Memperingati maulid nabi dan membacakan sirah nabawiyyah merupakan rutinitas yang dijalani oleh para ulama secara turun temurun. Al-Azhar sebagai kiblat ilmu keislaman merawat tradisi ini semenjak berabad-abad yang lalu. Sebab, memperkenalkan sosok agung sang panutan seluruh umat manusia merupakan bagian dari risalah Al-Azhar. Salah satu media untuk memperkenalkan sang utusan terakhir adalah dengan menulis kitab bertema sirah nabawiyyah dan kitab maulid.
Para ulama Al-Azhar semenjak Syekh Zainuddin Al-‘Iraqi (w. 806 H) dan Syekh Ibnu Al-Mulaqqin (w. 804 H) hingga hari ini tidak pernah absen menuliskan tema-tema sirah nabawiyyah maupun tema maulid. Sehingga sepanjang tujuh abad, Al-Azhar telah melahirkan banyak sekali karya dengan tema ini. Hal yang menarik adalah terdapat lima generasi Syekhul-Azhar yang secara berurutan menulis karya tentang tema tersebut tanpa putus. Lima generasi ini memiliki hubungan guru murid antara satu sama lain.
Lima generasi Syekhul-Azhar yang dimaksud adalah Syekhul-Azhar Abdullah Asy-Syubrawi (w. 1171 H), Syekhul-Azhar Muhammad bin Salim Al-Hifni (w. 1181 H), Syekhul-Azhar Abdullah Asy-Syarqawi (w. 1227 H), Syekhul-Azhar Ibrahim Al-Bajuri (w. 1277 H) dan Syekhul-Azhar Salim Al-Bisyri (w. 1335 H). Syekh Abdullah Asy-Syubrawi merupakan guru Syekh Muhammad bin Salim Al-Hifni. Sementara Syekh Muhammad bin Salim Al-Hifni merupakan guru Syekh Abdullah Asy-Syarqawi. Syekh Abdullah Asy-Syarqawi adalah guru Syekh Ibrahim Al-Bajuri. Sedangkan Syekh Ibrahim Al-Bajuri adalah guru Syekh Salim Al-Bisyri.
(1) Kitab Karya Syekhul-Azhar Abdullah Asy-Syubrawi
Syekh Abdullah Asy-Syubrawi memiliki kitab bertema sirah nabawiyyah bertajuk Syarh Ash-Shadr bi Akhbar Ghazwah Badr. Kitab ini pada dasarnya membahas secara mendetail peristiwa Perang Badar. Namun, sebelum membahas peristiwa tersebut, beliau menjelaskan peristiwa pra-kelahiran Rasulullah SAW, nasab, serta kehidupan beliau sampai terjadinya peristiwa Perang Badar.
Pada pembahasan Perang Badar, Syekh Abdullah Asy-Syubrawi memaparkan secara detail hingga nama-nama para sahabat yang ikut serta di dalamnya. Setelah itu, beliau melanjutkan pembahasan kitabnya dengan menyajikan kehidupan Rasulullah SAW hingga wafat. Sehingga kitab ini menyuguhkan sirah nabawiyyah secara lengkap mulai dari Rasulullah SAW lahir hingga wafat.
(2) Kitab Karya Syekhul-Azhar Muhammad bin Salim Al-Hifni
Syekh Muhammad bin Salim Al-Hifni memiliki karya tentang tema sirah nabawiyyah. Beliau menulis kitab hasyiyah atas syarah Al-Hamziyyah karya Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 972 H). Qashidah Al-Hamziyyah sendiri merupakan karya Syekh Syarafuddin Al-Bushiri penganggit Qashidah Al-Burdah. Jika bait Al-Burdah berjumlah 160 bait, maka bait Al-Hamziyyah berjumlah 455 bait.
Qashidah Al-Hamziyyah berisi sirah nabawiyyah lengkap, mulai lahir hingga wafat. Menurut Syekh Sulaiman Al-Jamal, syarah Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami adalah syarah terbaik. Sehingga banyak dari para ulama Al-Azhar yang memberikan hasyiyah atas syarah tersebut. Di antara penulis hasyiyah tersebut adalah Syekh Muhammad bin Salim Al-Hifni dan Syekh Muhammad bin Ali Asy-Syanawani (w. 1233 H).
Rasulullah
Kumpulan tulisan dengan spirit kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat teman-teman temukan
di sini(3) Kitab Karya Syekh Abdullah Asy-Syarqawi
Syekh Abdullah Asy-Syarqawi memiliki karya tentang Syamail Muhammadiyyah. Beliau meringkap kitab Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah karya Imam At-Tirmidzi dengan membuang sanad dan memilih hadits-haditsnya. Kemudian beliau memberikan syarah atas Mukhtashar Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah tersebut.
Jika Syekh Abdullah Asy-Syubrawi dan Syekh Muhammad bin Salim Al-Hifni menulis sirah nabawiyyah dari lahir hingga wafat secara lengkap, maka Syekh Abdullah Asy-Syubrawi fokus menyoroti syamail-nya saja. Meski demikian keseharian Rasulullah SAW serta tindak tanduk dan perawakannya lebih jelas tergambar dalam karya jenis syamail ini. Sehingga, membaca syamail merupakan sebuah keniscayaan bagi siapa saja yang ingin memahami dan membayangkan perawakan, sifat, dan keseharian Rasulullah SAW.
(4) Kitab Karya Syekhul-Azhar Ibrahim Al-Bajuri
Syekh Ibrahim Al-Bajuri memiliki sejumlah karya di bidang sirah nabawiyyah dan maulid. Karya terbesar beliau adalah Al-Mawahib Al-Ladunniyyah Syarh Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah. Barangkali beliau ingin mengikuti jejak sang guru, yakni Syekh Abdullah Asy-Syarqawi. Hanya saja, Syekh Ibrahim Al-Bajuri memberikan syarah atas kitab Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah karya Imam At-Tirmidzi secara langsung. Sehingga, selain mengupas isi kandungan redaksi hadits, beliau juga membahas sanad dan lafal periwayatannya.
Selain kitab tersebut, Syekh Ibrahim Al-Bajuri juga memiliki syarah atas 2 kitab maulid, yaitu Maulid Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami yang dikenal dengan nama An-Ni’mah Al-Kubra ‘ala Al-‘Alam dan Maulid Syekh Ad-Dardir yang dikenal dengan nama Maulid Al-Basyir An-Nadzir. Syarah atas Maulid Ibnu Hajar, meski tidak lengkap, diberi nama Tuhfah Al-Basyar. Sedangkan syarah atau hasyiyah atas Maulid Syekh Ad-Dardir tidak diberi nama secara khusus.
※ Menelaah Selawat dan Puji-pujian untuk Nabi
Selain memberi syarah dan hasyiyah atas dua kitab maulid, Syekh Ibrahim Al-Bajuri juga menulis syarah atas dua kitab Burdah, yaitu Qashidah Al-Burdah gubahan sahabat Ka’ab bin Zuhair dan Qashidah Al-Burdah karya Syekh Syarafuddin Al-Bushiri. Syarah pertama diberi nama Al-Is’ad bi Syarh Qashidah Banat Su’ad. Sebab Qashidah Al-Burdah gubahan Sahabat Ka’ab bin Zuhair dikenal dengan nama Qashidah Banat Su’ad. Sedang syarah kedua tidak diberi judul secara khusus. Uraian kelima kitab di atas telah ditulis secara lebih detail oleh sahabat saya, Mas Amirul Mukminin.
(5) Kitab Karya Syekhul-Azhar Salim Al-Bisyri
Syekh Salim Al-Bisyri merupakan salah satu Syekhul-Azhar yang memiliki karya tentang sirah nabawiyyah. Penjelasan tentang sirah nabawiyyah beliau tuangkan melalui syarah atas Qashidah Nahj Al-Burdah karya Amir Asy-Syu’ara Ahmad Syauqi (w. 1351 H). Secara umur, Syekh Salim Al-Bisyri lebih tua dan lebih senior dibanding Syekh Ahmad Syauqi.
Qashidah anggitan Syekh Ahmad Syauqi diberi judul Nahj Al-Burdah karena berupaya mengikuti jejak Syekh Syarafuddin Al-Bushiri. Hal ini beliau sampaikan sendiri dalam sambutan atas syarah Syekh Salim Al-Bisyri sehingga memiliki kemiripan dengan Qashidah Al-Burdah dari segi tema dan bahar. Meskipun dalam menggambarkan makna dan meluapkan rasa ada sedikit perbedaan.
※ Kisah Kedermawanan Syekh Salim Al-Bisyri
Syekh Salim Al-Bisyri -di akhir syarahnya- menyebutkan metode yang ditempuh dalam menyusun syarah. Beliau mengurai diksi yang susah dipahami, menjelaskan diksi yang samar, membahas sisi nahwu sharafnya dan menjelaskan keindahan bait lewat kacamata balaghah. Setelah menganalisa dari sisi bahasa selesai, beliau kemudian menjelaskan maksud dari bait dan menjabarkannya dengan riwayat-riwayat yang diambil dari kitab hadits dan sirah.
Kelima tokoh di atas merupakan salah satu potret dari peran Al-Azhar dalam memperkenalkan Nabi Sang Panutan kepada umat manusia. Mereka semua adalah pimpinan tertinggi Al-Azhar dari masa ke masa. Seolah mereka memberikan contoh dan memberikan pesan kepada kita: Siarkanlah sejarah hidup dan suri tauladan Nabimu kepada seluruh umat manusia!
Sudah selayaknya kita meniru jejak mereka. Sekurang kurangnya kita mau membaca apa yang telah mereka sumbangkan untuk hal itu.
Wallahu A’lam Bishshawab.
