Bani Israil dalam Al-Quran dan Sunnah Karya Syekh Muhammad Sayyid Thanthawi

Hingga hari ini, Palestina masih diguncang kekejaman yang tak kunjung reda: bombardir tanpa jeda, rumah-rumah runtuh bersama penghuninya, dan anak-anak yang dimakamkan sebelum sempat dewasa. Di tengah tragedi ini, satu nama terus bergaung di benak umat Islam dan dunia: Israel. Sayangnya, banyak yang memandang entitas ini hanya sebagai fenomena politik modern, tanpa menyadari bahwa ia memiliki akar sejarah panjang dalam kitab suci umat Islam—yakni Bani Israil.

Dalam Al-Quran, nama Bani Israil tak hanya disebut sekali-dua kali, melainkan dalam puluhan surah dan ratusan ayat. Kadang mereka dipuji sebagai umat pilihan, kadang dikecam karena pembangkangan. Mereka menjadi gambaran nyata tentang bagaimana manusia memperlakukan nikmat, wahyu, dan sejarah. Pertanyaan pun muncul: mengapa Allah mengabadikan begitu banyak kisah mereka dalam Al-Quran? Apa pelajaran yang bisa kita petik darinya, terutama di tengah kondisi dunia saat ini?

Pertanyaan itulah yang menjadi titik tolak dari sebuah karya ilmiah penting berjudul Banu Israil fi Al-Qur'an wa As-Sunnah, disusun oleh Syekh Muhammad Sayyid Thanthawi (1928–2010), Imam Akbar Al-Azhar sebelum Syekh Ahmad Ath-Thayyib. Buku ini merupakan disertasi doktoralnya di Universitas Al-Azhar, yang disidangkan pada 27 Desember 1966 dan diterbitkan dalam dua jilid tebal.

Karya ini bukan sekadar kompilasi ayat dan hadits tentang Bani Israil, melainkan analisis mendalam yang memadukan pendekatan tafsir, sejarah, dan studi sosial-keagamaan. Dalam mukadimahnya, Syekh Thanthawi menjelaskan bahwa tujuan utama dari kajian ini adalah agar para pemuda muslim dan para cendekia memahami sejarah, karakter, serta penyimpangan Bani Israil berdasarkan keterangan autentik dari Al-Quran, sunnah, dan sumber sejarah terpercaya.

Uniknya, buku ini tidak memotret Bani Israil sebagai kelompok yang sepenuhnya negatif. Syekh Thanthawi menggambarkan mereka secara utuh: sebagai kaum yang kompleks, penuh dinamika, dan—yang terpenting—penuh pelajaran. Ia menunjukkan bahwa Al-Quran mengabadikan perilaku mereka sebagai cermin bagi umat setelah mereka.

Buku ini menelusuri fase demi fase kehidupan Bani Israil dalam sejarah kenabian, mulai dari masa Nabi Ya’qub—yang darinya nama “Israil” berasal—hingga periode perbudakan di Mesir dan pembebasan agung melalui Nabi Musa. Di sepanjang perjalanan tersebut, tampak jelas bagaimana Bani Israil menerima berbagai nikmat besar dari Allah, namun berulang kali pula menunjukkan pembangkangan. Mereka pernah meminta makanan yang lebih bervariasi karena merasa bosan dengan manna dan salwa. Mereka juga menyembah patung anak sapi tidak lama setelah diselamatkan dari kejaran Firaun. Bahkan, ketika diperintahkan memasuki Tanah Suci, mereka menolak karena takut menghadapi peperangan.

Buku ini juga menguraikan sejarah Bani Israil setelah era Nabi Musa hingga masa Nabi Muhammad ﷺ. Periode ini dipenuhi beragam peristiwa, terutama yang mencerminkan pola perilaku mereka: gemar menuntut permintaan berlebih, mengingkari janji, mengubah teks dan tafsir agama samawi, serta menunjukkan sifat pengecut melalui tindakan adu domba.

Yang menjadikan buku ini sangat relevan, terutama di tengah konteks hari ini, adalah keberanian penulisnya untuk bersikap adil dalam menyampaikan gambaran. Syekh Thanthawi tidak menutupi bahwa dalam sejarah Bani Israil terdapat pula orang-orang saleh, para nabi, ulama yang jujur, serta kelompok-kelompok yang tetap beriman dan bertakwa. Ia secara tegas menolak generalisasi. Bagi beliau, yang dikecam oleh wahyu bukanlah garis keturunan, melainkan sikap menolak kebenaran. Bukan identitas etnis, melainkan tindakan nyata yang mengkhianati perjanjian dengan Tuhan.

Kelebihan lain dari karya ini terletak pada pendekatannya yang komprehensif terhadap ayat-ayat Al-Quran, disertai kelengkapan rujukan yang solid. Susunan pasal dalam buku ini pun memudahkan pembaca dalam memahami ayat-ayat tentang Bani Israil, yang dalam Al-Quran tidak disajikan secara kronologis (Baca: Pengulangan Kisah dalam Al-Quran: Kajian Mendalam Karya Prof. Dr. Al-Qashabi Zalath). Dengan pendekatan ini, buku ini mengalirkan napas tafsir tematik yang kuat—terutama karena disertasi ini dibimbing oleh Syekh Ahmad As-Sayyid Al-Kumi, tokoh ulama Al-Azhar yang dikenal luas sebagai pelopor dalam kodifikasi tafsir tematik.

Palestina

Kumpulan tulisan yang mengangkat isu dan perjuangan Palestina dapat kalian temukan

di sini

Lebih dari sekadar kajian ilmiah, buku ini juga menjadi penyeimbang di tengah kecenderungan sebagian umat Islam yang terjebak dalam kemarahan kolektif terhadap segala hal yang berlabel “Israel” atau “Yahudi”. Syekh Thanthawi mengajak pembaca untuk bersikap adil, cerdas, dan berdasarkan ilmu. Tanpa ilmu, amarah hanya akan melahirkan kegelapan baru. Sebaliknya, pemahaman yang jernih akan melahirkan hikmah, strategi, dan ketahanan spiritual.

Sebagai sebuah karya ilmiah sekaligus reflektif, Banu Israil fi Al-Qur'an wa As-Sunnah tidak hanya mengungkap siapa Bani Israil, tetapi juga menunjukkan bagaimana Al-Quran mendidik umat Nabi Muhammad ﷺ untuk bersikap. Umat diajak untuk tidak larut dalam glorifikasi masa lalu, tidak terjebak dalam dendam kolektif, dan senantiasa memandang peristiwa dengan lensa wahyu—bukan sekadar dorongan emosi. Sikap ini tercermin jelas dalam pembahasan pasal kedua buku tersebut.

Buku ini ditutup dengan sebuah khatimah yang secara eksplisit mengulas sejarah Palestina, hingga mencapai fase konfrontasi dengan Zionis Israel. Syekh Thanthawi juga menjelaskan perbedaan penting antara Yahudi sebagai identitas agama dan Zionis sebagai gerakan politik. Penegasan ini menjadi semakin relevan di era media sosial saat ini, di mana banyak orang terpancing untuk membagikan konten seputar Palestina tanpa pemahaman yang utuh. Tak jarang, kemarahan yang tidak disertai ilmu justru memperkeruh suasana. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ, “Cukuplah seseorang dianggap pendusta ketika ia menceritakan semua yang ia dengar.” (HR. Muslim)

Di akhir khatimah, Syekh Thanthawi juga menawarkan delapan solusi strategis untuk mengembalikan Palestina ke pangkuan umat Islam dan Arab, semuanya berlandaskan Al-Quran dan hadits Nabi ﷺ. Rincian lengkapnya dapat ditemukan dalam disertasi ini, yang tersedia dalam bentuk cetak di sejumlah toko buku di Mesir serta versi PDF yang banyak beredar secara daring. Buku ini patut menjadi bacaan utama bagi siapa pun yang ingin memahami krisis Palestina secara mendalam, berimbang, dan berbasis wahyu. Selamat membaca.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik RESENSI atau tulisan menarik Amirul Mukminin