Skip to content

30 Fakta Seputar Jihad yang Sering Dikaitkan dengan Peperangan dalam Islam

Fakta-fakta tentang jihad dalam Islam. Makna jihad terlanjur kerap disempitkan pada perang. Al-Azhar meluruskannya melalui kumpulan maklumat ini.

FOTO Ilustrasi situasi peperangan (Unsplash/Mahmoud Sulaiman)
FOTO Ilustrasi situasi peperangan (Unsplash/Mahmoud Sulaiman)

Melalui lembaga observasi gerakan ekstremisme, Al-Azhar Asy-Syarif mendata 30 fakta jihad dalam Islam yang perlu diperhatikan dan kerap disalahpahami. Berikut 30 fakta seputar jihad beserta terjemahannya:

1. Kata Jihad dalam Al-Quran

وردتْ كلمةُ "جهادٍ" بمشتقاتِها في القرآنِ الكريمِ إحدى وثلاثين مرَّةً، بينما وردتْ كلمةُ "حرْبٍ" أربعَ مراتٍ فقط، ونُلاحظُ أنَّ معنى الجهاد في القرآنِ وفي نصوصِ السُّنةِ المحمديةِ أوسعُ وأعمُّ من معنى القتالِ؛ إذ إن القتالَ يعني - تحديدًا - المواجهةَ المسلحةَ في الحروبِ، بينما يعني الجهادُ بذْلَ الجهدِ في مقاومةِ العدوِّ، سواءٌ كان هذا العدوُّ شخصًا معتديًا أو شيطانًا يجبُ على المؤمنِ مُجاهدتُه، أو حتى نفسَه التي بين جنبَيْه، والتي تزيِّنُ له فِعلَ الشرِّ.

Kata 'jihad' dan seluruh kata yang berakar sama disebut dalam Al-Quran sebanyak 31 kali. Sementara kata 'harb' (peperangan) hanya disebut 4 kali.

Dapat kita perhatikan bahwa makna jihad di dalam Al-Quran dan teks-teks Hadis mempunyai makna yang lebih luas dan lebih umum dari makna pada kata 'qital'.

Karena 'qital' secara spesifik bermakna berhadap-hadapan dilengkapi senjata dalam peperangan, sedangkan jihad adalah mencurahkan usaha untuk melawan musuh, baik musuh itu berupa orang yang melawan atau berupa setan yang memang wajib dilawan oleh seorang mukmin, atau bahkan mungkin berupa nafsunya sendiri yang mengajak ke arah perbuatan buruk.


2. Jihad dalam Filosofi Islam

الجهادُ في فلسفةِ الإسلامِ لم يُشرَعْ من أجلِ التوسعِ، أو احتلالِ الأرضِ، أو السيطرةِ على مواردِ الغيرِ، أو قهرِ الشعوبِ وإذلالِها، أو غيرِ ذلك من الأغراضِ الماديةِ التي شكَّلتْ بواعثَ الحربِ في كُبرى حضاراتِ العالمِ قديمًا وحديثًا.

Jihad dalam filosofi Islam tidak bertujuan ekspansi, menjajah suatu negeri, menguasai sumber-daya bangsa lain, menaklukkannya atau merendahkannya. Juga bukan hal-hal lain yang bertujuan materiil yang memantik peperangan dalam peradaban besar manusia, baik di masa lampau atau hari-hari ini.


3. Perintah Berjihad yang Sebenarnya

الأمرَ بالجهادِ في الإسلامِ ليس أمرًا بالقتلِ، بل هو أمرٌ بالدفاع، أي التصدي للمقاتلِ ومجاهدتُه؛ لردِّ عدوانِه ووقفِ هجومِه.

Perintah berjihad dalam Islam bukanlah untuk membunuh, melainkan untuk mempertahankan diri. Dengan kata lain, untuk menghadapi musuh yang menyerang, yakni menghalau permusuhan serta menghentikan serangan.


4. Kewajiban Berjihad

فريضة الجهادِ التي يعملُ على تشويهها البعض ليست إلا حقَّ الدفاعِ عن النفسِ، وعن العقيدةِ، وعن الوطنِ.

Kewajiban berjihad yang belakangan ini citranya dirusak (dipahami keliru) oleh sebagian orang, tak lain adalah hak membela diri demi jiwa, kepercayaan, dan negerinya.


5. Membela Diri Saat Terdesak

إذا كان الجهاد في الإسلام يعني "الحرب الدفاعية في سبيل الله" فمن المنطقي أن يكون فرضًا ولازمًا إذا دعت إليه الأحوال والظروف.

Apabila jihad di dalam Islam bermakna 'perang yang bersifat membela-diri di jalan Allah', maka secara logis ia wajib dan menjadi keharusan saat situasi dan kondisi mendesak.


6. Berjihad Bukan Berarti Menenteng Senjata

لا يعني كون الجهاد فريضة في الإسلام أن يحمل كل مسلم سيفه أو سلاحه ويقاتل الآخرين بشكل مستقل فهذه جريمة كبرى.

Kewajiban berjihad dalam Islam tidak lantas dimaknai bahwa setiap muslim harus menenteng pedang atau senjata dan memerangi orang lain yang bebas merdeka. Hal seperti ini adalah kejahatan besar.


7. Jihad dengan Perang Bukan Kewajiban Setiap Individu

الجهاد بالنفس – أي القتال- فرض غير متعين على كل مسلم، بمعنى أن جيش الدولة ينوب عن أفراد المسلمين في تحمل هذه الفريضة بحيث تسقط مطالبة باقي الأفراد بها ولا يسألون عنها أمام الله تعالى يوم القيامة.

Jihad dengan nyawa (berperang) adalah kewajiban yang tidak spesifik bagi setiap muslim. Dengan kata lain, pasukan tentara sebuah negara mewakili individu-individu muslim dalam menunaikan kewajibannya. Oleh karena itu, individu lain tidak dituntut untuk pergi berperang, juga tidak dimintai pertanggung-jawaban kelak di hadapan Allah SWT di hari kiamat.


8. Kapan Jihad Menjadi Wajib

لو فاجأ العدو بلدًا مسلما ودخله واحتاج الجيش مساعدة الأفراد فهنا يجب على كل مسلم أن يقاوم العدو بكل ما يملك من نفس أو مال أو غيرهما وهذا أمر منطقي لا يماري فيه أحدٌ.

Jika musuh mendadak merangsek masuk ke suatu negeri muslim dan pasukan tentara membutuhkan bantuan individu-individu (masyarakat), maka di sinilah wajib bagi setiap muslim untuk melawan musuh dengan segenap jiwa, harta, dan apapun yang dimiliki. Hal ini sangat masuk akal dan bukan sesuatu yang diperdebatkan.


9. Ayat Pertama yang Mengizinkan Perang

إن أول ما نزل من القرآن في الإذن بالقتال هو قول الله تعالى: "أذن للذين يقاتلون بأنهم ظلموا وأن الله على نصرهم لقدير * الذين أُخرِجوا من ديارهم بغير حقٍّ إلا أن يقولوا ربُّنا اللهُ ولولا دفعُ اللهِ الناسَ بعضهم ببعض لهُدِّمت صوامعُ وبيعٌ وصلواتٌ ومساجدُ يُذكَرُ فيها اسمُ اللهِ كثيراً ولينصُرنَّ اللهُ من ينصرُهُ إنَّ اللهَ لقويٌّ عزيزٌ" هاتان الآيتان مرتبطتان بنصرة المظلومين ودفع الظلم عنهم وتمكينهم من حياة آمنة، والجدير بالنظر أن الآية قدمت الحديث عن الصوامع والبيع والصلوات على الحديث عن المساجد.

Ayat Al-Quran yang pertama kali turun berkenaan izin untuk berperang adalah:

اُذِنَ لِلَّذِيْنَ يُقَاتَلُوْنَ بِاَنَّهُمْ ظُلِمُوْاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ عَلٰى نَصْرِهِمْ لَقَدِيْرٌ ۙ-سورة الحج: ٣٩

"Diizinkan (berperang) kepada orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka dizalimi. Dan sungguh, Allah Maha Kuasa menolong mereka itu," [Surah Al-Hajj: 39]

ۨالَّذِيْنَ اُخْرِجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ اِلَّآ اَنْ يَّقُوْلُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ۗوَلَوْلَا دَفْعُ اللّٰهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَّهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَّصَلَوٰتٌ وَّمَسٰجِدُ يُذْكَرُ فِيْهَا اسْمُ اللّٰهِ كَثِيْرًاۗ وَلَيَنْصُرَنَّ اللّٰهُ مَنْ يَّنْصُرُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ لَقَوِيٌّ عَزِيْزٌ -سورة الحج: ٤٠

"(yaitu) orang-orang yang diusir dari kampung halamannya tanpa alasan yang benar, hanya karena mereka berkata, “Tuhan kami ialah Allah.” Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah Maha Kuat, Maha Perkasa." [Surah Al-Hajj: 40]

Kedua ayat ini berkaitan dengan menolong kaum yang terzalimi dan melawan kezaliman atas mereka, serta memastikan kehidupan mereka aman. Yang penting untuk direnungkan adalah ayat ini mendahulukan penyebutan shawami' (biara-biara Nasrani), biya' (gereja-gereja), shalawat (rumah-rumah ibadah Yahudi) daripada penyebutan masjid-masjid.


10. Orang Muslim Tidak Memulai Peperangan

"أُذِنَ للذين يُقاتَلون بأنَّهم ظُلِموا وأنَّ اللهَ على نصْرِهم لقديرٌ" تُقرِّرُ الآيةُ أنَّ المسلمين لم يبدأواْ الكفارَ بالقتال بل العكسُ هو الصحيحُ وأنَّ الإذنَ للمسلمين جاء لردِّ الاعتداءِ والقتالِ الواقعِ عليهم بالفعلِ وهذا ما يدلُّ عليه الفعلُ (يُقاتَلونَ) المبني للمجهول والذي يفيدُ أنَّ سبب نزول الآية قتالٌ وقع من غير المسلمين على المسلمين.

Ayat pertama itu menyebutkan bahwa para muslim tidak memulai untuk memerangi kaum kafir, melainkan sebaliknyalah yang benar. Bahwa termaktubnya izin bagi para muslim merupakan bentuk untuk melawan permusuhan dan peperangan yang benar-benar menimpa mereka. Hal ini ditunjukkan oleh diksi 'yuqatalun' yang berbentuk pasif (mabni majhul) dan yang menunjukkan bahwa sebab turunnya ayat itu adalah adanya peperangan yang datang dari non-muslim terhadap para muslim.


11. Perang Terhadap Non-Muslim Sebab Permusuhan atau Kekafiran?

هل قتال المسلمين لغيرهم سببه العدوان أم الكفر؟ الإجابةُ التي أجمعَ عليها جمهورُ علماءِ المسلمينَ اعتمادًا على القرآنِ الكريمِ وتاريخِ النبيِّ مع غيرِ المسلمينَ: هي أنَّ العُدوانَ على المسلمينَ هو السببُ الرئيس الذي يُبيحُ لهم القتالَ، أمَّا المخالفة في الدين وحدَه – دونَ عدوانٍ – فإنَّها لا تَصلُحُ سببًا لإباحةِ الحربِ، ولا يُمكنُ أنْ تكونَ كذلك؛ لأنَّ القرآنَ أقرَّ حريةَ الناسِ في الإيمانِ أو الكفرِ: "فمن شاء فليؤمن ومن شاء فليكفر" [الكهف:29]، والقرآنُ لا يناقض بعضُه بعضًا.

Apakah peperangan yang melibatkan kaum muslim dengan non-muslim disebabkan oleh permusuhan atau kekufuran? Jawaban yang disepakati oleh mayoritas ulama Islam berdasarkan Al-Quran dan sejarah Nabi bersama non-muslim adalah bahwa permusuhan terhadap para Muslim merupakan sebab utama yang membolehkan mereka terlibat perang.

Semata perbedaan agama (tanpa adanya permusuhan) tidak layak menjadi sebab diperbolehkannya perang, dan hal itu tidak mungkin terjadi. Karena Al-Quran memastikan kebebasan umat manusia untuk beriman atau tidak (kufur), sebagaimana dalam ayat:

فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ -سورة الكهف:29

"Maka, siapa yang menghendaki (beriman), hendaklah dia beriman dan siapa yang menghendaki (kufur), biarlah dia kufur." [Surah Al-Kahfi: 29].

Sementara itu, di dalam Al-Quran tidak ada ayat yang bertentangan satu sama lain.


12. Pandangan Menyimpang Soal Kebolehan Perang

هناك من الآراءِ الشاذة التي لا يُلتَفَتُ إليها أنَّ الكفرَ يُبيحُ القتالَ، وأنَّ على المسلمين أنْ يُقاتلوا غيرَهم ليَدخُلوا الإسلامَ أو يَبقُوا على أديانِهم مع دفعِ الجزيةِ، ومما يدلّ على شذوذها تعارضها مع الآيات القرآنية والسيرة النبوية، وإلا فلماذا حرم الإسلام قتل النساء والأطفال والشيوخ مع كفرهم.

Terdapat sejumlah pandangan menyimpang yang sebenarnya tidak perlu dianggap signifikan, bahwa kekufuranlah yang menjadi sebab kebolehan perang, dan bagi seluruh muslim wajib untuk memerangi yang lain supaya mereka masuk Islam. Atau jika mereka memilih tetap pada agama mereka, maka wajib membayar jizyah.

Termasuk yang menunjukkan bahwa pandangan-pandangan seperti ini menyimpang adalah adanya pertentangan dengan sejumlah ayat Al-Quran dan sejarah hidup Nabi Muhammad SAW. Jika ini bukan suatu penyimpangan, maka kenapa Islam melarang membunuh kaum perempuan, anak-anak, orang tua padahal mereka tetap dalam kekufuran.


13. Kenapa Islam Melarang Pembunuhan Golongan Tertentu dalam Situasi Perang

يُحرِّمُ الإسلامَ قتلَ الأطفالِ والنساءِ والشيوخِ والرهبانِ والأعمى والمُقعَدِ والأجيرِ في معسكرِ العدوِّ؛ لأنّ هؤلاء لا يُتصوَّرُ منهم قتالٌ ولا عدوانٌ، فلذلك حرُمَ قتلُهم رغمَ كفرِهم، ولو أنَّ الكفرَ هو السّببُ المبيحُ للقتالِ لجازَ قتلُ هؤلاءِ الضعفاءِ.

Islam mengharamkan pembunuhan terhadap anak-anak, perempuan, orang tua, pemuka agama, tunanetra, penderita lumpuh, dan orang yang disewa bekerja di markas musuh. Kenapa? Karena tidak mungkin terbayang bahwa mereka akan ikut berperang serta memusuhi. Oleh karena itu, membunuh mereka itu haram hukumnya padahal mereka masih tetap kafir. Kalau saja kekufuran adalah sebab yang membolehkan untuk memerangi, maka membunuh mereka yang lemah itu harusnya juga dibolehkan.


14. Islam Bukan Agama Pedang

ليس صحيحًا أنَّ الإسلامَ دِينُ السيفِ، كما يتردَّدُ في كتاباتِ بعضِ مَن تخصَّصوا في تشويهِ صورةِ الإسلامِ وحضارتِه، والكلامُ هنا كثيرٌ جدًّا، لكن نكتفي بأنْ نَلفِتَ أنظارَ هؤلاء إلى أنَّ القرآنَ الذي قرَّرَ حريةَ الاعتقادِ في آياتِه الصريحةِ، لا يُمكِنُ أنْ يُقرِّرَ في الوقتِ نفسِه استعمالَ السيفِ ولا غيرَ السيفِ في نشرِ الإسلامِ، وليس له من طريقٍ في الدعوةِ إلى الإسلامِ إلا طريقُ الإقناعِ بالحجةِ والبرهانِ.

Tidaklah benar jika Islam disebut agama pedang sebagaimana sering dituliskan oleh sebagian orang yang secara khusus menjelek-jelekkan citra Islam dan peradabannya. Jawaban untuk tuduhan seperti ini banyak sekali, namun kami merasa cukup untuk membuat perhatian mereka tertuju pada Al-Quran yang menjamin kebebasan berkeyakinan dalam ayat-ayat Al-Quran. Tak mungkin dalam waktu yang sama Al-Quran membolehkan penggunaan pedang ataupun senjata lain sekalipun dalam menyebarkan ajaran Islam. Agama Islam hanya mengenal jalan dakwah melalui hujah dan argumentasi yang kuat.


15. Al-Quran Tidak Mengenal Kata Pedang

كلمة السيف ليست من ألفاظ القرآن ولم تُذكر فيه على الإطلاق رغمَ أنّ السيفَ وقتَ نزولِ القرآنِ كان رمزاً للشجاعةِ والبطولةِ.

Al-Quran tidak mengenal kata 'saif' (pedang). Kata ini tidak disebut sama sekali di dalam Al-Quran meskipun 'saif' (pedang), di era turunnya wahyu, ialah simbol keberanian dan kepahlawanan.


16. Pesan Nabi Muhammad SAW Agar Tidak Mengharap Bertemu Musuh

كان النبيُّ محمدٌ صلى الله عليه وسلم يقولُ للمسلمينَ: «لا تتمنَّوْا لِقاءَ العدوِّ، وسَلُوا اللهَ العافيةَ»، وهنا نَلفِتُ النظرَ إلى أنَّ المسلمينَ لم يُقاتِلوا الحبشةَ ولم يدخُلوا معها في حربٍ، رغم قُربِها الشديدِ مِن جزيرةِ العربِ، ومعرفةِ المسلمينَ بأحوالِ الأحباشِ، ومع ذلك لم يُحاربوها على ضعفِها ولم يَستعمروها، وحارَبوا قريشًا وفارسَ والرومَ؛ لأنَّ هذه الدولَ مارستْ على المسلمينَ عُدوانًا حقيقيًّا، بينما كانتِ الحبشةُ محايدةً ومسالمةً.

Nabi Muhammad SAW berpesan kepada muslimin, "Janganlah kalian mengharap bertemu musuh, mintalah kesehatan kepada Allah SWT." Di sini bisa kita saksikan bahwa muslimin tidak memerangi Habasyah dan tidak berhadapan dengan mereka dalam satu perang pun, padahal posisi mereka sangatlah dekat dengan jazirah Arab, umat Islam saat itu pun tahu betul kondisi masyarakat Habasyah. Meski sedemikian itu, umat muslim tidak memerangi Habasyah padahal kelemahan mereka nyata, juga tidak menjajah mereka. Umat muslim memerangi Quraisy, Persia, dan Romawi karena negara-negara ini benar-benar berusaha memusuhi umat Islam. Berbeda dengan Habasyah yang bersikap netral dan berdamai.


17. Aturan Perang dalam Islam Jelas dan Teratur

الحربُ في شريعةِ الإسلامِ مُنضبطةٌ بقواعدَ إنسانيةٍ وأخلاقيةٍ، تتجلّى في كثير من أحاديث رسول الله – صلى الله عليه وسلم – وأوامر خلفائه الراشدين لقادة الجيوش، مثل قول أبي بكر الصديق رضي الله عنه: "لا تغدِورا، ولا تُمثِّلوا، ولا تَقتلوا طفلًا صغيرًا، ولا شيخًا كبيرًا ولا امرأةً، ولا تعقِرُوا نخلًا، ولا تَحرِقوه، ولا تقطَعوا شجرةً مُثمرةً، ولا تذبحوا شاةً ولا بقرةً ولا بعيرًا إلَّا لمأكَلةٍ (أي: للأكلِ فقط)، وسوف تجدونَ أقوامًا قد فرَّغوا أنفسَهم في الصوامعِ فدَعُوهم وما فرَّغوا أنفسَهم له".

Perang dalam syariat Islam diatur dengan kaidah-kaidah humanis dan beretika yang tampak dalam banyak hadis Rasul SAW serta kebijakan-kebijakan para Khulafa Ar-Rasyidin terkait pasukan tentaranya. Misalnya perkataan Abu Bakr Ash-Shiddiq RA, "Janganlah kalian berkhianat, janganlah menyiksa, serta jangan membunuh anak kecil, orang tua, juga perempuan. Serta jangan menebang pohon kurma, membakarnya. Jangan menebang pohon yang berbuah. Jangan menyembelih kambing, sapi, unta kecuali untuk benar-benar dimakan. Kalian akan menemui orang-orang yang mengabdikan dirinya dalam rumah-rumah ibadah, biarkanlah mereka dengan aktivitas mereka."


18. Islam Agama Sederhana dan Beretika

إنَّ الحقيقةَ التي يكتُمُها البعضُ عن عمدٍ في انتشارِ الإسلامِ بهذه السرعةِ العجيبةِ: هي أنَّه دِينٌ بسيطٌ في عقيدتِه، أخلاقيٌّ في أحكامِه وشريعتِه.

Fakta sesungguhnya yang disembunyikan dengan sengaja oleh sebagian orang tentang cepatnya Islam tersebar adalah bahwa Islam merupakan agama yang berkarakter sederhana dalam ajaran akidahnya, beretika dalam hukum-hukum dan syariatnya.


19. Bukti Kebohongan Islam Agama Pedang

إنّ أكبرَ دليلٍ على أكذوبةِ العنفِ والسيفِ في الإسلامِ: هو انتشارُ الإسلامِ الآنَ بينَ الأوروبيينَ والأمريكيينَ بالملايينِ، فأين هذا السيفُ أو هذا العنفُ الذي يحملُ الأوروبيينَ والأمريكانَ ويُجبرُهم على التحوُّلِ إلى دِينِ الإسلامِ؟

Bukti paling nyata atas kebohongan terkait kekerasan dan pedang dalam agama Islam adalah tersebarnya Islam sekarang ini di tengah orang-orang Eropa dan Amerika yang jumlahnya berjuta-juta. Maka sebenarnya di mana pedang atau kekerasan yang dirasakan orang-orang Eropa dan Amerika itu hingga mereka terpaksa berpindah agama, lalu masuk Islam?


20. Islam Tersebar di Asia tanpa Pedang

يَشْهَدُ التاريخُ أنَّ الدّولَ الإسلامِيَّةَ الكُبرى فِي شَرقِ آسيا لَم يرفَعْ المُسلمُونَ فِيهَا سَيفًا ولم يَشُنّوا فِيهَا حَربًا، بَل انتشَرَ الإسلامُ فِيهَا بِالحِكمَةِ والمَوعِظَةِ الحَسَنَةِ، ويَعِيشُ فِيهَا الآنَ العَددُ الأكبَرُ من المُسلمِينَ فِي العَالَم.

Sejarah menjadi saksi bahwa di negara-negara besar Islam di wilayah Timur benua Asia, umat muslim tidak mengangkat pedang dan tidak memantik peperangan. Bahkan Islam di sana tersebar dengan hikmah dan pesan kebaikan. Di sanalah sekarang muslimin dengan jumlah terbesar sedunia tinggal.


21. Dilarang Membunuh Anak Musuh dalam Situasi Perang

قتل أطفال العدو ممنوع في الإسلام

عن الأسود بن سريع - رضي الله عنه – قال بعث رسول الله - صلى الله عليه وسلم - سرية يوم حنين فقاتلوا المشركين ، فأفضى بهم القتل إلى الذرية فلما جاؤوا قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - : " ما حملكم على قتل الذرية ؟ " , قالوا : يا رسول الله إنما كانوا أولاد المشركين فقال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - : إن خياركم أبناء المشركين ، ثم قال : ألا لا تقتلوا ذرية ، ألا لا تقتلوا ذرية..)

Membunuh Anak-anak Musuh Dilarang dalam Islam

Diriwayatkan dari Al-Aswad bin Sari' RA bahwa Rasulullah SAW mengutus Sariyyah (pasukan rahasia) di Perang Hunain. Mereka lantas berperang melawan kaum musyrik hingga mereka juga membunuh anak-turun musuh. Saat mereka menghadap, Rasul SAW bersabda, "Apa yang membuat kalian membunuh anak-turun mereka?" Mereka menjawab, "Wahai Rasul, mereka itu toh anak-anak kaum musyrik." Rasul SAW lalu bersabda, "Orang-orang terpilih di antara kalian itu juga anak-anak kaum musyrik." Kemudian Rasul SAW berpesan tegas, "Jangan sekali-kali kalian membunuh anak-anak.. jangan sekali-kali kalian membunuh anak-anak."


22. Haram Hukumnya Membunuh Istri Musuh dan Lelaki yang Tidak Ikut Perang

قتل نساء العدو ومن لا يقاتل من الرجال حرام في الإسلام

عن حنظلة الكاتب، قال: غزونا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم، فمررنا على امرأة مقتولة، قد اجتمع عليها الناس، فأفرجوا له، فقال: "ما كانت هذه تقاتل فيمن يقاتل" (مستنكرا قتل النساء اللاتي لا يحملن السلاح ولا يقاتلن) ثم قال لرجل: " انطلق إلى خالد بن الوليد، فقل له: إن رسول الله صلى الله عليه وسلم يأمرك، يقول: "لا تقتلن ذرية، ولا عسيفا" أي ولا أجيرا.

Di dalam Islam Haram Membunuh Istri-istri Musuh dan Para Lelaki yang Tak Ikut Berperang

Diriwayatkan dari Hanzhalah Al-Katib, ia berkata, "Kami berperang bersama Rasul SAW. Lalu kami melewati seorang perempuan mati terbunuh. Orang-orang berkerumun mengelilinginya lalu membuka jalan untuk Rasul SAW dan beliau pun bersabda, "Ia tentulah tak ikut berperang." (Nabi menolak pembunuhan terhadap perempuan yang tak membawa senjata dan tak berperang). Kemudian Rasul SAW berpesan kepada seorang lelaki, "Pergilah ke Khalid bin Al-Walid! Katakan padanya bahwa Rasul SAW memberikan perintah." Beliau bersabda, "Sungguh janganlah kalian membunuh anak-anak, juga para pekerja, atau budak."


23. Perlakuan Islam yang Humanis terhadap Tawanan Perang

معاملة الأسرى بإنسانية مبدأ من مبادئ الجهاد في الإسلام

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "استوصوا  بالأسارى  خيرا" يقول العاص بن الربيع: كنت في رهط من الأنصار، جزاهم الله خيرا، كنا إذا تعشينا أو تغدينا آثروني بالخبز وأكلوا التمر، والخبز معهم قليل، والتمر زادهم حتى إن الرجل لتقع في يده الكِسرة فيدفعها إليَّ، وكان الوليد بن المغيرة يقول مثل ذلك ويقول يزيد: وكانوا يحملوننا ويمشون. (أي يحملوننا على بعير ويمشون هم ( المسلمون)على الأقدام).

Perlakuan terhadap tawanan secara manusiawi merupakan salah satu prinsip jihad dalam Islam

Rasulullah SAW bersabda, "Berbaik-baiklah kalian dengan para tawanan!". Al-'As bin Ar-Rabi' berkata, "Saya waktu itu sedang bersama kaum Anshar, semoga Allah membalas kebaikan mereka. Ketika kami sedang makan malam atau sarapan, mereka selalu memberikan roti pada kamu dan mereka memakan kurma padahal roti mereka sedikit. Kurma menjadi makanan pokok mereka. Bahkan saat sepotong roti ada di tangan, seorang lelaki memilih memberikannya kepada saya." Hal yang sama dikatakan oleh Al-Walid bin Al-Mughirah. Yazid berkata, "Mereka menaikkan kami dan mereka memilih berjalan-kaki." Maksudnya mereka menaikkan kami ke atas unta tunggangan, sedangkan mereka (para muslim) berjalan-kaki.


24. Keharaman Merekrut Tentara dari Golongan Anak-anak

حرمة تجنيد الأطفال في الإسلام

عن رافع بن خديج : قال جئت أنا وعمي إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو يريد بدرا، فقلت يا رسول الله إني أريد أن أخرج معك فجعل يقبض يده ويقول: إني استصغرك ولا أدري ما تصنع إذا لقيت القوم؟ فقلت : أتعلم أني أرمي من رمى؟ فردني فلم أشهد بدرا وقد رد النبي صلى عليه وسلم أربعة عشر صبيا في معركة أحد لصغرهم.

Haram Hukumnya Menjadikan Anak-anak sebagai Tentara

Diriwayatkan dari Rafi' bin Khadij, ia berkata, "Saya bersama paman saya datang kepada Rasul Saw. yang saat itu bermaksud pergi ke perang Badr, saya berkata pada beliau, 'Wahai Rasul Saw. saya ingin ikut bersamamu.' Rasul lalu mengepalkan tangan (melarang) dan bersabda, 'Sesungguhnya saya menganggapmu sebagai anak yang masih kecil dan saya tak tahu apa yang akan kau perbuat saat bertemu orang-orang nanti?' Saya menjawab, 'Apakah engkau tahu saya mampu membidik para pemanah?' Rasul lalu menolak saya. Saya tak mendapat kesempatan ikut dalam perang Badr. Nabi Muhammad Saw. juga menolak 14 anak-anak (yang ingin ikut berperang) dalam peperangan Uhud karena usia mereka yang masih kecil.


25. Menghormati Agama Lain adalah Salah Satu Asas Jihad dalam Islam

احترام دين الآخر من أسس الجهاد في الإسلام

• من مواقف المسلمين بعد غزوة خيبر، وانتصارهم على اليهود أن وجدوا نسخا من التوراة، فأمر النبي صلى الله عليه وسلم بردِّها إلى اليهود احتراما لديانة الآخر وتأكيدا على أن الجهاد إنما كان لرد العدوان لا لفرض الإسلام على الناس.

Termasuk Asas Jihad dalam Islam adalah Menghormati Agama Lain

Salah satu kejadian yang terjadi di tengah muslimin usai Perang Khaybar, dan kemenangan mereka atas Yahudi saat itu, adalah bahwa mereka menemukan satu naskah Taurat. Lalu Nabi Muhammad SAW memerintahkan agar naskah tersebut dikembalikan kepada Yahudi sebagai bentuk penghormatan pada agama lain, sekaligus mempertegas bahwa jihad hanya bertujuan untuk melawan permusuhan, bukan wujud pemaksaan Islam atas orang-orang.


26. Menghancurkan Gereja Bukan Ajaran Islam

هدم الكنائس ليس من الإسلام

• أقرَّ رسول الله صلى الله عليه وسلم لنصارى نجران الحق في البقاء على دور عبادتهم من البيع والكنائس وحفظ حرمة رجال دينهم من القسس والرهبان فقال في عهده لهم: "لَا تُهْدَمَ لَهُمْ بَيْعَةٌ، وَلَا يُخْرَجَ لَهُمْ قَسٌّ، وَلَا يُفْتَنُوا عَنْ دِينِهِمْ..".

Rasulullah SAW mengakui hak para Nasrani Najran untuk tetap berdiam di dalam rumah-rumah ibadah mereka, seperti biara dan gereja, dan untuk menjaha kehormatan para tokoh-tokoh agama mereka, para pastor dan rahib. Rasul SAW juga berkata di dalam perjanjiannya bersama mereka, "Satu pun rumah ibadah mereka tidak boleh dihancurkan, tidak pula mengeluarkan pastor mereka, juga tidak menjelek-jelekkan agama mereka."


27. Haram Hukumnya Memutilasi Mayat dalam Situasi Perang

حرمة التمثيل بجثث القتلى في الإسلام

• رغم ما حدث في غزوة أُحُد من تمثيل المشركين بحمزة عم الرسول صلى الله عليه وآله وسلم، فإنه صلى الله عليه وسلم لم يُغيِّر مبدأه في رفض التمثيل بجثث الأعداء، بل حرص على النهي عن المُثلة حتى مع المشركين، ولم يرد في التاريخ حادثة واحدة تقول: إن المسلمين مثَّلوا بأحد من أعدائهم.

Meskipun dalam Perang Uhud terjadi peristiwa mutilasi oleh para musyrik terhadap Sidna Hamzah Sang Paman, Rasul SAW tak sekalipun mengubah prinsipnya dalam hal menolak apapun bentuk pemutilasian terhadap jasad-jasad para musuh. Bahkan Rasul SAW kukuh melarang mutilasi sekalipun kepada para musyrik. Tak satu pun kejadian tercatat dalam sejarah bahwa para muslim memutilasi seseorang dari musuh mereka.


28. Mencaci Musuh yang Terbunuh Bukan Ajaran Islam

سب وإهانة قتلى الأعداء ليس من الإسلام

•كان عكرمة بن أبي جهل من أشد الناس عداوة للرسول صلى الله عليه وآله وسلم وابن أشد الناس عداوة للإسلام والمسلمين، فلما دخل النبي مكة منتصرا أعطى الأمان لعكرمة وخاطب أصحابه قائلا: "يأْتِيكُمْ عِكْرِمَةُ بْنُ أَبِي جَهْلٍ مُؤْمِنًا مُهَاجِرًا، فَلا تَسُبُّوا أَبَاهُ، فَإِنَّ سَبَّ الْمَيِّتِ يُؤْذِي الْحَيَّ، وَلا يَبْلُغُ الْمَيِّتَ".

Mencaci dan mencela musuh yang terbunuh bukan bagian dari Islam

Ikrimah bin Abi Jahl merupakan salah seorang yang paling membenci Rasul SAW, sekaligus anak dari orang yang juga sangat membenci Islam dan muslimin. Saat Nabi SAW memasuki Makkah usai kemenangan, ia menjamin keamanan Ikrimah dan berpesan kepada para Sahabat, "Ikrimah bin Abi Jahl datang kepada kalian sebagai mukmin yang hijrah, maka janganlah kalian mencaci ayahnya. Karena mencela orang yang meninggal sejatinya menyakiti orang yang hidup, pun hal itu tak sampai pada yang meninggal."


29. Menjaga Perjanjian dan Kesepakatan adalah Prinsip Islam

رعاية العهود والمواثيق مع الآخر مبدأ إسلامي

•عن خالد بن الوليد رضي الله عنه قال: غزوت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم غزوة خيبر، فأسرع الناس في حظائر يهود، فقال صلى الله عليه وسلم: يَا خَالِدُ، نَادِ فِي النَّاسِ أَنَّ الصَّلَاةَ جَامِعَةٌ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا مُسْلِمٌ فَفَعَلْتُ، فَقَامَ فِي النَّاسِ فَقَالَ: "يَا أَيُّهَا النَّاسُ، مَا بَالُكُمْ أَسْرَعْتُمْ فِي حَظَائِرِ يَهُودَ، أَلَا لَا تَحِلُّ أَمْوَالُ الْمُعَاهَدِينَ إِلَّا بِحَقِّهَا".

Diriwayatkan dari Khalid bin Al-Walid RA, ia berkata, "Saya ikut berperang bersama Rasul SAW di Perang Khaibar. Orang-orang bergegas menuju tempat penyimpanan harta para Yahudi. Rasulullah SAW lalu berkata, "Wahai Khalid, panggillah orang-orang (katakan) bahwa salat jamaah segera dimulai dan tiada yang masuk surga kecuali orang muslim," Saya lantas melaksanakan perintah. Rasul SAW lalu berdiri di hadapan orang-orang dan bersabda, "Wahai orang-orang, apa yang kalian pikirkan hingga bergegas menuju gudang harta para Yahudi! Sungguh harta-harta orang yang mempunyai perjanjian (dengan kita) tidaklah halal kecuali dengan jalan yang hak."


30. Membunuh Orang yang Anti Peperangan Bukan Ajaran Islam

قتل المستكرهين على الحرب ليس من الإسلام

•أوصى رسول الله صلى الله عليه وسلم أصحابه في غزوة بدر قائلا: "إنّي قَدْ عَرَفْت أَنّ رِجَالًا مِنْ بَنِي هَاشِمٍ وَغَيْرِهِمْ قَدْ أَخْرَجُوا كُرْهًا، لَا حَاجَةَ لَهُمْ بِقِتَالِنَا، فَمَنْ لَقِيَ مِنْكُمْ أَحَدًا مِنْ بَنِي هَاشِمٍ فَلَا يَقْتُلْهُ، وَمَنْ لَقِيَ أَبَا الْبَخْتَرِيّ بْنَ هِشَامِ بْنِ الْحَارِثِ ابْنِ أَسَدٍ فَلَا يَقْتُلْهُ، وَمَنْ لَقِيَ العباس بن عبد المطلب، عَمّ رَسُولِ اللّهِ صلى الله عليه وسلم فَلَا يَقْتُلْهُ فَإِنّهُ إنّمَا أُخْرِجَ مُسْتَكْرَهًا" .

Membunuh orang-orang yang membenci peperangan itu bukanlah bagian dari Islam

Rasulullah SAW berpesan kepada para Sahabat di dalam Perang Badar, "Sungguh saya mengetahui bahwa sejumlah orang dari Bani Hasyim dan yang lain telah keluar karena tak menyukai perang, mereka tak ingin memerangi kita. Barangsiapa dari kalian bertemu salah satu dari Bani Hasyim, janganlah membunuhnya! Barangsiapa bertemu Abu Al-Bakhtari bin Hisyam bin Al-Harits bin Asad, janganlah membunuhnya! Barangsiapa bertemu Al-Abbas bin Abdulmuththalib Paman Baginda Nabi SAW, janganlah membunuhnya! Karena sesungguhnya ia telah keluar, tak menghendaki peperangan.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik MOZAIK atau tulisan menarik Mu'hid Rahman

Latest