Apa Itu Taqdim dan Ta'khir? Menyelami Keunikan Bahasa Arab dari Cara Menyusun Kalimat
Apa yang membuat bahasa Arab begitu memesona dan berbeda dari bahasa lain? Bukan hanya karena bunyinya yang indah atau kosakatanya yang melimpah, tetapi juga karena susunan katanya bisa berubah tanpa mengubah makna dasarnya—justru menambah kedalaman dan keindahan makna. Dalam artikel ini, kita akan menyelami salah satu keunikan itu: uslub taqdim dan ta'khir, teknik mendahulukan dan mengakhirkan kata dalam kalimat yang menjadi bagian penting dalam balaghah dan keajaiban susunan Al-Quran.
Untuk memahami hal ini, kita perlu menyinggung terlebih dahulu konsep jumlah ismiyyah dan jumlah fi’liyyah dalam bahasa Arab karena keduanya berkaitan erat dengan pembahasan ini.
Pertama- Jumlah ismiyyah adalah kalimat yang diawali oleh kata benda (kalimah isim) dan strukturnya terdiri dari mubtada (subjek) dan khabar (predikat). Contoh:
Zaid adalah mubtada, dan qāimun adalah khabarnya. Kalimat ini berarti: Zaid sedang berdiri.
Kedua- Jumlah fi’liyyah adalah kalimat yang diawali oleh kata kerja (fi’il). Struktur dasarnya terdiri dari fi’il (kata kerja), fā’il (pelaku), dan bisa diikuti oleh maf’ul bih (objek), atau bentuk lain seperti fi’il-fā’il-jar-majrūr, fi’il-fā’il-ẓarf, fi’il-fā’il-hal, fi’il-fā’il-tamyiz, dan sebagainya. Contoh:
Setelah mengetahui perbedaan keduanya, mari kita memahami apa itu taqdim dan ta'khir.
Taqdīm adalah bentuk masdar dari fi’il tsulātsī mazīd fīh nau’ pertama bāb tsānī, mengikuti wazan fa’ala–yufa’ilu–taf’īlan; qaddama–yuqaddimu–taqdīman, yang berarti mendahulukan. Demikian pula ta'khīr, yang juga bermakna mengakhirkan.
Secara kebahasaan, taqdim-ta’khir berarti mendahulukan dan mengakhirkan unsur dalam kalimat dari susunan normalnya untuk tujuan keindahan bahasa, penekanan makna, atau membangkitkan rasa ingin tahu.
Misalnya, dalam jumlah fi’liyyah, struktur normalnya adalah: fi’il – fā’il – maf’ul bih. Contoh:
Jika kalimat ini disusun dengan uslub taqdim-ta'khir, maka menjadi:
Walaupun posisi kata berubah, i’rab-nya tetap: "Zaidan" tetap sebagai maf’ul bih. Tujuannya adalah penekanan, yang dalam balaghah disebut qashr—pembatasan makna. Dalam istilah Abdulqahir Al-Jurjani, ini disebut at-taqdim ‘ala niyyat at-ta'khir (pendahuluan dengan maksud pengakhiran).
Mengapa hal ini penting dibahas? Karena susunan seperti ini sangat sering ditemukan dalam bahasa Arab klasik, terutama dalam Al-Quran, sebagai bagian dari keindahan dan kemukjizatannya. Maka tak heran jika para ulama balaghah menaruh perhatian besar terhadap pembahasan ini.
Bahasa Arab
Kumpulan tulisan terkait bahasa Arab dan khazanah ilmunya bisa teman-teman temukan
di siniDalam kitab Dala'il Al-I’jaz, pada pasal tentang taqdim-ta'khir, Syekh Abdulqahir Al-Jurjani mengatakan:
Artinya: "Bab ini penuh dengan manfaat, kaya akan keindahan, luas dalam penggunaan, dan mendalam tujuannya. Ia terus membuka keindahan yang menakjubkan dan menyuguhkan hal-hal yang lembut. Kau akan sering mendengar syair yang merdu dan menyentuh, lalu sadar bahwa yang membuatnya demikian adalah karena susunan katanya diubah dari posisi semula."
Dalam ilmu balaghah, taqdim dan ta'khir masuk ke dalam cabang ‘ilm al-ma’ānī, karena menyangkut makna yang ingin ditekankan dengan mendahulukan atau mengakhirkan bagian tertentu dari kalimat.
Contoh lain adalah mendahulukan hamzah istifhām (kata tanya):
Yang ingin dipastikan dari pertanyaan tersebut adalah kata setelah hamzah istifhām. Jika setelahnya adalah kata ganti seperti "anta", berarti fokus pertanyaannya adalah siapa pelakunya. Sedangkan jika setelahnya adalah fi’il, maka fokusnya adalah apakah perbuatan itu benar-benar terjadi atau belum.
Contoh dalam Al-Quran:
“Mereka berkata: Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?” [Surah Al-Anbiya': 62]
Pertanyaan ini muncul setelah Nabi Ibrahim dihadirkan oleh Raja Namrud dan para penyembah berhala, setelah beliau menghancurkan berhala-berhala mereka. Fokus pertanyaannya adalah memastikan siapa pelakunya.
Jawaban Nabi Ibrahim:
“Beliau menjawab: Justru yang melakukannya adalah berhala terbesar itu. Tanyakanlah kepada mereka jika memang mereka dapat berbicara.” [Surah Al-Anbiya': 63]
Contoh berikutnya:
Ketiganya tampak mirip, tapi maknanya berbeda.
- زَيْدٌ مُنْطَلِقٌ (Zaidun munṭhaliqun) adalah jumlah ismiyyah dengan "Zaid" sebagai mubtada dan "munthaliq" sebagai khabar. Artinya: Zaid sedang pergi. Kalimat ini memberi informasi baru bahwa Zaid pergi.
- زَيْدُ الْمُنْطَلِقُ (Zaidu al-munṭhaliqu) juga jumlah ismiyyah, namun dengan makna: Zaid-lah yang sedang pergi. Kalimat ini digunakan jika pendengar sudah tahu bahwa seseorang pergi, tetapi tidak tahu siapa, lalu kamu menegaskan bahwa itu Zaid.
- الْمُنْطَلِقُ زَيْدٌ (al-munṭhaliqu Zaidun) adalah susunan yang mendahulukan khabar (al-munṭhaliq) dan mengakhirkan mubtada (Zaid). Kalimat ini digunakan jika seseorang melihat orang yang pergi tapi tidak mengenalnya, lalu kamu menjelaskan bahwa orang itu adalah Zaid.
Penekanan makna dalam ketiga kalimat tersebut bergantung pada susunan awal-akhir kata, bukan perubahan bentuk katanya.
Demikian sekilas pembahasan mengenai taqdim dan ta'khir dalam bahasa Arab. Semoga menambah wawasan kita tentang keindahan dan kedalaman bahasa Al-Quran.
Wallāhu a’lam.