Wakilul-Azhar: Dunia Bungkam saat Sudan Dihabisi Tanpa Nurani

TAWAZUN.ID — Wakilul-Azhar Prof. Dr. Muhammad Adh-Dhuwaini mengecam keras tragedi kemanusiaan yang terus berlangsung di Sudan. Ia menegaskan bahwa “rakyat Sudan sedang dihabisi tanpa rasa bersalah, tanpa getaran hati nurani,” seraya menyoroti kebungkaman dunia terhadap penderitaan rakyat di sana.

Pernyataan itu disampaikan dalam pidato pembukaan Forum Dunia Islam untuk Pemuda ke-9 bertajuk “Pemuda dan Pengetahuan”, yang diselenggarakan di Kota Al-Jalalah, Provinsi Suez, Mesir, pada Kamis (30/10/2025). Forum ini diikuti oleh 100 peserta muda dari 22 negara dan diselenggarakan oleh Kantor WAMY (World Assembly of Muslim Youth) di Mesir.

Dalam pidatonya, Prof. Adh-Dhuwaini mengingatkan bahwa kejahatan terhadap kemanusiaan tidak hanya terjadi di Gaza, tetapi juga di Sudan. Ia mengutip pernyataan Imam Akbar Al-Azhar, Prof. Dr. Ahmad Ath-Thayyib, dalam pidatonya di Italia pekan ini yang menilai bahwa kondisi dunia saat ini menunjukkan keretakan serius dalam tatanan internasional. “Perdamaian global kini tergadai oleh kekuatan militer, perdagangan senjata, dan ekonomi perang,” tegasnya.

Wakilul-Azhar juga menyoroti upaya-upaya sistematis yang bertujuan melemahkan generasi muda umat Islam melalui manipulasi kesadaran dan pemutusan hubungan mereka dengan tradisi keilmuan Islam. Ia mengingatkan bahwa para pemuda merupakan “bahan baku peradaban” dan bahwa kebangkitan bangsa bergantung pada ilmu, kesadaran, serta nilai yang mereka warisi.

Resensi

Kumpulan ulasan buku dan kitab menarik dapat teman-teman baca

di sini
“Kita hidup di dunia yang hanya mendengar suara yang paling kuat,” ujar Prof. Adh-Dhuwaini. “Maka bangsa yang ingin bertahan harus membekali pemudanya dengan ilmu, keterampilan, dan kepribadian yang berpijak pada akar tradisinya sendiri.”

Ia mengajak generasi muda meneladani para sahabat Rasulullah ﷺ seperti Abdullah bin Abbas, Zaid bin Tsabit, dan Usamah bin Zaid, yang sejak usia muda sudah memikul amanah besar bagi umat. Ia juga menyinggung para ilmuwan muslim seperti Asy-Syarif Al-Idrisi, Ar-Razi, Az-Zahrawi, dan Ibnu Al-Haitsam sebagai bukti bahwa generasi muda Islam selalu mampu memberi sumbangan besar bagi kemanusiaan.

Di akhir pidatonya, Prof. Adh-Dhuwaini menegaskan bahwa ilmu pengetahuan dan kesadaran kritis adalah senjata utama menghadapi tantangan zaman. Ia mengingatkan agar pemuda muslim tidak terjebak dalam propaganda yang menjauhkan mereka dari akar sejarah dan warisan intelektual Islam.

“Kita adalah umat ilmu dan umat ‘Iqra'!’. Tidak pantas bagi kita tampil di hadapan dunia jika tanpa ilmu yang menuntun langkah dan membentuk arah,” pungkasnya.

💡
Baca juga warta lain di rubrik BERITA atau pilih ragam tulisan lain di Situs Tawazun ID