Skip to content

3 Motif Imam Al-Asy’ari Meninggalkan Muktazilah

Imam Al-Asy’ari keluar dari Muktazilah setelah mimpi bertemu Rasulullah SAW, debat teologi, dan dampak peristiwa Mihnah yang mengubah hidupnya.

FOTO Masjid Nabawi di Madinah (Unsplash/Helmi Tan)
FOTO Masjid Nabawi di Madinah (Unsplash/Helmi Tan)

Dalam sejarah pendirian mazhab Ahlussunnah wal-Jamaah, terdapat fakta historis menarik yang membuat Imam Al-Asy’ari meninggalkan Muktazilah. Padahal sebelum mendirikan Mazhab Asy’ari, beliau adalah seorang Muktazili dan berguru kepada Abu Ali Al-Jubba'i seorang tokoh besar Muktazilah. Berikut penulis rangkum menjadi tiga motif atau alasan:

1.     Tiga Kali Bermimpi Rasulullah SAW

Merujuk kepada riwayat Ibnu ‘Asakir dalam Tabyin Kadzib Al-Muftari fima Nusiba ila Abi Al-Hasan Al-Asy’ari, salah satu motif yang mendorong Imam Al-Asy’ari adalah karena bermimpi Rasulullah SAW. Menurut keterangan Ibnu ‘Asakir, kurang lebih Imam Al-Asy’ari bermimpi Rasulullah sebanyak tiga kali. Peristiwa mimpi tersebut tepat saat ia mengalami keserahan akan konsep-konsep yang ia yakini dari Muktazilah.

Mimpi pertama terjadi di awal Ramadan, saat itu terjadi dialog antara ia dengan Rasulullah menyoal apakah Allah bisa dilihat di akhirat kelak atau tidak. Saat itu Imam Al-Asy’ari masih menganut paham Muktazilah yang melalui argumen rasional menganggap Allah tidak akan bisa dilihat di akhirat kelak. Melihat itu, Rasulullah menyuruh Imam Al-Asy’ari untuk merenungkan kembali persoalan tersebut.

Mimpi kedua, terjadi pada hari kesepuluh bulan Ramadan. Sebagaimana diutarakan oleh Ibnu ‘Asakir, mimpi kedua ini masih merupakan lanjutan dari mimpi sebelumnya. Rasulullah lagi-lagi menyuruh Imam Al-Asy’ari untuk merenungkan kembali persoalan tersebut (Melihat Allah di hari Akhir). Lalu Imam Al-Asy’ari terbangun dan setelah mimpi itu beliau bersikap menyibukkan kembali ilmu-ilmu syariat: hadits, tafsir, dan memilih untuk meninggalkan ilmu kalam yang semula ia geluti.

Akhirnya masih di bulan Ramadan tepatnya malam Lailatul Qadar, bermimpi kembali menjumpai Rasulullah SAW. Ketika ditanya oleh Rasul, Imam Al-Asy’ari menjawab dengan pilihannya untuk meninggalkan ilmu kalam. Mendengar itu sontak Rasulullah marah dan justru meminta kembali untuk menyampaikan metode yang benar dari ilmu kalam tersebut. Di mimpi terakhir inilah yang mendorong Imam Al-Asy’ari untuk meninggalkan Muktazilah dan memproklamasikan Mazhab Ahlussunnah wal-Jamaah.

2.     Perumpamaan Tiga Manusia dan Keadilan Allah

Motif kedua ini populer kita dengar saat Imam Al-Asy’ari tidak puas pada konsep ash-shalah wa al-ashlah milik Muktazilah yang berarti bahwa Allah harus menciptakan sesuatu yang patut bagi makhluk-Nya. Hal ini sebagai sebuah keharusan bagi Allah agar sesuai dengan keadilan-Nya.

Al-Quran

Kumpulan tulisan dengan kata kunci Al-Quran dan cabang ilmunya bisa teman-teman temukan

di sini

Ketidakpuasan itu saat Imam Al-Asy’ari membuat perumpamaan tiga tipe kehidupan manusia yang seolah berada di akhirat berbincang dengan Allah. Pertama, orang dewasa yang meninggal dan masuk surga. Pada kasus ini layak umumnya manusia tidak ada persoalan di situ. Kedua, anak yang masih bayi dan meninggal, lalu masuk surga. Kemudian anak itu bertanya kepada Allah, “Mengapa engkau matikan aku dalam usia yang masih bayi?” Allah lalu menjawab, “Karena Aku tahu jika aku biarkan kau sampai usia tua, maka kau akan meninggal dan masuk neraka”.

Ketiga, jawaban di atas kemudian menjadi persoalan bagi contoh ketiga: orang dewasa yang meninggal dan masuk neraka. Orang itu kemudian bertanya, “Mengapa tidak engkau matikan aku dalam usia bayi sehingga aku bisa masuk surga.” Pertanyaan ini menjadi konsekuensi logis akan konsep keadilan Tuhan yang dipahami oleh Muktazilah.

Persoalan dalam tiga perumpamaan tersebut kemudian ditanyakan oleh Imam Al-Asy’ari kepada gurunya, Abu Ali Al-Jubba'i, namun ia juga tak bisa menjawabnya. Akhirnya Imam Al-Asy’ari mengalami kebuntuan dalam persoalan ini lalu meninggalkan keyakinan Muktazilah yang semula ia anut.

3.     Peristiwa Mihnah Ahmad bin Hanbal

Di masa Dinasti Al-‘Abbasiyah yang menganut paham resmi Muktazilah, dikenal peristiwa Mihnah (penyiksaan dan persekusi) terhadap Imam Ahmad bin Hanbal. Peristiwa tersebut terjadi di masa pemerintahan Al-Ma'mun (785-833 M) yang memaksakan doktrin Khalq Al-Qur'an (Al-Quran adalah makhluk) dan menyandera setiap pihak yang tidak menyetujuinya.

Peristiwa politis inilah yang juga mendorong Imam Al-Asy’ari untuk kembali membela hadits dan mengembalikan otoritasnya dalam akidah Islam. Dengan demikian secara eksplisit, Imam Al-Asy’ari menyebut bahwa akidahnya adalah menganut mayoritas akidah para imam empat mazhab: Imam Malik, Abu Hanifah, Asy-Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal. Selain sebagai ulama fikih, mereka semua dikenal terlebih dahulu sebagai ahli hadits yang diakui oleh mayoritas umat Islam.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik MOZAIK atau tulisan menarik Lukman Hakim Rohim

Latest