Guru besar kami di Al-Azhar, Syekh Fathi Abdurrahman Hijazi pernah bercerita di Madhyafah Ad-Dah, salah satu pusat pengajian di Kairo. Dalam suatu pengajiannya selepas salat Magrib, beliau berkisah. Sudah masyhur di kalangan para murid, tidak ada pengajian bersama beliau kecuali mendapat sejumlah kisah yang sarat nilai di dalamnya.
Saat itu beliau menceritakan kisah yang menurut penulis sangat berkesan. Kisah tersebut beliau dengar langsung dari gurunya, Syekh Shalih Al-Ja’fari. Syekh Fathi berkata bahwa Syekh Ahmad Ad-Dardir senantiasa bermimpi bertemu Baginda Nabi Muhammad SAW di setiap malam. Karena mimpi bertemu Baginda Nabi adalah hal yang privat dan istimewa, beliau tidak pernah menceritakan hal tersebut kepada siapapun. Namun, dari sinilah kisah ini bermula.

Ketika Syekh Ad-Dardir belajar di Masjid Al-Azhar, para guru-guru Al-Azhar sering berdebat dan berdiskusi jika mendapatkan sebuah perbedaan riwayat hadis. Terjadilah suatu perbedaan pendapat di kalangan para ulama saat itu: apakah suatu hadis itu Shahih, Dha’if, Maudhu’, Munkar, dan sebagainya. Ketika Syekh Ad-Dardir kembali tidur dan bermimpi, beliau mengadukan permasalahan tersebut kepada Baginda Nabi. “Wahai Rasulullah, kami di Al-Azhar berbeda pendapat tentang riwayat hadis ini, ini, dan ini.”, seraya menyebutkan redaksi hadis yang menjadi perdebatan. Dalam mimpi tersebut, Baginda Nabi terkadang membenarkan suatu redaksi hadis jika perlu dibenarkan, dan terkadang hanya diam sebagai tanda taqrir (persetujuan).
Keesokan harinya, Syekh Ahmad Ad-Dardir menyampaikan sejumlah jawaban Baginda Nabi yang didapat dari mimpi kepada para ulama Al-Azhar. Hal ini terus-menerus dilakukan secara berulang oleh Syekh Ad-Dardir. Hingga suatu waktu, salah satu sahabat beliau melaporkan hal tersebut kepada Syekh Ali Ash-Sha’idi yang merupakan guru Syekh Ad-Dardir. “Guru, Syekh Ahmad Ad-Dardir menashih hadis kepada Rasulullah.”
Syekh Ali Ash-Sha’idi lantas memanggil muridnya itu. “Wahai Ahmad (Ad-Dardir), benarkah kamu bertemu Baginda Nabi SAW?”
Karena tidak bisa berbohong kepada gurunya, beliau menjawab, “Benar, Guru.”
“Jika engkau kembali melihat Baginda Nabi, sampaikan salam saya dan katakan kepada beliau, ‘Apa yang kurang dari diri saya di sisi Baginda?’.”
Setelah mendengar permintaan gurunya, Syekh Ahmad Ad-Dardir yang biasanya bermimpi bertemu Baginda Nabi untuk menashih hadis, akhirnya menjadi momen untuk menyampaikan surat berisi salam dari gurunya. Pada malam harinya, beliau kembali bertemu Baginda Nabi dan menyampaikan maksud gurunya tersebut. Nabi berkata, “Ia orang yang saleh, hanya saja ia tidak menziarahiku.” Setelah terbangun, Ad-Dardir menyampaikan jawaban tersebut kepada gurunya. Mendengar hal tersebut, Syekh Ali Ash-Sha’idi berkata, “Ya Ahmad, katakan kepada Baginda Nabi bahwasanya saya sudah lanjut usia, tidak mampu menziarahi Baginda di Madinah.”
Beliau lalu mengatakan uzur tersebut kepada Baginda Nabi dalam mimpinya di suatu malam. Nabi SAW kemudian berkata, “Ya Ahmad, katakan kepadanya bahwa saya tidak mengharuskannya pergi ke Madinah. Cukup baginya berziarah ke makam Imam Asy-Syafi'i tiap selepas Asar di hari Jumat. Karena saya ada di sana.”

Syekh Ahmad Ad-Dardir menyampaikan kabar gembira tersebut kepada Syekh Ali Ash-Sha’idi. Mendengar hal itu, gurunya segera mengumpulkan para mujawir (penghuni masjid) Al-Azhar dan berkata, “Rasulullah selalu mendatangi kita di makam Imam Asy-Syafi'i, sedangkan kita tidak berkunjung kepada beliau? Sungguh, ini keterlaluan.”
Setelah hari itu, para mujawir beserta ulama Al-Azhar dari mazhab fikih lain seperti Syekh Ali Ash-Sha’idi, pembesar Malikiyyah mulai menziarahi makam Imam Asy-Syafi'i beramai-ramai setiap selepas Asar hari Jumat hingga Magrib. Ziarah rutin tersebut akhirnya menjadi tradisi para mujawir Al-Azhar selama 30 tahun, hingga banyak mujawir yang pernah mendengar hal tersebut wafat.
Setelahnya, kisah itu hanya diketahui oleh segelintir orang. Riwayat ini kemudian kembali dikisahkan kepada banyak murid oleh seorang alim besar nan saleh didikan Al-Azhar yang dimakamkan di masjid di seberang Terminal Bus Ad-Darrasah, yakni Syekh Shalih Al-Ja'fari dan rantai riwayat kisah itu berlanjut hingga hari ini.
Baca juga artikel lain di rubrik BUDAYA atau tulisan menarik Amirul Mukminin
