Skip to content

3 Syarah yang Menghidupkan Al-Burdah di Abad 9 H dan 10 H

Tiga syarah Qashidah Al-Burdah abad 9 H dan 10 H karya ulama Al-Azhar yang saling terhubung: Al-Mahalli, Zakariyya Al-Anshari, Khalid Al-Azhari.

FOTO Tiga kitab syarah Al-Burdah karangan ulama Al-Azhar. (@toko.mujawirin)
FOTO Tiga kitab syarah Al-Burdah karangan ulama Al-Azhar. (@toko.mujawirin)

Kitab Qashidah Al-Burdah merupakan salah satu kitab yang berhasil mempertahankan eksistensinya. Dalam setiap masa, ia senantiasa mendapatkan sambutan hangat dari umat Islam, baik ulama maupun orang awam. Para ulama memberikan penjelasan lewat syarah, hasyiyah, dan sejumlah khidmah lain. Sementara orang awam menjadikannya sebuah wirid yang dibaca secara rutin dalam berbagai momen dan peringatan tertentu.

Semenjak ditulis pada abad ke-7 H, qashidah gubahan Syekh Syarafuddin Al-Bushiri (w. 686 H) ini tidak pernah absen dari syarah (penjelasan) dan karya sejenisnya. Semenjak selesai digubah, qashidah ini langsung diketahui oleh seseorang lewat mimpi yang ia lihat. Padahal penggubahnya belum memberitahukan kepada siapapun. Keterangan lengkapnya dijelaskan di akhir syarah Al-Mahalli atas qashidah ini. Pada abad ke-8 H, lahir sejumlah syarah Al-Burdah, di antaranya adalah Syarah Al-Burdah karya Syekh Badruddin Az-Zarkasyi (w. 794 H). Az-Zarkasyi memiliki murid bernama Syekh Syamsuddin Al-Birmawi (w. 831 H) yang merupakan guru Syekh Jalaluddin Al-Mahalli (w. 864 H). Al-Mahalli juga memiliki syarah atas Qashidah Al-Burdah.

Guru lain dari Syekh Al-Mahalli adalah Syekh Syamsuddin Al-Bisathi (w. 842 H). Beliau juga memiliki syarah atas Qashidah Al-Burdah. Namun syarah ini belum pernah diterbitkan.

Setelah Al-Mahalli, syarah kitab Al-Burdah lahir dari tangan salah satu muridnya, yaitu Syekhul-Islam Zakariyya Al-Anshari (w. 926 H). Beliau menulis syarah atas Qashidah Al-Burdah berjudul Az-Zubdah Ar-Raiqah. Kemudian, jejak Al-Anshari diikuti oleh muridnya, yaitu Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 972 H). Beliau memiliki syarah atas kitab Al-Burdah berjudul Al-‘Umdah fi Syarh Al-Burdah.

Salah satu ulama Al-Azhar segenerasi dengan Syekhul-Islam Zakariyya Al-Anshari adalah Syekh Khalid Al-Azhari (w. 905 H). Beliau juga memiliki syarah atas Qashidah Al-Burdah. Selanjutnya, salah satu murid beliau, yaitu Syekh Syihabuddin Al-Qasthallani (w. 923 H) juga mengikuti jejak sang guru dalam memberikan syarah atas qashidah tersebut.

Hingga hari ini, qashidah yang bernama asli Al-Kawakib Ad-Durriyyah terus memberikan inspirasi kepada para ulama untuk melahirkan sebuah karya. Hal ini barangkali merupakan salah satu berkah keikhlasan sang penggubah. Sehingga karyanya bisa diterima di setiap generasi dan selalu segar sebagaimana saat baru dilahirkan.

Dalam tulisan ini, penulis akan fokus menyoroti tiga syarah Al-Burdah yang ditulis oleh Syekh Jalaluddin Al-Mahalli, Syekhul-Islam Zakariyya Al-Anshari, dan Syekh Khalid Al-Azhari. Sebab, ketiganya hidup dalam waktu yang berdekatan dan satu sama lain memiliki hubungan guru murid atau sebagai kolega. Sehingga kita bisa melihat hubungan tiga karya tersebut dengan kacamata perbandingan. Pada akhirnya kita bisa mengetahui urgensi masing-masing syarah.

(1) Syarah Al-Mahalli
Dalam sejumlah kitab, Syarh Al-Burdah karya Syekh Jalaluddin Al-Mahalli diberi nama Al-Anwar Al-Mudhiyyah fi Madhi Khair Al-Bariyyah. Meski demikian, nama ini tidak pernah disebutkan oleh Al-Mahalli dalam syarah tersebut. Beliau menulis syarah ini dengan tujuan agar poin-poin yang disampaikan oleh penggubah bisa dipahami. Hal ini dijelaskan dalam mukadimah.

Dalam sejumlah karyanya, Syekh Jalaluddin Al-Mahalli dikenal sangat teliti dalam memilih diksi dan menempatkannya pada posisi yang tepat. Sehingga, karya-karya beliau dikenal sangat kokoh dan berbobot. Oleh karena itu, beliau sering dijuluki sebagai Taftazaniyy Al-‘Arab (Taftazani-nya Orang Arab).

Karakteristik Al-Mahalli di atas juga kita temui di syarah Al-Burdah ini. Beliau mencampur antara narasi qashidah dan syarah dalam satu rangkaian, sehingga antara keduanya menyatu bagaikan ruh dan jasad. Seolah-olah keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Syarah semacam ini, dalam literatur Islam, sering disebut sebagai syarh mamzuj (syarah yang bercampur dengan matan).

(2) Az-Zubdah Ar-Raiqah
Az-Zubdah Ar-Raiqah ditulis oleh Syekh Zakariyya Al-Anshari sebagai syarah atas Qashidah Al-Burdah. Nama ini disebutkan secara jelas dalam mukadimah. Beliau memproyeksikan syarahnya untuk mengurai lafal, menjelaskan maksud dan membuka makna-makna yang terkunci. Sehingga, isi kandungan Al-Burdah bisa dinikmati oleh siapapun yang membacanya.

Sebagaimana sang guru (yakni Syekh Jalaluddin Al-Mahalli), Syekh Zakariyya Al-Anshari juga dikenal sebagai penulis yang sangat jeli dalam memilih diksi dan menempatkannya pada posisi yang tepat. Maka wajar jika dalam sejumlah karya beliau, pengaruh Taftazaniyy Al-‘Arab sangat terlihat jelas. Tak terkecuali dalam kitab Az-Zubdah Ar-Raiqah ini.

Syekhul-Islam Zakariyya Al-Anshari menyajikan syarahnya dengan metode mamzuj (narasi bercampur), sebagaimana yang dilakukan oleh sang guru. Setiap kata yang sulit dimengerti akan diurai dan jelaskan maksudnya dalam satu rangkaian. Makna yang tersembunyi di balik diksi maupun uslub yang dipakai oleh Syekh Al-Bushiri juga diperlihatkan kepada pembaca. Sehingga, rahasia-rahasia yang terkandung di dalamnya bisa disaksikan oleh siapapun yang membacanya.

Rasulullah

Kumpulan tulisan dengan spirit kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat teman-teman temukan

di sini

(3) Syarah Syekh Khalid Al-Azhari
Syekh Khalid Al-Azhari dikenal sebagai tokoh pakar bahasa Arab. Sehingga syarah atas Qashidah Al-Burdah karya beliau sangat lekat dengan analisis kebahasaan. Beliau menyuguhkan makna diksi, i’rab serta maksud dari qasidah secara berurutan dalam syarah. Hal ini beliau sebutkan juga dalam mukadimah.
Jika syarah Syekh Al-Mahalli dan Syekh Zakariyya Al-Anshari berbentuk mamzuj, syarah Syekh Khalid Al-Azhari berbeda dengan keduanya. Beliau menjelaskan maksud dari setiap untaian bait dari qashidah secara terpisah. Beliau membahasakan ulang maksud dari bait setelah menjelaskan makna tiap diksi dan i’rab-nya.

Hubungan Antara Ketiga Syarah

Setelah mengetahui metode dan karakteristik masing-masing dari ketiga syarah, mari kita lihat hubungan antara ketiganya. Secara metode dan isi, Syarh Al-Mahalli dan Az-Zubdah Ar-Raiqah memiliki kesamaan. Jika kita memcermati dan membandingkan antara keduanya, Az-Zubdah Ar-Raiqah layaknya adaptasi bahasa dari Syarh Al-Mahalli, dengan beberapa improvisasi dan inovasi baru. Hadirnya Az-Zubdah menjadikan Syarh Al-Mahalli lebih mudah dipahami tanpa kehilangan ruhnya.

Adapun syarah Syekh Khalid Al-Azhari, dibanding kedua syarah di atas, memiliki metode penyajian yang berbeda. Namun, ketiganya memiliki relasi isi yang sangat kuat. Sebab, kalau kita mencermati Syarh Al-Azhari, ia tidak lebih dari pembahasaan ulang dari Az-Zubdah Ar-Raiqah meski antara keduanya beda metode dalam penyajiannya. Oleh Syekh Khalid Al-Azhari, maksud dari bait disuguhkan secara terpisah dan disajikan dalam bentuk bahasa yang lain. Oleh karena itu, Syarah Syekh Khalid ini lebih mudah dipahami oleh kebanyakan pembaca.

Metode syarah mamzuj sangat cocok untuk pembaca yang ingin merenungi isi setiap untaian bait tanpa terpisah dari baitnya. Sementara metode syarah terpisah cocok bagi pembaca yang ingin mengetahui maksud dari bait saja. Sehingga kalau diurutkan, syarah Syekh Khalid A-Azhari cocok dibaca untuk pemula. Sementara Az-Zubdah Ar-Raiqah dan Syarh Syekh Al-Mahalli cocok untuk pembaca menengah dan lanjutan.

Ketiga syarah di atas sama-sama menyingkap rahasia di balik indahnya untaian bait Qashidah Al-Burdah dengan saling melengkapi antara satu sama lain. Tanpa melihat Syarh Al-Mahalli kita tidak bisa mengetahui keistimewaan Az-Zubdah Ar-Raiqah secara utuh. Begitu juga keistimewaan syarah Syekh Khalid Al-Azhari tidak bisa kita ketahui secara utuh tanpa melihat dan mencermati Az-Zubdah Ar-Raiqah. Wallahu A’lam Bishshawab.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik MOZAIK atau tulisan menarik Munawar Ahmad

Latest