Dalam tradisi keilmuan Islam, kisah-kisah para nabi yang diulang di berbagai surah Al-Quran selalu menjadi topik yang menarik. Sebagian menganggapnya sebagai pengulangan biasa, sementara lainnya meyakini adanya kedalaman makna tersembunyi. Buku Qadhaya At-Takrar fi Al-Qashash Al-Qur'ani (Isu-isu Pengulangan dalam Kisah-kisah Al-Quran) karya Prof. Dr. Al-Qashabi Zalath hadir untuk menjawab kegelisahan ini. Tidak hanya membongkar rahasia di balik pengulangan kisah, buku ini juga membangun argumentasi kuat untuk menjawab kritik-kritik orientalis yang mempertanyakan orisinalitas Al-Quran.
Sekilas tentang Prof. Dr. Al-Qashabi Zalath
Prof. Dr. Al-Qashabi Zalath (1938—2015) bukanlah nama asing dalam dunia tafsir, khususnya di kalangan civitas akademika Al-Azhar. Beliau adalah guru besar Tafsir dan Ilmu Al-Quran di Universitas Al-Azhar, Kairo, serta anggota Dewan Ulama Senior Al-Azhar. Banyak ulama dan guru besar tafsir hari ini yang merupakan murid dari beliau.
Mengapa Pengulangan dalam Al-Quran Menarik Dikaji?
Karya ini merupakan salah satu sumbangsih beliau dalam mendalami Al-Quran dari perspektif kajian tematik. Sejak halaman pertama, pembaca diajak memahami bahwa pengulangan dalam Al-Quran bukanlah sekadar repetisi biasa. Kisah dalam Al-Quran juga bukan dalam ranah historis.
Prof. Dr. Al-Qashabi Zalath mengawali bukunya dengan menukil perkataan mufasir besar sebelumnya, Imam Akbar Al-Azhar Syekh Mahmud Syaltut (1893—1963), dalam tafsirnya: "Al-Quran bukanlah kitab sejarah. Oleh karena itu, kisah-kisah dalam Al-Quran tidak ditujukan untuk sejarah. Maka, tidak perlu menyalahkan karena terdapat pengabaian presisi tempat, tokoh, atau urutan peristiwa. Semua itu adalah kerja sejarawan yang mementingkan cerita sebagai sejarah, bukan sebagai ibrah dan pelajaran."
Selanjutnya, beliau menegaskan bahwa setiap pengulangan kisah dalam Al-Quran memiliki fungsi dan tujuan spesifik. Pengulangan tersebut tidak bersifat mekanis atau monoton, tetapi merupakan bagian dari mukjizat Al-Quran yang tidak mungkin ditiru manusia.
Menjawab Kritik Orientalis terhadap Kisah Al-Quran
Buku ini mengulas perjalanan lima nabi: Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Saleh, Nabi Luth, dan Nabi Syuaib. Meskipun tidak dijelaskan secara eksplisit mengapa hanya lima nabi yang dipilih, kisah-kisah mereka cukup mewakili pola pengulangan dalam Al-Quran. Setiap tambahan atau pengurangan lafaz, perbedaan konteks (siyaq), serta hubungan dengan ayat sebelumnya (sibaq) dan sesudahnya (lihaq), semuanya berpengaruh pada makna dan maksud yang ingin disampaikan.
Melalui analisis mendalam, Prof. Dr. Al-Qashabi Zalath mengurai bagaimana setiap pengulangan dalam kisah-kisah ini membawa dimensi tambahan yang memperkaya bahasa dan pemahaman kita. Misalnya, dalam satu surah, kisah Nabi Nuh mungkin diceritakan dengan penekanan pada perjuangannya menghadapi kaumnya. Sementara di surah lain, fokusnya bergeser kepada respons kaumnya atau pesan moral yang bisa dipetik dari peristiwa tersebut. Ayat dalam Surah Hud, misalnya, dimulai dengan huruf waw, sedangkan dalam Surah Al-A’raf tidak demikian, yang mengisyaratkan bahwa yang memakai waw masih memiliki hubungan dengan konteks ayat sebelumnya, berbeda dengan ayat yang tanpa menggunakan waw.
Menariknya, Prof. Dr. Al-Qashabi Zalath tidak hanya menguraikan pola pengulangan, tetapi juga membantah klaim para orientalis yang menyatakan bahwa kisah-kisah dalam Al-Quran berasal dari sumber-sumber Yahudi dan Kristen. Tuduhan ini didasarkan pada kesamaan beberapa elemen dalam Al-Quran dengan Perjanjian Lama dan Baru. Namun, beliau dengan tegas menjelaskan bahwa Al-Quran bukanlah kitab sejarah, sehingga tidak harus mengikuti alur kronologi atau detail sebagaimana karya para sejarawan. Al-Quran hadir untuk memberikan pelajaran dan hikmah, bukan sekadar dokumentasi peristiwa masa lalu.
Selain itu, Prof. Dr. Al-Qashabi Zalath juga membantah klaim orientalis yang menuduh bahwa kisah dalam Al-Quran adalah karangan Nabi Muhammad ﷺ yang diperoleh saat beliau berdagang di masa muda. Tuduhan ini lemah, mengingat rihlah dagang Nabi Muhammad ﷺ hanya terjadi dua kali: pertama, saat masih kecil bersama pamannya, dan kedua, saat membawa dagangan Sayidah Khadijah. Lalu, kapan Nabi ﷺ mendengar kisah-kisah sebanyak itu di sela-sela perjalanannya yang singkat?
Warisan Ilmiah Prof. Dr. Al-Qashabi Zalath
Gaya penulisan dalam buku ini terasa sistematis dan rapi. Prof. Dr. Al-Qashabi Zalath memulai setiap bab kisah para nabi dengan menyajikan ayat-ayat terkait, menunjukkan di mana saja kisah tersebut disebutkan dalam Al-Quran, lalu membahas unsur perbedaan dalam pemilihan diksi, dialog antara nabi dan kaumnya, serta akhir tragis dari kaum yang menolak kebenaran. Di sela pembahasannya, beliau menyertakan tafsir, komentar, dan analisis yang memperkaya wawasan pembaca.
Daya tarik utama buku ini tidak hanya terletak pada kedalaman analisisnya, tetapi juga pada relevansi topiknya. Dalam konteks modern, banyak pihak yang berusaha meruntuhkan otoritas Al-Quran dengan mengkritik kisah-kisahnya. Buku ini hadir sebagai jawaban terhadap kritik tersebut, menunjukkan bahwa setiap elemen dalam kisah-kisah Al-Quran memiliki tujuan yang jelas dan penuh hikmah.
Buku ini diterbitkan oleh Haiah Kibar Al-‘Ulama (Dewan Ulama Senior) Al-Azhar, setelah terakhir kali diterbitkan pada tahun 1978 oleh Maktabah Dar Al-Anshar, Mesir, ketika beliau masih menjabat sebagai profesor madya Tafsir.
Bagi pembaca awam, buku ini mungkin terasa menantang. Istilah-istilah tafsir dan pendekatan analitis yang digunakan membutuhkan latar belakang dalam ilmu Al-Quran. Namun, hal ini tidak mengurangi nilai buku sebagai referensi penting bagi mahasiswa, akademisi, maupun ulama. Sebagai karya tafsir tematik, buku ini berhasil membawa kita pada pemahaman yang lebih mendalam tentang mukjizat Al-Quran.
Lebih dari sekadar bahan bacaan, buku ini adalah warisan intelektual dan spiritual dari Prof. Dr. Al-Qashabi Zalath. Dengan keilmuan dan ketajaman analisisnya, beliau telah meninggalkan kontribusi besar yang akan terus relevan bagi generasi mendatang. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada beliau dan menjadikan karya ini sebagai amal jariah yang tak terputus.
