Syekh Ahmad Ath-Thayyib menjelaskan perbedaan mendasar antara mukjizat dan sihir. Perbedaan ini penting agar umat tidak mencampuradukkan antara kebenaran yang datang dari Allah dengan tipu daya penglihatan.
Menurut beliau, sihir pada hakikatnya tidak memberi pengaruh pada hakikat suatu benda. Ketika seseorang melihat sihir, yang berubah bukanlah realitas benda itu sendiri, melainkan cara mata memandangnya. Karena itu, sihir tidak mengubah esensi, fisik, atau hakikat sesuatu.
Berbeda dengan mukjizat. Mukjizat benar-benar berefek pada hakikat suatu benda. Ia mengubah sesuatu menjadi sesuatu yang lain, mengubah fisiknya, dan menimbulkan dampak nyata yang dapat disaksikan manusia. Sebuah benda bisa dilalui manusia, lautan dapat terbelah, atau orang mati dihidupkan kembali hingga berbicara dan disaksikan oleh banyak orang. Semua itu menunjukkan bahwa mukjizat bekerja pada realitas, bukan sekadar tampilan. Lalu, apa itu sihir?
Syekh Ath-Thayyib menjelaskan bahwa sihir adalah permainan pada penglihatan. Ia menciptakan ilusi pada mata orang yang melihat, sehingga seolah-olah terjadi sesuatu, padahal hakikatnya tidak berubah.
Karena itulah Al-Quran menyebut, “Mereka menyihir mata orang-orang” (QS Al-A’raf: 116), bukan “Mereka menyihir orang-orang.” Ayat ini menegaskan bahwa sihir bekerja pada persepsi, bukan pada hakikat benda.
Dengan memahami perbedaan ini, umat dapat membedakan antara mukjizat yang datang dari Allah dan sihir yang hanya menipu pandangan.
