Apakah setiap cobaan adalah hukuman dari Allah SWT?

Saya sedang dirawat karena kanker. Terkadang, saya selalu bertanya-tanya, "Apakah penyakit saya merupakan hukuman dari Allah atas dosa yang telah saya lakukan?"

Sebelumnya, saya memohon kepada Allah untuk kesembuhan, kesehatan, kesejahteraan, dan kebahagiaanmu. Ketahuilah, bahwa sehat dan sakit, kaya dan miskin, sakit dan senang, semua itu adalah sunah ilahi di alam semesta sebagai ujian (ikhtibar) dan cobaan (ibtila). Allah SWT berfirman:

﴿ كُلُّ نَفۡسࣲ ذَاۤىِٕقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ وَنَبۡلُوْكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَیۡرِ فِتۡنَةࣰۖ وَإِلَیۡنَا تُرۡجَعُونَ ﴾ [سورة الأنبياء: ٣٥]

"Setiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami." [Surah Al-Anbiya: 35]

Ketahuilah, bahwa sakit dan cobaan tidak selalu merupakan hukuman dari Allah kepada hamba-Nya sebab berbuat dosa. Sebaliknya, bisa jadi itu merupakan cobaan bagi seseorang untuk melebur dosa-dosanya dan menaikkan derajatnya. Nabi Muhammad SAW bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ، فَمَا سِوَاهُ؛ إِلَّا حَطَّ اللَّهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ، كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا.

Tidak ada seorang muslim pun yang ditimpa musibah, seperti sakit atau lainnya, melainkan Allah menghilangkan amal buruknya, seperti pohon yang menggugurkan daunnya. [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Beliau juga bersabda:

مَا يَزَالُ البَلاءُ بِالمُؤْمِنِ وَالمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ.

Cobaan terus-menerus ada pada mukmin laki-laki dan perempuan, baik itu pada dirinya sendiri, anak-anaknya, dan hartanya, hingga ia kelak akan bertemu Allah dalam keadaan tidak punya dosa. [HR. At-Tirmidzi]

Munakahat

Kumpulan tulisan dengan topik pernikahan dan keluarga islami dapat teman-teman temukan

di sini

Dan beliau pun bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُشَاكُ شَوْكَةً، فَمَا فَوْقَهَا إِلَّا كُتِبَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ.

Tidak ada seorang muslim pun yang tertusuk oleh sebuah duri (cobaan kecil) hingga yang lebih besar, melainkan ia akan mendapat satu derajat dan terhapus satu dosa. [HR. Muslim].

Dalam redaksi yang lain:

لَا يُصِيْبُ مُؤْمِنًا نَكْبَةٌ مِنْ شَوْكَةٍ، فَمَا فَوْقَ ذَلِكَ، إِلَّا حُطَّتْ بِهِ عَنْهُ خَطِيئَةٌ، وَرُفِعَ بِهَا دَرَجَةٌ

Tidak ada musibah yang menimpa seorang mukmin dari duri atau lebih dari itu, kecuali dosanya terhapus dan derajatnya terangkat. [HR. Ahmad]

Penyakit adalah bagian dari cobaan. Allah taala telah menimpakannya kepada beberapa nabi, padahal kalian tahu bahwa para nabi itu ma’shum (terjaga dari dosa) dan penyakit mereka tidak pernah menjadi hukuman dari Allah bagi mereka. Pun demikian, Sayidina Ayyub telah diberi cobaan sakit yang sangat lama dan berdoa kepada Allah taala:

﴿ وَأَیُّوْبَ إِذۡ نَادَىٰ رَبَّهُۥۤ أَنِّيْ مَسَّنِيَ ٱلضُّرُّ وَأَنْتَ أَرۡحَمُ ٱلرَّ ٰ⁠حِمِیْنَ ﴾ [سورة الأنبياء: ٨٣]

Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, '(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, dan Engkaulah Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang. [Surah Al-Anbiya: 83]

Karena itu, bersabarlah dalam menghadapi cobaan, ridalah dengan apa yang telah Allah berikan kepadamu dengan jiwa yang rida, lalu berobatlah dengan jalan yang halal. Karena, tidaklah Allah menjadikan penyakit apa pun, kecuali Ia telah menyediakan obatnya.


💡
Artikel FATWA ini diterjemahkan dari buku Syekh Ahmad Ath-Thayyib berjudul Al-Athfal Yas'alun Al-Imam, oleh Amirul Mukminin