-Sā’ah; dan
- Risālah fī Manāsik Al-Hajj ‘alā Al-Madzāhib Al-Arba’ah.
Akhir Hayat
Setelah mendedikasikan hidup untuk belajar, mengajar, berkarya, dan berderma, Syekh Al-Qalyubi pun sakit tua. Sakit itu pula yang akhirnya mengantarkan beliau untuk menghembuskan nafas terakhirnya. Beliau kemudian wafat pada 27 Syawal 1069 H sebagaimana disebut di dalam Fawā'id Al-Irtihāl. Adapun dalam Thabaqāt Syekh Abdullah Asy-Syarqawi, disebut 29 Syawal. Hal ini bisa jadi sebuah kealpaan, karena adanya kemiripan antara penulisan 7 dan 9 dalam narasi Arab.
Jenazah beliau dihadiri seluruh ulama Al-Azhar dan mayoritas penduduk Kairo saat itu. Setelah disalatkan, jenazah beliau dibawa ke tempat pemberhentian akhirnya di Qarafah Mujawirin dan dimakamkan di sana, berdekatan dengan makam Syekh Syamsuddin Al-Babili.
Tahun wafat beliau juga menjadi tahun kesedihan bagi para civitas academica Al-Azhar saat itu. Karena, selain wafatnya sosok agung ini, turut wafat pada tahun itu Syekh Hasan Asy-Syurunbulali Al-Hanafi, Syekh Muhammad bin Ahmad Asy-Syaubari Asy-Syafi’i, dan Syekh Syihabuddin Ahmad bin Muhammad Al-Khafaji Al-Hanafi, yang ketiganya juga dimakamkan di Qarafah Mujawirin. Meskipun disayangkan, lokasi presisi tempat tokoh-tokoh tersebut disemayamkan belum diketahui pada hari ini.