Syekh Sayyid bin Ibrahim bin Mahmud Ba’bulah atau yang sering dikenal dengan Syekh Ba’bulah adalah ulama sekaligus guru besar ilmu qiraat dan tajwid di Al-Azhar pada masanya. Ia lahir di Al-Jizah, Mesir pada 30 Juli 1945 M. Sanad keilmuannya melalui Syekh Muhammad Ismail Al-Hamadani yang menjadi guru besar qiraat pada saat itu dan berpuncak pada Rasulullah SAW.
Salah satu kitab anggitan Syekh Ba’bulah yang terkenal adalah Al-Bayan fi Kaifiyyati Al-Qur'an bi riwayat Hafs bin Ashim. Sebuah buku tuntunan lengkap membaca Al-Quran dalam qiraat riwayat Imam Hafs. Di dalam buku itu Syekh Ba’bulah menjelaskan 17 arahan atau wasiat penting bagi para penghafal dan yang hendak menghafal Al-Quran. Wasiat-wasiat tersebut mencakup syarat agar hafalan seorang hafiz kuat dan mutqin. Di antaranya:
Pertama, harus beriman kepada Allah. Maksudnya adalah menjauhi segala perbuatan menyekutukan Allah (syirik) baik secara terang-terangan atau yang samar, serta menjauh dari segala berbuat dosa kecil maupun besar seperti hasud, gibah, adu domba, dendam, dan berbohong.

Kedua, melanggengkan zikir. Yaitu dengan memperbanyak mengingat Allah SWT seperti membaca istigfar, tahlil, dan selawat kepada Rasululllah SAW.
Ketiga, memiliki adab yang baik kepada Al-Quran dan orang-orang yang mengajarkan Al-Quran serta memuliakan mereka. Karena sesungguhnya mereka (Ahlul Qur'an) adalah orang-orang yang dimuliakan oleh Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: "Para ahli Al-Quran adalah kekasih dan orang pilihan Allah SWT"
Keempat, menghafal dengan metode lima-lima. Yaitu mematangkan hafalan di setiap lima ayat dalam Al-Quran sebelum melanjutkan hafalan ke ayat-ayat berikutnya. Sebagian ulama Al-Azhar mengatakan:
Artinya: "Barangsiapa yang menghafal Al-Quran dengan cara lima ayat, maka ia tidak akan lupa"

Kelima, menggunakan metode mendengarkan langsung (talaqqi). Yaitu murid mendengarkan ayat yang dibacakan oleh guru secara teliti dari setiap hukum tajwidnya, harkat i'rab, tempat berhenti dan memulai, kemudian mengulanginya berulang-ulang hingga hafal.
Keenam, menuliskan kembali ayat-ayat yang telah dihafal menggunakan tangan sesuai dengan Rasm Al-Quran-nya secara teliti. Sejalan dengan riwayat Abu Hurairah RA yang menceritakan tentang salah satu sahabat yang kesulitan menghafal hadits dan melaporkan ke Nabi terkait hal itu. Rasulullah SAW menjawab:
Artinya: "Bantulah hafalanmu dengan tangan kananmu (tulisanmu)"
※ Mudahnya Mempelajari Ilmu Qiraat
Ketujuh, menggunakan bantuan alat media seperti audio dan audio visual. Kemajuan teknologi dapat berdampak positif apabila digunakan untuk hal-hal yang positif misalnya menghapal Al-Quran. Tapi yang perlu diperhatikan adalah pastikan audio atau audio visual yang dijadikan acuan berasal dari ahli yang benar bacaannya dan jelas sanad keilmuannya.
Kedelapan, komitmen dalam menjaga hafalan dan sering murajaah. Lupa adalah sifat yang tidak bisa dihindarkan dari manusia. Meskipun demikian, banyak upaya yang dapat dilakukan untuk memperkecil sifat lupa, misalnya dengan murajaah. Bagi para huffaz, murajaah adalah hal yang wajib dilakukan karena seseorang bisa dikatakan sebagai seorang hafiz itu karena kekuatan daya hafalnya.
Kesembilan, memanfaatkan waktu dan tempat mustajab doa untuk meminta pertolongan dan kemudahan bagi diri sendiri dan orang lain agar Allah senantiasa menakdirkan dan memberikan rezeki hafal Al-Quran. Serta tidak lupa untuk mendoakan kedua orang tua dan umat yang beriman kepada Allah, baik yang masih hidup ataupun sudah wafat.
Kesepuluh, mengajarkan orang lain ayat dan surat yang telah dihafalkan. Hal itu termasuk cara untuk memperkuat hafalan, karena mengajar adalah belajar tahap kedua. Banyak hal yang akan terbuka dengan mengajar termasuk pengalaman belajar.
Kesebelas, melanggengkan Qiyamul Lail atau salat sunnah lainnya dengan membaca ayat atau surat yang telah dihafal. Hal ini juga termasuk dari cara untuk memperkuat hafalan yang banyak direkomendasikan oleh para ulama.
※ Kemukjizatan Al-Quran di Balik Rasm 'Utsmani
Kedua belas, menggunakan satu mushaf tetap di setiap hendak menghafal. Maksudnya tidak berganti-ganti mushaf Al-Quran karena biasanya setiap cetakan mushaf memiliki karakteristik yang berbeda-beda dari publisher-nya. Seperti penggunaan warna kertas, jenis huruf, ukuran huruf, dan lain-lain. Karena proses menghafal Al-Quran itu bermula dari membaca, apabila sering menggunakan acak mushaf, maka akan membuat penghafal kesulitan dalam mengingat.
Ketiga belas, menganalisis berbagai sisi dari ayat-ayat Al-Quran yang akan dihafalkan, seperti dari sisi tafsir makna, i'rab, asbabun nuzul, kaidah-kaidah Rasm (penulisan), tatacara berhenti dan memulai bacaan, kisah-kisah yang terkandung, serta hukum-hukum fikihnya.
Keempat belas, berpedoman pada aturan membaca Al-Quran yang benar. Al-Quran bukan seperti buku bacaan biasa, terdapat kaidah dan aturan khusus yang harus diterapkan saat membacanya agar bernilai ibadah. Karena kesalahan ketika membaca harakat misalnya, atau panjang pendeknya huruf, dapat mengubah tafsiran makna sehingga dibutuhkan ilmu dan kehati-hatian dalam membacanya.
※ Menjawab Tuduhan Terhadap Al-Quran
Kelima belas, melakukan amalan-amalan yang disarankan oleh para ulama sebelum menghafal Al-Quran seperti menggunakan siwak terlebih dahulu, meminum madu yang dicampur dengan air, mencampurkan minyak zaitun atau biji habbatus sauda dalam makanan, memperbanyak memakan kismis, dan makanan manis lainnya.
Keenam belas, menjauhkan diri dari segala yang menyibukkan akal dan hati. Misalnya memikirkan hal duniawi secara berlebihan. Ketenangan sangat dibutuhkan dalam menghafal, apabila hati dan akalnya sudah semrawut memikirkan sesuatu selain Al-Quran, maka jelas akan mengalami kesulitan dan berujung kesal. Sehingga perlu adanya hubungan koneksi antara hati, akal, dan Al-Quran sebelum menghafal.
Ketujuh belas, cukup dalam tidur. Cukup yang dimaksud yaitu tidak lebih dari 8 jam dan tidak pula kurang dari 4 jam. Selain itu, seorang penghafal juga harus membiasakan jalan kaki, pergi ke tempat yang rimbun dengan pepohonan sambil menghayati kekuasaan Allah SWT. Karena dengan demikian akan mendatangkan ketenangan hati dan kesegaran pikiran.