TAWAZUN.ID — Pada Jumat, 7 Ramadan 1446 H (7 Maret 2025 M), Al-Azhar menggelar perayaan miladnya yang ke-1085 dalam kalender hijriyah. Acara ini berlangsung di dalam Masjid Al-Azhar dengan dihadiri oleh berbagai tokoh penting dari pemerintahan, ulama, serta pelajar dari berbagai negara, dan masyarakat Mesir yang menyimak acara dengan antusias. Meriahnya acara ini menegaskan besarnya peran Al-Azhar sebagai pusat keilmuan dan spiritualitas Islam.
Turut hadir dalam perayaan ini Menteri Pemuda dan Olahraga Mesir Asyraf Shidqi, serta Gubernur Kairo Ibrahim Shabir, yang mewakili jajaran pemerintahan Mesir. Dari kalangan ulama, hadir Wakilul-Azhar Syekh Prof. Dr. Muhammad Abdurrahman Adh-Dhuwaini, Ketua Umum Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Pusat Prof. Dr. Abbas Syuman, serta Rektor Universitas Al-Azhar Prof. Dr. Salamah Daud. Selain itu, peringatan ini juga dihadiri oleh Kepala Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Al-Azhar Prof. Dr. Aiman Abdulghani, serta Direktur Pusat Fatwa Al-Azhar Syekh Ismail Al-Hadidi.
Acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh Syekh Muhammad Salim Abu Suqqaf, yang mengawali suasana dengan lantunan ayat-ayat pilihan.
※ Makna Setan Dibelenggu Saat Ramadan
Al-Azhar dan Perjuangan Melawan Pemikiran Menyimpang
Dalam sambutannya, Wakilul-Azhar Prof. Dr. Muhammad Abdurrahman Adh-Dhuwaini menegaskan bahwa perayaan ini bukan sekadar mengenang berdirinya Al-Azhar, tetapi menjadi momentum bagi umat Islam untuk memperbarui hubungan dengan lembaga ini dan para ulamanya. Beliau menekankan bahwa Al-Azhar tidak pernah berhenti menebarkan cahaya ilmu dan dakwah ke seluruh dunia, sekaligus berperan dalam melawan berbagai bentuk ketidakadilan.
Sekjen Akademi Riset Islam Al-Azhar Syekh Muhammad Abduddayim Al-Jundi mengutip pernyataan Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami yang menggambarkan keistimewaan Al-Azhar sebagai pusat ilmu yang tidak pernah kosong dari kegiatan belajar dan zikir, siang maupun malam.
Sementara itu, Prof. Dr. Abbas Syuman, Ketua Umum OIAA Pusat, menegaskan bahwa Al-Azhar tidak hanya menjadi lembaga pendidikan dan dakwah, tetapi juga pusat perlawanan terhadap penjajahan. Sejarah mencatat bahwa Al-Azhar memainkan peran penting dalam perlawanan terhadap kolonialisme Prancis dan Inggris, serta turut berkontribusi dalam Revolusi 1919 dan Perang Atrisi.
※ Hal Ihwal Terkait Penyambutan Ramadan
Dalam kaitannya dengan pembaruan pemikiran Islam, Prof. Dr. Muhammad Abdurrahman Adh-Dhuwaini menegaskan bahwa Al-Azhar membawa misi tajdid, yaitu pembaruan pemikiran yang tetap berlandaskan pada nilai-nilai Islam yang murni. “Jangan serahkan pikiran kalian kepada pemikiran yang menyimpang,” tegasnya, menyoroti ancaman ideologi yang menyimpang yang sering kali mengatasnamakan Islam.
Sebagai bagian dari upaya menjaga kemurnian pemikiran Islam, Lembaga Observasi Al-Azhar disebut berperan dalam memantau berbagai gerakan pemikiran di era modern. Al-Azhar juga terus menyerukan persatuan umat melalui forum intra-Islam dengan mengusung gagasan Ummah Wahidah wa Mashirun Musytarak—"Umat yang satu dan tujuan yang sama."
Perayaan ini ditutup dengan lantunan ibtihal yang menyentuh hati oleh Syekh Muhammad Fauzi Al-Barbari, Imam Al-Qiblah di Masjid Al-Azhar, sebagai penanda akhir dari rangkaian acara yang penuh makna.
