Masih di suasana Hari Santri, salah satu identitas yang membedakan santri dengan lainnya adalah adab atau akhlak. Tak heran salah satu moto santri yang terkenal adalah “Al-Adabu fauqa Al-Ilm”, yang artinya “adab itu di atas ilmu”. Bagaimanakah seyogianya adab seorang santri itu? Secara umum, ada banyak etika atau adab seorang santri: seperti adab pada diri sendiri, adab pada guru, adab pada kitab, dsb. Dalam tulisan ini, saya akan membagikan 10 adab seorang santri pada dirinya sendiri menurut KH. Muhammad Hasyim Asy’ari dalam karangannya, Adab Al-'Alim wa Al-Muta'allim. Hadratus-Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari adalah “gurunya para guru” di Nusantara ini yang pakar dan alim di bidang hadits. Berikut 10 adab seorang santri untuk dirinya sendiri:
1. Menyucikan Hati
Hati adalah pangkal dari seluruh tindakan manusia. Maka, seorang santri wajib memurnikan dan menyucikan hatinya dari segenap sifat-sifat yang buruk: seperti iri, dengki, makar, dan menipu. Dengan demikian, batin mereka bersih sehingga sanggup menerima ilmu, menghafal, dan memahaminya hingga akar-akarnya. Karena, sebagaimana kita tahu bahwa hati yang kotor tidak akan bisa menerima ilmu.
2. Memurnikan Niat Mencari Ilmu
Niat adalah kunci dari seluruh perbuatan seorang muslim. Dalam mencari ilmu, seorang santri mula-mula dianjurkan untuk berniat semata-mata mencari rida Allah. Kemudian, ia niatkan juga untuk mengamalkan ilmu, menghidupkan syariat Islam, menerangi hati dan batinnya dengan ilmu sehingga ia menjadi lebih dekat kepada Allah SWT. Sebaliknya, seorang santri perlu membuang jauh tujuan-tujuan duniawi yang pragmatis seperti jabatan, kekayaan, menyombongkan diri, dan mencari kehormatan di mata manusia.
3. Memaksimalkan Usia Muda Untuk Ilmu
Laita Asy-Syababu Ya'udu Yauman (andai masa muda bisa kembali). Syekh Muhammad Hasyim Asy’ari menganjurkan para santri untuk menghabiskan masa mudanya untuk ilmu. Jika tidak demikian, ia akan tertipu dengan angan-angan kosong kesuksesan akibat menunda-nunda waktu. Sebab waktu yang berlalu tidak akan bisa diganti, yang ada hanya penyesalan. Dengan demikian santri menghindari segenap rintangan dan godaan yang dapat mengganggu produktivitas masa mudanya untuk ilmu.
4. Belajar Untuk Qana'ah
Salah satu etika yang dianjurkan bagi santri adalah Qana'ah: yaitu menerima apa adanya dari mulai makanan, pakaian, dan gaya hidup. Sebab sifat qana'ah yang akan melahirkan kesederhanaan, santri akan memperoleh luasnya ilmu serta kearifan-kearifan hidup sederhana. Ibarat kata, santri perlu ‘tirakat’ dengan hidup sederhana semasa ia belajar.
5. Pandai Membagi Waktu
Mengatur waktu adalah kunci dalam kesuksesan seseorang. Oleh sebab itu, santri seyogianya bisa mengatur waktunya dari mulai siang hingga malam. Ia tidak melewatkan sedikitpun dari waktunya, kecuali hanya untuk ilmu. Menurut Syekh Muhammad Hasyim Asy’ari, sepertiga malam adalah waktu terbaik untuk menghafal, pagi adalah untuk belajar, siang adalah untuk menulis, malam hari adalah untuk mengulang-ngulang (Muthala'ah) ilmu yang sudah dipelajari.
Rasulullah
Kumpulan tulisan dengan spirit kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat teman-teman temukan
di sini6. Menyedikitkan Makan-Minum
Para ulama sepakat bahwa salah satu penyebab rasa malas adalah perut kenyang. Oleh sebab itu, adab seorang santri adalah tidak terlalu banyak makan dan minum yang mengakibatkan mudah malas dan ngantuk. Selain itu, faedahnya adalah menjauhkan santri dari potensi terkena penyakit. Sebab sebagian besar penyakit disebabkan oleh kurangnya kontrol makanan dan minuman.
7. Belajar Sikap Wara’ dan Hati-Hati
Di antara adab seorang santri adalah bersikap wara’ alias hati-hati dalam menjauhi hal-hal yang syubhat, lebih-lebih haram. Santri harus memastikan makanannya, pakaiannya, tempat tinggalnya, dan seluruh kebutuhannya benar-benar halal. Hal itu karena dengan sifat wara’, hati seorang murid akan benar-benar terjaga dan siap menerima cahaya ilmu tanpa penghalang.
8. Menjauhi Makanan-Makanan yang Berefek Negatif
Selain menyedikitkan makanan, santri juga dianjurkan untuk menjauhi beberapa jenis makanan yang menurut ulama dapat menyebabkan ‘kebebalan’ akal dalam menerima ilmu. Seperti apel yang kecut, kacang-kacangan, meminum cuka. Begitu juga makanan-makanan yang ketika banyak dikonsumsi, akan menyebabkan lendir-lendir yang melemahkan akal. Seperti banyak minum susu dan makan ikan.
※ Memorabilia Para Santri di Masjid Al-Azhar
9. Mengurangi Waktu Tidur
Di antara bentuk “tirakat” seorang santri adalah dengan mengurangi waktu tidurnya selama tidak membahayakan badan dan akalnya. Paling tidak, tidurnya seorang santri dalam sehari-semalam tidak lebih dari delapan jam. Jika ia mampu mengurangi dari angka itu, maka boleh dilakukan.
10. Membatasi dan Menyaring Pergaulan
Hal yang juga sangat berpengaruh dalam pendidikan adalah lingkungan pergaulan. Oleh karena itu, seorang santri seyogianya bisa membatasi dan mengontrol diri pada pergaulan. Hal itu dilakukan dengan menjauhi kegiatan-kegiatan yang unfaedah atau bahkan merugikan mereka. Sebab salah satu penyakit dari pergaulan, adalah menghabiskan umur dalam hal yang tidak berfaedah. Sebaliknya, ia perlu membatasi pertemanan dan pergaulannya pada teman berikut kegiatan yang berdampak positif. Seperti berkawan dengan yang saleh, bertakwa, wara’, dan berkelakuan baik. Wallahu a’lam bish-Shawab.