Tradisi Al-Azhar dalam Menghidupkan Malam Isra Mi'raj
Malam 27 Rajab merupakan momen penting dalam sejarah umat Islam. Di malam itu, Rasulullah SAW melakukan perjalanan yang kerap disebut sebagai Isra Mi'raj. Biasanya umat Islam memperingatinya dengan membacakan sejarah perjalanan agung ini.
Al-Azhar, sebagai pusat pendidikan Islam, menaruh perhatian besar terhadap peristiwa Isra Mi'raj. Perhatian Al-Azhar terhadap momen agung ini diejawantahkan dalam bentuk tulisan dan pelaksanaan peringatan. Di samping itu, Al-Azhar juga selalu membawakan spirit-spirit yang terkandung di dalamnya sesuai dengan tuntutan zaman. Sebab, mukjizat agung ini menyimpan banyak rahasia yang bisa disingkap setiap waktu dan selalu relevan dengan zaman.
Dalam mengenalkan peristiwa Isra Mi'raj, alim ulama Al-Azhar menuliskannya dalam sejumlah karya. Karya-karya ini kemudian dipublikasikan lewat halakah-halakah pengajian, terlebih ketika momen peringatan hari Isra Mi'raj pada malam 27 Rajab. Di samping itu, ada sejumlah karya yang mendapat sambutan dari ulama generasi setelahnya. Mereka menyambutnya dengan menulis kitab syarah (penjelasan) dan memberikan hasyiyah (catatan).
Pada abad ke-9 H, Syekh Ibnu Hajar Al-'Asqalani (w. 852 H) menulis kitab berjudul Al-Isra wa Al-Mi'raj. Kemudian, salah satu muridnya, yakni Imam Jalaluddin As-Suyuthi (w. 911 H) juga mempunyai tulisan berjudul Al-Ayah Al-Kubra fi Qishshah Al-Isra. Selanjutnya, Syekh Muhammad bin Ahmad Al-Ghaithi (w. 984 H) yang lebih akrab dengan sebutan Najmuddin Al-Ghaithi juga mempunyai karya yang bertema sama. Murid Syekh Zakariyya Al-Anshari (w. 926 H) ini mempunyai dua karya tentang tema ini, yaitu Al-Ibtihaj fi Al-Kalam Ala Al-Isra wa Al-Mi'raj dan Qishshah Al-Mi'raj. Karya pertama sering disebut dengan Al-Mi'raj Al-Kabir, sedang karya kedua sering disebut dengan Al-Mi'raj Ash-Shaghir. Kitab yang disebut terakhir ini yang sering dibaca di pesantren-pesantren di Indonesia.
Pada generasi selanjutnya, salah satu murid dari Syekh Najmuddin Al-Ghaithi, yakni Syekh Abdurrauf Al-Munawi (w. 1031 H) juga mengikuti jejak gurunya. Beliau menulis dua kitab tentang Isra Mi'raj. Salah satu karyanya diberi judul Nukhbah Al-Ibtihaj bi Fawaid Al-Isra wa Al-Mi'raj. Sedang yang satunya lagi diisi dengan materi yang lebih luas dan diberi judul Ithaf At-Taj bi Fawaid Al-Isra wa Al-Mi'raj.
Pada abad 11 H, Syekh Nuruddin Al-Ujhuri (w. 1066 H) menulis kitab An-Nur Al-Wahhaj fi Al-Kalam ala Al-Isra wa Al-Mi'raj. Karya salah satu murid Syekh Al-Munawi ini berisi materi yang lebih luas dibanding kitab Al-Mi'raj karya Syekh Al-Ghaithi. Kemudian salah satu murid Al-Ujhuri, yakni Syekh Abdussalam Al-Laqani (w. 1078 H) juga menapaki jejak gurunya. Putra pengarang Jauharah At-Tauhid ini menulis kitab berjudul As-Siraj Al-Wahhaj bi Qishshatai Al-Isra wa Al-Mi'raj. Di samping itu, beliau juga mempunyai syarah terhadap kitab Al-Mi'raj karya Syekh Najmuddin Al-Ghaithi.
Di generasi ini juga muncul nama Syekh Syihabuddin Al-Qalyubi (w. 1069 H) yang sangat dikenal lewat hasyiahnya atas kitab syarah Al-Mahalli. Murid Syekh Ali Az-Zayadi dan guru utama Syekhul-Azhar Ibrahim Al-Birmawi ini juga menulis kitab yang bertema Isra Mi'raj. Beliau menuliskan syarah atas kitab Al-Mi'raj karya Syekh Najmuddin Al-Ghaithi. Kitab syarah ini merupakan salah satu rujukan dari Hasyiyah Syekh Ahmad Ad-Dardir.
Pada abad ke-12 H, Syekh Ahmad As-Suhaimi Asy-Syafi'i (w. 1178 H) menulis kitab At-Taj ala Hidayah Al-Muhtaj ala Qishshah Al-Mi'raj. Selanjutnya, Syekh Ahmad Ad-Dardir (w. 1201 H) menuliskan sebuah kitab Hasyiyah 'ala Qishshah Al-Mi'raj li Al-Ghaithi. Kitab anggitan pengarang Al-Kharidah Al-Bahiyyah ini sangat populer di Nusantara.
Pada abad ke-14 H, Syekh Muhammad Bakhit Al-Muthi'i menuliskan kitab berjudul Al-Kalimat Ath-Thayyibat fi Al-Ma'tsur 'an Al-Isra wa Al-Mi'raj. Kemudian Syekhul-Azhar Abdulhalim Mahmud (w.1397 H) juga tidak kalah ketinggalan. Beliau mempunyai kitab yang judulnya Al-Isra wa Al-Mi'raj. Selanjutnya, Syekh Ismail Ad-Diftar (w. 1439 H/ 2018 M), salah satu anggota Haiah Kibar Al-Ulama juga menulis sebuah kitab berjudul Rihlah Al-Isra Ta'kid li 'Urubat Al-Quds wa Hurmah Al-Aqsha.
Semua nama ulama yang disebut di atas merupakan alim ulama Al-Azhar. Nama-nama yang disebut di atas hanyalah sebagian contoh dari banyaknya karya tulis tentang Isra Mi'raj yang ditulis oleh ulama Al-Azhar. Di sana masih banyak karya-karya yang bertema sama yang tidak disebutkan dalam tulisan singkat ini.
Pembacaan Kitab Isra dan Mi'raj di Al-Azhar
Dalam Hasyiyah 'ala Qishshah Al-Mi'raj, Syekh Ahmad Dardir memungkasi tulisannya dengan doa. Setelah berdoa, beliau menyatakan bahwa ini adalah pamungkas dari apa yang telah Allah SWT mudahkan. Beliau juga menyatakan bahwa tulisannya ini dibarengi dengan banyak kegelisahan dan ketergesa-gesaan. Tentu hal ini merupakan bentuk ketawadukan beliau, dan bukan merupakan kecerobohan.
Hal menarik yang beliau sebutkan selanjutnya adalah bahwa tulisan ini dipersembahkan kepada orang yang membaca sejarah ini dalam satu atau dua majelis. Pembacaan semacam ini adalah kebiasaan penulis (Syekh Ahmad Dardir) ketika membaca di Masjid Al-Azhar. Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa pembacaan sejarah Isra Mi'raj telah menjadi tradisi di Masjid Al-Azhar.
Rasulullah
Kumpulan tulisan dengan spirit kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat teman-teman temukan
di siniAda sejumlah fakta yang menjelaskan bagaimana ulama Al-Azhar memperingati Isra Mi'raj pada malam 27 Rajab. Fakta-fakta ini bisa kita temui lewat serpihan-serpihan biografi mereka. Di antara alim ulama yang biasa memperingatinya dan menghidupkan malam tersebut adalah sebagai berikut :
1- Syekh Abdussalam Al-Laqani (w. 1078 H)
Sebagaimana disebut di atas, beliau mempunyai karya dalam tema Isra Mi'raj. Dalam kitab Al-Qaul Al-Mukhtardisebutkan bahwa ketika malam Isra Mi'raj datang, beliau salat Isya di Masjid Al-Azhar. Kemudian beliau duduk dalam keadaan wudu untuk membaca kitab Mi'raj. Beliau terus membaca dan tidak berdiri kecuali setelah melaksanakan salat subuh dengan wudu tersebut. Bukan hanya sampai di situ, bahkan beliau melanjutkan sampai waktu duha. Memang, orang-orang (di masa itu) mempunyai kebiasaan dan keinginan kuat untuk menghidupkan malam Isra Mi'raj dengan begadang semalam suntuk. Tentu dengan diisi bacaan-bacaan dan kajian sejarah Isra Mi'raj.
2- Syekh Syihabuddin Al-Qalyubi (w. 1069 H)
Dalam Al-Qaul Al-Mukhtar, Syekh Zainuddin Al-Abyari menyatakan bahwa beliau mengajar nahwu antara Maghrib dan Isya. Beliau membaca Al-Mi'raj dan Nishfu Asy-Sya'ban dalam tiga bulan (Rajab, Sya'ban, dan Ramadan) di Masjid Al-Azhar. Maka, wajar jika kemudian beliau mempunyai Syarah 'ala Qishshah Al-Mi'rajkarya Syekh Najmuddin Al-Ghaithi.
3- Syekh Syamsuddin Al-Babili (w. 1077 H)
Syekh Zainuddin Al-Abyari menyebutkan bahwa beliau begadang dari Isya sampai Subuh pada malam Isra Mi'raj. Hal ini beliau lakukan di Masjid Al-Azhar. Bahkan dalam biografi Syekh Shalih Al-Marshafi dikatakan bahwa beliau termasuk salah satu orang yang biasa hadir di majelis Syekh Al-Babili. Beliau ikut begadang dari Isya sampai Subuh di tiga malam mulia, yakni malam Isra Mi'raj, Nishfu Sya'ban, dan Lailatul Qadar.
Ulama yang disebutkan di atas hanyalah sebagai sample. Masih banyak ulama-ulama Al-Azhar lain yang senantiasa mengisi malam Isra Mi'raj dengan mengkaji dan menyingkap rahasia-rahasia di balik peristiwa agung ini. Berbagai pelajaran dan ibrah selalu mengalir deras. Perkembangan zaman dan pergeseran masa juga selalu relevan untuk mengaplikasikan ajaran yang terkandung di dalamnya.
Salah satu ajaran yang bisa diaplikasikan saat ini adalah kesucian Masjidil Aqsha. Dalam Qishshah Al-Mi'raj disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW dan seluruh nabi yang lain melaksanakan salat jamaah di masjid tersebut. Sehingga kesucian Masjidil Aqsha harus tetap dijaga. Segala tindakan yang mencerminkan penistaan terhadapnya harus segera diakhiri. Oleh sebab itu, Al-Azhar dari masa ke masa senantiasa memperjuangkan Masjidil Aqsha dan kemerdekaan Palestina. Terlebih setelah ada tindakan ghashab (mengambil bukan haknya) yang dilakukan oleh kaum zionis.
Demikian adalah sekelumit tentang peranan dan perhatian Al-Azhar dalam menghidupkan malam Isra Mi'raj. Karya-karya dengan tema yang sama akan selalu lahir dari Al-Azhar. Rahasia dan ajaran di balik peristiwa agung ini akan senantiasa diungkap oleh para ulamanya.