Malam Nisfu Sya’ban masyhur sebagai malam yang bilamana seseorang berdoa, maka tidak akan tertolak alias pasti akan dikabulkan oleh Allah SWT. Hal ini sebagaimana keterangan yang termaktub dalam kitab Al-Umm juz I halaman 231:
Telah sampai kepada kami, dikatakan bahwa sesungguhnya doa itu akan dikabulkan dalam lima malam, yaitu: Malam Jumat, malam Idul Adha, malam Idul Fitri, malam awal Rajab dan malam Nisfu Sya’ban.
Jika dirunut lebih jauh, keterangan dalam kitab Al-Umm tersebut senada dengan sebuah Hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan dari Abi Umamah berikut ini.
Diriwayatkan dari Abi Umamah, dia berkata bahwa Rasulullah SAW dawuh, "Lima malam yang tidak akan ditolak doa di dalamnya: yaitu malam pertama bulan Rajab, malam Nisfu Sya'ban, malam Jumat, malam Idul Fitri, dan malam Idul Adha."
Dalam redaksi Hadits yang berbeda, Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa Allah pada malam Nisfu Sya’ban memang akan mengampuni dosa-dosa semua umat muslim yang telah memenuhi kualifikasi dan lolos ketentuan-ketentuan khusus terkait malam Nisfu Sya’ban.
Yakni, “Rasulullah SAW bersabda: ‘Sesungguhnya Allah menengadahkan pandangan-Nya pada malam Nishfu Sya'ban dan mengampuni semua orang Muslim kecuali orang yang menyekutukan-Nya atau orang yang bermusuhan’.” (HR. Ibn Majah)
Sementara dalam Hadits riwayat Abu Bakar dari Al-Baihaqi, disebutkan bahwasanya Nabi SAW bersabda:
Artinya: “(Rahmat) Allah SWT turun ke bumi pada malam Nisfu Sya’ban. Dia akan mengampuni segala sesuatu kecuali dosa musyrik dan orang yang di dalam hatinya tersimpan kebencian (kemunafikan),” (HR Al-Baihaqi)
Karena teramat istimewanya, malam Nisfu Sya’ban disebut juga dengan malam penuh kesucian (Lailatul bara'ah). Tersebab pada malam itu terdapat berbagai kebaikan, rahmat, kemudahan rezeki, dan janji diampuninya seluruh dosa manusia. Sebuah Hadits Rasulullah menjelaskan kemuliaan dari malam Nisfu Sya’ban yang oleh kalangan Sahabat lantas dimanfaatkan untuk berdoa dan meminta ampunan pada Allah SWT. Syahdan, itu disebabkan kesucian malam Nisfu Sya’ban tersebut, makanya Allah menurunkan rahmatnya pada orang yang memohon ampunan pada-Nya.
Artinya: “Ketika malam Nisfu Sya’ban tiba, maka beribadahlah di malam harinya dan puasalah di siang harinya. Sebab, sungguh (rahmat) Allah turun ke langit dunia saat tenggelamnya matahari. Kemudian Ia berfirman: “Ingatlah orang yang memohon ampunan kepada-Ku maka Aku ampuni, ingatlah orang yang meminta rezeki kepada–Ku maka Aku beri rezeki, ingatlah orang yang meminta kesehatan kepada–Ku maka Aku beri kesehatan, ingatlah begini, ingatlah begini, sehingga fajar tiba.” [HR Ibnu Majah]
Begitulah, betapa Allah SWT membuka pintu rahmat dan maghfirah seluas-luasnya di momen Nisfu Sya’ban ini. Oleh karenanya, dianjurkan untuk memperbanyak amalan ibadah Sunah seperti puasa sunah, berdzikir, bertafakur, bermunajat dan bersedekah di momen Nisfu Sya’ban. Hal ini sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW, bahwasanya Nabi SAW lebih sering puasa sunah di bulan Sya’ban dibandingkan pada bulan lainnya.
“Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah SAW berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada Ramadan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR Bukhari No 1969 dan Muslim No 1156)
※ Khutbah Jumat Puasa yang Mendapat Rida Allah
Oleh karenanya, sungguh sangat disayangkan sekali jika momen Nisfu Sya’ban ini terlewat begitu saja. Perlu persiapan khusus dan hendaknya kita mengoptimalkan amalan-amalan yang memang dianjurkan diperbanyak selama Nisfu Sya’ban berlangsung. Jika merujuk keterangan dalam kitab Madza fi Sya’ban karangan Sayid Muhammad Alawi Al-Maliki, terdapat beberapa amalan yang sangat dianjurkan saat Nisfu Sya’ban.
Pertama, memperbanyak doa. Hal ini dikarenakan doa-doa yang dipanjatkan di malam Nisfu Sya’ban tidak akan tertolak dan sudah pasti diijabahi (sebagaimana keterangan di awal).
Kedua, membaca dua kalimat syahadat sebanyak-banyaknya. Dua kalimat syahadat termasuk kalimat mulia. Dua kalimat ini sangat baik dibaca kapan pun dan di mana pun terlebih lagi pada momen malam Nisfu Sya’ban. Dalam hal ini, Sayid Muhammad bin Alawi mengatakan:
Artinya, “Seyogyanya seorang muslim mengisi waktu yang penuh berkah dan keutamaan dengan memperbanyak membaca dua kalimat syahadat, La Ilaha Illallah Muhammad Rasululullah, khususnya bulan Sya’ban dan malam pertengahannya.”
Ketiga, memperbanyak istighfar. Sebab tidak ada satu pun manusia yang bersih dari dosa dan salah. Keseharian manusia bergelimangan dosa. Namun kendati manusia berdosa, Allah SWT senantiasa membuka pintu ampunan kepada siapa pun. Oleh karenanya, meminta ampunan (istighfar) sangat dianjurkan, terutama di malam nisfu Sya’ban. Ini sebagaimana dijelaskan Sayid Muhammad bin Alawi:
Artinya, “Istighfar merupakan amalan utama yang harus dibiasakan orang Islam, terutama pada waktu yang memiliki keutamaan, seperti Sya’ban dan malam pertengahannya. Istighfar dapat memudahkan rezeki, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran dan Al-Hadits. Pada bulan Sya’ban pula dosa diampuni, kesulitan dimudahkan, dan kesedihan dihilangkan.
Jika melihat tradisi umat Islam di Indonesia, malam Nisfu Sya’ban diisi secara bersama-sama dengan membaca Surah Yasin tiga kali. Syahdan, tradisi itu berangkat dari keterangan yang terdapat dalam kitab Mujarabat-nya Syekh Ad-Diyarbi.
Adapun untuk kaifiahnya, Yasin pertama diniatkan agar diberikan umur panjang dalam taat kepada Allah, kemudian mengucapkan doa khusus Nisfu Sya'ban. Selanjutnya, Surat Yasin yang kedua dengan niat menolak bencana, musibah, fitnah dan memohon rezeki yang halal, dilanjutkan juga dengan membaca doa Nisfu Sya'ban. Setelah itu, membaca Surah Yasin ketiga dengan niat kaya hati, tetap iman dan Islam, istiqamah, serta diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah, lalu diakhiri dengan doa Nisfu Sya'ban.
Setiap selesai membaca Surah Yasin dilanjutkan membaca doa berikut ini:
Adapun sebelum membaca Surah Yasin tiga kali tersebut, dianjurkan terlebih dahulu untuk melaksanakan shalat Mutlak, Shalat Tasbih ataupun shalat hajat. Untuk Shalat Sunnah Mutlak, cara pelaksanaan shalat sunnah secara Mutlaknya sebagaimana dijelaskan dalam Hadits:
“Shalat adalah sebaik-baik syariat, siapa yang ingin memperbanyak maka perbanyaklah, dan siapa yang ingin melakukan sedikit maka lakukanlah.” (Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan bahwa hadis ini dinilai sahih oleh Ibnu Hibban. Fath Al-Bari 2/479)
Adapun kaifiyah shalat Sunnah pada malam Nisfu Sya’ban sebagaimana keterangan dalam Majmu Syarif halaman 93-96 sebagai berikut:
• Shalat sunnah 2 rakaat dengan niat shalat Mutlak
• Rakaat pertama setelah Fatihah membaca Surat Al-Kafirun (قل يأيها الكافرون...)
• Rakaat kedua, setelah Fatihah membaca Surat Al-Ikhlas (قل هو الله أحد...)
• Dalam setiap sujud membaca doa:
Shalat Sunnah Tasbih
Dalam redaksi yang lain, Shalat Tasbih disebutkan sebagai shalat yang diajarkan Rasululah SAW kepada pamannya Sayidina Abbas RA agar mendapatkan pengampunan dari Allah SWT dan dianjurkan dilaksanakan pada momen Nisfu Sya’ban. Para ulama bahkan menyebutkan bahwa yang lebih utama pada malam Nisfu Sya’ban adalah melakukan Shalat Tasbih. Shalat Tasbih berjumlah empat rakaat, jika dikerjakan pada siang hari empat rakaat dengan sekali salam dan jika dikerjakan pada malam hari empat rakaat dua kali salam dengan dua rakaat sekali salam. Tasbih semuanya berjumlah 300 tasbih dengan rincian tiap rakaat 75 tasbih. Berikut ini adalah lafal niat shalat tasbih dengan dua kali salam.
Sedangan niat untuk Shalat Tasbih yang dilaksanakan dengan sekali salam adalah berikut ini:
Selain itu, kita juga dianjurkan memperbanyak bacaab Tasbih Nabi Yunus (La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minaddhalimin). Begitu juga dianjurkan membaca doa Ayatul Hirsh (Surah at-Taubah Ayat 128-129) yaitu bacaan yang populer di kalangan kita (Laqad ja akum..). Sejatinya, masih banyak amalan anjuran hasil dari ijitihad para ulama maupun anjuran syariat Islam. Namun karena keterbatasan ruang, dua amalan terakhir ini seyogianya harus kita optimalkan dalam rangka menyambut Nisfu Sya’ban, bahkan bulan Sya’ban secara umum. Yakni anjuran memperbanyak membaca shalawat dan berpuasa di siang hari setelah Nisfu Sya’ban atau bahkan di hari-hari lain bulan Sya’ban. Alasan kita sangat dianjurkan untuk memperbanyak shalawat, ialah karena faktor bulan Sya’ban sendiri adalah bulan diturunkannya ayat perintah bershalawat (Surah Al-Ahzab: 56) kepada Nabi Muhammad SAW. Ini sebagaimana sudah dijelaskan oleh Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki dalam kitabnya, Ma Dza fi Sya’ban. (Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki, Ma Dza fi Sya’ban, [1424 H], halaman 25-26).
Artinya: “Di antara keistimewaan bulan Sya’ban ialah bulan yang turun ayat shalawat kepada Rasulullah SAW. Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawat-lah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”