TAWAZUN.ID — Pada Senin (25/09/2023), Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Pusat menggelar webinar bertajuk "Kontribusi Imam Akbar dalam Membumikan Nilai-nilai Toleransi dan Koeksistensi". Webinar ini diikuti oleh ratusan peserta yang terdiri dari para tokoh Al-Azhar, semua cabang OIAA di dalam negeri Mesir dan di luar negeri, serta jejaring alumni dari berbagai dunia.
Dalam pidatonya, Dr. Muhammad Husain Al-Mahrashawi, Wakil Ketua Dewan Direksi OIAA Pusat mengatakan, "Hari ini kita dipertemukan dalam kegiatan webinar tentang upaya Yang Mulia Imam Akbar Syekhul-Azhar, semoga Allah melindunginya, dalam mengedepankan nilai-nilai toleransi dan hidup berdampingan secara damai. Dapat dikatakan bahwa toleransi bukanlah berarti pasrah dan tunduk, karena toleransi justru hanya bisa datang dari pusat kekuatan. Asas kewarganegaraan juga tidak dapat diterapkan kecuali dengan toleransi. Tidak mungkin hidup damai kecuali dengan toleransi, karena toleransi adalah ciptaan yang diserukan oleh hukum langit (agama)."
Ia menambahkan bahwa Islam juga menyerukan toleransi terhadap non-Muslim, sesuai dengan firman Allah SWT: “Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” [Surah Al-Mumtahanah: 8]
Mantan rektor Universitas Al-Azhar itu juga menegaskan bahwa kita sebagai umat Islam mempunyai teladan pada diri Rasulullah SAW. Pada hari penaklukan (Fathu Makkah), Rasulullah SAW berkata kepada orang-orang yang menyakitinya dan mengusirnya dari Makkah, “Wahai orang-orang Quraisy, menurutmu apa yang akan aku lakukan padamu? Mereka berkata, "Baik, saudara yang dermawan dan keponakan yang dermawan." Rasul merespon, “Aku sampaikan kepada kalian seperti yang disampaikan Yusuf kepada saudara-saudaranya: 'Tidak akan ada teguran terhadap kalian hari ini, semoga Allah mengampuni kalian.' Pergilah, karena kalian semua adalah orang-orang yang merdeka."

Mayjend Usamah Yasin, Wakil Ketua Dewan Direksi OIAA Pusat, mengatakan, "Organisasi ini terus berupaya mengadakan seminar dan lokakarya ilmiah untuk mengonsolidasikan nilai-nilai perdamaian dan toleransi. Dan hari ini kami akan meluncurkan kegiatan webinar dengan tema ini. Webinar ini bertujuan untuk memaparkan tema-tema penting yang menjadi perhatian Imam Akbar selama karir kepemimpinannya. Mari kita ambil hikmahnya dan mencontoh beliau dalam menerima orang lain dan menerapkan apa yang dihimbau Islam dalam menyebarkan nilai-nilai toleransi, hidup berdampingan, kewarganegaraan, dan kemajuan masyarakat.
Sementara itu, Dr. Ahmad Husain, mantan Dekan Fakultas Dakwah Universitas Al-Azhar, mengatakan, "Nabi Islam, Sayidina Muhammad SAW, datang untuk menjelaskan dan menyampaikan pesan kemanusiaan global kepada seluruh umat manusia, sebagaimana Allah Yang Maha Kuasa perintahkan dalam firman: “Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik,” [Surah An-Nahl: 125] “Maka, berilah peringatan karena sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) hanyalah pemberi peringatan. Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka." [Surah Al-Ghasyiyah: 21-22]; “Serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. "[Surah An-Nahl: 125]
Ia menyampaikan bahwa pembicaraan mengenai pesan toleran dalam Islam akan sangat panjang. "Kami menekankan bahwa Islam menolak perilaku yang menyerukan fanatisme, ekstremisme, dan kekerasan. Oleh karena itu, hari ini kita akan menyoroti salah satu simbol umat Islam, Imam Akbar yang berwawasan luas, yang menyadari hakikat agama Allah dan ingin menyampaikannya kepada dunia. Beliau benar-benar banyak berkontribusi dan memenuhi tanggung jawabnya, baik saat memangku jabatan rektor Universitas Al-Azhar, Dar Al-Ifta Mesir, maupun Syekhul-Azhar. Beliau menaruh perhatian akan pentingnya masyarakat memahami pesan ini. Baik dalam beragam dokumen tertulis, berbagai pertemuan yang diadakan, seminar yang disampaikan, pidato yang dibawakan, dan juga kunjungan ke Timur dan Barat. Beliau membawa pesan toleranyang dimiliki agama Islam untuk menyatukan semua orang."
Di sisi lain, para peserta webinar dari cabang dalam negeri dan cabang luar negeri sangat antusias untuk berpartisipasi dengan kata-kata yang menunjukkan sejauh mana kebanggaan mereka terhadap peran besar yang dimainkan oleh Yang Mulia Imam Akbar dalam mempromosikan nilai-nilai toleransi dan hidup berdampingan antar masyarakat, dengan menyoroti tonggak terpenting dalam pencapaian beliau.
Dr. Ahmad Badawi, Ketua Dewan Fatwa Republik Kenya, menyatakan apresiasinya atas peran ini, dan berkata, "Merupakan tanggung jawab kita untuk menyebarkan apa yang telah dilakukan oleh Yang Mulia Imam Akbar selama karirnya dalam mengabdi pada Islam dan umat Islam. Dan ini adalah peran utama kita, untuk menyampaikan seruan Islam yang toleran dan menghilangkan ketidakjelasan tentang segala sesuatu yang diyakini secara tidak tepat dalam persoalan agama. Dengan menyoroti jasa-jasa besar Imam Akbar dalam menanamkan prinsip-prinsip hidup damai, menolak kekerasan dan ekstremisme, serta mengenalkan nilai-nilai toleransi, sehingga setiap orang mengetahui siapa Imam Akbar dan sejauh mana ketajaman dan keseriusannya dalam memberi manfaat bagi umat Islam, tidak hanya dalam hal perdamaian dan toleransi, namun dalam semua aspek kehidupan umat Islam, dan hubungan mereka dengan orang lain.
Sementara itu, Syekh Muhammad Ar-Ramli, Wakil Ketua OIAA Cabang Luxor, menyampaikan, "Yang Mulia Imam Akbar menempati posisi luhur di dunia Arab dan Islam dan di kancah internasional. Adapun di tingkat internal, akan panjang pembicaraan untuk membahas keutamaannya. Cukup baginya mendirikan Bait Al-'Ailah Al-Mishriyyah yang menyatukan seluruh lapisan masyarakat Mesir. Dan pembentukan komite rekonsiliasi yang didedikasikan untuk menghapuskan persoalan Ats-Tsa'r (pertikaian berdarah bermotif balas dendam) yang menyebar di beberapa wilayah Mesir, agar keamanan dan keselamatan tetap terjaga."
Prof. Dr. Ismail Abdurrahman, Ketua OIAA Cabang Dumyat, berbicara tentang peran Yang Mulia Imam Akbar, secara internal dan eksternal. Di masa dunia sedang penuh dengan perang, beliau datang membawa nilai-nilai toleransi di tingkat dunia Islam dan global, selain tentunya peran besar yang ia mainkan di Mesir.
※ Amnesia Sejarah Perempuan
Dr. Muhammad Mu'min Shadiq, Konjend Republik Komoro di UEA, menyampaikan, "Yang Mulia Imam Akbar melakukan banyak kebijakan besar di saat dunia membutuhkan kebijaksanaan dan kecerdasan dari seorang tokoh yang memegang posisi tinggi di dunia. Selain menjadi Syekhul-Azhar, dia adalah ketua Majlis Hukama Al-Muslimin. Karena cintanya yang tulus terhadap masyarakat di seluruh dunia, Yang Mulia Imam Akbar melawan gagasan-gagasan yang keliru dan berdialektika dengan mereka melalui pemikiran. Hal ini didasarkan pada kebutuhan manusia untuk hidup berdampingan dengan sesamanya, yang merupakan kebutuhan yang tidak dapat dihindari di dunia di mana terdapat kepentingan saling terkait dengan negara masing-masing."
Dr. Muhammad Yamin bin Ismail, Direktur Jenderal Departemen Penelitian Otoritas Urusan Agama Malaysia, menuturkan, "Menyebarkan nilai-nilai hidup berdampingan dan integrasi positif adalah fondasi bangsa, kelangsungan hidupnya, kesatuannya, dan garis hidup serta kemakmurannya. Ini semua adalah nilai-nilai Islam dan kemanusiaan yang murni. Oleh karena itu, Imam Akbar berupaya mengaktifkan nilai-nilai tersebut atas dasar koeksistensi umat manusia dalam koridor keamanan dan keselamatan."