TGB Zainul Majdi Nakhodai Lagi PB NWDI

TAWAZUN.ID — Tuan Guru Bajang (TGB) M Zainul Majdi resmi terpilih kembali menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (PB NWDI) masa bakti 2022-2027. Hasil pemilihan tersebut disampaikan dalam putusan Sidang Pleno VI Muktamar Perdana NWDI yang diadakan di Pancor, Selong, Lombok Timur pada hari Senin, 31 Januari 2022.

Terpilihnya kembali Ketua Umum PB NWDI TGB KH Muhammad Zainul Majdi, disahkan dalam keputusan Muktamar 1 NWDI No 005/KPT/NWDI/2022 yang dibacakan Pimpinan Sidang Pleno Muktamar ke-1 NWDI Rosiady Sayuti di depan muktamirin. Hasil putusan langsung disambut gempita oleh seluruh muktamirin sambil serentak mengucap takbir diikuti tepuk tangan.

Pesan Sosial Surah At-Takatsur
Tafsir dengan pendekatan sosial dirasa menarik untuk dibaca hari ini. Antara lain Tafsir Al-Maraghi terhadap Surah At-Takatsur berikut ini.

Usai ditetapkan secara aklamasi sebagai ketua, Tuan Guru Bajang lantas memberikan sambutan sebagai ketua terpilih. Dalam sambutannya, TGB mengatakan bahwa itu merupakan sebuah amanah yang mesti ditunaikan dengan baik dan maksimal.

"Ini amanah yang baik, kita akan jalankan rekomendasi muktamar, yang jadi amanat untuk bersama-sama kami tunaikan," tegas Gubernur NTB 2008-2018 itu.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa muaranya adalah berkhidmat untuk umat membangun Indonesia maju. Menurut TGB, isu-isu kekinian semuanya akan diteropong perspektif ahlussunnah waljamaah dengan mengacu pada tiga prinsip dasar perjuangan NWDI ke depan.

Yakni pertama harus mengedepankan tasamuh, toleransi termasuk dalam konteks perbedaan pandangan di dalam membangun republik ini. Dalam makna yang lugas, perbedaan pandangan itu merupakan sesuatu yang sah, tidak boleh dipermasalahkan, tentu sepanjang sesuai dengan koridor hukum dan etika yang ada.

Lalu kedua, adalah tawasut atau proporsionalitas. Bahwa NWDI memandang salah satu yang menjadi pangkal seringnya terjadinya kekisruhan di ruang publik ini adalah ketika kita tidak bisa memotret suatu masalah secara proporsional. Misalnya masalah yang sebenarnya adalah masalah kontestasi politik, tapi kemudian ditarik menjadi masalah akidah. Terkadang masalah yang sebenarnya muaranya pada keadilan substansial, tetapi kemudian ditarik hanya menjadi demokrasi prosedural.

"Jadi terkadang kalau kita tidak proporsional, salah menempatkan masalah di ruang yang keliru, itu akhirnya kita tidak mampu menangani dengan baik. Hal seperti itulah yang akhirnya menjadikan kekisruhan terus menerus di ruang publik kita. Karena itu kami mendorong semua, termasuk di NWDI sendiri untuk terus meneguhkan cara pandang proporsional, berimbang," tandas Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Indonesia tersebut.

Sudah Saatnya Alumni Al-Azhar Aktif Berdakwah di Medsos
Ada tantangan seorang Azhari atau alumnus Al-Azhar di zaman ini yang terkesan sepele namun tidak mudah: mengisi ruang dakwah di media sosial.

Kemudian yang ketiga adalah tahadhdhur. Artinya, gerak NWDI ini akan berorientasi ke masa depan. semua sumber daya kita di Indonesia ini harus bergerak bersama dan berorientasi masa depan. Ketiga hal itulah yang menurut TGB akan menjadi modal untuk membawa NWDI menuju perubahan yang lebih baik.

Selain memilih ketua, muktamar NWDI ini juga memutuskan banyak rekomendasi penting bagi NWDI dalam lima tahun ke depan. Misalnya NWDI merekomendasikan dan juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama meneguhkan komitmen membangun Indonesia dengan mengedepankan kebersamaan. Menjauhkan sikap saling curiga, serta tetap kokoh menjaga keutuhan berbangsa dan bernegara. Selain itu, NWDI juga mengajak setiap gerak ormas Islam yang berpusat di Lombok Timur, NTB untuk siap berkolaborasi dan menjadi partner pemerintah serta mendukung setiap keputusan dari pemerintah. (hkm)

💡
Baca juga warta lain di rubrik AKHBAR atau pilih ragam tulisan lain di Situs Tawazun ID