Syekh Ahmad Ath-Thayyib menjelaskan bahwa umat Islam meyakini bahwa Islam adalah agama terakhir. Hal ini bukan sekadar pernyataan, tetapi memiliki makna yang mendalam.
Islam disebut agama terakhir karena ia dirancang untuk tetap relevan dan mampu menerima perubahan serta perkembangan manusia hingga akhir zaman.
Perkembangan ini mencakup aspek hukum, baik syariat maupun akhlak, sehingga Islam tetap menuntun manusia menuju kebahagiaan, kebaikan, kebenaran, dan keadilan di setiap masa.
Sejalan dengan itu, para ulama menyatakan bahwa “Penutupan risalah kenabian dan universalitasnya adalah dua sisi mata uang.” Artinya, Islam menutup rangkaian kenabian, tetapi sekaligus bersifat universal, dapat diterapkan di segala tempat dan zaman.
“Islam adalah agama terakhir dan universal, menuntun manusia menuju kebaikan, kebenaran, dan keadilan di setiap zaman.” — Syekh Ahmad Ath-Thayyib
Syekh Ath-Thayyib menegaskan, seseorang tidak bisa mengklaim bahwa Islam adalah akhir dari risalah kenabian namun menyebutnya tidak universal. Jika Islam tidak bersifat universal, maka ketika muncul persoalan baru atau tantangan yang berbeda, manusia akan memerlukan agama baru untuk menuntun mereka.
Dengan demikian, universalitas Islam dan penutupan risalah kenabian menjadi kunci mengapa Islam mampu bertahan sebagai agama terakhir, relevan untuk setiap zaman, dan menyelamatkan manusia sepanjang sejarah.
